SAYAP MERAH.

1731 Words
Segalanya  merah, darah.      Kesunyian  melandaku.      Kegalapan  menutup mata  dan batinku.      Hatiku  hancur, remuk, patah....      Menjadi  serpihan-serpihan  kaca yang rusak jatuh  ke tanah....      Jalanku  hitam, kelam...      Tak  ada cahaya  ataupun lentera.      Aku  mengamuk, menangis, menjerit, marah.....      Berteriak  keatas langit  karena telah memberiku  takdir seperti ini dan tak  bisa pasrah.      Kebencian  memenuhiku.      Kepahitan  menguasaiku.      Rasanya  panas, tubuhku  seperti terbakar, membara.      Setiap  organ didalam  tubuhku memberontak, meronta.      Dalam  satu titik  aku terjatuh  ke tanah, merasa  lemah dan tak berdaya.      Lalu  keberanian  itu kembali  muncul. Diikuti  tekad bulat sekuat  baja.      Berusaha  bangkit berdiri  dengan sisa-sisa tenaga, aku  merasa cahaya putih menerangiku.      Membanjiriku  dengan kehangatan  sekaligus sebuah kepastian.      Kurasakan  tubuhku melayang, terasa  ringan. Seperti terbang.      Sosok  berjubah  merah didepanku  tertawa, terbahak.       Saat  dia membuka  tudungnya, segalanya  terasa tidak lagi sama. *****************      “ Jadi. Sudah  memutuskan berpihak  dijalan mana. Kurasa kamu  Sencit  tercepat  yang membuat  keputusan”       Mortem  bertudung  didepanku menunjukkan  wajahnya. Seorang pria, seperti  berusia pertengahan lebih duapuluhan, dengan  tubuh ramping atletis, rahang lonjong yang keras, serta  sepasang mata turqoisenya  yang  menusuk, dipadu  aksen Inggris menggoda. Sebetulnya  dia sangat tampan. Sayangnya, dia seorang  pemuja setan.      Atau, itulah  setidaknya yang  kudapat dari aura  serta warna sepasang sayap merahnya.      “ Demmilim!” bisikku  penuh kebencian.      Demmilim  didepanku menyeringai. “ Tambahkan  originals, dan  yang terbaik  di kaumku”      “ Apa  maumu?!” tukasku. Gungnir  tergenggam  erat ditangan  kananku. Aku berdiri  tegap dalam posisi menjulang, membuat  gerakan pertahananan. Tidak ada apapun yang  kuinginkan saat ini selain membelahnya menjadi  dua bagian.      “ Tenanglah  manis, aku tak  ingin membunuhmu....”      “ Persetan!!” teriakku  marah. Emosi menggerakan  untuk mengambil tindakan lebih  dulu. Dengan gungnir  terhunus  aku menyerang  dari samping kanannya  secepat kubisa, menahan jarak  beberapa detik mengikuti gerakannya  yang mencoba menghindariku dan memukulkan  tombakku tepat ke bahu kirinya. Si Demmilim  terhuyung mundur beberapa langkah. Memegangi bahunya  yang berdarah namun dengan cepat lukanya kembali menutup.      “ Aiyana  Achak, rupanya  aku tak bisa meremehkanmu  ya....” ujarnya sambil membasahi  bibir bawahnya.      Aku  kembali  maju untuk  menyerang, tapi  kali ini dia bisa  menangkisnya. Dengan tangan  kiri mengeluarkan tongkatku kemudian  menyebutkan mantra pemanggil kabut dalam  hati. Aura merah pekat dari si Demmilim membuatku  dapat melihatnya dengan jelas, kuambil momen itu untuk  memukul punggungnya dari belakang. Alih-alih berhasil sesuatu mendorongku  hingga terjatuh cukup jauh ketanah. Seketika kabut sihirku hilang. Demmilim  itu berdiri dengan ponggah didepanku. Sekarang aku dapat melihat bola hitam  yang tak dapat dilihat mata UNDER  DARK-ku, tampak  jelas oleh retina  OTHER  WORLD milikku.      “ Sebaiknya  hentikan, usahamu  sia-sia. Aku kemari  tidak ingin melukaimu  dan tak mau membuatmu terluka” Demmilim  tersebut maju satu langkah demi langkah ketempatku.      Mencoba  berdiri, tapi  saat si Demmilim  menjentikkan jarinya  ke udara, jaring merah  kasat mata mengikat erat  sekujur tubuhku. Membuatku terjatuh  kembali ketanah dalam posisi berlutut, hanya  tombak perak yang menopak diriku dengan tangan  kiriku.      “ Menyerahlah...” suaranya  terdengar datar, dan dingin.      Menggertakkan  gigi, jemariku menggengam  erat tombak milikku. Melihat  tetesan da-rah mengalir dari lengan  kiriku. Aku bahkan tak sadar sama sekali  jika terluka. “ Dalam mimpimu....” kataku tajam.      Demmilim  bersayap merah  tersebut menggelengkan  kepalanya. “ Kalau begitu, aku  terpaksa berbuat kasar....”      Aku  tertawa  dan mengeluarkan  suara yang seakan  bukan milikku. “ Begitu  juga denganku. Takkan sungkan  lagi”      Menggunakan  segenap tenagaku  yang terpompa setiap  kali teringat tubuh Ash  yang terjatuh ke atas tebing, serta  tatapan matanya. Aku berhasil melepaskan  diri dari ikatan Demmilim tersebut. Berdiri  sekuat tenaga, menopangkan satu kakiku kedepan, memejamkan  mata, kukerahkan energi alam disekitarku.      “ Percuma  saja” pekik  Demmilim tersebut  sambil tertawa.      Aku  teringat  pengajaran  Ibuku dulu.      ‘Alam  akan menjagamu  jika kamu menjaga  mereka. Mereka dapat  berbicara selama kamu  juga mau berkomunikasi bersama  mereka. Alam juga takkan segan meminjamkan  kekuatan selama itu dipergunakan demi kepentingan  mereka juga....’      Tubuhku  tadinya panas, namun  sekarang berubah menjadi  dingin. Udara disekitarku menjadi  lebih sejuk. Didalam diriku, kutemukan  sebuah bola keemasan yang berkelap-kelip, aku  harus mengangkatnya hingga pendarnya menjadi besar  dan mampu kutarik dari dasarnya. Terus-dan terus. Tekad  adalah segalanya.       Itulah  dasar inti  kekuatanku. Sesuatu  yang masih suci dan  merupakan senjata paling  hebat dari setiap diri makhluk  di muka Bumi ini. Bernama, iman.      Rasa  perih di  lengan kiriku  seketika lenyap. Sakit  disepanjang rusuk dan pinggangku  menghilang, aku merasa seperti terbarukan. Ketika  kelopakku terbuka, Demmilim bersayap merah dihadapanku  menatapku nanar. Kedua iris turqoisenya  melebar  kepadaku. Aku  mengunci pandangannya, memberinya  tusukan dalam setiap momen untuk  berkomunikasi melalui pikiran.      Demmilim  tersebut mengerang, memegang  kepalanya, fokusnya teralihkan. Dalam  satu gerakan, sebuah bola raksasa keperakan  muncul dihadapanku. Awalnya kutahan, hingga detik  demi detik berlalu dan kekuatan itu tak bisa kutanggung  lagi.       Bola  keemasan  tersebut meluncur  lurus ke arah si Demmilim, yang  terlambat menghindar. Menghantamnya dan  mementalkannya hingga jauh, masuk kedalam  hutan diikuti ledakan dahsyat membahana, serta  debuman pohon yang tumbang. Tak lama kemudian, akupun  ikut terjatuh keatas tanah dalam posisi menelungkup kesamping.      Terengah-engah. Merasa  luar biasa lelah. Tenagaku  sudah sepenuhnya terkuras dan  tercurah. Menyandarkan kepalaku pada  tanah, bibirku bergetar hebat, rasa sakit  ditubuhku tak sebanding dengan retaknya jiwaku. Ketika  aku mau memejamkan mata, erangan panjang membuatku tersentak  hingga berusaha bangun.         Aku  tak percaya  ini. Demmilim itu  masih hidup! Keluar  dari dalam hutan dengan  tubuh separuh hangus, sihir  yang kuberikan meninggalkan banyak  luka pada wajahnya. Jubahnya sobek dari  atas hingga bagian pinggang. Sebuah tato pentagram  semerah darah terpampang pada d**a kanan atasnya. Sepasang  sayap sewarna darahnya sekarang menjadi sedikit abu-abu karena  ikut terbakar.      Mata  Demmilim  tersebut berubah  merah, sewarna sayapnya, seperti  darah segar. Menengadahkan kepala  dan menjerit, saat mukanya kembali  menatapku, taring panjang keluar dari  sudut mulutnya.       Kedua  jantungku  bertalu-talu  sangat keras, membuat  dadaku kesakitan. Semua  bulu halusku berdiri. Kupingku  berdenging hebat dan rasa perih  menjalar dari setiap inci sel dibadanku. Dari  kedua kepalan tangan Demmilim tersebut terpancar  aura energi negatif berwarna hitam, yang semakin lama  menjadi besar hingga seperti puluhan bola bowling dijadikan satu.       Aku  tahu apa  yang akan terjadi, dan  untuk pertama kalinya sejak  sekian lama, aku betul-betul pasrah. Sudah  tak ada lagi keinginan untuk melawan ataupun  berontak. Jadi ketika Demmilim tersebut mengarahkan  kekuatannya padaku, yang dapat kulakukan hanya duduk  diam. Menanti ajal.      Lalu, sesuatu  disekitarku menjadi  putih. Bulu-bulu lembut  dan hangat menyelubungiku, menarikku  secepat kedipan mata dari tempatku. Menengadah, sepasang  iris berlian laut membalasku dengan keteduhannya. Yang kutahu  berikutnya, rasa lelah menguasaiku sepenuhnya. ******************           Aku  berada  disebuah  lorong dipenuhi  cahaya putih, hanya  mengenakan gaun lengan  pendek terusan selutut berwarna  putih. Aku melihat Ash berada disisi  kananku, menggengam erat jemariku. Mengalirkan kehangatan  dan ketenangan seutuhnya kesekujur badanku.      “ Apakah  kita berada  disurga?” tanyaku  kalem. Anehnya tak ada  ketakutan sama sekali melandaku.      Ash  mengulaskan  senyum seindah  malaikat, wajahnya  berkilauan tertimpa  cahaya putih terang yang  aku sendiri tak tahu darimana  asalnya. “ Tidak sayang, belum” jawabnya  lembut, seperti biasa.      Mendadak  hatiku dipenuhi  kesedihan. “ Kukira  kamu sudah menjemputku..”  tukasku lebih mirip anak merajuk.      Ash  menggelengkan  kepalanya, wajah  tampannya jauh terlihat  lebih damai daripada terakhir  kali kulihat diatas tebing waktu itu. “ Belum  saatnya, masih banyak hal harus kamu kerjakan. Bersabarlah. Saat  waktunya tiba hanya ada kebahagiaan menyertaimu” dia mencengkram  lembut pundakku.      Aku  menundukkan  kepala, merasa  akan menangis. “ Tapi  aku tidak mau kamu pergi  lagi, aku...kurasa...sudah cukup  semua beban ini. Aku tak ingin menjadi  manja atau merepotkan hanya saja, aku benar-benar  tak tahu bagaimana menjalani hidup tanpamu”       Ash  mengangkat  daguku dengan  jemarinya, menunduk, dia  mencium bibirku dengan sangat  lembut dan dalam, tak ada nafsu  hanya cinta didalamnya. Kedamaian luar  biasa menerjang tubuhku, menyegarkan tiap  sel di centi badanku. Kebahagiaan murni memenuhiku, memberikan  kekuatan tak terbatas dan seakan aku bisa memeluk seluruh dunia  dengan tangan. Ash lalu melepaskan bibirnya dariku.       “ Bertahanlah  Ai. Aku mencintaimu, dengan  seluruh jiwaku” jemarinya mengusap  lembut pipiku. Diriku bergetar oleh  perasaan haru karena ketulusannya, meletakkan  tanganku diatas tangannya. Kemudian. Sepasang mata  dimalam cerah berbintang itu berkilauan dipenuhi tekad, berkata. “ Tolong  temukan aku Ai, bawa lagi diriku padamu, meskipun artinya. Aku harus mati  untuk kedua  kalinya....”       Tunggu  dulu....      “ Apa  maksudmu?” tanyaku  terbelalak.       Sementara  Ash menjauhkan  tubuhnya dariku, aku  melihatnya mulai menjadi  pusara cahaya ketika tanganku  berusaha menggapainya tapi transparan. Bibirnya  bergerak   mengeluarkan  kalimat. “ Jadilah  kuat, karena setelah  ini segalanya akan lebih  berat. Jangan berhenti berkeyakinan  dan berharap”          Sebelum  aku sempat  berkata-kata, sosok  Ash dihadapanku menguar  menjadi kepingan cahaya. Aku  berteriak, mengelukan namanya diudara. Tiba-tiba  tempatku berpijak berguncang hebat seakan dilanda  gempa bumi. Timbul retakan-retakan hitam diantara putih  cemerlang disekitarku, spontan aku menjerit panik.      Putih  disekitarku  retak seperti  pecahan kaca, hujan  bulu menghujaniku, kuambil  salah satu bulu berwarna merah  tepat ketika tanahku berpijak melorot  jatuh kedasar tak berujung. Dalam jeritan  dan kepasrahan masih bisa kucium sisa-sisa  aroma harum dari tubuh kedua Orang tuaku. Tiba-tiba  guncangan berhenti, gempa mereda, segala sesuatunya kembali  normal dan disekelilingku bergemerlapan cahaya.       Diantara  warna putih  memabukkan, bisa  kulihat sebuah cahaya  keemasan berpendar di kejauhan. Aku  berjalan berjalan kearah benda menyerupai  dua bohlam lampu raksasa seukuran tubuhku tersebut, lalu  aku merasakan panas membara disekujur tubuhku.      Sebuah  layar besar  terbentang dihadapanku. Lalu  satu persatu gambar bermunculan  didepanku.      Gambar  pertama seorang  wanita dalam balutan  baju victoria abad reinassance  kukira. Awalnya aku tak mengenalinya, lalu  sadar jika itu adalah aku. Dia  naik diatas  ku-da, bersama  seseorang ksatria  dalam balutan baju  zirah didepan sebuah  kastil megah. Aku dalam  masa lalu tampak tersenyum  bahagia, menoleh pada sosok dibelakangnya.      Yang  kedua, didalam  lantai dansa, masih  dalam rentan waktu yang  sama, kali ini sosok tersebut  memakai topeng. Tapi aku dapat melihat  bentuk fisiknya lebih jelas. Ramping atletis, rambut  bergelombang coklat seleher diikat.       Bagian  ketiga, diriku  dengan sayap sewarna  merah darah, menangis ditengah-tengah  medan pertempuran.      Lalu  semakin  banyak bayangan  berkelebat diatas  layar dengan cepat. Tentang  peperangan, penderitaan, kesedihan, serta  cinta yang dalam, antara diriku dimasa lalu  dengan sosok misterius tersebut. Gerakannya menjadi  begitu cepat. Seperti potongan-potongan kisah yang disatukan.      Kemudian  aku melihat  gungnir  milikku  digenggam  diriku dalam  masa lalu. Dalam  sebuah pertempuran. Aku  juga mendapati banyak fokus  rekaman tentang sepasang mata  biru. Dalam satu putaran roll film, kurasa  akan segera sampai akhir.        Itu  adalah  benteng. Tua, dan  kukenali sebagai salah  satu peninggalan bersejarah  milik orang Irlandia. Diriku di  masa lalu terduduk dipuncaknya, berlutut  dengan gungnir  berlumuran  darah. Sebuah  peta kuning tercengkram  di tangan kirinya. Sayapnya  bergerak searah angin datang. Dihapadannya  berdiri sosok pria yang sering muncul bersamanya  didalam gambar ini.       Sayapnya  begitu putih  dan indah. Sepasang  mata biru meneduhkan  jiwa.     Sebuah  kesadaran  menyergapku  cepat. Tenggorokanku  terasa sekering gurun  sahara. Isi perutku seakan  ditarik paksa dari tempatnya.      Demi  Tuhan! Itu  Kif!!      Lalu  gerakan  berikutnya  menjelaskan segalanya.      Aku  dimasa  lalu mencium  Kif! Dalam dan  lembut.      ‘ Ini  memori!! Memoriku  dimasa lalu!! Sencit  saat itu, adalah aku!!’      Layar  menggelap, berkedip  dan menghilang. Sebuah  suara merdu dan hangat  terde-ngar dari balik punggungku.       “ Ya, itu  memang gambaran  masa lalumu....”      Lututku  bergetar. Aku  tak sadar betapa  merindukannya suara  itu, betapa aku selalu  merasakan lubang aneh didalam  hatiku meskipun bersama Ash. Menolehkan  badan, air mata tumpah menggenangi pipiku.      “ Kif....Kifael...Alagaz....” bisikku  parau. Kesedihan menyelimutiku.      Jemariku  bergerak pelan  menuju wajahnya. Kif  menarik lembut tanganku, menekan-kan  pada pipinya. Begitu hangat, sangat nyaman. “ Kamulah  Guardian  of Soul-ku....’’      Kif  tersenyum, sangat  lebar. “ Syukurlah, kamu  menyadarinya. Dan Ai, sudah  waktunya bagimu sekarang untuk  sadar. Semua orang merindukanmu...”      Kif  menunduk, menciumku  tepat dibibir.       Aku  berada  seperti didalam  kotak kaca sejak  tadi, dan sekarang retak  serta terbuka.       Ketika  mataku perlahan  membuka, satu tekad  sekaligus pemikiran baru  menerjangku.      Seperti  bayi yang  terlahir kembali. Hati  kecilku meneriakkan.      Aku  sudah  ingat segalanya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD