Aleena yang saat itu masih terjaga sontak termenung. Sedikit terkejut juga tidak menyangka jika Aksa akan mengirim pesan seperti itu. Keira. Bukankah dia adalah teman yang Aksa kenalkan saat di perusahaan tadi siang? Apa hubungan mereka sangat dekat sampai Aksa bisa lebih mementingkan gadis itu daripada dirinya? Sebelum pemikiran wanita itu jadi kian jauh, ponselnya lebih dulu bergetar. Tertera nama Aksa sebagai identitas si pemanggil. Meski awalnya sempat ragu, pada akhirnya Aleena menjawab telepon tersebut. Ia diam sesaat, menunggu Aksa menyapa lebih dulu. “Aleena.” Suaranya terdengar lirih dan pelan. Deheman singkat juga lirih jadi jawaban, Aleena kesal tentu saja. “Pesan yang aku kirim, itu bukan aku yang menulisnya. Itu Keira,” kata Aksa di seberang panggilan. Oh, demi kerang a

