05. Menyimpan Rasa

1190 Words
Mereka tiba di sebuah minimarket yang lampunya masih menyala terang meski malam makin larut. Di sudut dekat pintu masuk, Naia duduk dengan tubuh menyusut, wajahnya tertunduk dalam ekspresi murung. Livia dan Alistair saling bertukar pandang, mencoba merangkai gambaran situasi yang terjadi. Apa pun alasan di balik insiden yang memalukan itu, mereka perlu mendengar semua sisi cerita sebelum mengambil tindakan. "Apa kalian datang untuk anak itu?" suara tajam pemilik minimarket memecah keheningan. Wanita paruh baya itu berdiri di depan pintu, tangannya bersedekap. "Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana anak zaman sekarang dididik oleh orang tuanya." Livia merasakan kegelisahan menjalar di dadanya. Pandangannya kembali pada Naia, yang terlihat begitu rapuh dan terguncang. Gadis itu jelas membutuhkan seseorang di sisinya sekarang, seseorang yang bisa memberinya rasa aman. "Miss Dawson, bisakah Anda membantu membawa Naia ke mobil? Saya akan menyelesaikan ini." Sebelum Livia sempat merespons, pemilik minimarket melangkah maju, tatapannya tak beranjak dari Alistair. "Urusanku dengan anak itu belum selesai." "Mulai sekarang," Alistair balas menatap pemilik minimarket, "urusan apa pun terkait anak itu akan ditangani oleh saya." Pemilik minimarket mengangkat dagunya, matanya menyipit tajam. "Memangnya Anda siapa?" tanyanya, nadanya sinis sambil melirik Alistair dari kepala hingga kaki. Pakaian kasual pria itu tampaknya membuatnya ragu bahwa dia adalah sosok yang bisa dipercaya untuk menyelesaikan masalah sebesar ini. "Saya ayahnya," jawab Alistair mantap. Wanita itu tertegun, ekspresi skeptisnya berubah drastis menjadi keterkejutan. "A—ayahnya?" Livia menarik napas panjang, berusaha menguasai kegelisahannya. Dia berjalan mendekati Naia yang masih duduk mematung, lalu menyentuh pundak gadis itu. "Naia," ucapnya pelan. "Ayo kita pergi.” Naia perlahan mengangkat wajahnya, matanya yang berkaca-kaca itu kini menatap Livia. Dan saat itu pula, dia akhirnya menyadari kehadiran daddy-nya yang berdiri tak jauh bersama pemilik minimarket. Livia membimbing Naia menaiki mobil. Sepanjang perjalanan menuju pintu mobil, keinginannya untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi berkecamuk di benaknya. Namun, dia sadar, menggali informasi di saat ini hanya akan memperburuk suasana hati Naia. Saat mereka sudah berada di dalam mobil, keheningan menyelimuti, hanya suara napas dan sesekali gesekan pakaian yang bergerak mengisi ruang kecil itu. "Kenapa kalian begitu lama?" tanya Naia dengan suara bergetar. Livia menoleh. "Maaf, Naia. Saya tadi sedang berada di sebuah acara. Saya tak menyadari ada panggilan dan pesan masuk." Naia menunduk, jemarinya bergesekan satu sama lain. Dia menggigit bibirnya, menyadari bahwa menyalahkan siapa pun takkan mengubah keadaan yang sudah terlanjur dia perbuat. "Bagaimana jika Anda tak menyadari panggilan dan pesan masuk dari saya hingga keesokan hari? Apa saya akan terus berada di sana untuk waktu yang lebih lama?" tanya Naia, suaranya makin pelan. Livia menarik napas panjang, mencoba memilih kata-kata yang tepat. "Semua itu takkan terjadi, Naia. Mr. Grant sangat cemas saat tahu kau belum pulang." Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tak dapat lagi terbendung. Isak tangis Naia meledak, memenuhi ruang mobil yang semula hening. Livia meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dia memeluk erat, memberikan ruang bagi Naia untuk meluapkan segalanya. Beberapa waktu berlalu, Alistair kembali ke mobil dan mendapati Naia tertidur di pangkuan Livia. Livia juga terlelap, terlihat sama lelahnya. Tak ingin mengganggu keduanya, Alistair menyalakan mesin mobil dengan hati-hati dan mulai melajukan kendaraan. Di sepanjang perjalanan, pikirannya penuh dengan tanya; Naia mencuri? Rekaman CCTV menunjukkan bukti jelas, tapi tetap saja itu terasa tak masuk akal baginya. Kenapa? Apa yang mendorong Naia melakukan hal seperti itu? Dia merasa telah memberikan segalanya untuk memenuhi kebutuhan putrinya. Pikirannya terus berputar, mencoba mencari alasan. Naia tak pernah terlibat masalah seperti ini sebelumnya. Apakah ada sesuatu yang luput dari pengawasannya? Apakah dia terlalu sibuk hingga melewatkan hal penting dalam hidup putrinya? Sekilas, matanya tertuju pada cermin tengah. Livia masih tertidur pulas, wajahnya tampak tenang di bawah cahaya remang lampu jalan. Dia menghela napas panjang. Mungkinkah ini terkait dengan Livia? Apa mungkin Naia merasa tertekan dengan kehadiran tutor baru yang dia usulkan? Dia segera menggeleng, menepis asumsi itu. Tidak, itu tak masuk akal. Naia sudah menyetujui ide itu, meski dia tak benar-benar yakin apakah gadis itu setuju sepenuh hati. Pikirannya kian kusut, tapi dia berusaha tetap fokus pada jalan di depannya. Saat mobil berhenti perlahan di depan gedung apartemen dan mesin dimatikan, Alistair menoleh ke kursi belakang. Livia mulai membuka matanya, terlihat kebingungan sejenak sebelum menyadari keberadaan mereka. "Sudah sampai?" tanyanya dengan suara serak karena kantuk. Alistair mengangguk sambil menatapnya. "Ya, kita sudah sampai." Livia menunduk, memastikan Naia masih tertidur di pangkuannya. Napas gadis kecil itu terdengar tenang, wajahnya tampak tak terusik. "Aku akan menggendong Naia," kata Alistair. Livia hanya mengangguk, memilih tetap diam di tempatnya sampai Alistair dengan hati-hati memindahkan Naia dalam dekapannya dan keluar dari mobil. Livia menyusul, begitu kakinya menjejak, rasa canggung segera menghampirinya. Waktu telah melewati tengah malam, dan dia sadar seharusnya tak lagi berada di sini. Dengan langkah ragu, Livia mengikuti Alistair, kemudian memanggilnya dengan suara pelan, "Mr. Grant." Langkah pria itu terhenti. Dalam kesunyian malam, suara pelan itu cukup terdengar. Alistair perlahan membalikkan tubuh, masih menggendong Naia yang bersandar nyaman di dadanya. "Terima kasih atas pertolongan Anda sebelumnya," ucap Livia dengan sopan, berdiri di depannya. "Besok saya akan menemui Naia." Saat Livia berbalik, hendak melangkah pergi, suara Alistair memecah keheningan malam. "T-tunggu!" Livia berhenti, menoleh kembali pada Alistair. Matanya menatap lurus, menunggu penjelasan lebih lanjut. Alistair terdiam sejenak, pikirannya bertarung. Dia ingin menawarkan agar Livia menginap di apartemennya malam ini, hal yang praktis dan mungkin lebih aman. Namun, dia juga menyadari bagaimana itu bisa membuat Livia merasa tak nyaman. Dan di sisi lain, membiarkan Livia pulang sendiri di tengah malam terasa salah. Akhirnya, Alistair membuat keputusan yang menurutnya bijak, lalu berkata, "Saya akan mengantar Anda pulang." “Oh, tak perlu, Mr. Grant. Saya bisa pulang dengan taksi,” ucap Livia, nada suaranya terdengar segan. “Meskipun begitu, ini sudah lewat tengah malam. Anggap saja ini bagian dari tanggung jawab saya, karena Anda sudah terlibat dalam masalah Naia.” Livia menggeleng cepat. “Naia adalah murid yang saya ajar. Dia juga tanggung jawab saya. Jadi, Anda tak perlu merasa—” “Miss Dawson.” Suara Alistair terdengar lebih tegas kali ini, membuat Livia terdiam. Dia menatap wajah pria itu yang kini berubah serius. Ada sesuatu dalam sorot matanya, seolah malam ini ingin benar-benar didengarkan. Livia tertegun. Dia menyadari, tentu saja, bahwa Alistair pasti menyimpan kegelisahan besar sebagai seorang ayah. Berita buruk tentang Naia jelas telah mengguncangnya, dan Livia tahu betapa berat beban itu. Entah kenapa, di saat ini, ada dorongan aneh di dalam dirinya—dorongan untuk tetap berada di sisi Alistair, untuk membagi sedikit dari beban itu. Apa ini hanya soal rasa tanggung jawab? Tidak. Dia tahu, rasa tanggung jawabnya hanya sampai pada Naia. Lalu ... apa sebenarnya yang mendorongnya? Pikiran itu berkelebat, tapi dia tak menemukan jawaban. Dia hanya tahu bahwa dia ingin tetap di sini. Alistair menghela napas pelan sebelum berkata, “Anda bisa menunggu di mobil. Saya akan kembali setelah membaringkan Naia di kamarnya.” Tanpa memberikan kesempatan bagi Livia untuk menjawab, Alistair menyerahkan kunci mobil. Lalu, dengan langkah mantap, dia beranjak pergi. Livia memandang kunci di tangannya, lalu menatap punggung Alistair yang makin menjauh. Di sini, dia menyadari bahwa ada perasaan samar yang mulai tumbuh di dalam dirinya, sesuatu yang tak sepenuhnya dia pahami ... atau berani dia akui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD