Bab 158

4338 Words

Tangisan Yasmin semakin keras. Suaranya pecah, meraung di tengah kerumunan orang yang hanya bisa menonton dengan wajah tegang. Ia tidak mau kehilangan putrinya secepat ini. Tidak. Apa pun yang terjadi, ia tidak akan rela Kania pergi. Tubuh Kania yang lemas masih ia pangku erat, seolah dengan begitu ia bisa menahan gadis itu tetap berada di dunia ini. Bayangan Kania kecil mulai berkelebat di kepala Yasmin. Bagaimana dulu tangan kecil itu selalu meraih jemarinya dengan penuh percaya. Bagaimana suara lirih gadis kecil itu pertama kali belajar memanggilnya “Bia”… lalu memanggil Hans dengan suara cadel yang lucu. Bagaimana Kania kecil selalu berlari ke arahnya setiap pulang sekolah, memeluk pinggangnya sambil bercerita panjang tanpa jeda. Semua kenangan itu kini berubah menjadi sesuatu yan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD