Segalanya merah, darah.
Kesunyian melandaku.
Kegalapan menutup mata dan batinku.
Hatiku hancur, remuk, patah....
Menjadi serpihan-serpihan kaca yang rusak jatuh ke tanah....
Jalanku hitam, kelam...
Tak ada cahaya ataupun lentera.
Aku mengamuk, menangis, menjerit, marah.....
Berteriak keatas langit karena telah memberiku takdir seperti ini dan tak bisa pasrah.
Kebencian memenuhiku.
Kepahitan menguasaiku.
Rasanya panas, tubuhku seperti terbakar, membara.
Setiap organ didalam tubuhku memberontak, meronta.
Dalam satu titik aku terjatuh ke tanah, merasa lemah dan tak berdaya.
Lalu keberanian itu kembali muncul. Diikuti tekad bulat sekuat baja.
Berusaha bangkit berdiri dengan sisa-sisa tenaga, aku merasa cahaya putih menerangiku.
Membanjiriku dengan kehangatan sekaligus sebuah kepastian.
Kurasakan tubuhku melayang, terasa ringan. Seperti terbang.
Sosok berjubah merah didepanku tertawa, terbahak.
Saat dia membuka tudungnya, segalanya terasa tidak lagi sama.
*****************
“ Jadi. Sudah memutuskan berpihak dijalan mana. Kurasa kamu Sencit tercepat yang membuat keputusan”
Mortem bertudung didepanku menunjukkan wajahnya. Seorang pria, seperti berusia pertengahan lebih duapuluhan, dengan tubuh ramping atletis, rahang lonjong yang keras, serta sepasang mata turqoisenya yang menusuk, dipadu aksen Inggris menggoda. Sebetulnya dia sangat tampan. Sayangnya, dia seorang pemuja setan.
Atau, itulah setidaknya yang kudapat dari aura serta warna sepasang sayap merahnya.
“ Demmilim!” bisikku penuh kebencian.
Demmilim didepanku menyeringai. “ Tambahkan originals, dan yang terbaik di kaumku”
“ Apa maumu?!” tukasku. Gungnir tergenggam erat ditangan kananku. Aku berdiri tegap dalam posisi menjulang, membuat gerakan pertahananan. Tidak ada apapun yang kuinginkan saat ini selain membelahnya menjadi dua bagian.
“ Tenanglah manis, aku tak ingin membunuhmu....”
“ Persetan!!” teriakku marah. Emosi menggerakan untuk mengambil tindakan lebih dulu. Dengan gungnir terhunus aku menyerang dari samping kanannya secepat kubisa, menahan jarak beberapa detik mengikuti gerakannya yang mencoba menghindariku dan memukulkan tombakku tepat ke bahu kirinya. Si Demmilim terhuyung mundur beberapa langkah. Memegangi bahunya yang berdarah namun dengan cepat lukanya kembali menutup.
“ Aiyana Achak, rupanya aku tak bisa meremehkanmu ya....” ujarnya sambil membasahi bibir bawahnya.
Aku kembali maju untuk menyerang, tapi kali ini dia bisa menangkisnya. Dengan tangan kiri mengeluarkan tongkatku kemudian menyebutkan mantra pemanggil kabut dalam hati. Aura merah pekat dari si Demmilim membuatku dapat melihatnya dengan jelas, kuambil momen itu untuk memukul punggungnya dari belakang. Alih-alih berhasil sesuatu mendorongku hingga terjatuh cukup jauh ketanah. Seketika kabut sihirku hilang. Demmilim itu berdiri dengan ponggah didepanku. Sekarang aku dapat melihat bola hitam yang tak dapat dilihat mata UNDER DARK-ku, tampak jelas oleh retina OTHER WORLD milikku.
“ Sebaiknya hentikan, usahamu sia-sia. Aku kemari tidak ingin melukaimu dan tak mau membuatmu terluka” Demmilim tersebut maju satu langkah demi langkah ketempatku.
Mencoba berdiri, tapi saat si Demmilim menjentikkan jarinya ke udara, jaring merah kasat mata mengikat erat sekujur tubuhku. Membuatku terjatuh kembali ketanah dalam posisi berlutut, hanya tombak perak yang menopak diriku dengan tangan kiriku.
“ Menyerahlah...” suaranya terdengar datar, dan dingin.
Menggertakkan gigi, jemariku menggengam erat tombak milikku. Melihat tetesan da-rah mengalir dari lengan kiriku. Aku bahkan tak sadar sama sekali jika terluka. “ Dalam mimpimu....” kataku tajam.
Demmilim bersayap merah tersebut menggelengkan kepalanya. “ Kalau begitu, aku terpaksa berbuat kasar....”
Aku tertawa dan mengeluarkan suara yang seakan bukan milikku. “ Begitu juga denganku. Takkan sungkan lagi”
Menggunakan segenap tenagaku yang terpompa setiap kali teringat tubuh Ash yang terjatuh ke atas tebing, serta tatapan matanya. Aku berhasil melepaskan diri dari ikatan Demmilim tersebut. Berdiri sekuat tenaga, menopangkan satu kakiku kedepan, memejamkan mata, kukerahkan energi alam disekitarku.
“ Percuma saja” pekik Demmilim tersebut sambil tertawa.
Aku teringat pengajaran Ibuku dulu.
‘Alam akan menjagamu jika kamu menjaga mereka. Mereka dapat berbicara selama kamu juga mau berkomunikasi bersama mereka. Alam juga takkan segan meminjamkan kekuatan selama itu dipergunakan demi kepentingan mereka juga....’
Tubuhku tadinya panas, namun sekarang berubah menjadi dingin. Udara disekitarku menjadi lebih sejuk. Didalam diriku, kutemukan sebuah bola keemasan yang berkelap-kelip, aku harus mengangkatnya hingga pendarnya menjadi besar dan mampu kutarik dari dasarnya. Terus-dan terus. Tekad adalah segalanya.
Itulah dasar inti kekuatanku. Sesuatu yang masih suci dan merupakan senjata paling hebat dari setiap diri makhluk di muka Bumi ini. Bernama, iman.
Rasa perih di lengan kiriku seketika lenyap. Sakit disepanjang rusuk dan pinggangku menghilang, aku merasa seperti terbarukan. Ketika kelopakku terbuka, Demmilim bersayap merah dihadapanku menatapku nanar. Kedua iris turqoisenya melebar kepadaku. Aku mengunci pandangannya, memberinya tusukan dalam setiap momen untuk berkomunikasi melalui pikiran.
Demmilim tersebut mengerang, memegang kepalanya, fokusnya teralihkan. Dalam satu gerakan, sebuah bola raksasa keperakan muncul dihadapanku. Awalnya kutahan, hingga detik demi detik berlalu dan kekuatan itu tak bisa kutanggung lagi.
Bola keemasan tersebut meluncur lurus ke arah si Demmilim, yang terlambat menghindar. Menghantamnya dan mementalkannya hingga jauh, masuk kedalam hutan diikuti ledakan dahsyat membahana, serta debuman pohon yang tumbang. Tak lama kemudian, akupun ikut terjatuh keatas tanah dalam posisi menelungkup kesamping.
Terengah-engah. Merasa luar biasa lelah. Tenagaku sudah sepenuhnya terkuras dan tercurah. Menyandarkan kepalaku pada tanah, bibirku bergetar hebat, rasa sakit ditubuhku tak sebanding dengan retaknya jiwaku. Ketika aku mau memejamkan mata, erangan panjang membuatku tersentak hingga berusaha bangun.
Aku tak percaya ini. Demmilim itu masih hidup! Keluar dari dalam hutan dengan tubuh separuh hangus, sihir yang kuberikan meninggalkan banyak luka pada wajahnya. Jubahnya sobek dari atas hingga bagian pinggang. Sebuah tato pentagram semerah darah terpampang pada d**a kanan atasnya. Sepasang sayap sewarna darahnya sekarang menjadi sedikit abu-abu karena ikut terbakar.
Mata Demmilim tersebut berubah merah, sewarna sayapnya, seperti darah segar. Menengadahkan kepala dan menjerit, saat mukanya kembali menatapku, taring panjang keluar dari sudut mulutnya.
Kedua jantungku bertalu-talu sangat keras, membuat dadaku kesakitan. Semua bulu halusku berdiri. Kupingku berdenging hebat dan rasa perih menjalar dari setiap inci sel dibadanku. Dari kedua kepalan tangan Demmilim tersebut terpancar aura energi negatif berwarna hitam, yang semakin lama menjadi besar hingga seperti puluhan bola bowling dijadikan satu.
Aku tahu apa yang akan terjadi, dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku betul-betul pasrah. Sudah tak ada lagi keinginan untuk melawan ataupun berontak. Jadi ketika Demmilim tersebut mengarahkan kekuatannya padaku, yang dapat kulakukan hanya duduk diam. Menanti ajal.
Lalu, sesuatu disekitarku menjadi putih. Bulu-bulu lembut dan hangat menyelubungiku, menarikku secepat kedipan mata dari tempatku. Menengadah, sepasang iris berlian laut membalasku dengan keteduhannya. Yang kutahu berikutnya, rasa lelah menguasaiku sepenuhnya.
******************
Aku berada disebuah lorong dipenuhi cahaya putih, hanya mengenakan gaun lengan pendek terusan selutut berwarna putih. Aku melihat Ash berada disisi kananku, menggengam erat jemariku. Mengalirkan kehangatan dan ketenangan seutuhnya kesekujur badanku.
“ Apakah kita berada disurga?” tanyaku kalem. Anehnya tak ada ketakutan sama sekali melandaku.
Ash mengulaskan senyum seindah malaikat, wajahnya berkilauan tertimpa cahaya putih terang yang aku sendiri tak tahu darimana asalnya. “ Tidak sayang, belum” jawabnya lembut, seperti biasa.
Mendadak hatiku dipenuhi kesedihan. “ Kukira kamu sudah menjemputku..” tukasku lebih mirip anak merajuk.
Ash menggelengkan kepalanya, wajah tampannya jauh terlihat lebih damai daripada terakhir kali kulihat diatas tebing waktu itu. “ Belum saatnya, masih banyak hal harus kamu kerjakan. Bersabarlah. Saat waktunya tiba hanya ada kebahagiaan menyertaimu” dia mencengkram lembut pundakku.
Aku menundukkan kepala, merasa akan menangis. “ Tapi aku tidak mau kamu pergi lagi, aku...kurasa...sudah cukup semua beban ini. Aku tak ingin menjadi manja atau merepotkan hanya saja, aku benar-benar tak tahu bagaimana menjalani hidup tanpamu”
Ash mengangkat daguku dengan jemarinya, menunduk, dia mencium bibirku dengan sangat lembut dan dalam, tak ada nafsu hanya cinta didalamnya. Kedamaian luar biasa menerjang tubuhku, menyegarkan tiap sel di centi badanku. Kebahagiaan murni memenuhiku, memberikan kekuatan tak terbatas dan seakan aku bisa memeluk seluruh dunia dengan tangan. Ash lalu melepaskan bibirnya dariku.
“ Bertahanlah Ai. Aku mencintaimu, dengan seluruh jiwaku” jemarinya mengusap lembut pipiku. Diriku bergetar oleh perasaan haru karena ketulusannya, meletakkan tanganku diatas tangannya. Kemudian. Sepasang mata dimalam cerah berbintang itu berkilauan dipenuhi tekad, berkata. “ Tolong temukan aku Ai, bawa lagi diriku padamu, meskipun artinya. Aku harus mati untuk kedua kalinya....”
Tunggu dulu....
“ Apa maksudmu?” tanyaku terbelalak.
Sementara Ash menjauhkan tubuhnya dariku, aku melihatnya mulai menjadi pusara cahaya ketika tanganku berusaha menggapainya tapi transparan. Bibirnya bergerak
mengeluarkan kalimat. “ Jadilah kuat, karena setelah ini segalanya akan lebih berat. Jangan berhenti berkeyakinan dan berharap”
Sebelum aku sempat berkata-kata, sosok Ash dihadapanku menguar menjadi kepingan cahaya. Aku berteriak, mengelukan namanya diudara. Tiba-tiba tempatku berpijak berguncang hebat seakan dilanda gempa bumi. Timbul retakan-retakan hitam diantara putih cemerlang disekitarku, spontan aku menjerit panik.
Putih disekitarku retak seperti pecahan kaca, hujan bulu menghujaniku, kuambil salah satu bulu berwarna merah tepat ketika tanahku berpijak melorot jatuh kedasar tak berujung. Dalam jeritan dan kepasrahan masih bisa kucium sisa-sisa aroma harum dari tubuh kedua Orang tuaku. Tiba-tiba guncangan berhenti, gempa mereda, segala sesuatunya kembali normal dan disekelilingku bergemerlapan cahaya.
Diantara warna putih memabukkan, bisa kulihat sebuah cahaya keemasan berpendar di kejauhan. Aku berjalan berjalan kearah benda menyerupai dua bohlam lampu raksasa seukuran tubuhku tersebut, lalu aku merasakan panas membara disekujur tubuhku.
Sebuah layar besar terbentang dihadapanku. Lalu satu persatu gambar bermunculan didepanku.
Gambar pertama seorang wanita dalam balutan baju victoria abad reinassance kukira. Awalnya aku tak mengenalinya, lalu sadar jika itu adalah aku. Dia naik diatas ku-da, bersama seseorang ksatria dalam balutan baju zirah didepan sebuah kastil megah. Aku dalam masa lalu tampak tersenyum bahagia, menoleh pada sosok dibelakangnya.
Yang kedua, didalam lantai dansa, masih dalam rentan waktu yang sama, kali ini sosok tersebut memakai topeng. Tapi aku dapat melihat bentuk fisiknya lebih jelas. Ramping atletis, rambut bergelombang coklat seleher diikat.
Bagian ketiga, diriku dengan sayap sewarna merah darah, menangis ditengah-tengah medan pertempuran.
Lalu semakin banyak bayangan berkelebat diatas layar dengan cepat. Tentang peperangan, penderitaan, kesedihan, serta cinta yang dalam, antara diriku dimasa lalu dengan sosok misterius tersebut. Gerakannya menjadi begitu cepat. Seperti potongan-potongan kisah yang disatukan.
Kemudian aku melihat gungnir milikku digenggam diriku dalam masa lalu. Dalam sebuah pertempuran. Aku juga mendapati banyak fokus rekaman tentang sepasang mata biru. Dalam satu putaran roll film, kurasa akan segera sampai akhir.
Itu adalah benteng. Tua, dan kukenali sebagai salah satu peninggalan bersejarah milik orang Irlandia. Diriku di masa lalu terduduk dipuncaknya, berlutut dengan gungnir berlumuran darah. Sebuah peta kuning tercengkram di tangan kirinya. Sayapnya bergerak searah angin datang. Dihapadannya berdiri sosok pria yang sering muncul bersamanya didalam gambar ini.
Sayapnya begitu putih dan indah. Sepasang mata biru meneduhkan jiwa.
Sebuah kesadaran menyergapku cepat. Tenggorokanku terasa sekering gurun sahara. Isi perutku seakan ditarik paksa dari tempatnya.
Demi Tuhan! Itu Kif!!
Lalu gerakan berikutnya menjelaskan segalanya.
Aku dimasa lalu mencium Kif! Dalam dan lembut.
‘ Ini memori!! Memoriku dimasa lalu!! Sencit saat itu, adalah aku!!’
Layar menggelap, berkedip dan menghilang. Sebuah suara merdu dan hangat terde-ngar dari balik punggungku.
“ Ya, itu memang gambaran masa lalumu....”
Lututku bergetar. Aku tak sadar betapa merindukannya suara itu, betapa aku selalu merasakan lubang aneh didalam hatiku meskipun bersama Ash. Menolehkan badan, air mata tumpah menggenangi pipiku.
“ Kif....Kifael...Alagaz....” bisikku parau. Kesedihan menyelimutiku.
Jemariku bergerak pelan menuju wajahnya. Kif menarik lembut tanganku, menekan-kan pada pipinya. Begitu hangat, sangat nyaman. “ Kamulah Guardian of Soul-ku....’’
Kif tersenyum, sangat lebar. “ Syukurlah, kamu menyadarinya. Dan Ai, sudah waktunya bagimu sekarang untuk sadar. Semua orang merindukanmu...”
Kif menunduk, menciumku tepat dibibir.
Aku berada seperti didalam kotak kaca sejak tadi, dan sekarang retak serta terbuka.
Ketika mataku perlahan membuka, satu tekad sekaligus pemikiran baru menerjangku.
Seperti bayi yang terlahir kembali. Hati kecilku meneriakkan.
Aku sudah ingat segalanya.