Kereta meninggalkan penghentiannya dari stasiun Kensington Garden menuju Waterloo -- membawa Lluvia yang bisu, gamang, diam tertunduk hanyut dalam kesedihan. Ingatannya mengalun lagi bagai nyanyian di antara kesepian yang syahdu, tentang dirinya dan orang-orang yang pernah dan masih ia cintai bareng secuil saja. Ingatan yang indah namun berbalut sedikit sesal.
3 bulan sebelumnya bibir Lluvia masih mampu melengkungkan senyum dan sesekali tawa, meski ia bukan gadis yang suka terbuka menunjukkan emosi di depan siapa saja, dan kebiasaan yang tertutup dan sedikit misterius itu telah ia miliki sejak lahir. Dikatakan oleh Anne Shawyer itu merupakan salah satu warisan ibunya, yang tak bisa diingat dengan baik oleh Lluvia karena mereka dipisahkan kematian, sehingga tak ada sedikitpun memori selain yang dituturkan oleh Anne sesekali padanya.
Anne adalah ibu angkat Lluvia, yang mengadopsinya dari panti asuhan di Hampshire saat berusia 1 tahun. Butuh waktu beberapa lama baginya untuk menemukan gadis itu, karena kabar kematian ibu Lluvia yang karibnya, sampai sedikit terlambat lewat surat kematian yang tiba di musim dingin 1993.
Anne memiliki anak perempuan seusia Lluvia dan ia mencintai keduanya sama adil. Mereka adalah sumber penghiburan terbesar. Apalagi ketika suaminya yang bekerja sebagai pemadam kebakaran meninggal saat bekerja, meninggalkan anak-anak itu ketika menginjak usia 5 tahun -- tak tahu sedikit hal apapun tentang kematian dan perpisahan yang harus ditanggung Anne seorang diri. Sesaat ia merasa dunia porak-poranda tapi ia berjuang untuk bangkit semua demi anak-anak yang dititipkan padanya. Meski pelan dan tak pasti Anne berhasil menata kembali hidup dan dunianya. Untuk melanjutkan hidup ia mengandalkan gaji pensiun suaminya dan sesekali mengajar sebagai guru les matematika pada keluarga kaya yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya.
Anne melihat lebih dekat seperti apa hidup orang-orang menengah atas. Dan dari salah satu orangtua anak-anak yang ia didik, ia mendapat sebuah inspirasi sebuah pencerahan masa depan, di mana ia merasa jika kedua putrinya akan hidup lebih baik jika mereka menjadi ballerina.
Dari sana ambisi Anne dimulai. Ia mendaftarkan Cheris dan Lluvia mengikuti les balet. Meski saat itu harga untuk mengambil kelas balet cukup mahal, hal itu tak membuatnya mengendorkan niat. Ia terpaksa mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan dan terpaksa lebih sering meninggalkan kedua putrinya di rumah dengan mengandalkan pengawasan tetangga yang tinggal di apartemen di seberang kamarnya.
Cheris dan Lluvia tumbuh bersama, membuat mereka amat karib seperti saudara. Meski sejak bisa mengingat dan bicara Anne sudah menceritakan kebenaran pada Lluvia kalau ia bukan anak kandungnya. Semua tak lepas dari alasan bahwa ia ingin Lluvia tetap mengenang ibunya meski hanya dari cerita yang ia tutur seperti dongeng menjelang tidur.
Kedua anak itu berkembang dengan mengemban ambisi Anne, meski Cheris tak pernah terlalu menganggap serius keinginan ibunya, karena ia lebih menyukai akting, meski pada akhirnya ia tak pernah bisa meninggalkan ballet yang sudah bagian dari jiwanya. Berbeda dengan Lluvia ia begitu berhasrat menjadi balerina nomor satu. Ia berjuang keras untuk bisa bergabung dengan kelompok balet paling honoral Royal Ballet yang berpanggung di Royal Opera House, Covent Garden, tempat paling kudus bagi para balerina di seluruh dunia.
Usaha Lluvia penuh keringat dan darah. Ia belajar tanpa henti hingga nyaris mematahkan tulang-tulang kakinya yang menjadi tumpuan tarinya yang indah. Meski pernah gagal, usahanya yang keras terbayar ketika ia berhasil lolos menjadi bagian White Lodge sekolah para balerina pemula yang berusia 11 hingga 16 tahun yang terafiliasi dengan Royal Ballet. Biaya pendidikan sepenuhnya ditanggung oleh yayasan Royal Ballet membuat Anne bisa bernapas lega.
Jika Lluvia ditakdirkan hidup mengandalkan kerja keras, Cheris lahir untuk menari. Kapanpun musik menggema di ruang latihan hingga panggung, tubuhnya seolah bergerak sedemikian rupa bak tersihir mengikuti irama -- lembut mengayun menyerupai angsa putih. Karena kharisma dan keterampilannya yang luar biasa ia dijuluki Swan Lake Royal Ballet.
Di usia yang ke 25, mereka sudah memiliki nama besar di dunia balet Inggris yang penuh persaingan. Keduanya diakui sebagai penari terbaik Royal Ballet yang paling bertalenta dan paling cantik seperti bunga -- dipuja para politisi dan bangsawan yang mengerti dan memuji seni pertunjukan klasik.
Cheris terkenal karena tarinya yang indah sementara Lluvia karena kecantikan, misteri dan pembawaannya yang terlihat rapuh. Keduanya memukau para penonton di Royal Opera House hingga tiket pertunjukan yang berlangsung tiap dua minggu dalam sebulan selalu habis terjual, tak peduli jika harga untuk tontonan itu mencapai ratusan poundsterling.
Sama seperti malam ini, pertunjukan penutup yang meriah akan diadakan. Lluvia dan balerina lain sedang bersiap di belakang panggung. Ada yang menghias wajah ada pula yang baru akan mengenakan kostum dibantu para asisten yang sibuk berlarian ke sana kemari mempersiapkan segala keperluan. Semua tampak sibuk, terburu-buru. Aura tegang terasa kental menyelimuti semua orang, sekalipun pertunjukan sudah sering berlangsung, tetap tak menyingkirkan tekanan untuk tampil luar biasa tanpa kesalahan. Lluvia pun tak luput dari perasaan serupa. Ia menatap wajahnya lebih lama dari balik cermin sambil bertanya apakah ia sanggup atau tidak?
Lluvia memiliki kecantikan yang anggun dan klasik. Wajahnya oval, kulitnya putih pucat dengan rona merah muda alami di pipinya. Ia memiliki hidung mancung yang ramping dengan cuping yang agak tinggi dan bibir tebal yang cantik. Matanya lebar seperti almond berwarna hazel yang memancarkan aura misterius. Cantiknya yang nyaris sempurna dibingkai pula dengan rambut coklat kemerahan bergelombang. Siapapun yang pertama melihatnya akan jatuh hati, dibuat kagum, terpesona hingga dibuat bersedir.
"Apa yang kau pikirkan?" Seorang gadis berambut pirang menyikut lengannya. Lluvia berpaling. Gadis itu mengusung senyum lebar yang jauh dari kata tegang. Tempat itu seolah jadi taman bermain yang mengasyikkan dan entah kenapa membuat hati Lluvia tertusuk. Bagaimana bisa Cheris menunjukkan ketenangan luar biasa sementara ia merasa nyaris akan tenggelam dengan semua kepanikan ini.
"Aku merasa tegang, bagaimana kalau sampai aku gagal?" Cheris memegang tangannya menularkan keyakinan hati yang ia miliki padanya.
"Semua akan baik-baik saja, kita hanya perlu menari dengan baik" ucapnya dengan nada penuh optimis dan percaya diri. Dua hal yang tak sepenuhnya ada dalam diri Lluvia.
Cheris memang dikenal karena periang. Ia memiliki semua ciri gadis kaukasoid pada umumnya. Mata biru berkilau, kulit putih pucat dengan sedikit frekel di bawah matanya. Tatapan sendu selalu terpancar darinya, terbalik dengan sisi kepribadiannya yang riang, tapi berguna ketika ia harus mengeluarkan ekspresi sedih ketika menari. Cheris memiliki hidungnya lurus dan tinggi dengan bibir tipis berbentuk hati yang menarik. Tak dapat disangkal Sawyer bersaudara adalah primadona, harapan baru bagi masa depan balet Inggris.
Tirai dibuka, musik opera dimainkan. Penari pembuka berjumlah 20-an orang mengisi panggung, meliuk dengan kaki-kaki mereka yang indah, menggoyangkan bahu, pundak, betis dan jemari mereka dengan lentik. Sesekali mereka melompat dengan lembut dan syahdu.
Setelah penari pembuka meninggalkan panggung, bintang utama Cheris melangkah masuk dengan kaki kanannya yang berayun pelan menyentuh panggung. Ia berjinjit, melompat dua sampai tiga kali dengan lompatan indah seperti bangau. Ia menapak tanah lagi seperti manusia kemudian berputar beberapa kali seperti gasing. Punggung, kaki lengannya semua bermain demikian rupa membuat siapa saja kagum.
Saat semua orang mulai hanyut dalam kesyahduan, balet pria muncul dari belakang memegang pinggangnya, mengangkat, lalu memutar tubuhnya dengan gerakan begitu dramatis dan indah. Dari jauh Lluvia memandangnya dengan iri, cemburu berharap bisa mementaskan tarian yang sama.
Ketika Swan Lake berhasil membuai penonton dalam khayal dan gerak indah kini giliran Lluvia menampilkan sisi terbaiknya sebagai Black Swan -- tugas yang sudah sering ia pentaskan dan berhasil membuai banyak orang meski belum dianggap semenakjubkan Cheris. Sedikit mengecewakan.
Lluvia melangkah anggun di antara ribuan mata. Tiap gerak kakinya lembut, anggun, namun mantap. Ia memutar tubuhnya, memainkan tangan dan tubuhnya begitu lentur mengisi tiap sudut panggung membuat siapa saja hanyut dalam tarian. Ketika musik menghentak lebih keras, ia melompat, berjinjit lalu berputar beberapa kali dengan bumbu drama dalam gerakannya untuk menciptakan sisi dramatis dan menakutkan dari perannya.
Mendekati akhir pertunjukan semua penari muncul menghias panggung. Cheris sebagai pemeran utama berada di tengah penari sebagai pusat perhatian. Mereka bergerak dalam satu irama dan gerak yang sama lalu berakhir dalam pose yang indah.
Pertunjukan berakhir, semua orang lega seperti Lluvia yang merasa semua bebannya terangkat sepenuhnya setelah perjuangan yang lama dan panjang.
Lelah sehabis pertunjukan membuatnya ingin segera pulang. Ia bergegas ke belakang panggung, berganti pakaian dan mengenakan coat merah sepanjang lutut dengan aksen kancing besar di bagian d**a. Ia berpaling ke arah kursi Cheris yang berada di sampingnya. Tempat itu masih kosong. Ia belum datang, padahal mereka harus segera mengejar kereta untuk pulang.
Ketika ia sedang sibuk mencari keberadaan Cheris, Lluvia melihatnya berada di lorong masuk menuju ruang ganti sedang bercengkrama dengan beberapa orang. Di tangannya ia memegang beberala buket bunga besar. Wajahnya riang dan merona, sementara orang-orang yang berbincang dengannya menyiratkan kekaguman dan tawa yang ramah dan menghibur. Sepintas Lluvia merasa sedih lalu bersambung kecewa, mengapa ia tak menerima rasa kagum yang sama? Bukankah mereka menari sama baiknya?
Perhatiannya yang begitu terfokus pada Cheris membuatnya tak sadar ketika seorang lelaki pertengahan 40-an mendekatinya dengan membawa buket mawar merah berpita merah yang indah -- mirip warna mantel yang ia kenakan.
Lelaki kurus berwajah muram dengan kacamata bulat yang kontras dengan wajah kotaknya, memasang senyum tipis untuk memulai sapaan. Ia memanggil nama Lluvia dalam dan hormat membuat gadis itu berpaling sedikit terkejut tak menyadari kehadirannya.
"Selamat malam Nona"
"Selamat malam"
"Saya Charles Mason" kata lelaki itu kemudian menyodorkan buket bunga di tangannya yang diraih Lluvia dengan sedikit heran sekaligus senang. Rupanya ia juga memiliki pengagum. Dunia tak seburuk pikirannya. "Ini hadiah dari tuan Howard"
Lluvia meraih sebuah amplop merah muda yang tersemat di antara kelopak mawar merah itu. Di dalamnya terdapat sebuah pesan yang ditulis dengan indah. Seorang lelaki bernama Howard menantinya di restoran di lantai lima Royal Opera. Ia ingin bertemu secara pribadi dengan Lluvia untuk menunjukkan apresiasi dan kekagumannya.
Lluvia yang merasa terkesan dan terharu sebab baru pertama mendapat surat dari pengagum, membuatnya tak kuasa menolak permintaan itu. Ia hanya membayangkan pertemuan akan terjadi dengan singkat bersama lelaki tua berusia 50 tahunan dengan pengetahuan yang baik tentang seni, pertunjukan Opera, dan sastra yang mungkin akan sedikit membosankan bagi orang sebayanya.
"Jika Anda bersedia silahkan ikut saya" kata Charles.
Lluvia mengangguk mengikuti lelaki itu. Tak jauh dari ruang Opera mereka memasuki sebuah restoran mewah yang berada tepat di jantung Royal Opera House dengan pemandanga langsung ke Paul Hamlyn Hall; restoran indah berlantai dua mengusung gaya klasik dengan dinding dan kubah yang semuanya tertutup kaca.
Begitu memasuki restoran mata Lluvia sibuk mencari ke tiap sudut restoran bergaya Victoria yang dinding-dindingnya dihias lukisan besar dengan lampu kristal menggantung di atas langit-langit, dengan kesan mewah yang begitu kental.
Lluvia melewati deret kursi merah di tata memanjang dari pintu, berujung di sebuah tembok yang diapit dua pilar, dihias lukisan besar yang menaungi sebuah piano yang kebetulan menggubah Symphoni nomor 8 Bethoven. Lluvia terpana sesaat mendengar betapa cekatan orang itu memainkan piano, hingga ia tak sadar hanya ada dirinya seorang di sana.
Ia melirik sekeliling dengan bingung, tak menyadari pria yang selesai memainkan pianonya mengedar mendekatinya. Begitu letupan terakhir dari sepatu kulit pria itu terdengar, ia berpaling.
Lelaki pirang di hadapannya memoles senyum dengan bibir tipis yang sedikit panjang dan sorot mata misterius yang tampak awas menatap Lluvia cermat. Ia melepas sarung tangan kulit berwarna hitam yang ia kenakan dan menjulurkan tangan perkenalan pada gadis itu.
"Luce Green Howard" kata lelaki itu singkat. Lluvia sedikit terkejut tak menduga jika ternyata pengagumnya adalah lelaki muda yang ia perkirakan masih di usia 30 hingga pertengahan 30-an. Tak lebih.
Lluvia dengan kikuk dan sedikit terkejut balas menjabat tangan Luce. Gerakan kecilnya mampu ia baca dengan baik, "Lluvia Shawyer"
"Silahkan duduk" ajaknya.
Luce melepas mantel biru navi yang ia kenakan lalu membuka satu kancing jas bagian atasnya dengan gagah, kemudian duduk berhadapan Lluvia.
"Pertunjukan yang luar biasa" kata lelaki itu dengan dengan suara dan nada menawan, yang tak pernah Lluvia pikir akan ia jumpai dalam hidupnya.
"Terima kasih. Senang mengetahui kalau Tuan Howard menikmati pertunjukkannya"
Luce tertawa lirih, "Panggil saja Luce, kurasa usia kita tidak begitu jauh" Lluvia mengangguk, dan seperti biasa ia tak begitu tahu cara bertingkah dengan gaya memikat. Ia selalu apa adanya, kikuk, bingung, dan pendiam. "Ingin makan sesuatu?"
Lluvia berpikir sekian detik, "Teh" tukasnya ringkas sedikit kaku.
"Teh saja?" gadis itu mengangguk lagi.
Luce memanggil pelayan dengan isyarat tangan. Tak lama lelaki muda 20-an berwajah latin yang sudah sejak tadi berjaga di sudut ruangan, menghampiri dengan sebuah menu. Luce memesan 1 cangkir teh dan segelas kopi tanpa gula.
Suasana hening sebentar. Luce sibuk mencermati Lluvia. Matanya seperti sumber kewaspadaan dan hasrat yang tersekat sedang diam-diam bersorak untuk sesuatu. Sementara gadis itu tak tahu harus berbuat apa. Tangannya mencengkram pangkuannya erat hampir merah. Sedikit perhatian dan tatapan mata akan membunuhnya.
"Tarianmu begitu indah, sedih, gelap dan rapuh. Tiap gerakannya sangat hati-hati. Aku benar-benar suka bagaimana caramu menyampaikan perasaan Black Swan" ucap Luce setelah hening sekian lama.
Lluvia tertunduk malu-malu, "Ini pertama kalinya seseorang memujiku"
"Kurasa banyak orang tidak bisa menangkap pesan darimu"
Lluvia diam untuk setuju, "Ya, andai seindah itu"
Perbincangan mereka terganggu sesaat ketika pelayan datang membawa pesanan.
"Aku ingin melihatmu menari sekali lagi" sambung Luce ketika pelayan mulai jauh. Lluvia bingung. Ia menyentuh leher dan rambutnya dengan segan dan bimbang.
"Ini pentas terakhir kami, mungkin pentas berikutnya bulan depan"
Luce paham, tapi tak begitu terima, "Itu terlalu lama? Bagaimana kalau kau menari secara privat di rumahku. Tentu saja itu tidak gratis. Aku akan membayarmu 50.000 poundsterling"
Lluvia melongo terkejut, "Lima puluh ribu?" katanya mengulang.
"Iya, kalau kau setuju datanglah ke rumahku hari Sabtu nanti di Kensington Royal Garden nomor 11. Rumahku berada di dekat Hyde Park, kurasa kau akan mudah menemukannya"
Sebelum menjawab pertanyaan Luce telpon Lluvia berdering. Panggilan dari Cheris. Ia diam sejenak lalu menjawab dengan tekad bulat.
"Aku akan datang" timpal Lluvia, membuat Luce tersenyum.
"Aku akan senang menyambutmu di rumahku"
Lluvia kemudian berdiri menyodorkan tangan pada Luce. Sekali lagi mereka bersalaman dengan hangat.
"Maaf, aku tidak bisa lama-lama. Saudaraku sudah menunggu"