Bab 156

1424 Words

Biantara menggeram pelan. Sikap Kania yang terus menantangnya membuat suasana yang tadinya sempat sedikit tenang kembali memanas. Rahangnya mengeras, otot di lehernya menegang. “Jangan terus menguji kesabaran saya, Kania.” “Aku serius, Om,” ujar Kania lirih, tetapi nadanya tegas. Ia bahkan menarik pergelangan tangan Biantara yang masih berada di lehernya, seolah memaksakan tekanan itu semakin kuat. “Daripada Om terus siksa aku, kenapa nggak sekalian aku Om bunuh aja?” Ucapan itu justru membuat kemarahan Biantara semakin memuncak. Bukannya meredam emosi yang sudah bergolak di dadanya, Kania malah seperti menuangkan minyak ke dalam api yang sedang menyala. “Mati terlalu mudah untuk gadis pembangkang seperti kamu.” Cengkeraman di leher Kania dilepaskan dengan kasar. Biantara mendorong wa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD