Tujuh Belas

1471 Words

Lluvia mengamati guguran salju di hadapannya dengan muka pucat. Waktu berlalu demikian cepat, sudah memasuki musim dingin. Ia tak pernah mendengar kabar apapun dari Luce tapi tak sekalipun melupakannya meski bayang dirinya hanya hadir dalam ingatan sepintas lalu membuatnya merasa rindu yang dalam. Lluvia menutup tubuhnya yang kedinginan dengan mantel merah yang tak seberapa tebal sembari melilit scarf ke lehernya. Meski tubuhnya cukup hangat kakinya terasa hampir beku karena udara dingin yang menusuk. Ia tak memiliki apapun untuk menutup tubuh bawahnya selain stoking tipis yang ia beli ketika obral besar di pasar Covent Garden. Ia melangkah hati-hati di atas salju yang licin memenuhi trotoar hanya mengenakan sepatu flat biasa. Ia tak memiliki uang lagi untuk membeli setidaknya sepatu khu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD