Ternyata itu Kif, mendorong badanku untuk melindungiku dari serangan ganas para Were-bat ( Manusia separuh kelelawar ) yang tiba-tiba muncul dari atas langit dan menukik terjun bebas.
Dalam satu gerakan Kif kembali bangkit berdiri, menarik cepat pedang dari pinggang kirinya lalu mengayunkannya secepat angin untuk menebas lengan seekor Were-bat hingga terlepas dari tubuhnya. Berkaok mengerikan lalu terjatuh ketanah dengan bunyi debuman keras. Asap hijau memenuhi mayatnya, sempat kembali ke wujud manusianya beberapa detik sebelum berubah menjadi abu.
Masih dalam keterkejutan, kulihat Yuki mengeluarkan senjata andalannya. Aku mengenailnya sebagai Sai, senjata khas Jepang semacam trisula yang bisa dilemparkan untuk menyerang musuh, bedanya milik Yuki sudah dimodifikasi sehingga dapat kembali dengan sendirinya kepadanya. Sai Yuki berhasil menembak tepat kearah jantung beberapa Were-bat hanya dalam satu kali lemparan. Makhluk terkutuk itu menerjang pohon pinus dibelakang Kif, dia menunduk tepat pada waktunya. Berubah menjadi butiran debu hijau tak lama setelah terjatuh ketanah.
“ Strike!” teriak Kif dan Yuki girang, berbarengan seraya melakukan tos diudara. Tapi kegembiraan mereka tak berlangsung lama karena dua ekor Were-tiger berlari lurus kearah mereka sekaligus.
“ Oh Sial!” makiku.
Dengan cepat bersalto dari tempatku, mengeluarkan gungnirku dan melakukan satu gerakan melayang penuh diudara. Mendarat hanya beberapa senti dari salah satu were-tiger untuk memblokir jalannya. Menggunakan kecepatanku sebagai shapeshifter, dengan mudah aku berhasil membantingnya ketanah. Satu cakarnya lepas dari peganganku bersiap mencabik wajahku tapi secepat itu juga kakiku menendang kebagian vital harimau jelek berwarna kuning pucat tersebut. Terakhir. Menancapkan ujung tombakku tepat di kepalanya.
Pemuda itu berlari secepat kilat kearah salah satu Were-tiger, didorongnya makhluk tersebut menggunakan kekuatan supernaturalnya kemudian dibantingnya ke tanah.Were tiger tersebut berhasil bangkit,menolehkan kepalanya kemudian mengaum marah sebab disaat bersamaan Kif telah melompat keatas tubuh Shapeshifter targetnya, kemudian menarik rahang dari atas dan bawah. Mengakhiri hidup makhluk mengerikan tersebut.
“ Kita harus bergerak cepat” tukas Kif pada kami berdua. Kami sudah siap berlari saat aku mendengar suara kepak sayap dari atas langit, terus turun menukik kebawah.
Tombakku sudah teracung didepan badan, namun Kif justru menahan pergerakanku dengan tangannya. “ Jangan” bisiknya.
Benar saja, ternyata bukan lawan yang datang melainkan kawan. Nephillim perempuan berambut merah anggota shadow guards meluncur turun dengan elok didepan kami. Rambutnya sewarna dengan banyak noda darah diwajahnya, yang kutebak bukan miliknya.
“Kif, kami butuh bantuanmu. Benteng barat tersudut dan bantuan tak juga datang ” tukasnya. Dadanya naik turun sangat cepat, banjir keringat menyebabkan kaus merah ketat tanpa lengannya basah.
Kif menoleh padaku sejenak, tampak bimbang.
“ Aku ikut” kataku tegas.
“ Aku juga” sahut Yuki, berjalan kesampingku.
“ Kif...” desak si rambut merah. Jelas terburu waktu.
Menginggit bibir, akhirnya Kif mengambil keputusan. “ Baiklah, tapi ingat, jangan merepotkan. Dan selalu waspada” perintahnya tegas.Tersenyum aku mengangguk.
“ Kita terbang saja, sudah tak ada waktu” ujar si rambut merah lagi, kali ini melirikku.
