Dhaffin mengatupkan bibirnya rapat-rapat sama sekali tidak berniat untuk balas merespon apa yang baru saja pria itu katakan. Namun pemuda itu hanya mengepalkan tangannya erat-erat berpikir bila gesture tersebut dapat setidaknya membuat kesabarannya dapat dia pertahankan hingga akhir. Gelisah bercampur kesal. Tidak tenang, dan rasanya ingin memberinya sebuah tinju ke mukanya. Baru kali ini Dhaffin dihinggapi rasa benci kepada seseorang padahal ini adalah pertemuan pertama mereka secara langsung. “Dior, bisa tolong tinggalkan kami berdua? Ada yang perlu aku diskusikan dengan Dhaffin.” Satu perintah, dan Dior langsung menanggapi titah tersebut dengan desahan penuh kelegaan. “Tentu saja Tuan, saya akan berikan anda waktu selama yang anda butuhkan.” Jawab Dior seraya melangkah keluar dari ru

