Seringai itu masih jelas tersemat di wajah Selena. Wanita itu berdiri, seolah menyambut kedatangan Aksa dengan ramah layaknya teman. “Kamu darimana aja? Kasihan loh istri kamu nunggu sendirian, nasib baik aku dateng nggak lama kemudian,” katanya dengan nada bersahabat. Aksa tidak menyahut sepatah katapun. Tatapannya masih saja tajam mengarah ke arah Selena. Mengikuti setiap gerak-gerik yang wanita itu lakukan sekarang. Ia tidak boleh lengah. Selena itu licik dan berbahaya, bukan tidak mungkin ia akan melakukan sesuatu yang nekat bahkan dikeramaian. Selena yang sekarang ada dihadapannya jauh lebih berbahaya ketimbang Selena yang dulu ia kenal. Ia tidak akan ragu untuk menyakiti seseorang yang dirasanya menghalangi tujuannya. “Aksa, kamu nggak apa-apa?” tanya Aleena membuyarkan lamunan