“ Aku bisa berteleportasi” ujar Yuki tenang. Tentu saja mengejutkanku.
“ Kamu bisa?!” kataku tak percaya.
“ Aku seorang patron sekaligus visioners memangnya ada yang salah?” tukasnya tampak kesal karena merasa diremehkan.
Menggeleng, aku melanjutkan. “ Tidak, hanya saja menurutku itu keren”
“ Baiklah, kalau begitu kamu ikut aku” Kif secara tiba-tiba menarik tanganku. Aku sudah siap protes ketika dengan mendelikkan mata dia berkata. “ Kamu ingin ikut, tapi tak bisa terbang bukan. Aku tak bisa membiarkanmu berlari sementara bahaya mengintai disetiap sudut. Menurut atau kutinggal. Lagipula, bukankah sudah kukatan tadi agar tak merepotkan”
Wajahku memanas karena keterus-terangannya. Tapi Kif benar. Pada akhirnya, aku memutuskan mengalah. Membiarkan dia menggendongku kedalam pelukannya. Dan menyaksikan pemandangan ajaib dimana untuk pertamakalinya melihat sayap seorang Nephillim terkepak.
Aku tentu saja sering melihat sayap, aku tumbuh dilingkungan ‘penuh sayap’ hanya saja, milik Kif memang berbeda dibanding lainnya. Sesekali aku melihat punya Mom, abu-abu gading. Milik Dad, coklat tua dengan bagian luar kekuningan, dan tentu saja bulunya sekasar burung elang. Sementara Ash, Hitam pekat. Namun sayap Kif luar biasa indah.berwarna putih dengan gradasi semakin dalam warna bulunya menjadi keperakan. Miliknya persis seperti yang digambarkan cerita fiksi serta film supernatural lainnya.
“ Berpeganglah yang erat” bisiknya lembut diluar daun telingaku.
Sensasi energi listrik seketika menyetrum diriku. Ketika kedua tangan kokohnya menyentuh kulitku, aliran energi besar kasat mata merasuk kedalam tulangku melalui punggung, memberikan sinergi kenyamanan hingga darah didalam pembuluhku. Debaran jan-tung manusiaku kembali mengencang, rasa panas membakar dimulai dari dalam perutku, terus naik ke wajahku. Memberanikan diri,kutempelkan kepalaku pada d**a bidangnya, mendengar detak jantungnya yang menyerupai deburan ombak tenang tapi menghanyutkan.
Memejamkan mata, menikmati gelombang angin yang menerpa kami diudara langit malam. Menyesap dalam-dalam aroma hutan pinus dikala pagi dari tubuhnya. Tak ada apapun lagi selain suara detak jantung Kif, serta bunyi kepak sayapnya yang sangat merdu. Seakan pernah kudengar. Sesuatu didalam dadaku muncul menyeruak, mengingatkanku pada kepingan-kepingan masa lalu yang bahkan tak kukenal. Sebuah kerinduan murni muncul disana.
Sungguh, ini semua sangat aneh. Ini kali pertamaku bertemu dengan Kif, tapi entah kenapa, jauh dilubuk hati terdalam aku seakan mengenalnya sangat lama. Lebih daripada itu, belum pernah aku merasakan hal seindah ini setiap kali terbang didalam dekapan Ash.
Ash....
Sial!!....apa yang baru saja kupikirkan. Ini tidak benar!
Kekasihku sedang bertaruh nyawa bertarung demi diriku dan aku apa?. Menjadi p*****r yang malah memikirkan pria lain. Aku benar-benar sudah gila! Sepertinya segala hal berbau Sencit ini telah mengubahku menjadi kurang waras.
Aku merasakan udara disekitarku menjadi berat, dan kepakan sayap Kif melambat, tanda kami sebentar lagi akan mendarat. Menjulurkan leher, aku terkesiap. Warna merah meliuk-liuk diudara, kabut tebal hitam pekat memenuhi kota dibawahku. Itu api!
Kif segera menurunkanku dengan lembut saat kakinya menjejak tanah, pemandangan disekitarku terlalu mengerikan, membuatku sedikit limbung. Api menjilat diseluruh penjuru, melahap apapun yang mereka temukan. Suara denting besi menggema disetiap sudut yang dapat kudengar.
Bagian barat kota telah berubah menjadi medan pertempuran. Dadaku sesak mengingat betapa miripnya kondisi ini dengan keadaan didalam penglihatanku. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Kisaki dan Matsuo berduel melawan lima orang sekaligus dalam balutan jubah dan tudung merah. Aku mendongak dan melihat si kembar Nephillim melawan para were-bat diatas atap rumah yang terbakar. Yuki berlari melewatiku, melemparkan sainya tepat menebas kepala seekor were-tiger yang telah bersiap menerjang Ayahnya. Dari kejauhan.
“ Sampai kapan mau berdiri disitu!”
Suara Kif menyentakku. Mengeluarkan gungnirku, dalam sekejab aku terlibat dalam pertarungan melawan kumpulan were-tiger yang bermunculan dari dalam hutan. Seekor Were-tiger jelek bertubuh kurus menerkam Kif dari belakang, akan tetapi gungnirku berhasil menancap pada satu sisi kaki belakangnya. Makhluk tersebut jatuh ketanah, mengerang, tapi tidak cukup untuk melumpuhkannya. Harimau jadi-jadian tersebut membalikkan badannya, dengan kaki masih terluka bersiap menerjangku.
Bantuan datang tepat pada waktunya, Nephillim wanita berambut pirang berambut pirang melompat keatas punggung Manusia separuh Harimau itu kemudian menancapkan Belati Bulan salat satu senjata legendaris kaum Nephillim diatas pundaknya. Were-Tiger tersebut mengerang marah, tubuhnya bergerak-gerak hebat. Kumanfaatkan momen tersebut untuk melompat keatas cabang pohon tertinggi paling dekat darinya, kemudian seraya menarik nafas panjang dia mengambil ancang-ancang untuk meluncur dari atas ketinggian.
Dalam hitungan ketiga dalam hati melompat terjun, tangan kanan memegang gungnir. Tombak berwarna emas meluncur lurus lurus menembus masuk tepat kebagian jantung si Were-Tiger. Shapeshifter tersebut mengerang sekarat dalam posisi berdiri, ketika turun melewati tubuhnya aku bisa mendengar jika detak jantung makhluk terkutuk itu telah berhenti.
Aku dan si Nephillim perempuan pirang saling berpandangan, tersenyum puas pada kerjasama kami. Tapi kesenangan kami tak berlangsung lama karena dari atas langit, seperti dimuntahkan, kumpulan were-crow ( manusia separuh gagak ) jatuh ketanah. Kif berlari ke depan kami, kedua tangannya membawa pedang, sayapnya sudah terselip rapi didalam bahunya lagi. Dengan kecepatan luar biasa Kif melompat, menghindar, berlari, memasuki celah-celah diantara para were-crow yang tampaknya tidak siap akan kehadirannya. Warna perak memantul oleh cahaya bulan dari ujung tajam pedangya dan disabetkan pada tubuh para shapeshifter tersebut.
Dalam hitungan detik, para were-crow jatuh ambruk ke atas tanah, menyisakan Kif yang melompat dan berdiri tegak dengan kedua pedang disisinya, berlumuran darah. Memunggungiku.
Saat dia menoleh pada kami, senyumnya lebar. Membuatku tak dapat menahan diri untuk tidak merasakan panas pada pipiku.
“ Dasar tukang pamer!” bisik si Nephillim pirang kesal. Jelas ditujukan padaku.
Lalu sesuatu terjadi, sebuah cahaya hijau terang mengalir ke arah si Nephillim disampingku. “ Awas!” teriakku, menarik tubuhnya hingga menjauh, tanpa mengacungkan tongkat sihir, satu kata terpercik dalam kepalaku. “ Morst Ce’i!!!”
Aliran hijau berupa sihir hitam itu terhenti, terkalahkan oleh es yang mendadak muncul diudara, menjalar dan mengenai si pemilik mantra. Seorang bertubuh tinggi dalam balutan jubah merah. Salah satu mortem. Terjatuh ke tanah. Tapi tak lama karena dia kembali berdiri. Suara kikik tawanya seperti ular. Mungkin dia salah satu were-snake.
“ Apa tujuan kalian sebenarnya!” bentakku.
Mukaku kaku, sepasang mata coklatku menyorotkan kebencian. Posisi tubuh mengangkat gungnir didepan d**a.
Mortem tersebut terkekeh sadis. “ Sencit yang sombong, jangan pikir dirimu hebat hanya karena menyandang nama itu”
Aku melemparkan gungnirku tanpa antisipasi diudara menuju arah bagian jantung musuhnya. Mortem itu mengeluarkan aura merah pekat berbentuk bola yang menjadi perisai pelindung disekitarnya, mementalkan seranganku, membuat senjataku kembali padaku. Dalam kedipan mata dua kristal berukuran raksasa berwarna hitam bergerak cepat kearahku.Meski terkejut aku berhasil menghindar tepat waktu. Aku sempat melihat si Nephillim pirang dan Kif sibuk terlibat dalam pertarungan mereka sendiri melawan lebih banyak mortem.
“ Wiccan rupanya...” gumamku seraya mengeram.
Penyihir hitam dihadapannya tampak menyeringai dari balik tudung. “ Ayo kita bermain-main sebentar cantik...”
Dua serangan petir hitam berhasil kuhindari, balik menyerangnya menggunakan energi halilintar.Lalu serangan kristal hitam lagi darinya berbentuk pola bintang, perisai ungu buatanku mampu menghancurkan semuanya.Aku mengirimkan getaran elektromagnetik pada tanah diikuti serangan jarum es, sial bagiku karena penyihir Pentagram tersebut sangat terlatih, kekuatanku hanya mampu menggores mantel dan tudung musuhnya.
Penyihir mortem itu telah membuat amarahku mendidih karena tawa mengejeknya. Aku mengagkat satu tangan ke udara,membentuk pusaran energi angin raksasa ungu muda dan kemudian mampu menghentak kencang tubuh musuhku hingga terlempar beberapa meter ke tanah. Seulas senyum mengembang pada wajahku.
“ Baiklah nak, tampaknya aku harus serius juga setelah ini” desis si penyihir hitam bangkit dari tanah.
Aku merasakan tanah disekitarku mengeluarkan luapan energi panas, banjir bola-bola kecil kemerahan seakan dimuntahkan dari dalam Bumi menyerangku. Kugunakan sihir tameng dan penghancur namun tetap saja masih kecolongan, beberapa bola sihir tersebut mengenai tangan, kaki, leher, serta bagian pundakku. Rasa panas menyengatnya, meninggal bekas luka bakar pada kulitnya.
Berusaha keras menguasai emosiku. Kukeluarkan semua kemampuan yang selama ini telah kupelajari dari Mom. Badai air, naga angin, hingga anjing api, semua senjata rahasiaku menyerang musuh bertubi-tubi. Si penyihir hitam baru saja terjatuh ke tanah dalam kondisi berlumuran darah ketika kekuatan sihirku terasa meredup. Sial! Aku kehabisan energi, meski berusaha keras berdiri tegak namun tubuhnya mengkhianatiku. Aku terduduk ditanah dengan posisi lutut terlebih.
Terengah-engah kulihat musuhku berdiri sambil tertawa puas, mantelnya tersobek-sobek, darah mengalir sepanjang pundak, kaki, dan perutnya, tudungnya terbuka memperlihatkan sesosok wajah pemuda berwajah sepucat mayat dengan sepasang mata besar berpupil hitam penuh memandangnya sadis. Terdapat tato berwarna merah darah ber-gambar bintang didalam lingkaran ditambah sepasang sayap hitam, terpajang jelas di se-panjang leher si penyihir hitam. Ketika pemuda mortem tersebut mengangkat satu ta-ngannya kehadapanku. Seketika, kurasakan tubuhku membekuk, dua bola mataku mena-tap nanar amat menyiksaku karena tak bisa mengedipkan mata ataupun menggerakkan badan.
Pemuda tersebut tertawa kejam. “ Harusnya kamu belajar lebih baik ketika masih ada waktu. Sayang, penyesalan selalu datang belakangan”
Isi perutku memanas, organku mengentak-entak kencang seakan diremukkan dari dalam, darah mengalir deras dari hidungku. Aku berusaha keras melawan, tak mau mati konyol ditangan pemuda t***l penganut iblis. Akan tetapi setiap kali berusaha untuk tenang, rasa panik serta takut mencengkramku. Dalam hati, akupun mulai berdoa.
Mungkin, inilah akhirku. Dalam keheningan yang menyiksa serta suara keributan disekitarku. Aku hanya bisa pasrah. Hingga sesuatu melompat cepat dari atas pepohonan elm, menerjang badan si pemuda Pentagram. Kejadian tersebut terlalu mengejutkan hingga membuat mantra hitamnya padaku lenyap seketika.
********************
Seekor elang raksasa berbulu hitam pekat muncul secara tiba-tiba menyelamatkanku. Aku langsung mengenalinya sebagai Ash. Masih terpaku pada tempatku, aku melihat bagaimana Ash dengan beringas menghajar, mencabik dan terakhir, membelah tubuh mortem tersebut menjadi serpihan lalu membuangnya ke tanah. Ditengah segala keterkejutanku, sesuatu yang kuat mendekapku dari belakang diikuti bunyi desingan. Aku menoleh dan memekik melihat Kif baru saja melindungiku dari serangan paku beracun hell stone milik para mortem.
Aku melihat dari mengalir deras dari bahu Kif, tapi dengan entengnya dia mencabut peluru tersebut dan membuangnya ke tanah. Meskipun wajahnya sempat mengernyit kesakitan. Hell Stone adalah nama batu Neraka yang dapat melukai para Nephillim namun tak sampai membunuh mereka. Sama seperti Pure Stone, bebatuan itu harus dicairkan terlebih dulu sebelum dijadikan bahan racun.
Kif membantuku berdiri lalu menyeretku hingga ke depan Ash versi elang. “ Bawa dia pergi dari sini!” teriak Kif. Yang dijawab Ash dalam anggukan.
“ Kamu bisa naik sendiri kan?” tanya Kif padaku.
Mengangguk, menggunakan sisa-sisa tenaga aku bersalto ke atas punggung Elang-Ash. Elang itu berkaok keras, ketika kedua sayapnya mulai terkepak, aku harus memegang bulu-bulu tebal lebat pada lehernya agar tak terjatuh. Dalam hitungan detik, kami sudah membumbung tinggi ke atas awan.
“ Apa kamu sudah gila?! Pertarungan ini berbahaya. Semua orang ingin menyelamatkanmu dan kamu malah melemparkan diri ke medan perang begitu saja!”
ujar Ash mengirimkan pikirannya padaku. Dia sangat marah.
“ Kamu tahu aku tidak bisa berpangku tangan. Aku tak dapat melihat darah tertumpah demiku. Tidak akan. Lebih daripada itu, kalian membutuhkan bantuan” bantahku sedikit kesal.
Hening sejenak, aku merasa Ash mendesah dalam percakapan arus pikiran kami. “ Jika hal buruk sampai terjadi padamu,rasanya aku tak bakal bisa hidup lagi. Jadi kumohon Ai, tolonglah mengerti. Kondisinya cukup berbahaya. Aku terlalu mencintaimu sehingga bertindak begitu egois...”
Menggertakkan gigi, aku membalas. “ Kalau begitu sama denganku. Pikirkan aku yang mencemaskanmu. Selain itu aku bukan wanita lemah yang harus dijaga setiap saat. Aku lebih kuat daripada yang selalu orang lain pikirkan”
Ash mendengus dalam. “ Aku tahu Ai. Hanya saja, aku terlalu mencintaimu hingga hanya ingin membuatmu aman. Apakah itu salah?”
Sial! Ash selalu memiliki cara untuk membuatku menyerah pada kehendaknya. Menundukkan kepala, aku menyuarakan gambaran pikiranku pada. Mencium lehernya lembut dan dia berkaok geli, mendadak meliuk tak jelas diatas langit membuatku harus mencengkram bahunya. “ Aku juga mencintaimu Ash. Karena itu tolong percayalah padaku. Dan bertahanlah hidup”
Ash hendak menjawab ketika sebuah serangan keras mengenai kaki belakangnya. Membuat Elang-Ash berkaok mengerikan diikuti bau hangus. Disaat berbarengan kulihat dua ekor were-eagle raksasa muncul dari dua sisi berlawanan tanpa pengendara. Bisa ditebak selanjutnya, pertarungan tak terelakkan terjadi. Dan aku harus mengeluarkan segenap sisa kekuatanku melawan mereka.
“ Ethrund rac!” pekikku seraya menjulurkan leher kekanan, mengacungkan tongkatku pada si elang jadi-jadian pengkhianat itu.
Sayangnya, si elang terlalu gesit. Aku berusaha berdiri diatas punggung Elang-Ash. Tapi pertarungannya dengan si elang berbulu coklat disamping kiri kami membuat keseimbanganku goyah dan itu mempengaruhi konsentrasiku dalam mengeluarkan sihir.
Aku mengeluarkan hujan salju, sayangnya sebuah dorongan pada tubuh Elang-Ash dari arah kiri membuat sihirku keluar ditempat yang salah. Elang jadi-jadian berbulu putih-hitam itu berkaok kencang, seakan sedang mentertawakanku.
“ Bertahanlah” bisik pikiran Ash.
Aku nyaris terjatuh miring kesamping ketika Elang-Ash secara mengejutkan melakukan manuver. Menghindari kedua elang hingga menyebabkan mereka nyaris bertabrakan, kesempatan itu kuambil untuk mengeluarkan mantra pembeku, dan kali ini sukses mengenai keduanya.
“ Berhasil!” pekikku girang mencium leher Elang-Ash, dan dia berkaok tanda girang.
Aku memeluk leher Elang-Ash erat, menikmati tamparan lembut angin pada tubuhku, merasakan otot-otot dikedua sayap elang-Ash bergerak naik dan turun. Kemudian, sebuah pikiran erotis kususupkan diantara kami. Membuat Ash terbahak. Ini benar-benar seperti masa lalu. Saat-saat dimana aku dan Ash diam-diam menyelinap saat kami masih remaja, dan berkendara dengannya melintasi langit Oregon hingga kami sama-sama kelelahan. Andai saja kali ini kondisinya berbeda, pasti akan terasa romantis.
Ash membawa kami turun ke landaian tebing bukit. Seperti biasa, dia mendarat sempurna. Rasa pusing mulai menyerangku saat aku turun, dan lututku seperti terlepas kala menyentuh tanah. Bersandar pada bahu elang-Ash, sepasang mata raksasa langit malam cerah berbintangnya menatapku sangat cemas.
“ Aku tidak apa-apa sungguh" kataku padanya, menyentuh sayapnya.
Ash menatapku sendu melalui mata elangnya. Dia ingin mengatakan sesuatu saat itu, namun sayangnya, ternyata itu adalah tatapan terakhir yang bisa Ash berikan padaku. Sebab didetik itu juga, sesuatu meluncur dari langit dan mendarat tepat diatasnya, menusukkan sesuatu hingga menghujam tubuhnya.
Darah mengucur dari seluruh badan elang-Ash, membasahi tubuhku.
Jeritannya adalah terorku.
Dan pekikannya menyayatku.
Tanpa bisa kucegah, tubuh Elang-Ash oleng kesamping kanan, bersiap jatuh dari atas puncak tebing.
Aku menjerit, mengerang, meneriakkan semua sihir yang kubisa. Namun sebuah sihir hitam membuat penghalau diantara kami.
Kemudian, mata elang-Ash sempat menangkap sosokku. Untuk terakhir kalinya dia berkata.
“ Aku mencintaimu....”