Beberapa hari kemudian, aku duduk di ruang makan yang sunyi. Pelayan sudah menyiapkan sarapan seperti biasa, lengkap dengan jus segar dan roti panggang hangat. Tapi tak ada yang menggoda seleraku. Nafsu makan seolah menguap bersama sisa-sisa harapan dalam hidupku. Ketika hidup terasa seperti panggung sandiwara yang tak pernah selesai, bahkan makanan pun kehilangan rasanya. Arvind datang. Duduk di seberangku dengan wajah yang jelas menunjukkan bekas begadang. Matanya sembab, kelopak matanya sedikit bengkak, dan sorot matanya... entah kenapa seperti kehilangan arah. Tapi aku tidak akan tertipu oleh kelemahan yang ia perlihatkan. "Ayo kita bercerai. Kamu sudah janji, dua bulan, dan sekarang sudah lewat dari itu," ucapku tajam, tanpa basa-basi. Dia mendongak pelan. Tatapannya sayu, seperti

