bc

Cinta Terlarang dengan Sang Duda

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
forbidden
age gap
friends to lovers
independent
boss
single mother
drama
sweet
bxg
city
civilian
like
intro-logo
Blurb

Janji pada nenek, dan seorang duda yang membuat hatinya bergetar. Pertemuan pertama mereka tampak biasa, tapi satu situasi mengubah segalanya. Tanggung jawab, godaan, dan cinta. Apakah dia akan menepati janji pada nenek yang dicintainya?

chap-preview
Free preview
01. Kesan Pertama
Hampir pukul dua siang, di tengah kemewahan sebuah apartemen bergaya elegan di kawasan elit Mayfair, London. Livia Dawson memeriksa jam tangannya. Satu menit lagi, waktu perjanjian akan dimulai. Dengan gugup, dia melangkah mendekati panel video interkom di sisi pintu, jemarinya ragu-ragu sejenak sebelum menekan tombol panggilan. Ini adalah jam terbang pertamanya setelah beberapa waktu beristirahat sebagai tutor. Dia tak ingin mengecewakan, seperti yang terjadi pada kesempatan terakhir. Beberapa detik berlalu, lalu suara seseorang terdengar melalui speaker. "Siapa ini?" Livia menelan gugupnya, berusaha terdengar percaya diri. "Saya Livia Dawson, tutor yang telah dijadwalkan untuk menemui Naia Grant." "Ah, tunggu sebentar," kata suara itu sebelum pintu utama berbunyi pelan. Seorang anak perempuan berdiri di ambang pintu, mengenakan jubah mandi putih. Livia sudah melihat foto anak yang akan diajarkan, tapi tak menyangka bahwa Naia akan terlihat lebih cantik secara langsung. Naia mengangkat alis, seolah menilai tamunya. "Silakan masuk, Miss Dawson." Dia menggeser pintu lebih lebar, memberi ruang. "Saya baru saja selesai mandi," lanjutnya. "Tunggu sebentar, saya perlu berganti pakaian terlebih dahulu." Dengan langkah ringan dan tergesa, Naia meninggalkan Livia di ruang tamu. Livia berusaha menjaga sikap selama menunggu. Entah berapa lama dia mengalihkan pikirannya dengan menghitung angka-angka dalam kepala, Naia tak kunjung keluar dari kamar. Biasanya, anak tunggal dimanjakan orang tua mereka. Kasih sayang yang berlebihan seringkali membuat mereka mengabaikan orang lain dan berperilaku seenaknya. Namun, Livia tak ingin menyamaratakan persepsi umum itu. Dia teringat dengan informasi yang didapatnya sebelum datang ke rumah mewah ini, Naia adalah anak yang baik dan ceria. Lagipula, tujuan utamanya menerima tawaran pekerjaan ini adalah untuk membantu meningkatkan nilai Naia di sekolah. Dia harus fokus pada hal itu dan melakukannya dengan bijaksana. Satu setengah jam berlalu, dan akhirnya Naia muncul dari kamar, berjalan menuju ruang tamu. Naia tersenyum. "Maafkan saya, Miss Dawson, membuat Anda menunggu begitu lama. Tiba-tiba saya sakit perut." Kekesalan Livia langsung menguap. "Tak masalah. Apa sekarang sudah merasa lebih baik?" Naia mengangguk. "Sudah jauh lebih baik. Sebelum kita mulai pelajaran, apakah Anda ingin minum sesuatu?" "Hmm, air putih saja," jawab Livia singkat. "Baiklah, saya akan ambilkan." Livia menunggu lagi. Setengah jam berlalu, tapi Naia belum juga kembali dengan minuman yang dijanjikan. Perasaan negatif mulai merayapi Livia—sepertinya Naia sengaja mengulur waktu, berusaha agar pelajaran hari ini gagal. Ini bukan hal baru baginya, karena banyak anak yang enggan belajar dan cenderung menciptakan masalah agar pelajaran privat dibatalkan. Namun, meskipun dua jam telah berlalu tanpa hasil, Livia bertekad untuk tak menyerah. "Maaf, saya membuat Anda menunggu lama lagi," ucap Naia, melangkah ke ruang tamu. "Saya tak tahu di mana letak gelasnya, karena saya jarang berada di rumah. Bibi yang biasanya membantu kami juga tak datang hari ini," lanjutnya sambil duduk, senyuman manis kembali menghiasi wajahnya. "Silakan minum air putihnya." Livia memperhatikan gelas yang terletak di meja. Dengan senyum kecil, dia membatalkan niatnya untuk mengambil minuman dan berkata, "Bagaimana kalau kita mulai saja pelajarannya?" Baru saja Naia hendak membuka mulut untuk menjawab, terdengar suara pintu yang terbuka. Naia tersenyum sekilas, tapi senyumnya segera memudar ketika matanya bertemu dengan tatapan Livia. "Bagaimana ini? Daddy sudah pulang. Waktu kita hampir habis," kata Naia, raut wajahnya menunjukkan kekecewaan. Meskipun hatinya terasa berat, Livia berusaha menjaga kendali. Dia tetap tersenyum, meyakinkan diri bahwa ini hanya pertemuan pertama. Cepat atau lambat, Naia akan dia disiplinkan. "Daddy!" Begitu Naia bangkit, Livia menoleh, dan seketika terpukau oleh sosok yang dipanggil. Bagaimana bisa ada pria dengan penampilan seutuhnya sempurna, seperti karakter dalam komik, benar-benar ada di dunia nyata? Livia perlahan bangkit dari sofa. "Ha-halo. Selamat sore, Mr. Alistair Grant," ucapnya dengan sedikit canggung. "Miss ...?" Alistair mengangkat alis, berusaha mengingat. "Livia Dawson," jawab Naia cepat, tak memberi waktu bagi daddy-nya untuk bingung lebih lama. "Ah, ya!" Alistair mengulurkan tangan, yang dengan sopan disambut oleh Livia. Setelah saling berjabat tangan, mereka duduk bertiga di ruang tamu. Livia merasa kecil dan tak berarti di hadapan dua sosok sempurna itu, seperti butiran debu yang berharap bisa terhempas oleh angin. "Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat anak saya pintar?" tanya Alistair, suaranya datar. Livia tertegun. Pertanyaan itu datang begitu tajam, bersamaan dengan ekspresi wajah yang dingin, membuatnya terdiam. Seorang ayah benar-benar ingin tahu kapan anaknya akan jadi pintar? "Daddy membuatku terdengar seperti anak bodoh. Itu menyakitkan," ucap Naia dengan nada kecewa. "Mungkin lebih baik aku menunggu di kamar saja, daripada mendengarkan percakapan kalian." Rasa bersalah langsung menggelayuti hati Livia. Dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Naia saat mendengar ucapan daddy-nya. Bahkan, Livia merasa tak mampu mencegah Naia pergi meninggalkan mereka. "Jangan terlalu dipikirkan," sahut Alistair, seakan meredakan kekhawatiran Livia. "Naia bukan bodoh, hanya sedikit malas. Saya harap Anda bisa membedakan keduanya." Alistair tersenyum. "Meski ini pertemuan pertama, Anda sudah memahami putri saya dengan sangat baik. Saya rasa saya tak salah memilih Anda sebagai tutor Naia." Mendapat pujian mendalam, wajah Livia memerah. "Kita tak bisa terus-menerus memaksa anak untuk belajar. Mereka juga butuh waktu untuk bernapas dan beristirahat. Tak ada yang salah jika mereka tak memenuhi standar yang ditetapkan, itu bukan berarti mereka bodoh. Setiap orang memiliki potensi mereka sendiri. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu Naia." Setelah mengucapkan kata-kata itu dengan sedikit keberanian, Livia merasa menyesal. Menyesal karena kelancangannya di pertemuan pertama. Kata-katanya di hari itu begitu tajam dan langsung, ditambah lagi sikapnya yang mungkin terkesan berani dalam menghadapi daddy-nya Naia. Livia terus teringat kata-kata yang telah dia ucapkan, berputar-putar di benaknya selama dua hari berturut-turut. Seharusnya, dia bisa lebih berhati-hati di pertemuan pertama itu, karena hingga saat ini, dia belum menerima kabar apapun mengenai kelanjutan pelajaran Naia. Apa aku masih diinginkan? pikirnya cemas. "Livia, bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Thalia, teman seprofesinya. "Aku dengar ayah dari anak yang kau ajar itu duda tampan." Livia tersenyum tipis. "Sepertinya pekerjaanku tak ada hubungannya dengan itu." Thalia mencibir. "Setidaknya, kau bisa sambil cuci mata," godanya. Livia terkikik kecil. "Daripada cuci mata, lebih baik aku cuci pakaian yang menumpuk. Mau ikut?" "Tidak, terima kasih. Aku juga bisa cuci pakaian di rumah. Tapi kalau kau mengajakku cuci mata, aku pasti ikut," kata Thalia, lalu dia tertawa. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan nenekmu?" "Keadaannya membaik. Setiap akhir pekan, aku rutin mengunjunginya." "Kenapa tak bawa nenekmu tinggal di kota? Kau 'kan sekarang sibuk mengajar. Pikirkan juga waktu istirahatmu." Livia mengangguk setuju. "Aku akan coba bujuk Nenek untuk tinggal bersamaku." Dia bangkit dari kursi kerjanya, lalu dengan sikap terburu berkata, "Sekarang aku harus pergi mengajar. Sampai jumpa." "Baiklah. Hati-hati di jalan!" Thalia tersenyum sebelum mereka berpisah. Meskipun tak ada kabar dari Alistair maupun Naia, Livia tetap memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mengajarnya. Dalam perjalanan, tak sengaja dia melihat Naia di dekat sebuah minimarket. Anak itu tengah berbicara dengan dua temannya, dan yang mengejutkan, Naia memegang sebatang rokok. Livia tak bisa menahan diri. Dia segera mendekat, merebut rokok itu dari tangan Naia, memadamkannya, lalu membuangnya ke tong sampah. "Apa yang Anda lakukan?!" Naia tampak sangat marah, wajahnya memerah karena kesal. "Naia, siapa dia?" tanya salah satu teman Naia dengan nada penasaran.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook