Hening merayap menyelimuti kabin mobil. Livia menangkap pantulan dirinya di kaca tengah—wajah lelah dan mata memerah oleh kantuk yang dipaksa bertahan.
Di kejauhan, denting lift menggema. Alistair muncul sesaat kemudian, langkahnya mantap. Dia masuk ke mobil tanpa sepatah kata pun. Mesin menyala. Mereka melaju.
Jalanan kota telah lengang, lampu-lampu neon membentuk garis-garis cahaya yang menari di kaca depan. Livia melirik pria di sampingnya. Dalam profil Alistair yang diterangi lampu jalan, dia melihat sesuatu yang jarang muncul dari sosok yang biasanya selalu tampil kompeten dan teguh.
Ada seruan kecil dalam dirinya untuk mengucapkan sesuatu yang lebih hangat, lebih personal, tapi dia mengurungkan niat itu.
Ketika mobil berhenti di depan rumahnya, Alistair memarkir tanpa mematikan mesin.
“Terima kasih,” ucap Livia pelan. “Untuk tumpangannya.”
Alistair hanya mengangguk. Sesaat, tatapan mereka bertaut, cukup lama untuk membuat d**a Livia menegang oleh sesuatu yang sulit didefinisikan.
Livia memutus kontak pandang lebih dulu. Dia meraih gagang pintu. “Kalau begitu, saya turun—”
“Miss Dawson.”
Suara itu memecah keheningan dengan nada rendah yang membuat Livia berhenti seketika. Dia menoleh perlahan. “Ya, Mr. Grant?”
Alistair tampak ragu. Dan itu bukan sifatnya. Lelaki itu menahan napas, seolah sedang menimbang risiko.
“Bisa Anda … tinggal lebih lama?” tanyanya akhirnya, cukup untuk membuat denyut jantung Livia tersentak.
Livia mengerutkan dahi. “Maksud Anda?”
Alistair menunduk sedikit, tangannya menggenggam setir begitu erat hingga buku jarinya memucat.
“Ini bukan … permintaan profesional,” katanya lirih. “Saya hanya—”
Dia berhenti. Rahangnya mengeras. Matanya menatap jauh ke depan, bukan ke Livia.
Seolah kata-kata yang hendak keluar itu tak boleh, atau tak aman.
Atau tak pantas.
Alistair mengembuskan napas panjang. “Maaf,” katanya akhirnya. “Lupakan.”
Dan dalam sunyi yang kembali turun, Livia merasakan sesuatu merenggut dadanya. “Baik, Mr. Grant,” ucapnya akhirnya. “Selamat malam.”
Livia melangkah keluar, menutup pintu dengan cara yang sopan. Namun, dia tak langsung masuk ke rumah. Dia berdiri di samping jalan, menatap kaca jendela mobil yang gelap.
Dia sangat berharap Alistair mengatakan sesuatu. Satu kalimat saja. Apa pun. Sesuatu yang bisa menambal sedikit dari rasa yang menggantung sepanjang malam.
Tapi tak ada.
Yang tersisa hanya dirinya dan sunyi.
Mobil itu mulai bergerak mundur, lalu melaju pergi. Livia mengikuti sorot lampu belakang itu sampai menghilang di tikungan.
Hanya setelah itu dia berbisik pelan kepada dirinya sendiri, “Seharusnya tadi aku bertanya lebih jauh …?”
Di satu sisi, dia memahami kegelisahan seorang ayah kepada anaknya. Dia ingin membantu, memberi sedikit ketenangan di momen yang sulit. Namun di sisi lain, dia khawatir. Ada garis batas profesional yang harus dia jaga. Dia tak ingin sikapnya ditafsirkan keliru. Dia hanya seorang tutor. Relasi mereka seharusnya jelas.
Seharusnya.
Livia memejamkan mata sejenak. Tapi tubuhnya sendiri mengkhianatinya. Dadanya berdegup kencang.
Livia mengembuskan napas panjang, lalu akhirnya berbalik menuju pintu rumah. Begitu masuk, dia menyalakan lampu seperlunya.
Dia bergerak otomatis, melepas sepatu, menaruh tas, lalu berkemas singkat untuk tidur. Ketika akhirnya dia berbaring di ranjang, dia membiarkan kelopak matanya jatuh perlahan.
Tapi begitu gelap menyambutnya, Alistair muncul lagi dalam pikirannya. Cara dia memanggil namanya. Ragu yang terdengar di suaranya. Tatapan yang seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan di ambang bibir.
Dan seketika itu juga, jantung Livia kembali berdegup kencang.
Dia menutup wajah dengan kedua tangan. “Astaga,” gumamnya lirih. "Sepertinya aku makan terlalu banyak di reuni tadi ...."
Tentu saja itu alasan paling aman yang bisa dia lemparkan ke dirinya sendiri. Lebih mudah menyalahkan makanan daripada mengakui pemicunya sebenarnya.
Karena setiap kali dia memejamkan mata, sosok Alistair selalu muncul.
Livia menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. Dia seharusnya tak menebak-nebak alasan pria itu meminta dirinya tinggal lebih lama.
Dia memutar tubuhnya, menarik selimut ke d**a.
“Ini konyol,” ucapnya kesal, lebih kepada dirinya sendiri.
***
Di tempat lain, Alistair duduk di tepi tempat tidurnya. Kamarnya gelap, hanya cahaya dari luar jendela yang memotong siluet tubuhnya.
Dia memijat pelipisnya. Terlalu banyak hal yang menumpuk. Terlalu banyak kata yang tadi ingin dia ucapkan, tapi tak satu pun keluar.
Dan meminta Livia untuk tinggal lebih lama bersamanya? Apa sebenarnya yang dia pikirkan?
Dia mengusap wajahnya, jari-jarinya turun perlahan ke dagu. Pikirannya terus memutar ulang momen itu—ekspresi Livia yang menunggu, suaranya yang pelan, dan bagaimana dia akhirnya mundur seperti pengecut.
Sesungguhnya, menjadi orang tua tunggal tak mudah. Dia menghadapinya setiap hari, tanggung jawab besar yang menguras stamina dan emosinya. Ada saat-saat tertentu ketika dia membutuhkan seseorang di sampingnya. Bukan untuk menyelesaikan masalah, hanya untuk membuatnya merasa tak sendirian.
Tapi meminta itu dari tutor anaknya, apakah itu masuk akal?
Dia menggeleng pelan. “Tak masuk akal,” gumamnya. “Benar-benar tak masuk akal.”
Tugas Livia hanyalah mengajar Naia, bukan memikul beban kehidupan pribadinya. Membiarkan batas itu kabur sama saja dengan mengikis profesionalismenya sendiri. Dan jika Livia sampai terlibat dalam hal-hal yang tak seharusnya, hubungan kerja mereka bisa retak.
Alistair menunduk, menarik napas tajam. Kegelisahan ini harus dia singkirkan. Jika dibiarkan, itu akan menjadi batu sandungan yang menggerogoti dirinya pelan-pelan.
Dia hendak berbaring, tapi gerakannya mendadak terhenti begitu matanya menangkap bingkai foto di atas nakas.
Dia meraihnya pelan. Di foto itu, istrinya berdiri sambil memegang perutnya yang membesar delapan bulan. Wajahnya berseri, senyumnya hangat, dan mata itu … mata yang dulu selalu memandang Alistair seolah dia pusat gravitasi hidupnya.
Alistair berdiri di sampingnya, satu tangan melingkari pinggang istrinya, satu lagi menempel di perut yang melindungi calon anak mereka.
Sebuah memori kecil menembus keheningan. Tawa lirih istrinya ketika dia mencubit ringan bagian pinggang itu, lalu mata yang berputar seolah berkata, “Berhenti menggoda, Alistair.”
Lalu adegan lain, istrinya yang merebut mug kopi dari tangannya sambil berkata, “Kita dua orang dewasa, tapi aku yang tak boleh minum kopi.”
Dan dia hanya tertawa, mencium dahi sang istri dengan penuh kasih sayang.
Semua itu dulu terasa begitu mudah. Kini, kenangan itu justru menekan dadanya hingga sesak.
Jika aku melangkah … apakah aku sedang mengkhianati masa lalu? pikirnya.
Tangan Alistair mengepal, pelan tapi terlihat jelas. “Maaf," bisiknya. "Aku tak pernah bermaksud melupakanmu. Dan ... aku tak yakin boleh merasakan kebahagiaan lagi."
Dia menutup mata sejenak, mencoba menstabilkan napasnya sendiri. Lalu perlahan, dia mengembalikan bingkai foto itu ke tempatnya dengan hati-hati.
Alistair berbaring, tubuhnya tenggelam ke kasur yang tiba-tiba terasa lebih dingin daripada biasanya. Saat matanya terpejam, bayangan istrinya masih menempel di balik ingatan.
Dan di tengah kesunyian itu, rasa bersalah yang sejak tadi berputar di kepalanya perlahan memadat.