Bab 32-3

703 Words

Ia mengalihkan pandang ke luar jendela. Hujan tipis mulai turun, mengetuk kaca mobil dalam irama lembut. “Damn,” desisnya akhirnya, nyaris tanpa suara. Bukan untuk memaki Kania, tapi dirinya sendiri—karena gagal menjaga jarak dari sesuatu yang seharusnya ia benci, namun kini malah ingin ia lindungi. Di kamar hotel Kania.... Biantara membuka pintu dengan bahu, lalu melangkah masuk sambil menggendong tubuh Kania di pelukannya. Gadis itu terlalu lemah untuk berjalan sendiri. Kedua tangannya melingkar di leher Biantara, cengkeramannya ringan tapi terasa sampai ke d.a.da. Kulitnya dingin, namun genggamannya hangat—seolah masih mencari tempat untuk bersandar di tengah kabut kesadarannya yang setengah hilang. Langkah Biantara mantap, tapi setiap gerakannya penuh kehati-hatian. Ia menurunka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD