Lluvia keluar bar dengan wajah tertunduk dan mata yang merah karena terus berusaha menahan tangis berjam-jam lamanya selama bekerja. Para pria dalam bar menggunjingkan dan mengejeknya sepanjang waktu sebagai w************n dan mata duitan yang hanya ingin tidur dengan pria kaya. Suara tawa yang meluncur dari candaan dan mulut orang-orang itu melukai perasaannya terus menerus. Ia tak tahu apakah masih punya keberanian menunjukkan wajah di sana atau tidak. "Tunggu" Lluvia meringsut kaget ketika seseorang memegang tangannya begitu tiba-tiba di muka pintu keluar. Ia mengangkat pandangan perlahan lalu menemukan sosok pria bermata abu-abu yang tak lain adalah Darwin Martin. Sudah lama ia tak melihat pria itu muncul di sana. Bertemu dengannya hari ini membuat perasaan takutnya yang terpen

