02. Pulang ke Shere

1296 Words
Livia memandang dua teman Naia yang berdiri di sebelahnya, sosok mereka terlihat lebih dewasa dibanding Naia. Ada sesuatu dalam penampilan mereka yang membuat Livia enggan percaya. “Kau belum cukup umur untuk merokok, Naia. Bahkan untuk mencobanya saja, kau seharusnya berdiskusi dulu dengan daddy-mu,” tegur Livia. Naia mendengus dan memalingkan wajah. Sebelum suasana makin canggung, seorang pria muncul dari arah minimarket. Wajahnya tampak bingung saat menanyakan rokok yang sebelumnya dia titipkan pada Naia. Livia mendadak merasa malu, seolah tuduhannya baru saja memantul kembali padanya. Wajahnya memerah, dan dia langsung menunduk seraya berkata, “Maaf, saya membuat kesalahpahaman." Naia tak berkata apa-apa. Dia langsung pergi meninggalkan teman-temannya, yang hanya bisa terdiam dengan ekspresi bingung. Livia segera menyusul, meminta maaf berkali-kali, tapi permintaan maafnya tak digubris. Setibanya di depan gedung apartemen, Naia menghentikan langkahnya dan berkata datar, “Pelajaran hari ini kita tunda. I'm not in the mood.” Livia mengangguk kecil, tak ingin memaksa. “Baik, aku mengerti. Kalau begitu, sampai bertemu lagi.” Livia menarik napas panjang, mencoba meredakan kegelisahan yang masih membekas. Langkahnya perlahan menjauh dari tempat itu. Namun, belum jauh dia berjalan, sebuah mobil mewah melambat di sisinya dan berhenti. Jendela bagian depan perlahan turun, memperlihatkan wajah yang sudah tak asing baginya. "Mr. Grant?" Livia menyapa dengan ragu, matanya sedikit terbelalak melihat pria itu di balik kemudi. Alistair mengerutkan dahi, melirik sekilas jam tangannya yang menunjukkan waktu. “Bukankah seharusnya Anda sedang mengajar?” tanyanya dengan nada yang tak sepenuhnya terkejut, tapi jelas mengandung rasa penasaran. Livia tersenyum pahit. “Naia meminta libur. Dia sedang tak dalam suasana hati yang baik.” Alistair mengangkat alis. “Tak dalam suasana hati yang baik?” Merasa percakapan ini memerlukan lebih banyak waktu, Alistair menawarkan tumpangan. Di dalam mobil, Livia menjelaskan kejadian di minimarket, lengkap dengan kesalahpahaman yang terjadi. Alih-alih bersimpati, Alistair justru tertawa. “Kenapa Anda tertawa?” tanya Livia, setengah kesal. “Saya hanya berpikir, itu cukup lucu,” jawab Alistair sambil tersenyum. “Tapi saya tak sepenuhnya salah, 'kan? Saya hanya khawatir dan bertindak spontan,” balas Livia, mencoba membela diri. “Dan saya berterima kasih untuk itu,” sahut Alistair ringan. “Karena Anda telah mengkhawatirkan Naia.” Livia menghela napas panjang, berusaha mengusir rasa bersalahnya. “Ngomong-ngomong, minggu ini saya hanya bisa dua kali pertemuan. Hari ini akan saya ganti minggu depan.” Alistair mengangguk. “Tentu saja. Kita masih punya hari Minggu, bukan?” “Sayangnya, saya tak bisa. Saya harus mengunjungi nenek. Itu pertemuan yang penting.” “Ah, saya mengerti,” kata Alistair, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Ngomong-ngomong, Anda single atau taken?” Livia terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia menoleh, menatap pria yang tetap fokus menyetir. Ketika dia tak langsung menjawab, Alistair ikut menoleh, membuat pandangan mereka bertemu sesaat. “Apa pertanyaan itu membuat Anda tak nyaman? Saya hanya ingin memastikan, supaya tak ada masalah di kemudian hari. Saya bisa menjaga jarak,” jelas Alistair. "Ti-tidak, bukan begitu. Saya hanya ... terkejut. Sudah lama tak ada pria yang bertanya seperti itu.” Setelah menarik napas dalam-dalam, Livia melanjutkan, “Saya single.” “Benarkah? Padahal saya pikir Anda cukup menarik untuk didekati.” Wajah Livia memerah, sensasi hangat menjalar di pipinya. Dia berusaha mengalihkan perhatian, menatap jalanan di luar jendela. Namun, rasa penasaran justru mendorongnya untuk bertanya balik, “Bagaimana dengan Anda?” “Istriku sudah lama meninggal. Untuk mencari penggantinya … rasanya hidup terlalu sibuk untuk itu," ucap Alistair, tatapannya masih mengarah lurus ke jalan. Livia terdiam, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara. Saat mobil mulai melambat dan akhirnya berhenti, dia melirik ke luar jendela, memastikan tempat tujuannya sudah tercapai. “Kita sudah sampai." Alistair mematikan mesin mobil, yang hanya membawa keheningan baru di antara mereka. Livia menoleh ke arah Alistair, ingin mengucapkan sesuatu tapi ragu. Percakapan mereka terasa menggantung, dan meski ada dorongan untuk mengungkapkan simpati, dia memilih untuk menahan diri. "Terima kasih sudah mengantar," ucap Livia dengan sopan. "Saya seharusnya tak merepotkan Anda." “Tak merepotkan sama sekali,” balas Alistair dengan tenang. “Saya yang berinisiatif. Dan, jangan khawatir tentang Naia. Dia hanya butuh waktu untuk meredakan emosinya.” Livia mengangguk pelan, kata-kata Alistair berhasil menghapus beban di hatinya. “Kalau begitu, saya pamit dulu,” katanya sebelum membuka pintu kabin dan melangkah keluar. Dari dalam mobil, Alistair diam-diam memperhatikan sosok Livia yang makin menjauh. Ketika Livia akhirnya menghilang dari pandangan, dia menghela napas pelan, menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya kembali ke jalan. Sementara pikirannya tetap tertinggal pada wanita yang baru saja dia antarkan. *** Bangunan-bangunan tinggi dengan jendela berkilauan perlahan menghilang, digantikan oleh deretan pohon rindang, ladang hijau yang luas, dan rumah-rumah pedesaan yang tertata rapi di kejauhan. Udara yang sebelumnya penuh dengan hiruk-pikuk kota kini terasa lebih segar. Livia menutup matanya sejenak, membiarkan angin sepoi-sepoi yang menerobos melalui jendela bus membelai wajahnya. Sekitar satu setengah jam berlalu, bus akhirnya berhenti di stasiun distrik Guildford, sebuah kota kecil yang tenang di bagian barat Surrey—persinggahan pertama dalam perjalanan Livia. Dari sana, dia melanjutkan perjalanan dengan taksi yang sudah menunggunya, membawa dirinya melewati jalan-jalan yang makin sunyi, dikelilingi oleh hamparan ladang hijau dan hutan lebat yang makin lekat terasa. Setelah perjalanan enam kilometer, taksi itu berhenti di pintu masuk desa Shere, sebuah tempat yang terasa begitu jauh dari keramaian kota. Begitu Livia turun, aroma rerumputan basah segera menyambutnya. Di kejauhan, tampak deretan rumah kecil terhampar di lereng bukit, dan di antara rumah-rumah itu, rumah neneknya berdiri. Jalan berbatu yang sempit membentang di depannya, dikelilingi bunga-bunga liar yang tumbuh bebas. Rumah neneknya, dengan atap genting yang sudah usang dan jendela kecil yang selalu terbuka, masih tampak seperti dulu, tak banyak berubah meskipun bertahun-tahun berlalu. Livia mempercepat langkahnya, menyusuri jalan setapak yang mengarah ke rumah neneknya. "Livia pulang, Nek!" ucapnya dengan suara ceria, disertai senyuman yang tak bisa disembunyikan. Pintu kayu rumah neneknya terbuka dengan bunyi berderit pelan, seorang wanita tua ramping dengan rambut perak yang hampir sepenuhnya memutih melangkah keluar. Wajahnya yang penuh keriput langsung dihiasi senyum lebar, begitu mengenali cucunya. "Livia, kau pulang ...," suara neneknya terdengar lembut, tangannya yang keriput terulur untuk meraih Livia, menariknya dalam pelukan. "Pasti kau sangat lelah setelah perjalanan panjang." Livia tersenyum di balik pelukan itu. Meskipun setiap akhir pekan dia selalu datang dan menginap, neneknya selalu menyambutnya dengan cara seolah-olah sudah bertahun-tahun dia tak pulang. Perasaan hangat memenuhi dadanya, tapi ada rasa bersalah yang datang bersamaan. Dia tak bisa menghilangkan kebenaran bahwa dia telah meninggalkan neneknya sendirian di rumah yang sepi. "Kau pulang karena dipecat dari pekerjaanmu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, mengubah suasana menjadi ringan dan menciptakan celah tawa di balik penyesalan yang masih mengendap dalam hati Livia. Livia tertawa pelan, senyum di wajahnya makin lebar. "Iya, Nenek. Aku dipecat, jadi sekarang Nenek harus merawatku, ya?" "Itu berita buruk." Raut wajah neneknya menunjukkan keprihatinan. "Tapi tak apa-apa, Nenek masih bisa menghidupimu di sini. Alam sekitar kita ini kaya, banyak yang bisa kita olah untuk makan." Livia makin mengeratkan pelukannya, matanya berbinar penuh kasih sayang. "Nenekku sangat baik! Bahkan, aku tak perlu mencari pria kaya di kota, karena nenekku sudah cukup kaya untuk memenuhi segala kebutuhanku." Neneknya tertawa kecil, matanya berkilat licik. "Itu juga bukan ide yang buruk. Lebih baik kau mencari pria kaya daripada membuat Nenek susah." Livia perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap neneknya dengan ekspresi kesal. "Nenek ini sangat jahat!" "Jahat? Nenek hanya ingin yang terbaik untuk cucunya. Apa kau keberatan dengan itu?" Livia mengangguk pelan, wajahnya mendung. "Aku ingin hidup bersama pria yang aku cintai, bukan karena hartanya, tapi karena hatinya yang tulus untukku." Neneknya mendekat, pipi mereka bersentuhan dengan lembut, dan tangannya menyusuri rambut Livia dengan penuh kasih sayang. "Baiklah, kalau begitu, bawakan pria itu padaku." Livia merasa ini adalah kesempatan yang tepat. Dengan hati-hati, dia berkata, "Bagaimana kalau aku membawanya ke sini? Apa Nenek bersedia tinggal bersamaku di kota?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD