PERANG.

2701 Words
Kami  dibangunkan  oleh suara ketukan  didepan pintu kamar diikuti  suara Yuki memanggil namaku. Ash  bergerak perlahan dariku, mengecup keningku  satu kali dan tersenyum, lalu bangkit berdiri  terlebih dulu. Dengan malas aku merenggangkan badanku, menengok  jam dinding yang menunjukkan pukul 08.00. Bangkit dari kasur, aku  berteriak meminta Yuki untuk menunggu. Tanpa mencuci mukaku ataupun  menggosok gigi, bergegas memakai baju sementara kulihat Ash memasuki kamar  mandi.      Ketika  membuka pintu  kamar, wajah cemas  Yuki muncul didepanku. Gadis  itu telah mengenakan kimono kerja  sehari-harinya lagi, dengan rambut digelung  menjadi dua kali ini. Aku tadinya menguap, namun  tertahan oleh sorot kahawatir dari matanya.      “ Apa  yang terjadi?” tanyaku  tak bisa menyempunyikan  kepanikan juga.      “ Visi  itu terjadi  lagi....” kata  Yuki terbata-bata, matanya  menatap lurus kepadaku. “ Sesuatu  telah berubah, hanya dalam semalam. Masa  depanmu akan berubah, tapi begitu juga masa  kini.....”      Dadaku  seperti dicengkram  dari dalam. “ Apa maksudmu?”      “ Kota  ini akan  diserang....” air  mata berkumpul disudut  retina Yuki, suaranya bergetar  dan serak. “ Mereka...para mortem, akan  menghancurkan  tempat ini demi  mendapatkanmu...” ********************      Aku  bergegas  mandi, berganti  baju, kemudian bersama  Ash makan secepat kami  bisa. Tenggorokanku terlalu  sulit untuk menerima makanan  sehingga hanya bisa menelan semangkuk  sup tofu hangat, sementara Ash, memaksakan  diri memakan semua yang telah dikirimkan kedalam  kamar kami. Aku sempat berbicara padanya mengenai semua  ucapan Yuki tadi sebelum mandi, Ash pikir ada sisi baik  dan buruk dari penglihatan gadis itu meskipun dia sendiri  belum menjelaskan secara detail. Seusai makan, kami beranjak menuju  basement seperti yang diperintahkan Yuki tadi padaku.      Aku  melihat  Yuki sedang  berdebat dengan  Ibunya, namun terhenti  setelah melihat kedatangan  kami. Kisaki tidak memakai kimono  alih-alih sackdress terusan selutut  lengan pendek berwarna merah muda berbahan  katun tebal.       “ Dimana  Tuan Matsu?” tanyaku  sopan.      “ Memanggil  para ‘prajurit’” jawab  Yuki cepat.      Membuatku  dan Ash menaikkan  alis dan saling menatap, kebingungan. Ash  melangkah maju untuk berbicara kepada Kisaki. “ Sebenarnya, apa  yang sudah terjadi”      Kisaki  jelas berusaha  tenang, tapi gagal. Kakinya  bergerak-gerak gelisah ditempat, menggingit  bibir bawahnya satu kali lalu menjawab. “ Yuki  mendapatkan penglihatan lagi tadi pagi, segalanya  jelas mengenai masa depan yang dilihatnya saat memasuki  alam visi bersama ‘kalian’. Dan segala sesuatunya berubah total...”      “Benarkah?” tanyaku  tak percaya, sedikit  bersemangat, berharap jika  memang ada kesempatan bagi kami  untuk mengubah nasib.      “ Masa  depanmu” Yuki  mendadak maju, menunjuk  Ash. “ Segalanya tidak sama  seperti yang kulihat sebelumnya. Mungkin  itu karena keinginan kuatmu untuk mengubah  takdir. Namun, hal buruk justru akan terjadi dimasa  sekarang. Konsekuensi dari menulis ulang jalannya takdir.”       Meskipun  tidak yakin  Yuki sedang menyalahkan  Ash saat ini, tapi melihat  tatapannya menjadi penuh emosi  pada kekasihku.       “ Yuki, berhenti. Ini  bukan salahnya” tegur Kisaki, seakan  bisa membaca pikiranku.      “ Memangnya  kenapa?” Yuki  berpaling meneriaki  Ibunya, membuatku terkejut. “ Karena  mereka seisi kota akan binasa sebentar  lagi. Segala sesuatu yang kita jaga dan pertahankan  selama ini hilang begitu saja....”       Ash  terpaku  ditempat, sementara  aku bisa merasakan kesedihan  kuat terpancar dari Yuki. Jelas  dia tak pernah ingin mendapatkan  hidup seperti yang dijalaninya sekarang, gadis  remaja normal manapun pasti tak mau. Aku sendiri  pernah berpikir rela memberikan segalanya agar bisa  menjadi manusia biasa, meskipun hanya sesaat. Jadi, aku  bisa memahami perasaannya.      “ Tapi  bagaimana  bisa?” bisikku  lemah.      Kisaki  menggeleng. “ Para  Mortem tak bisa diremehkan, wiccan  mereka  juga mempunyai  kemampuan ‘melihat  kedepan’. Penyihir hitam  adalah mata-mata paling hebat, mereka  juga dapat merasakan perubahan yang akan  terjadi. Itu sebabnya mortem membuat gerakan  terlebih dulu untuk menyerang. Waktunya sudah tak  banyak lagi hingga hari pemenuhanmu tiba”      Tertegun, aku  menunduk menatap  lantai kayu dibawahku, “ Ulang  tahunku. tiga minggu lagi....”      “ Ya. Dan  sampai saat  itu kami akan  menjagamu serta melatih  kekuatanmu. Hingga saatnya  tiba kamu harus memilih. Namun  saat ini, kita harus memprioritaskan  keselamatan kota”      Kami  semua menoleh  dan mendapati Matsu  berdiri diujung tangga  basement. Terlihat tampan  didalam balutan tiga setel  baju mahal berwarna abu-abu untuk  ukuran pria Jepang berusia awal 50-an, atau  setidaknya kuanggap demikian. Dibelakangnya, secara  mengejutkan, muncul sekelompok orang dalam kilauan cahaya  serta aura menyilaukan mata.      Aku  pasti  tertegun  sangat lama  karena mendengar  kikikan tawa Yuki  disampingku. Menarik kesadaranku  lagi agar kembali, dihadapanku berdiri  tiga wanita dan empat pria yang tak bisa  kujabarkan seperti apa mereka karena terlalu....well, sempurna.      Wajah  mereka rupawan. Semuanya  bertubuh tinggi, semampai untuk  perempuan dan atletis bagi para  pria. Yang wanita berambut merah terang  lurus sebahu, pirang bergelombang mencapai  punggung, dan hitam pekat ikal sepinggang. Sementara  para pria, dua diantara coklat kemerahan keriting ikal, jelas  sekali mereka kembar. Satu berambut pirang platinum lurus mencapai  leher dan dikuncir kuda. Sedangkan satunya lagi, entah kenapa aku merasa  seperti mengenalinya.       Seorang  pemuda yang  kupikir sebaya  denganku, bertubuh  paling pendek dari  lainnya dengan rambut  coklat gelap, cepak, serta  memiliki mata sebiru laut seindah  berlian.      Lalu, aku  menyadari aura  yang terpancar dari  diri mereka. Semuanya mempunyai  cahaya tubuh nyaris serupa. Sial! Mereka  Nephillim. Ash juga menyadari hal yang sama, mendekat  kesampingku, sebelum kami bertanya Matsuo sudah memperkenalkan  mereka.      “ Aiyana, Ashiki, perkenalkan. Mereka  para Shadow  Guard. Aku  memanggil  mereka kemari  karena kota ini  butuh bantuan, oh, dan  ada satu lagi”  Matsuo  memberiku  tatapan khusus  sambil tersenyum  satu kali, “ Aku juga  telah menghubungi Orang  Tuamu, mereka dalam perjalanan  kemari membawa pasukan” ****************       Duniaku  seperti roaller  coaster, sedetik tenang, menit  berikutnya dipenuhi kekacauan. Setidaknya  untuk saat ini aku bisa menemukan sedikit  ketenangan didalam kamar tamu setelah rumahnya  diinvasi mendadak para kaum OTHER  WORLD.       Yuki  memberitahuku  beberapa pengetahuan baru  tentang para Shadow  Guard  barusan. Mereka  tersebar diseluruh  penjuru dunia, dan memiliki  pos ditempat-tempat dianggap rawan  akan kekuatan jahat. Ketujuh Shadow  Guard  yang  baru saja  dibawa Matsuo  berasal dari San  Diego, mereka  adalah anggota  terbaik digrupnya. Ahli  senjata, telekinesis, psykokinesis, hingga  sihir terlatih. Mereka juga memiliki unsur  sihir alami yang dibawa sejak lahir, masing-masing  spesifikasi mereka berbeda itu sebabnya Matsuo merasa  mereka akan dapat saling melengkapi dan mengehentikan semua  hal buruk yang sebentar lagi akan terjadi.        Yuki  juga berkata  padaku bahwa Lixla, si  Nephillim berambut hitam  murah senyum itu telah memanipulasi  jalan pikiran Walikota kami untuk mengevakuasi  warga dengan alasan badai dan angin topan. Dalam  sekejab saja, berita tentang bencana alam buruk telah  menghiasi saluran TV baik lokal maupun Nasional. Kabar terakhir  yang kudengar dari radio lokal, hanya tinggal seperdelapan penduduk  tetap bersikukuh berada didalam rumah mereka. Menurut Yuki itu tidak  buruk, setidaknya mengurus kepingan problem jauh lebih bagus daripada utuh.       Gerbang  kota akan  ditutup tepat  setelah matahari  terbenam, seluruh listrik  diputuskan akan dipadamkan. Dan  beberapa tempat penting seperti instalansi  rumah sakit, serta swalayan akan dibuka, hanya  dijaga para penduduk yang tetap ingin tinggal di kota.      Sebentar  lagi matahari  akan terbenam,sementara  aku tak boleh melakukan  apapun selain tetap berada  didalam kamar Yuki. Ini begitu  menyiksaku. Terlebih lagi Ash menyetujui  ide Matsuo, dimana aku sendiri bingung itu  buruk atau baik.      Kisaki  berkata bahwa  masih ada jalan  bagi Ash untuk selamat  dari cengkraman lidah api  neraka. Yaitu mengabdikan dirinya  menjadi salah satu kaum bawah tanah  yang ditandai, alias para the  Marked, dan  berjuang  dijalan terang. Hal  sama juga dilakukan oleh  Ayahku. Syaratnya tentu saja  jelas. Menunjukkan niat serta keteguhan  hati. Itu se-babnya Ash akan ikut bertarung  bersama para Shadow  Guard  malam  ini.       Dengan  segala harapan  baru itu, Ash jelas  semakin bersemangat, dan  berharap segala sesuatunya  akan berhasil.      Pintu  diketuk  dan aku bergegas  membukanya. Ash muncul  didepanku, aku sudah akan  memeluknya ketika dia menahanku, memberikan  gerakan melalui matanya pada sosok dibelakangnya. Si  Nephillim berambut coklat bermata biru.      “ Bersiaplah, kita  akan bergegas sebentar lagi”  ujarnya, masuk kedalam kamar.      “ Apa  yang terjadi?” tanyaku  penasaran sekaligus ingin  tahu.      “ Shadow  Guards menciptakan  ilusi jebakan  untuk menyambut  musuh dihutan hitam, bagian  terdalam dari Red  Dawn Forest  yang  diantisipasi  Matsuo akan menjadi  jalan masuk. Sementara  tim akan dibagi dua. Barat  dan Timur kota. Lokasi jalur  darat yang akan dipakai sisa mortem”       Ash  mengambil  tasku, memasukkan  beberapa benda kedalamnya  yang kutahu sebagai pistol, botol  berisi air suci, sisanya senjata berbahan  pure  stone. Atau  lebih dikenal  sebagai ‘bebatuan  surga’. Senjata itu  dapat menghancurkan UNDER  DARK dengan  mudah,dapat  melukai Iblis sesungguhnya. Khusus  untuk Demmilim. Mereka akan terluka  parah, tapi cukup membuat mereka lambat.       Menoleh  padaku, ketegangan  tampak jelas menyeruak  disetiap urat wajah Ash. “ Kamu  harus menjauh untuk sementara. Matsuo  dan Kisaki mempunyai pondok tersembunyi  disisi kiri hutan, dekat jalan keluar kota. Kif  dan Yuki akan menjagamu ”      “ Kif?” tanyaku  bingung. Mengikuti  arah mata Ash pada  Nephillim bermata biru  yang sejak tadi memperhatikan  kami diambang pintu sambil menyadarkan  tubuhnya. Tersenyum manis padaku satu kali.      Merasa  seperti orang  bodoh, karena sempat  terhanyut pada wajahnya, secara mengejutkan  jantung manusiaku berdebar lebih cepat dari  normalnya.       Sial! Batinku.       Buru-buru  mengalihkan  pandangan kembali  pada Ash. “ Lalu bagaimana  denganmu? Kenapa tidak ikut denganku?”       Ash  menggeleng  pelan, jelas  tampak berat. Aku  mendekatinya, mengangkat  dagunya dengan jariku hingga  wajah kami bertatapan. “ Aku tak  bisa” tukasnya.       Mengangkat  lengan kanannya  dan terkejut melihat  tanda salib bersayap tercetak  besar disana. Dia baru saja ditandai!        “ Semuanya  sudah jelas. Aku  akan berjuang” kata  Ash sedih, namun senyum  lebar serta ketulusan dimatanya  menandakan jika memang ini yang dia  inginkan. Menarikku mendekat kepadanya, kali  ini tanpa mempedulikan keberadaan orang lain  didekat kami, serta tanpa ragu, dia menunduk untuk  mencium bibirku.      Sebuah  ciuman yang  luar biasa indah. Intens, dalam, memunculkan  kembali ledakan kembang api didalam kepalaku. Aku  membiarkan diriku terlena didalam pergerakan lidahnya  didalamku, membiarkan dia membimbingku melakukan segala hal  yang diperlukannya. Ketika selesai, Ash meletakkan dahinya pada  pelipisku, kedua tangan kokohnya menggengam kuat pipi-pipiku. Menekankan  jarinya pada setiap tulang wajahku.       “ Aku  mencintaimu...” bisiknya  cukup keras. Untuk bisa didengar  orang lain didalam ruangan ini.      Mengangguk, aku  menjawab. “ Aku juga  mencintaimu Ash, berjanjilah  untuk kembali dengan selamat. Jangan  terkena pelurumu sendiri”      Ash  mengangguk, membelai  pipiku, memberikan getaran  panas menjalar sepanjang punggungku. “ Tentu  saja. Pasti....” ujarnya mantab.      Kami  sama-sama  saling melepaskan  diri. Tertawa berbarengan  kemudian menerima tas ranselku  darinya untuk kupakai. Ash mengantarkanku  pada Kif yang rupanya sedang berdiri diluar  kamar, bersandar pada sebatang kayu, tampaknya sengaja  menghindar untuk memberikan privasi.       “ Tolong  jaga dia baik-baik, sob” kata  Ash pada  Kif. Membuatku  ingin terbahak.      Selama  ini Ash  dikenal dingin  dilingkungan kami  serta cukup anti-sosial. Namun  melihatnya dengan mudah bisa akrab  dan menerima orang yang baru dikenalnya  kurang dari beberapa jam, seakan meyakinkanku  jika Kif pasti asyik.      Kif  menaikkan  satu alis coklatnya, ketika  mata birunya kembali bertemu  milikku, rasanya sesuatu didalam  dadaku bergetar melebihi batas kecepatan  normal. Melihat bibirnya terangkat menjadi senyuman, isi  perutku seakan terpilin menjadi satu.      Apa  sih yang  baru saja kupikirkan?! Pacarku  ada disini, mempertaruhkan hidupnya  demi diriku, dan aku malah melirik pria  lain! Sungguh keterlaluan.      “ Hal  seperti  itu harus  dipertanyakan  lagi ya?” candanya, balik  beryanya.       Ash  tersenyum  sekilas. Kedua  iris gelapnya bersungguh-sungguh  memandang Kif. “  Kamu  tahu apa  yang mesti  dilakukan jika  waktunya tiba nanti” katanya  misterius.      Kif  mengangguk  penuh. Dan aku  hanya dapat memandang  wajah mereka secara bergantian  untuk bisa memahami maksud ucapan  mereka.       Ash  mendongak  padaku. Meraihku  kedalam pelukannya  lalu memberikan ciuman  tulus didahiku. “ Jaga dirimu  baik-baik my  little  bird...”      Tertegun, aku  menengadah dan  mendapati air mata  tertahan berkumpul dimatanya. Belum  sempat bertanya, Ash sudah melangkah  pergi meninggalkanku. Dan kali ini tak  menoleh lagi.      Entah  kenapa, firasat  sangat buruk mencengkram  diriku.      Sebuah  sentuhan  hangat dilenganku  membuaiku, terkejut, aku  menoleh lalu meman-dang tajam  tangan Kif yang diletakkan pada  bahuku sekarang. Sayangnya, pemuda itu  terlalu tak peduli pada responku.       “ Kita  harus pergi  dari sini sekarang  juga. Yuki telah menunggu  didepan pintu penginapan”      Suara  Kif berbeda  dari Ash yang  berat dan dalam. Dia  memiliki pita suara yang  merdu, indah, serta lembut. Menenangkanku entah bagaimana.      “ Ya” kataku. Kemudian mengikutinya  yang berjalan didepanku. ***************      Yuki  sudah mengganti  kimononya dengan celana  jeans hitam, sweater ungu  muda lengan panjang, boot coklat, dan  tas ransel berwarna senada dengan bajunya  diatas kedua bahunya. Menguncir rambutnya menjadi  ekor kuda.       Penginapan  sudah betul-betul  sepi. Semua tamu segera  pergi semenit setelah berita  evakuasi diumumkan, para pegawai  juga telah pulang kerumah mereka  dan bersiap pergi meninggalkan kota.       “ Dimana  Orang Tuamu?” tanyaku  celingukan.      “ Sudah  pergi sejak  tadi kerumah Walikota. Mengawal  beliau keluar dari tempat ini karena  menjadi orang terakhir yang pada akhirnya  keluar dari Red Dawn “       “ Jadi, kota  sudah betul-betul  ditinggalkan?” tanyaku  terkejut.      Yuki  menggeleng. “Tidak  juga, masih ada beberapa  penduduk bengal yang bersikukuh  bertahan. Tapi tadi si kembar Nex  dan Dex telah memantrai rumah mereka  sehingga tidak akan ada satupun makhluk  jelek dunia bawah tanah bisa mengusik mereka, kabar  buruknya, mereka terjebak didalam tempat itu hingga sihirnya  pudar”      Aku  mendengus  kasar. Tak suka  setiap kali Yuki  mengatakan segala sesuatu  tentang penduduk UNDER  DARK seakan  mereka sampah  bau. Padahal tidak  semua seperti itu.       Kif  membawa  kami kedalam  mustang kuning  keluaran awal tahun 2000, membuka  bagasinya sehingga kami bisa memasukkan  barang-barang kedalamnya.      “ Apa  ini milikmu?” tanyaku  tak bisa menahan pesona. Kif  telah menyulap desaign dan mesinnya  menjadi lebih canggih. Aku bingung antara  dia betul-betul merubah segalanya atau ada  unsur sihir membantu.      “ Itu  asli, aku  baru selesai  memodifnya akhir  tahun lalu” tukas Kif  diikuti tawa. Seakan dia  bisa membaca pikiranku.      Merasa  malu, aku  justru memberengut  padanya. “ Hentikan membaca  pikiranku....”      Kif  tak menjawab, itu  justru membuatku lebih  kesal.      Yuki  duduk dibangku  belakang, otomatis  aku harus menemani  Kif didepan. Ketika dia  menstater mobilnya, aku tak  bisa menahan diri untuk bertanya. “ Mengapa  kita tidak terbang jika punya sayap?”      “ Itu  berbahaya, musuh  bisa menemukan kita. Jangan  lupa, kamu adalah target besar  mereka. Itulah tujuan para mortem  menyalakan  perang ini”  jawabnya, memandang  lurus kedepan.      Bergidik, aku  bertanya lagi. “ Berapa  jumlah mereka? “      “ Cukup  untuk meledakkan  Hiroshima dan Nagasaki  lagi” jawaban itu justru  terlontar dari mulut Yuki.       Aku melirik  ke kaca spion. Gadis  itu sedang menumpukan wajah  pada punggung tangan sembari memandang  jauh ke pemandangan diluar. Jelas dia merasa  kesal dengan semua ini, dan aku sama sekali tak  bisa menyalahkannya.      Menyandarkan  leherku diatas  bantalan kursi mobil, menghela  nafas panjang, dalam hati berdoa  semoga seluruh mimpi buruk ini segera  terangkat dariku.  *****************      Sebuah  sentuhan  hangat menyentuh  pipiku, meyadarkanku  dari alam pipi. Tangannya terasa begitu  kuat, namun mendamaikan. Bahkan dalam kondisi  tidak sadar aku tahu itu bukan milik Ash. Jemarinya  selalu kasar, sementara yang ini, kokoh tapi halus.      Tersadar. Sepasang  mata biru laut Kif  yang menenggelamkan mengejutkanku. Terkesiap, Kif  tertawa melihat ulahku. “ Kita sudah sampai” tukasnya  santai.       Aku  melihat  sekelilingku. Jalanan  sekitar sangat gelap, namun mata  elangku dapat melihat jelas pemandangan  disekitar. Kami berada dipinggir tepian hutan  arah jalan raya keluar dari kota. Kif memarkirkan  mobilnya diantara sesemakan pohon mapple dan plum. Aku  menoleh kebelakang, melihat bayangan Yuki melalui kaca spion  sedang mengambil tasnya.      “ Dari sini  kita harus berjalan  kaki. Kendaraan takkan  dapat menembus tempat tujuan  kita” tukas Kif, lalu turun dari  mobil.      Kulirik  jam digital  didekat dasbor. Matahari  terbenam telah lewat satu  jam lalu, dalam hati bertanya  sekaligus cemas apakah semuanya sudah  dimulai. Saat turun, Yuki mengangsurkan ranselku   padaku sambil berkata. “ Tak usah cemas. Sejauh ini  baru gerombolan berat berbulu ‘pemakan madu’ bodoh yang  menampakkan diri”      “ Were-bear ( manusia  pengalih wujud  beruang )?” tanyaku  membelalak dengan mata  terkesiap. “ Jadi mereka benar-benar  ada ya?”      Yuki  memandangku  seakan aku makhluk  gaib atau hantu, dibelakangnya, Kif  tak bisa menahan tawa. Menyandang busur  berisi panah perak berujung emas. Dua buah  pedang runcing bertahtahkan rubi merah pada pegangannya  tersampir dikedua pinggangnya, terselip pada celana kulit hitamnya. Mendelik  padanya, dan dia hanya mengulum senyum padaku.      “ Kamu  bisa memakai  senjata kan?” tanya  Yuki.      Aku mengangguk. “ Tentu  saja. Aku ahli memakai tombak” ada  kebanggaan pada suaraku. Meskipun Yuki  mengernyit karena pilihan aneh senjataku.      “ Ini....” Kif  melemparkan sesuatu  diudara dan aku menangkap. Sebuah  benda panjang elastis berwarna keemasan, sesuatu  pada pegangannya menonjol dan hitam. Ketika kutekan, benda  itu memanjang dengan sendirinya, menjadi tombak berujung runcing.        “ Namanya  gungnir” kata  Kif membaca  kekaguman dimataku  pada senjata itu. “Pakai  jika hanya  dibutuhkan, mengerti” kalimat  terakhirnya diucapkan sungguh-sungguh.      Mengalihkan  perhatian dari  senjata padanya, aku  mengangguk. Mengembalikan  bentuk si gungnir ke  asalnya, memasukkannya  didalam lipatan bawah sepatuku. Lalu  kami bertiga mulai berjalan memasuki hutan  dengan bimbingan Yuki.      Baru  beberapa  langkah kami  memasuki hutan, terdengar  suara ledakan keras membahana  dari arah timur kami. Yuki seketika terdiam, menatap  ke arah langit yang tiba-tiba memerah. Aku langsung sadar  kecemasannya. Menyenyuh lembut bahunya sambil berkata.       “ Tidak  apa-apa, mereka  bakal baik-baik saja. Orang  tuamu kan Patron”      Yuki  mengangguk  satu kali tanda  terimakasih, secepat  itu juga raut mukanya  langsung berubah menjadi  lebih tegar. Didalam kepalaku  muncul banyak pertanyaan. Tentang  Ash, terlebih mengenai Orang tuaku. Mereka  akan datang, dan setelah nyaris sebulan lamanya  tak bertemu karena ‘pelarianku’. Apakah mereka akan  bisa memaafkan sikap keras kepalaku?       Suara  ledakan, auman, serta  lolongan mengikuti sepanjang  langkah kami. Beberapa kali aku  atau Yuki berhenti mendadak, saling  bertatapan lalu meringis. Kami berdua  sama-sama berusaha keras menyingkirkan berbagai  perasaan negatif itu.      Kemudian, sesuatu  yang buruk menguar  diudara sekitarku. Aku  dapat mencium aroma busuk, diikuti  besi, dan daging dimana-mana. Baik Kif  ataupun Yuki juga merasakan hal sama. Kami  bertiga berhenti bersamaan, Kif berada didepan  kami berdua, melebarkan kakinya seakan dapat menjaga  kami. Yang kurasa sebetulnya iya, karena secara tekhnis  dia jauh lebih tinggi diatasku. Jemarinya diletakkan didepan  mulut, membuat gerakan diam kepada kami. Seluruh indraku kupasang  tajam-tajam, mataku menyapu seluruh hutan secara lahap. Untuk sesaat, segalanya  sesuatunya masih tenang.      Sampai.       “ Awas!!...................”       Sesuatu  yang berat  dan besar menabrak  tubuhku hingga jatuh  ke tanah, bahkan sebelum  aku sempat bereaksi.       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD