Cheris berdiri di depan pilar besar yang menyangga bangunan megah Royal Opera House dengan tangan yang sibuk memencet ponsel. Wajahnya tak sabar, bercampur kesal dan marah. Ketika lapis kesabaran terakhirnya nyaris habis, Lluvia muncul mengendap-endap kemudian memegang pundaknya tiba-tiba. Cheris tak bereaksi. Ia menghela napas sedikit malas.
"Kau dari mana saja?" keluhnya setengah lelah, setengah menggerutu. Lluvia memulas senyum tipis tampak gembira.
"Bertemu seorang teman"
Mata Cheris menyelidik, menyikut tangan Lluvia dengan usil diselingi tawa menggoda, "Teman? Aku tak tahu kau punya teman selain aku. Apa itu pacarmu?"
"Bukan" sergahnya sambil tertawa kecil menyembunyikan perasaan terusiknya. Cheris memang baik sangat baik bahkan, tapi sifatnya yang kadang ingin tahu terlalu banyak seringkali membuat Lluvia tak nyaman. Ia berusaha menahan perasaan maupun pikiran pribadinya takut dianggap egois. "Ayo, kita harus segera pulang!" sambungnya mengalihkan perhatian Cheris dan berhasil. Gadis itu tak lagi bicara. Ia menghela napas berat dengan langkah malas membuat Lluvia harus bekerja keras menariknya menembus pekat malam jalan Bow street menuju stasiun kereta terdekat. Lluvia menatap jam tangan, sudah hampir pukul 10, kereta terakhir akan segera lewat membawa mereka ke Waterloo.
Suasana dalam kereta lengang. Cheris dan Lluvia duduk berdekatan di bangku panjang berbentuk tube. Cheris mulai ngantuk, kepalanya sesekali jatuh ke pundak Lluvia. Ia memulas senyum. Jarang menikmati waktu tenang karena harus bisa dan biasa memaksa diri mengimbangi pembawaannya yang penuh semangat.
Ponsel Lluvia berbunyi di tengah sunyi. Ia meraba saku mantelnya, sebuah pesan dari Albert membuatnya berseri. Cheris yang terbangun mengintip sekilas lalu bergumam.
"Kalian sudah pacaran 3 tahun 'kan?"
Lluvia mengangguk. Tiap membicarakan Albert matanya selalu berbinar antusias.
"Ya, tapi belum pernah bertemu sejak dia melanjutkan kuliah Magisternya di Paris"
Cheris melengguh, "Aku selalu heran bagaimana bisa kalian pacaran selama itu padahal hanya bertemu lewat aplikasi kencan. Kenapa kau tidak mencari laki-laki di kehidupan nyata saja. Aku heran padamu"
Lluvia menghela napas. Dalam diam ia pun tak mengerti mengapa jatuh cinta pada seseorang yang tak pernah ia temui -- sebatas ia rasakan hadirnya lewat pesan singkat, telpon atau sesekali lewat panggilan video.
"Kau tau aku tidak bisa melakukannya" kata Lluvia pendek, menyerah tak punya alasan.
"Kau hanya tidak mau mencoba"
Gadis itu tak berkata apapun. Dia dan Cheris sering berbeda pendapat dalam debat kecil. Hanya saja Lluvia jarang atau tak pernah jujur mengemukakan apa yang ia rasakan dan memilih diam sebagai bentuk persetujuan yang akan membuat Cheris meski tak senang, bisa sedikit puas.
Ponsel Lluvia berdering lagi. Wajahnya yang berseri memulas tawa tipis. Ia menggenggam tangan Cheris membuat gadis itu melongo.
"Albert akan pulang, dia akan pulang hari Senin minggu ini"
Cheris tak antusias bahkan tak pernah tertarik mengenal Albert. Ia tak mengerti bagaimana dua orang bisa saling jatuh cinta hanya lewat pesan teks dan panggilan telpon -- semuanya tak masuk akal. Namun, meski tak suka hubungan mereka ia tak banyak berkomentar karena tahu Lluvia tak akan mendengarkan ucapannya. Ia hanya mengangguk menunjukkan dukungan seadanya.
**
"Mama" panggil Cheris begitu membuka pintu. Tak lama Anne muncul dari dapur membawa dua mangkok salad dan roti. Wajah Anne sudah penuh kerut diusianya yang ke-50 -- tanda hidupnya penuh perjuangan, kerja keras, tapi semua garis halus itu tak kuasa memusnahkan kecantikannya yang seolah abadi.
"Kalian terlambat" keluhnya. Cheris buru-buru membubuhkan ciuman ke pipinya untuk mencegah Anne menggerutu, sementara Lluvia ke dapur, membantu Anne. Ia keluar membawa semangkuk sup hangat yang diletakkan di atas meja yang ditutup serbet bermotif floral merah mudah.
"Ayo kalian ganti baju, kita makan bersama"
Setelah Cheris dan Lluvia duduk di kursi masing-masing, Anne menuang salad ke piring mereka ditambah sedikit roti. Keduanya makan seperti gelandangan yang menderita, tapi harus dilakukan untuk menjaga diet dan bentuk tubuh mereka tetap ramping.
"Bagaimana pentas kalian malam ini?" tanya Anne seperti biasa. Ia selalu antusias mendengar cerita anak-anaknya tentang pertunjukan opera dan penonton yang antusias menonton mereka, sekalipun ia belum pernah melihat secara langsung Cheris dan Lluvia menari. Ada sebab tersendiri kenapa ia belum mau menginjak Royal Opera House sekalipun tiket gratis bisa ia dapat dengan mudah. Anne memiliki ambisi tersisa melihat Cheris atau Lluvia menjadi penari utama yang selalu ada di setiap kelompok balet. Mereka-mereka yang terpilih mendapat gelar kehormatan sebagai Principal character artist.
"Luar biasa Mama" seru Cheris. "Beberapa penonton datang menemuiku di belakang panggung membawa bunga. Aku benar-benar senang. Mama harus datang nanti untuk melihat kami pentas"
Anne tersenyum tipis sembari menyuap sup pelan-pelan, "Mungkin jika kalian sudah menjadi Principal character artist" Cheris memegang tangan Anne lalu tersenyum percaya diri.
"Tentu saja Mama, Mama pasti akan melihatnya"
Muka Lluvia masam. Ia melirik Cheris sepintas lalu membuang pandangan.
Selepas makan malam Lluvia mencuci piring, membersihkan meja dan membuang sampah sementara Anne dan Cheris beristirahat. Setengah lelah ia kembali ke kamar disambut panggilan telpon dari Albert membuat senyumnya yang hilang mengambang kembali.
"Hallo sayang" kata lelaki itu dari balik telpon
"Aku merindukanmu" kata Lluvia malu-malu, menggigit kuku ibu jarinya.
"Nyalakan komputermu, kita mengobrol di Skype"
Melihat wajah Albert sekalipun di balik layar membuat Lluvia teramat gembira seperti anak kecil. Tapi rasa malu yang melekat padanya membuat ia menahan dan membatasi semua ekspresi berlebihan yang mungkin muncul di wajahnya yang cantik hingga ia lebih sering tampak dingin dan tak antusias.
"Aku terkejut kau akan pulang" kata Lluvia. Albert sempat mengecek ponselnya sebentar lalu menjawab keterkejutan gadis itu.
"Itu kejutan, tapi kupikir lebih baik mengatakannya lebih awal agar kau menjemputmu di bandara"
Lluvia tersenyum malu sambil sesekali curi pandang. Albert lelaki bermata hijau cerah. Dagunya kotak ditumbuhi janggut dan kumis yang ditata rapi membuat kesan maskulin menonjol di wajahnya. Ia rupawan dan mungkin disukai banyak perempuan.
Sesekali terbersit rasa curiga tentang kesetiaan Albert. Ia punya semua yang digilai perempuan, wajah tampan, pendidikan yang baik dan yang terpenting ia berasal dari latar belakang keluarga mapan dan cukup terpandang. Semua alasan itu membuatnya merasa pantas mempertanyakan hati lelaki itu, namun sekalipun Lluvia dihantui rasa ragu yang hampir sama besar dengan cintanya, ia tak pernah bertanya. Ia selalu menunjukkan diri seolah ia percaya sepenuhnya. Dan ia pikir itu yang Albert inginkan.
"Sayang... Bolehkah?" Lluvia menatap lelaki itu sedikit lama. Seperti biasa sorot matanya tampak mengiba tapi sama dengan sebelumnya Lluvia menggelengkan kepala. "Hanya melihat. Tak ada orang di sini. Kau bisa lepaskan pakaianmu sebentar. Aku berjanji tidak akan merekamnya"
Gadis itu tersenyum, "Mungkin nanti"
"Nanti kapan? Kau selalu bilang nanti dan ini sudah 3 tahun" keluh Albert putus asa. Lluvia kebingungan tak tahu mencari alasan apa.
"Bisakah kau sabar sedikit lagi, aku belum bisa melakukannya sekarang"
"Kita tak melakukan apapun, hanya melihat, hanya melihat" ia berkeras membuat Lluvia tak berkutik.
"Kita bicarakan nanti, aku mengantuk sekarang. Kau juga sebaiknya istirahat" Lluvia menutup obrolan itu dengan alasan yang sama dan hampir ratusan kali ia katakan. Ia hanya melarikan diri dari permintaan yang tak bisa ia lakukan.