Tiga

1673 Words
Jejak Lluvia terhenti setengah jalan meninggalkan stasiun kereta Waterloo. Ia baru teringat jika kebiasaannya kini berubah setelah kehilangan apartemen yang selama ini ia tinggali bersama Anne dan Cheris  di Cornwall Road, tempat mereka berbagi rasa bertahun-tahun. Ia pergi begitu saja tanpa mengemas barang atau dompet setelah Albert mengatakan jatuh cinta pada Cheris tanpa rasa bersalah. Apa yang ia bawa hanya sisa uang di saku mantel gelapnya, itupun tak seberapa, lusuh terkena hujan. Ia terdiam sesaat di tengah kerumunan. Tiap kali  melangkah perutnya berbunyi. Ia meraba saku mantel, sudah tak tersisa uang sepeserpun selain bekas tiket yang ia beli. Lluvia tersenyum getir, ia benar-benar kehilangan harapan hidup, tak ada yang tersisa membuatnya merana. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada meski melangkah begitu berat sedikit menyeret ia memutuskan pergi ke Royal Opera House. Tak ada tujuan berarti karena ia pun tak membawa peralatan berlatih atau pakaian untuk diganti. Ia hanya ingin datang ke sana melihat sisa-sisa kemewahan yang ia tinggalkan jika mungkin ini hari terakhirnya hidup karena kelaparan yang tak tertahan. Meski merasa hampir mati tak terbersit sedikitpun niat untuk meminta bantuan Cheris apalagi Albert. Mereka sudah jadi musuh dan manusia yang paling ia benci di muka bumi. Tiap kali mengingat pengkhianatan mereka, hati Lluvia terbakar dan tertusuk lalu air matanya menggenang begitu saja. Tiap kali ia menangis, ia berhenti sekedar meredakan rasa nyerinya. Matahari yang sedikit terik di musim gugur setelah hujan membuat atmosfer kian panas. Runa yang tak sempat menyentuh apapun ketika meninggalkan kediaman Luce, kehausan. Tiap melangkah bukan hanya perutnya yang lapar tapi juga tenggorokannya yang kering serasa tertusuk-tusuk duri kecil, hingga perjalanannya yang seharusnya berlangsung 17 menit sering terhambat. Ia sesekali berhenti sejenak untuk berteduh di sepanjang jalan York road, begitu pula ketika mendekati Waterloo bridge. Taman yang berada di dekat Hayward Gallery membuatnya tak tahan tak berhenti barang sejenak, meneduh, berbaring  mengumpulkan tenaga, mengusir letih. Lluvia berbaring di bangku taman dinaungi pohon  platanus yang daunnya menguning kemerahan. Ia menumpu kepala dengan lengannya. Selama merenung sambil melihat jalan raya, air mata jatuh dengan lembut namun menyakitkan -- ia sembunyikan malu-malu dari tatapan orang-orang. Ia menyesali betapa kehidupan berubah cepat akan membunuhnya. Satu-satunya sosok yang tergambar dalam lamunanya hanya Luce. Ia berharap lelaki itu muncul menolongnya sekalipun ia tahu hal itu tak akan terjadi. Ia tak punya apa yang Luce inginkan. Lama berbaring Lluvia tertidur. Ia terbangun menjelang sore saat matahari teduh, bersahabat. Suasana yang agak lengang tak seramai sebelumnya membuat ia yakin keadaan mendukung. Dengan tekad bulat ia melanjutkan perjalanan. Sayangnya lapar dan haus menderanya begitu buruk. Ia berhenti lebih sering sepanjang Waterloo Bridge. Lalu menjelang senja yang dingin ketika melintasi Wellington Street, tubuhnya gemetaran. Ia oleng nyaris jatuh tapi bertahan karena tekad. Melihat lampu-lampu mulai menyala sepanjang jalan Wellington dan aroma makanan lezat yang terbawa angin dari restoran Balthazar, hati Lluvia makin teriris. Ia melepas sepatunya lalu berjalan tanpa alas kaki hingga tiba di Bow Street. Di depan gedung Royal Opera  House ia berdiri dengan mata sembab, namun terlalu malu dilihat menangis. Ia  mencari sudut lengang di Lynburi Theatre di mana ia menangis sesegukan dengan tubuh bergetar. Menjelang tengah malam udara makin dingin. Bilangan orang lalu lalang bisa terhitung dengan jari, sementara lampu-lampu restoran dan toko sepanjang Bow Street mulai tutup. Lluvia tak tahu akan pergi ke mana dalam kesunyian itu. Harapannya tadi untuk mati di sana tak terjadi seperti kehendaknya. Ia berusaha bangkit tapi kekuatannya benar-benar habis. Ia sudah tak sanggup melangkah makin jauh. Melihat betapa ia merana dari seberang jalan, sekelompok lelaki muda yang sudah sejak tadi memerhatikan mendekatinya. "Kau tidak apa-apa Nona?" Kata lelaki awal 20-an berpenampilan necis padanya. Lluvia mendongak, ia meraih tangan lelaki itu untuk bangkit di tengah kesadarannya yang begitu tipis. Sayangnya keletihan membuatnya terhuyung tak bertenaga nyaris jatuh. Melihat betapa lemahnya gadis itu, niat buruk timbul di benak 3 lelaki itu. Mereka mengamati sekeliling lalu memberi kode pada satu sama lain lewat tatapan mata keji. "Sepertinya kau sakit, izinkan kami membantumu" lelaki berkulit hitam di antara mereka berusaha menggendongnya. Lluvia tau ada maksud tersembunyi di antara mereka. Ia berusaha menolak, menepis tangan-tangan yang berusaha menjangkau tubuhnya, tapi dengan tenaga seadanya melawan sekelompok pria usahanya tak berarti. Ketiga lelaki itu tertawa nyaring memasuki sebuah gang buntu di seberang Floral street yang kumuh penuh sampah namun tersembunyi, tempat paling bagus melakukan kejahatan menurut ketiganya. Mereka menatap Lluvia dengan senyum menjijikkan yang membuatnya nyaris muntah kalau saja bisa. Sesekali sambil mengumpulkan tenaga ia berontak, tapi upayanya yang tak lebih seperti cacing menggeliat tak memberi pengaruh berarti. Lelaki berkulit hitam yang menggendong Lluvia melemparnya ke deretan kantong sampah. Punggungnya yang terbentur tembok membuat ia kesakitan tapi suara rintihan tak keluar dari bibirnya yang kering dan berdarah tak sengaja tergigit. Bau sampah segera memenuhi hidungnya. Ia berusaha beranjak dari sana dengan merangkak, tapi keburu lelaki kurus dari ketiga kumpulan itu mendekatinya. Ia menarik dagu Lluvia lalu melepas kancing mantel yang ia kenakan satu demi satu sembari tertawa. Lluvia berontak. Dia mendorong tubuh lelaki itu sebisanya, tapi kedua kawannya yang lain datang memegang tangan dan kakinya. Ia tak bisa apapun selain menangis, merintih, berteriak memohon pertolongan tapi dengan tenaganya yang nyaris sudah tak ada, ia tak ubahnya seperti berbisik. Di antara kepungan perasaan putus asa, marah, terhina, sedih, terluka, hancur, air matanya makin menderas. Ia berharap mati hari itu juga. Dengan tatapan sayu ia menatap langit yang gelap berharap bisa meraung pada hidup yang kejam di mana ia lahir dan besar. Bunyi korek mendenting jatuh ke tanah yang lembab dan kotor. Lelaki kurus yang berada di puncak nafsu itu berbalik setelah tubuhnya terkena lemparan. Ia memberi kode pada dua kawannya yang lain hingga serentak berbalik. Mereka melongo setengah kesal, aksinya terhenti karena kedatangan lelaki bertubuh tinggi dengan overcoat gelap, tengah berdiri bersandar tembok sambil menghisap cerutu dengan khidmat. "Apa yang kau lakukan, huh?" Sekelompok pria bertubuh kekar berjumlah 8 orang memasuki gang. Mereka menarik tubuh tiga lelaki itu dan mendorongnya menyudut ke tembok. Suara pukulan dan bunyi tulang gemertakan menggema dalam sunyi. Mereka mencoba berteriak meminta pertolongan tapi pistol yang diarahkan ke kepala mereka membuatnya diam penuh keringat. "Patahkan tangan dan kaki mereka" kata Luce tanpa emosi. Ia menghisap cerutunya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya pelan ke udara. Setelah puas ia membuang cerutu itu ke tanah lalu menginjaknya dengan keras. Luce mendekati Lluvia. Dalam kegelapan ia menatapnya dengan iba. Setengah kancing mantelnya sudah terbuka hingga pakaian dalam putih berenda yang ia kenakan tampak jelas. Memori Luce berputar ketika malam sebelumnya ia melepas pakaian gadis itu yang datang padanya dengan tubuh basah. Luce duduk setengah berlutut. Aroma sampah dari tubuh Lluvia membuatnya bergidik menutup hidung. Ia menjauhkan pandangan dengan sedikit rasa jijik. Lluvia yang berada di ambang sadar dan mimpi menyadari lelaki yang berada di sisinya adalah Luce dari aroma parfum yang ia ingat dengan baik. Ia mencengkram lengannya lalu menangis dalam diam hingga tangan lelaki itu penuh air mata. Luce menghela napas, "Kalian semua keluar, bawa juga sampah-sampah itu! Mereka akan jadi bahan tontonan besok pagi. Bow street akan aman" Setelah meninggalkan keduanya di sana dalam temaram cahaya samar dari lampu jalan kekuningan di ujung lorong -- Luce melepas kancing pakaian Lluvia lalu menanggalkan mantel yang ia kenakan untuk menyelimuti tubuhnya. "Aromamu membuatku jijik" gerutunya sambil sesekali menahan napas, menggendong tubuh Lluvia menuju mobil Rolls-Royce hitam yang menunggu di pinggir jalan. ** Tiba di rumah buru-buru Luce membawa tubuh Lluvia ke kamar mandi di kamarnya, meletakkan tubuhnya di bathtub keemasan tempatnya sering berendam, lalu melepas semua yang menempel di tubuhnya jauh-jauh dan menyalakan keran air hangat. Ia melakukannya dengan cekatan dalam satu tarikan napas. Tubuh telanjang Lluvia saat itu gagal membuatnya b*******h, aroma sampah itu jauh lebih menggangunya, membuatnya merasa harus menyingkirkan aroma jahat itu darinya. Ia membuka kancing jasnya, membuang sepatu, kaos kaki, melonggarkan dasi dan menggulung lengan pakaiannya. Ia membasuh rambut Lluvia, menuang shampo hingga berbusa kemudian membilasnya. Lluvia tak bicara apapun, ia masih di ambang ilusi atau kenyataan. Meski ia bisa merasa semua sentuhan itu adalah kebenaran yang riil. Ia tak menolak, tetap membiarkan Luce membersihkan tubuhnya. Ia juga merasa jijik dengan apa yang terjadi. ** Lluvia terjaga karena ngilu di punggung tangannya.  Ia menatap sekeliling; sebuah ruangan klasik bergaya Victoria bercat putih gading yang pernah ia lihat sekilas memenuhi matanya. Di dinding berderet 2 lukisan kontemporer, sementara lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit dan sisi tembok. Lemari dan meja rias berada di sudut kamar, sementara di tengah ruangan tertata 2 kursi ukir Mahogany yang dipernis coklat. Lluvia melirik jendela lebar tempat Luce pernah berdiri kemarin lalu. Seperti nostalgia. Ia membuka selimut berpikir jika mungkin sedang telanjang seperti sebelumnya, tapi sebuah terusan putih sepanjang lutut menggagalkan perkiraannya. Tiba-tiba ia dibuat tertampar kejadian semalam, bukan kejadian buruk ketika ia nyaris diperkosa, sebaliknya ingatan ketika Luce membasuh, menyikat dan menggosok seluruh tubuhnya. Entah mengapa sentuhan itu menempel lekat di memorinya. "Sudah bangun?" Luce masuk begitu saja dengan wajah segar. Ia mengenakan kemeja putih gading berantakan yang pergelangan tangannya dilipat hingga siku. Kedua tangannya tersembunyi dalam saku celana. Tak seformal biasanya. Ia berdiri di tengah ruangan menatap Lluvia dengan sepasang mata biru lautnya yang dalam penuh misteri. Lluvia melengguh balas bicara. Ia bangkit dengan gerakan lemah, perlahan hingga tampak selalu akan jatuh, membuat Luce mengernyitkan kening. Ia bernapas dengan berat, wajahnya tertunduk, napasnya berat. "Terima kasih... Aku sangat berterima kasih pada kebaikan hatimu" Luce duduk di sisi tempat tidur tempat Lluvia berbaring. Ia menarik dagu gadis itu lalu tampak prihatin dengan keadaannya. Bibirnya terkelupas dan berdarah, wajahnya pucat, matanya sayu, letih karena menangis. Ia tak bisa berkata-kata untuk menggambarkan kepedihan yang ia temukan. Wanita paling cantik yang pernah ia temui begitu menderita, hanya itu satu kata yang ia tahu. "Kenapa kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun?" Mata Lluvia tiba-tiba bersimbah air mata, "Kukira kau tidak menginginkanku... karena aku tidak bisa memberimu... apa yang kau inginkan" ia berbicara dengan tersedak, sesegukan karena air mata yang mendadak deras. Dada Luce membusung. Ia menarik napas pelan, "Aku menginginkanmu, menginginkan tubuhmu tapi itu hanya alasan dangkal. Kenyataannya aku tidak bisa membuangmu dengan alasan apapun" Lluvia memeluknya erat penuh air mata, membuat Luce terkejut, "Hanya kau satu-satunya yang kumiliki di dunia ini... Dalam tanganmu kuserahkan nyawaku"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD