Akhirnya neneknya setuju! Asalkan, Livia membawa seorang pria sebagai pasangannya. Sebuah permintaan yang terdengar sederhana, tapi dia tahu itu jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Bagaimana mungkin dia menemukan seorang pria, sedangkan waktunya habis terkikis oleh tuntutan pekerjaan dan rutinitas yang tak memberi ruang untuk berkenalan, apalagi menjalin hubungan?
Matanya perlahan menyapu ruangan, mencari secercah harapan. Barangkali ... di antara rekan-rekan kerjanya, ada seseorang yang bisa menjadi solusi atas dilema ini.
Pria berkacamata di sudut meja? Tidak. Rambutnya yang selalu disisir rapi dan sikapnya yang terlalu serius membuatnya terlihat seperti kutu buku—bukan tipe Livia.
Dia mengalihkan pandangannya ke pria lain yang tengah tertawa bersama beberapa rekan. Namun, tawanya terdengar terlalu keras, seolah berusaha menarik perhatian. Livia mendesah pelan. Terlalu mencolok.
Pandangan terakhirnya jatuh pada seorang pria berpenampilan rapi di dekat jendela. Sekilas terlihat menjanjikan, tapi begitu pria itu membuka mulut untuk berbicara, suaranya bernada angkuh, membuat Livia langsung menggeleng dalam hati. Tidak.
Tak ada satu pun yang memenuhi harapannya.
"Livia, apa yang sedang kau lamunkan?"
Suara Thalia memecah lamunannya, membuat Livia tersentak kecil. Dia menggeleng cepat, tapi kegelisahan di wajahnya sulit disembunyikan. Setelah jeda ragu, dia akhirnya menghela napas panjang, mengakui dengan nada penuh kecemasan, "Bagaimana ini, Thalia?"
Thalia memiringkan kepala, alisnya bertaut. "Apa yang bagaimana?"
Livia menggigit bibir. "Aku membuat kesepakatan dengan Nenek ... tanpa benar-benar memikirkan akibatnya."
Thalia menatapnya, jelas bingung. "Kesepakatan? Maksudmu apa?"
"Bahwa Nenek hanya akan setuju tinggal di kota bersamaku jika aku membawa seorang pasangan untuk diperkenalkan kepadanya," jawab Livia, suaranya melemah seiring dengan kata-katanya.
"Lalu, apa masalahnya?" tanya Thalia ringan, seperti tak melihat inti kegelisahan Livia.
"Tentu saja ini masalah besar!" Livia mendesah frustrasi. "Aku bahkan tak punya siapa pun untuk diperkenalkan."
Thalia mengangkat bahu santai, seolah itu hal sepele. "Ah, itu mudah. Kau tinggal membawa seorang pria, 'kan? Misalnya saja ...."
Thalia mulai menatap sekeliling, meniru gerakan Livia sebelumnya. Perlahan ekspresinya berubah, dari penuh keyakinan menjadi sama putus asanya seperti Livia beberapa saat lalu.
Akhirnya, Thalia menghela napas panjang, menggeleng kecil. "Tak ada yang sesuai harapan."
Sejenak, keheningan menyelimuti mereka.
Mata Thalia tiba-tiba berbinar, sebuah ide cemerlang baru saja melintas di benaknya. "Mr. Grant!" serunya lantang.
Suaranya menggema di ruangan, membuat semua orang menoleh ke arah mereka. Thalia segera menyadari kegaduhannya dan berdeham canggung, berusaha memperbaiki suasana. Sementara itu, Livia hanya bisa memijat pelipisnya, rasa frustrasi tampak jelas di wajahnya.
Begitu perhatian ruangan beralih kembali ke aktivitas masing-masing, Thalia melanjutkan dengan penuh semangat, kali ini dengan suara lebih terkendali. "Kau bisa membawa Mr. Grant. Dia duda, 'kan? Bukankah itu ide yang sempurna?"
Livia langsung menggeleng, tegas dan tanpa ragu. "Ide itu buruk. Sangat buruk."
"Buruk? Kau bahkan belum mencobanya."
"Aku akan gagal bahkan sebelum mencoba."
"Kau terlalu pesimis."
Livia menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya. "Mr. Grant memang duda, tapi dia punya seorang putri. Jika Naia tahu, itu akan menciptakan suasana canggung di antara kami. Apalagi aku baru saja mulai menjadi tutor Naia. Kau ingin aku kehilangan pekerjaanku?"
Thalia terdiam sejenak, menyadari logika dalam kata-kata Livia. "Baiklah, itu masuk akal," gumamnya pelan sebelum menatap Livia dengan antusiasme baru. "Tapi kalau begitu, kau akan mengajak siapa? Apa aku perlu menjadwalkan kencan buta untukmu? Kupikir itu satu-satunya jalan keluar untukmu sekarang."
"Terserah kau saja. Aku tak bisa berpikir jernih sekarang," ucap Livia sambil merapikan barang-barangnya di meja.
Thalia hanya tersenyum, matanya mengikuti langkah Livia yang mulai beranjak pergi dari meja kerjanya. Senyum itu segera berubah menjadi seringai penuh semangat.
"Serahkan saja padaku! Kau takkan single lagi, Livia!" serunya lantang, kedua tangannya mengepal seperti pahlawan yang baru saja menemukan misi besar.
Suara yang terlalu bersemangat itu kembali menarik perhatian seisi ruangan. Thalia tersadar, langsung berdeham pelan. Dengan wajah yang sedikit memerah, dia buru-buru mengemasi barang-barangnya dan melangkah keluar.
Hari itu, Livia menjalani rutinitas mengajarnya seperti biasa. Alistair telah meyakinkannya sebelumnya bahwa Naia sudah baik-baik saja, bahwa gadis itu tak lagi kesal atau marah seperti terakhir kali mereka bertemu. Namun, suasananya terasa berbeda. Naia tampak lebih pendiam dari biasanya, meski dia tetap mengikuti pelajaran dengan baik.
Livia menahan diri untuk mendekat. Mungkin, lebih bijak untuk memberi waktu agar situasinya benar-benar membaik.
"Jam belajarnya sudah habis. Saya mau ke kamar dulu," ucap Naia dengan nada pelan, nyaris tanpa emosi.
Livia mengangguk ragu. “Hmm, ya ... baiklah.” Dia memandangi punggung Naia yang perlahan menjauh, meninggalkannya di ruang tamu.
Saat Livia mulai membereskan buku-bukunya, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi muncul, menampilkan pesan dari grup sekolah menengah. Percakapan di grup itu tampak ramai, membahas reuni besar yang akan diadakan akhir pekan ini.
Dia menghela napas panjang, berniat menutup aplikasi seperti biasanya. Namun, matanya terhenti pada satu pesan yang mencantumkan namanya, dengan nada antusias yang entah tulus atau tidak.
Dia menggigit bibir bawahnya, pikirannya penuh dengan keraguan. Apakah ini saatnya berdamai dengan masa lalu? Ataukah sebaiknya pintu itu tetap terkunci rapat, menyimpan kenangan yang tak ingin dia ungkit kembali?
Jauh di lubuk hatinya, dia ingin menghadapi mereka untuk menutup bab lama dan membuka lembaran baru.
Sedang berusaha membulatkan tekad, pintu apartemen tiba-tiba berbunyi dan membuat Livia menoleh. Alistair muncul dengan mantel kerja yang tergantung di tangannya. Keduanya bertatapan sejenak.
"Oh," Livia buru-buru berdiri. "Pelajarannya sudah selesai. Saya ... saya harus pergi."
Sebelum Alistair sempat bereaksi atau mengatakan apapun, Livia sudah meraih buku-bukunya dan melangkah cepat melewatinya menuju pintu. Wangi lembut parfumnya tertinggal di udara, membuat Alistair terpaku di tempat.
Saat tangan Livia menyentuh gagang pintu, ponselnya berdering, membuat langkahnya terhenti untuk melihat siapa yang menelepon. Nama Thalia tertera di layar. Tanpa berpikir panjang, dia menjawabnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memeluk buku.
"Livia, aku sudah mengatur kencan buta untukmu," suara Thalia terdengar antusias di seberang telepon.
Livia mengerutkan dahi. "Kencan buta?"
"Ya. Bukankah kau sendiri yang memintanya?" Thalia terkekeh.
Livia mendadak teringat. Oh, ya, dia memang menyerahkan urusan itu pada Thalia. Dengan helaan napas, dia bertanya, "Ah, benar. Aku tak menyangka kau akan mendapatkannya begitu cepat. Kapan?"
Percakapan itu terdengar samar-samar seiring dengan langkah Livia yang keluar dari apartemen.
Di sisi lain, Alistair tetap berdiri di tempat, alisnya berkerut dalam perasaan yang sulit dia jelaskan. Kata-kata 'kencan buta' bergema di kepalanya, menciptakan perasaan aneh yang tak dia harapkan.