Dengan langkah terpincang Lluvia memasuki kamar. Ia menyalakan lampu, menggeledah meja berusaha menemukan obat di laci kamarnya, namun setelah mencari hingga berulang kali ia tak menemukan apapun selain tisu yang hanya tersisa beberapa lembar di atas meja. Dengan pasrah karena tak menemukan apapun, ia hanya berupaya mengobati diri sekananya. Ia berjalan menuju kamar mandi, menatap lututnya dengan rasa merinding dan ketakutan melihat darah menetes tanpa henti. Lluvia menarik shower, melepas sepatunya lalu memalingkan wajah kemudian menyiram air ke atas lukannya yang terbuka. Matanya mengatup rapat. Ia mendesis menggigit bibir bawahnya menahan rasa perih bak teriris hingga tubuhnya menggeliat. Setelah membasuh kakinya, ia melepas stoking hati-hati lalu menutup lukanya dengan

