Kami dibangunkan oleh suara ketukan didepan pintu kamar diikuti suara Yuki memanggil namaku. Ash bergerak perlahan dariku, mengecup keningku satu kali dan tersenyum, lalu bangkit berdiri terlebih dulu. Dengan malas aku merenggangkan badanku, menengok jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00. Bangkit dari kasur, aku berteriak meminta Yuki untuk menunggu. Tanpa mencuci mukaku ataupun menggosok gigi, bergegas memakai baju sementara kulihat Ash memasuki kamar mandi.
Ketika membuka pintu kamar, wajah cemas Yuki muncul didepanku. Gadis itu telah mengenakan kimono kerja sehari-harinya lagi, dengan rambut digelung menjadi dua kali ini. Aku tadinya menguap, namun tertahan oleh sorot kahawatir dari matanya.
“ Apa yang terjadi?” tanyaku tak bisa menyempunyikan kepanikan juga.
“ Visi itu terjadi lagi....” kata Yuki terbata-bata, matanya menatap lurus kepadaku. “ Sesuatu telah berubah, hanya dalam semalam. Masa depanmu akan berubah, tapi begitu juga masa kini.....”
Dadaku seperti dicengkram dari dalam. “ Apa maksudmu?”
“ Kota ini akan diserang....” air mata berkumpul disudut retina Yuki, suaranya bergetar dan serak. “ Mereka...para mortem, akan menghancurkan tempat ini demi mendapatkanmu...”
********************
Aku bergegas mandi, berganti baju, kemudian bersama Ash makan secepat kami bisa. Tenggorokanku terlalu sulit untuk menerima makanan sehingga hanya bisa menelan semangkuk sup tofu hangat, sementara Ash, memaksakan diri memakan semua yang telah dikirimkan kedalam kamar kami. Aku sempat berbicara padanya mengenai semua ucapan Yuki tadi sebelum mandi, Ash pikir ada sisi baik dan buruk dari penglihatan gadis itu meskipun dia sendiri belum menjelaskan secara detail. Seusai makan, kami beranjak menuju basement seperti yang diperintahkan Yuki tadi padaku.
Aku melihat Yuki sedang berdebat dengan Ibunya, namun terhenti setelah melihat kedatangan kami. Kisaki tidak memakai kimono alih-alih sackdress terusan selutut lengan pendek berwarna merah muda berbahan katun tebal.
“ Dimana Tuan Matsu?” tanyaku sopan.
“ Memanggil para ‘prajurit’” jawab Yuki cepat.
Membuatku dan Ash menaikkan alis dan saling menatap, kebingungan. Ash melangkah maju untuk berbicara kepada Kisaki. “ Sebenarnya, apa yang sudah terjadi”
Kisaki jelas berusaha tenang, tapi gagal. Kakinya bergerak-gerak gelisah ditempat, menggingit bibir bawahnya satu kali lalu menjawab. “ Yuki mendapatkan penglihatan lagi tadi pagi, segalanya jelas mengenai masa depan yang dilihatnya saat memasuki alam visi bersama ‘kalian’. Dan segala sesuatunya berubah total...”
“Benarkah?” tanyaku tak percaya, sedikit bersemangat, berharap jika memang ada kesempatan bagi kami untuk mengubah nasib.
“ Masa depanmu” Yuki mendadak maju, menunjuk Ash. “ Segalanya tidak sama seperti yang kulihat sebelumnya. Mungkin itu karena keinginan kuatmu untuk mengubah takdir. Namun, hal buruk justru akan terjadi dimasa sekarang. Konsekuensi dari menulis ulang jalannya takdir.”
Meskipun tidak yakin Yuki sedang menyalahkan Ash saat ini, tapi melihat tatapannya menjadi penuh emosi pada kekasihku.
“ Yuki, berhenti. Ini bukan salahnya” tegur Kisaki, seakan bisa membaca pikiranku.
“ Memangnya kenapa?” Yuki berpaling meneriaki Ibunya, membuatku terkejut. “ Karena mereka seisi kota akan binasa sebentar lagi. Segala sesuatu yang kita jaga dan pertahankan selama ini hilang begitu saja....”
Ash terpaku ditempat, sementara aku bisa merasakan kesedihan kuat terpancar dari Yuki. Jelas dia tak pernah ingin mendapatkan hidup seperti yang dijalaninya sekarang, gadis remaja normal manapun pasti tak mau. Aku sendiri pernah berpikir rela memberikan segalanya agar bisa menjadi manusia biasa, meskipun hanya sesaat. Jadi, aku bisa memahami perasaannya.
“ Tapi bagaimana bisa?” bisikku lemah.
Kisaki menggeleng. “ Para Mortem tak bisa diremehkan, wiccan mereka juga mempunyai kemampuan ‘melihat kedepan’. Penyihir hitam adalah mata-mata paling hebat, mereka juga dapat merasakan perubahan yang akan terjadi. Itu sebabnya mortem membuat gerakan terlebih dulu untuk menyerang. Waktunya sudah tak banyak lagi hingga hari pemenuhanmu tiba”
Tertegun, aku menunduk menatap lantai kayu dibawahku, “ Ulang tahunku. tiga minggu lagi....”
“ Ya. Dan sampai saat itu kami akan menjagamu serta melatih kekuatanmu. Hingga saatnya tiba kamu harus memilih. Namun saat ini, kita harus memprioritaskan keselamatan kota”
Kami semua menoleh dan mendapati Matsu berdiri diujung tangga basement. Terlihat tampan didalam balutan tiga setel baju mahal berwarna abu-abu untuk ukuran pria Jepang berusia awal 50-an, atau setidaknya kuanggap demikian. Dibelakangnya, secara mengejutkan, muncul sekelompok orang dalam kilauan cahaya serta aura menyilaukan mata.
Aku pasti tertegun sangat lama karena mendengar kikikan tawa Yuki disampingku. Menarik kesadaranku lagi agar kembali, dihadapanku berdiri tiga wanita dan empat pria yang tak bisa kujabarkan seperti apa mereka karena terlalu....well, sempurna.
Wajah mereka rupawan. Semuanya bertubuh tinggi, semampai untuk perempuan dan atletis bagi para pria. Yang wanita berambut merah terang lurus sebahu, pirang bergelombang mencapai punggung, dan hitam pekat ikal sepinggang. Sementara para pria, dua diantara coklat kemerahan keriting ikal, jelas sekali mereka kembar. Satu berambut pirang platinum lurus mencapai leher dan dikuncir kuda. Sedangkan satunya lagi, entah kenapa aku merasa seperti mengenalinya.
Seorang pemuda yang kupikir sebaya denganku, bertubuh paling pendek dari lainnya dengan rambut coklat gelap, cepak, serta memiliki mata sebiru laut seindah berlian.
Lalu, aku menyadari aura yang terpancar dari diri mereka. Semuanya mempunyai cahaya tubuh nyaris serupa. Sial! Mereka Nephillim. Ash juga menyadari hal yang sama, mendekat kesampingku, sebelum kami bertanya Matsuo sudah memperkenalkan mereka.
“ Aiyana, Ashiki, perkenalkan. Mereka para Shadow Guard. Aku memanggil mereka kemari karena kota ini butuh bantuan, oh, dan ada satu lagi” Matsuo memberiku tatapan khusus sambil tersenyum satu kali, “ Aku juga telah menghubungi Orang Tuamu, mereka dalam perjalanan kemari membawa pasukan”
****************
Duniaku seperti roaller coaster, sedetik tenang, menit berikutnya dipenuhi kekacauan. Setidaknya untuk saat ini aku bisa menemukan sedikit ketenangan didalam kamar tamu setelah rumahnya diinvasi mendadak para kaum OTHER WORLD.
Yuki memberitahuku beberapa pengetahuan baru tentang para Shadow Guard barusan. Mereka tersebar diseluruh penjuru dunia, dan memiliki pos ditempat-tempat dianggap rawan akan kekuatan jahat. Ketujuh Shadow Guard yang baru saja dibawa Matsuo berasal dari San Diego, mereka adalah anggota terbaik digrupnya. Ahli senjata, telekinesis, psykokinesis, hingga sihir terlatih. Mereka juga memiliki unsur sihir alami yang dibawa sejak lahir, masing-masing spesifikasi mereka berbeda itu sebabnya Matsuo merasa mereka akan dapat saling melengkapi dan mengehentikan semua hal buruk yang sebentar lagi akan terjadi.
Yuki juga berkata padaku bahwa Lixla, si Nephillim berambut hitam murah senyum itu telah memanipulasi jalan pikiran Walikota kami untuk mengevakuasi warga dengan alasan badai dan angin topan. Dalam sekejab saja, berita tentang bencana alam buruk telah menghiasi saluran TV baik lokal maupun Nasional. Kabar terakhir yang kudengar dari radio lokal, hanya tinggal seperdelapan penduduk tetap bersikukuh berada didalam rumah mereka. Menurut Yuki itu tidak buruk, setidaknya mengurus kepingan problem jauh lebih bagus daripada utuh.
Gerbang kota akan ditutup tepat setelah matahari terbenam, seluruh listrik diputuskan akan dipadamkan. Dan beberapa tempat penting seperti instalansi rumah sakit, serta swalayan akan dibuka, hanya dijaga para penduduk yang tetap ingin tinggal di kota.
Sebentar lagi matahari akan terbenam,sementara aku tak boleh melakukan apapun selain tetap berada didalam kamar Yuki. Ini begitu menyiksaku. Terlebih lagi Ash menyetujui ide Matsuo, dimana aku sendiri bingung itu buruk atau baik.
Kisaki berkata bahwa masih ada jalan bagi Ash untuk selamat dari cengkraman lidah api neraka. Yaitu mengabdikan dirinya menjadi salah satu kaum bawah tanah yang ditandai, alias para the Marked, dan berjuang dijalan terang. Hal sama juga dilakukan oleh Ayahku. Syaratnya tentu saja jelas. Menunjukkan niat serta keteguhan hati. Itu se-babnya Ash akan ikut bertarung bersama para Shadow Guard malam ini.
Dengan segala harapan baru itu, Ash jelas semakin bersemangat, dan berharap segala sesuatunya akan berhasil.
Pintu diketuk dan aku bergegas membukanya. Ash muncul didepanku, aku sudah akan memeluknya ketika dia menahanku, memberikan gerakan melalui matanya pada sosok dibelakangnya. Si Nephillim berambut coklat bermata biru.
“ Bersiaplah, kita akan bergegas sebentar lagi” ujarnya, masuk kedalam kamar.
“ Apa yang terjadi?” tanyaku penasaran sekaligus ingin tahu.
“ Shadow Guards menciptakan ilusi jebakan untuk menyambut musuh dihutan hitam, bagian terdalam dari Red Dawn Forest yang diantisipasi Matsuo akan menjadi jalan masuk. Sementara tim akan dibagi dua. Barat dan Timur kota. Lokasi jalur darat yang akan dipakai sisa mortem”
Ash mengambil tasku, memasukkan beberapa benda kedalamnya yang kutahu sebagai pistol, botol berisi air suci, sisanya senjata berbahan pure stone. Atau lebih dikenal sebagai ‘bebatuan surga’. Senjata itu dapat menghancurkan UNDER DARK dengan mudah,dapat melukai Iblis sesungguhnya. Khusus untuk Demmilim. Mereka akan terluka parah, tapi cukup membuat mereka lambat.
Menoleh padaku, ketegangan tampak jelas menyeruak disetiap urat wajah Ash. “ Kamu harus menjauh untuk sementara. Matsuo dan Kisaki mempunyai pondok tersembunyi disisi kiri hutan, dekat jalan keluar kota. Kif dan Yuki akan menjagamu
”
“ Kif?” tanyaku bingung. Mengikuti arah mata Ash pada Nephillim bermata biru yang sejak tadi memperhatikan kami diambang pintu sambil menyadarkan tubuhnya. Tersenyum manis padaku satu kali.
Merasa seperti orang bodoh, karena sempat terhanyut pada wajahnya, secara mengejutkan jantung manusiaku berdebar lebih cepat dari normalnya.
Sial! Batinku.
Buru-buru mengalihkan pandangan kembali pada Ash. “ Lalu bagaimana denganmu? Kenapa tidak ikut denganku?”
Ash menggeleng pelan, jelas tampak berat. Aku mendekatinya, mengangkat dagunya dengan jariku hingga wajah kami bertatapan. “ Aku tak bisa” tukasnya.
Mengangkat lengan kanannya dan terkejut melihat tanda salib bersayap tercetak besar disana. Dia baru saja ditandai!
“ Semuanya sudah jelas. Aku akan berjuang” kata Ash sedih, namun senyum lebar serta ketulusan dimatanya menandakan jika memang ini yang dia inginkan. Menarikku mendekat kepadanya, kali ini tanpa mempedulikan keberadaan orang lain didekat kami, serta tanpa ragu, dia menunduk untuk mencium bibirku.
Sebuah ciuman yang luar biasa indah. Intens, dalam, memunculkan kembali ledakan kembang api didalam kepalaku. Aku membiarkan diriku terlena didalam pergerakan lidahnya didalamku, membiarkan dia membimbingku melakukan segala hal yang diperlukannya. Ketika selesai, Ash meletakkan dahinya pada pelipisku, kedua tangan kokohnya menggengam kuat pipi-pipiku. Menekankan jarinya pada setiap tulang wajahku.
“ Aku mencintaimu...” bisiknya cukup keras. Untuk bisa didengar orang lain didalam ruangan ini.
Mengangguk, aku menjawab. “ Aku juga mencintaimu Ash, berjanjilah untuk kembali dengan selamat. Jangan terkena pelurumu sendiri”
Ash mengangguk, membelai pipiku, memberikan getaran panas menjalar sepanjang punggungku. “ Tentu saja. Pasti....” ujarnya mantab.
Kami sama-sama saling melepaskan diri. Tertawa berbarengan kemudian menerima tas ranselku darinya untuk kupakai. Ash mengantarkanku pada Kif yang rupanya sedang berdiri diluar kamar, bersandar pada sebatang kayu, tampaknya sengaja menghindar untuk memberikan privasi.
“ Tolong jaga dia baik-baik, sob” kata Ash pada Kif. Membuatku ingin terbahak.
Selama ini Ash dikenal dingin dilingkungan kami serta cukup anti-sosial. Namun melihatnya dengan mudah bisa akrab dan menerima orang yang baru dikenalnya kurang dari beberapa jam, seakan meyakinkanku jika Kif pasti asyik.
Kif menaikkan satu alis coklatnya, ketika mata birunya kembali bertemu milikku, rasanya sesuatu didalam dadaku bergetar melebihi batas kecepatan normal. Melihat bibirnya terangkat menjadi senyuman, isi perutku seakan terpilin menjadi satu.
Apa sih yang baru saja kupikirkan?! Pacarku ada disini, mempertaruhkan hidupnya demi diriku, dan aku malah melirik pria lain! Sungguh keterlaluan.
“ Hal seperti itu harus dipertanyakan lagi ya?” candanya, balik beryanya.
Ash tersenyum sekilas. Kedua iris gelapnya bersungguh-sungguh memandang Kif.
“ Kamu tahu apa yang mesti dilakukan jika waktunya tiba nanti” katanya misterius.
Kif mengangguk penuh. Dan aku hanya dapat memandang wajah mereka secara bergantian untuk bisa memahami maksud ucapan mereka.
Ash mendongak padaku. Meraihku kedalam pelukannya lalu memberikan ciuman tulus didahiku. “ Jaga dirimu baik-baik my little bird...”
Tertegun, aku menengadah dan mendapati air mata tertahan berkumpul dimatanya. Belum sempat bertanya, Ash sudah melangkah pergi meninggalkanku. Dan kali ini tak menoleh lagi.
Entah kenapa, firasat sangat buruk mencengkram diriku.
Sebuah sentuhan hangat dilenganku membuaiku, terkejut, aku menoleh lalu meman-dang tajam tangan Kif yang diletakkan pada bahuku sekarang. Sayangnya, pemuda itu terlalu tak peduli pada responku.
“ Kita harus pergi dari sini sekarang juga. Yuki telah menunggu didepan pintu penginapan”
Suara Kif berbeda dari Ash yang berat dan dalam. Dia memiliki pita suara yang merdu, indah, serta lembut. Menenangkanku entah bagaimana.
“ Ya” kataku. Kemudian mengikutinya yang berjalan didepanku.
***************
Yuki sudah mengganti kimononya dengan celana jeans hitam, sweater ungu muda lengan panjang, boot coklat, dan tas ransel berwarna senada dengan bajunya diatas kedua bahunya. Menguncir rambutnya menjadi ekor kuda.
Penginapan sudah betul-betul sepi. Semua tamu segera pergi semenit setelah berita evakuasi diumumkan, para pegawai juga telah pulang kerumah mereka dan bersiap pergi meninggalkan kota.
“ Dimana Orang Tuamu?” tanyaku celingukan.
“ Sudah pergi sejak tadi kerumah Walikota. Mengawal beliau keluar dari tempat ini karena menjadi orang terakhir yang pada akhirnya keluar dari Red Dawn “
“ Jadi, kota sudah betul-betul ditinggalkan?” tanyaku terkejut.
Yuki menggeleng. “Tidak juga, masih ada beberapa penduduk bengal yang bersikukuh bertahan. Tapi tadi si kembar Nex dan Dex telah memantrai rumah mereka sehingga tidak akan ada satupun makhluk jelek dunia bawah tanah bisa mengusik mereka, kabar buruknya, mereka terjebak didalam tempat itu hingga sihirnya pudar”
Aku mendengus kasar. Tak suka setiap kali Yuki mengatakan segala sesuatu tentang penduduk UNDER DARK seakan mereka sampah bau. Padahal tidak semua seperti itu.
Kif membawa kami kedalam mustang kuning keluaran awal tahun 2000, membuka bagasinya sehingga kami bisa memasukkan barang-barang kedalamnya.
“ Apa ini milikmu?” tanyaku tak bisa menahan pesona. Kif telah menyulap desaign dan mesinnya menjadi lebih canggih. Aku bingung antara dia betul-betul merubah segalanya atau ada unsur sihir membantu.
“ Itu asli, aku baru selesai memodifnya akhir tahun lalu” tukas Kif diikuti tawa. Seakan dia bisa membaca pikiranku.
Merasa malu, aku justru memberengut padanya. “ Hentikan membaca pikiranku....”
Kif tak menjawab, itu justru membuatku lebih kesal.
Yuki duduk dibangku belakang, otomatis aku harus menemani Kif didepan. Ketika dia menstater mobilnya, aku tak bisa menahan diri untuk bertanya. “ Mengapa kita tidak terbang jika punya sayap?”
“ Itu berbahaya, musuh bisa menemukan kita. Jangan lupa, kamu adalah target besar mereka. Itulah tujuan para mortem menyalakan perang ini” jawabnya, memandang lurus kedepan.
Bergidik, aku bertanya lagi. “ Berapa jumlah mereka? “
“ Cukup untuk meledakkan Hiroshima dan Nagasaki lagi” jawaban itu justru terlontar dari mulut Yuki.
Aku melirik ke kaca spion. Gadis itu sedang menumpukan wajah pada punggung tangan sembari memandang jauh ke pemandangan diluar. Jelas dia merasa kesal dengan semua ini, dan aku sama sekali tak bisa menyalahkannya.
Menyandarkan leherku diatas bantalan kursi mobil, menghela nafas panjang, dalam hati berdoa semoga seluruh mimpi buruk ini segera terangkat dariku.
*****************
Sebuah sentuhan hangat menyentuh pipiku, meyadarkanku dari alam pipi. Tangannya terasa begitu kuat, namun mendamaikan. Bahkan dalam kondisi tidak sadar aku tahu itu bukan milik Ash. Jemarinya selalu kasar, sementara yang ini, kokoh tapi halus.
Tersadar. Sepasang mata biru laut Kif yang menenggelamkan mengejutkanku. Terkesiap, Kif tertawa melihat ulahku. “ Kita sudah sampai” tukasnya santai.
Aku melihat sekelilingku. Jalanan sekitar sangat gelap, namun mata elangku dapat melihat jelas pemandangan disekitar. Kami berada dipinggir tepian hutan arah jalan raya keluar dari kota. Kif memarkirkan mobilnya diantara sesemakan pohon mapple dan plum. Aku menoleh kebelakang, melihat bayangan Yuki melalui kaca spion sedang mengambil tasnya.
“ Dari sini kita harus berjalan kaki. Kendaraan takkan dapat menembus tempat tujuan kita” tukas Kif, lalu turun dari mobil.
Kulirik jam digital didekat dasbor. Matahari terbenam telah lewat satu jam lalu, dalam hati bertanya sekaligus cemas apakah semuanya sudah dimulai. Saat turun, Yuki mengangsurkan ranselku padaku sambil berkata. “ Tak usah cemas. Sejauh ini baru gerombolan berat berbulu ‘pemakan madu’ bodoh yang menampakkan diri”
“ Were-bear ( manusia pengalih wujud beruang )?” tanyaku membelalak dengan mata terkesiap. “ Jadi mereka benar-benar ada ya?”
Yuki memandangku seakan aku makhluk gaib atau hantu, dibelakangnya, Kif tak bisa menahan tawa. Menyandang busur berisi panah perak berujung emas. Dua buah pedang runcing bertahtahkan rubi merah pada pegangannya tersampir dikedua pinggangnya, terselip pada celana kulit hitamnya. Mendelik padanya, dan dia hanya mengulum senyum padaku.
“ Kamu bisa memakai senjata kan?” tanya Yuki.
Aku mengangguk. “ Tentu saja. Aku ahli memakai tombak” ada kebanggaan pada suaraku. Meskipun Yuki mengernyit karena pilihan aneh senjataku.
“ Ini....” Kif melemparkan sesuatu diudara dan aku menangkap. Sebuah benda panjang elastis berwarna keemasan, sesuatu pada pegangannya menonjol dan hitam. Ketika kutekan, benda itu memanjang dengan sendirinya, menjadi tombak berujung runcing.
“ Namanya gungnir” kata Kif membaca kekaguman dimataku pada senjata itu.
“Pakai jika hanya dibutuhkan, mengerti” kalimat terakhirnya diucapkan sungguh-sungguh.
Mengalihkan perhatian dari senjata padanya, aku mengangguk. Mengembalikan bentuk si gungnir ke asalnya, memasukkannya didalam lipatan bawah sepatuku. Lalu kami bertiga mulai berjalan memasuki hutan dengan bimbingan Yuki.
Baru beberapa langkah kami memasuki hutan, terdengar suara ledakan keras membahana dari arah timur kami. Yuki seketika terdiam, menatap ke arah langit yang tiba-tiba memerah. Aku langsung sadar kecemasannya. Menyenyuh lembut bahunya sambil berkata.
“ Tidak apa-apa, mereka bakal baik-baik saja. Orang tuamu kan Patron”
Yuki mengangguk satu kali tanda terimakasih, secepat itu juga raut mukanya langsung berubah menjadi lebih tegar. Didalam kepalaku muncul banyak pertanyaan. Tentang Ash, terlebih mengenai Orang tuaku. Mereka akan datang, dan setelah nyaris sebulan lamanya tak bertemu karena ‘pelarianku’. Apakah mereka akan bisa memaafkan sikap keras kepalaku?
Suara ledakan, auman, serta lolongan mengikuti sepanjang langkah kami. Beberapa kali aku atau Yuki berhenti mendadak, saling bertatapan lalu meringis. Kami berdua sama-sama berusaha keras menyingkirkan berbagai perasaan negatif itu.
Kemudian, sesuatu yang buruk menguar diudara sekitarku. Aku dapat mencium aroma busuk, diikuti besi, dan daging dimana-mana. Baik Kif ataupun Yuki juga merasakan hal sama. Kami bertiga berhenti bersamaan, Kif berada didepan kami berdua, melebarkan kakinya seakan dapat menjaga kami. Yang kurasa sebetulnya iya, karena secara tekhnis dia jauh lebih tinggi diatasku. Jemarinya diletakkan didepan mulut, membuat gerakan diam kepada kami. Seluruh indraku kupasang tajam-tajam, mataku menyapu seluruh hutan secara lahap. Untuk sesaat, segalanya sesuatunya masih tenang.
Sampai.
“ Awas!!...................”
Sesuatu yang berat dan besar menabrak tubuhku hingga jatuh ke tanah, bahkan sebelum aku sempat bereaksi.