Perubahan yang Terlambat

1331 Words

Sejak pesta malam itu, ada yang berubah dari Arvind. Ia tak lagi kasar. Tak lagi menyembur dengan kalimat sinis yang menampar harga diriku. Tatapannya yang dulu menghantam seperti cambuk kini justru lebih sering diam… dan ragu. Tapi aku bukan gadis polos yang mudah terkecoh. Aku tahu betul, perubahan sikap itu bukan karena hatinya mulai melunak. Bukan karena ia tiba-tiba sadar bahwa aku ini manusia. Tapi karena ia mulai mencium bau rahasia yang kucoba sembunyikan dengan segenap tenaga. Rahasia yang tumbuh perlahan di dalam rahimku. “Arvind ingin bicara berdua dengan Ibu Sanaz,” kata Mbak Narti suatu sore, suaranya lembut namun menyimpan tekanan. Aku hanya tersenyum tipis. “Maaf, aku sedang tidak enak badan,” jawabku, berusaha terdengar wajar. Itu alasan kelima yang kupakai minggu ini. D

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD