KEKUATAN HATI?

1864 Words
Jika  aku manusia  biasa, maka segala  hal yang baru saja  kudengarkan dan kulihat  dari keluarga Shiginuchi akan  kuanggap sebagai kegilaan semata. Namun, meskipun  menyadari identitasku bukanlah manusia pada umumya, semuanya tetap  sulit kuterima. Dan setelah seluruh hal yang menimpaku dalam satu  malam, tidur menjadi satu-satunya kebutuhanku.      Untungnya  pasangan Shiginuchi  begitu berpengertian. Mereka  menyuruh kami untuk tidur didalam  rumah pribadi mereka saja malam ini. Ada  dua kamar kosong dibagian ujung bilik kanan  rumah, ruangannya begitu tradisional, seluruhnya beralaskan  tatami. Dengan pintu geser kayu coklat. Sebuah kasur berselimut  tebal diletakkan begitu saja tanpa ranjang. Hiasan lukisan menggantung  disepanjang dinding kayunya. Terdapat pot berisi bambu jepang di sisi-sisi  ujung ruangan. Sebuah penghangat disebelah kasur. Meja kayu panjang coklat tak  jauh dari kasur. Serta sebuah lemari baju geser, bertingkap dipasang disamping kanan  ruangan. Aroma khas melati langsung menyerbu indra penciumanku begitu aku masuk.         Ash  menempati  ruang kosong  tepat disisi kiri  kamarku. Dia tak banyak  bicara sejak perbincangan  kami dengan keluarga Shiginuchi. Ash  bahkan mengelak menatapku dan hanya menungguku  hingga aku masuk kedalam kamarku.       Seusai  mencuci muka, kumatikan  lampu minyak yang diletakkan  diatas meja, kemudian masuk bergelung  didalam kasur. Kulirik jam dinding kayu  kuno yang bercahaya akibat fosfor. Sudah pukul  01.00 dini hari. Aku berusaha keras memejamkan mata, namun  sulit untuk bisa tenang jika bayangan gambar Ash versi iblis  terus menggentayangi pikiranku. Kuputuskan untuk menghitung domba, cara  ini dulu selalu berhasil setiap kali aku sulit tidur, sayangnya hasilnya  nihil. Suara detik jarum jam seperti menusuk dadaku saat bergerak.         Pada  akhirnya  aku menyerah. Bangkit  duduk diatas kasurku. Menjadi  separuh were-eagle memberikan  banyak kelebihan, salah  satunya, panca indra yang  lebih peka berkali kali lipat  dari manusia umumnya. Aku dapat melihat  kegelapan meskipun tak ada fosfor pada jam  dinding itu atau senter sekalipun.      Mendadak, setiap  urat sarafku menegak. Aku  mendengar suara derap langkah  kaki mendekat, dan berhenti tepat  didepan kamarku. Melalui embusan suara  serta debam dua jantungnya. Aku langsung  tahu siapa dia.      ‘Masuklah’ perintahku  pada Ash melalui  pikiran.      Pintu  kayu bergeser  sejenak. Sosok kekar  Ash muncul diambang, hanya  memakai boxer. Mata langit malam  berbintangnya begitu indah, meskipun  hanya kecemasan menautinya saat ini. Wajahnya  telah menunjukkan berbagai perasaan didalam hatinya, dan  aku menjadi sangat sedih karena itu.        “ Maafkan  aku...” tukas  Ash dengan suara  serak seperti menahan  tangis. Dan kuduga memang  iya. Berjalan perlahan ketempatku.       Aku  berdiri  dari atas  kasur, melangkah  menghampirinya. Setelah  jarak kami cukup dekat, Ash  meraihku kedalam pelukannya, mendekapku  begitu erat. Kukuncikan kedua tanganku diatas  bahunya, membiarkan wajahku tenggelam diatas bahunya. Tubuh  Ash bergetar, jelas dia telah menangis.      Aku  membiarkan  kami seperti  ini untuk sementara, hingga  Ash mengangkat wajahnya dari  leherku. Sedikit menjauhkan diri, aku  menyentuhkan kedua tanganku untuk mengelap  air matanya dengan tanganku, merasakan panas  tubuhnya menguar yang bahkan tak bisa ditahan  oleh kain sekalipun.      Ash  menarik  tanganku kearahnya, menciumi  punggung tanganku sambil berkata. “ Aku  takut Ai, sangat takut. Aku sudah melihatnya  dalam visi itu dan...”      “ Oh, persetan...” potongku  cepat. “ Dengarkan aku, itu bukan  kamu Ash. Ash yang kukenal adalah  manusia berjiwa ksatria, memiliki kelembutan  serta begitu banyak cahaya. Tak peduli apapun  kata para cenayang. Kitalah yang menentukan masa  depan kita, bukan mereka!”      Ash  ternganga  untuk beberapa  saat takjub pada  keberanianku. “ Tapi  bagaimana jika semua  itu memang benar. Jika  aku memang...adalah...” menunduk, mencoba  mencari kalimat tepat”      “ Jendral  dari segala  pasukan iblis” kataku  tepat pada poinnya.      Ash  menengadah  lagi, tak menjawab. Seulas  senyum lembut terpasang dimukaku. “ Maka  kita akan mencari jalan keluar supaya kamu  tak perlu menjadi seperti itu. Kamu dengar sendiri  kata-kata Yuki tadi, ‘mencari jalan sendiri’. Itu artinya  masih ada kesempatan bagi kita selama kita masih mau berusaha”      Tangan  kananku bergerak  dari pipinya yang  agak kasar karena jenggot  mau tumbuh, menyapukan lembut  kerahangnya, terus ke leher hingga  mencapai bahu telanjangnya. Otot-otot  Ash menengang, erangan kecil keluar dari  mulutnya. Lalu Ash menarikku lagi ke pelukannya, menunduk, bibirnya  menemukan bibirku dan mencumbuku dengan caranya yang posesif. Seketika  seluruh ketahanan tubuhku melemah.       Aku  merasakan  lututku melemas  didetik pertama dia  menyentuhku. Lidahnya menjilatiku. Inti  didalam diriku menggelegak, punggungku menegak, dan  setiap bulu tubuhku berdiri. Aku tak sadar betapa inginnya  diriku untuk memilikinya, mendambanya, serta mendapatkan tubuhnya  didalam diriku. Setelah sepanjang malam berat ini.       Ash  merasakan  hal yang sama  padaku, terlihat jelas  dari gerakan tubuhnya padaku. Melepaskan  diriku, sorot didalam matanya telah kembali  menjadi Ash semula. Penuh semangat, gairah, serta  kontrol akan aku.       “Angkat  tanganmu” perintahnya. Dan  aku melakukannya.       Ash  mengangkat  halter  neck-ku  melewati  leher dengan  cepat, membuka sabuk serta  celanaku, kemudian aku menemukan  diriku melangkah melewati bra dan  celana dalamku dibawah kakiku. Dia memerintahkanku  membuka boxernya, dengan semangat berlebihan aku melakukannya. Mataku  dengan rakus menatap gembira alat kejantanannya yang selembut sutra teracung  didepanku, seakan siap berperang. Ash menarikku berdiri dengan satu tangannya, kilat  licik terpampang diwajah tampannya. Didalam keremangan cahaya bulan serta penglihatan kami  para were-eagle.     "Aku suka  ketika kau terekspos  untukku." Bibirnya menutup  bibirku, lidahnya lahap menjelajahi  mulutku.       Aku  merasakan  otot-otot perut  dan dadanya bergerak  menghantam payudaraku, menciptakan  sensasi menggeliat didalam diriku. Monster  didalam diriku mulai mencengkram tepian seksualku. Dadanya  lebar, ditutupi oleh rambut halus yang tipis. Aku meletakkan  tanganku membelai dan merasakan betapa keras dadanya.     Tanganku  menyelinap  di bawah pinggangnya, jariku  menyentuh pangkal ereksinya. Menggerakkan  tanganku untuk membungkusnya dalam genggaman, dan  merasakan seberapa besar miliknya.     Tangan  Ash membelai  sisi wajahku, dan  ia menarikku ke mulutnya. Sebuah  ciuman panas membakar diikuti tanganku  mengeeksplorasi panjang ereksinya. Kulit selembut beludru, menyelubungi  kejantanan terkeras dan terbesar itu. Gelombang kegairahan meledak dalam  diriku saat kusadari bahwa aku adalah obyek penyebab kegairahannya.     "Ya Tuhan, sentuhanmu begitu sempurna." Bisik  Ash parau. Lalu dia menangkup payudaraku masing-masing di tangannya, menggosok putingku dengan ibu jarinya. Dia  menggendongku secara tiba-tiba, membawaku keatas kasur.     "Aku sudah  sangat ingin  merasakanmu sepanjang  malam ini" katanya, mencium leherku,  dadaku, berhenti di masing-masing p****g, membuat  lingkaran dengan lidahnya. Puncak putingku mengeras  karena gerakannya.     Ash kemudian  berlutut dibawahku. Mengangkat  kakiku dengan salah satu tangan besarnya, kuat, memegang  pergelangan kedua kakiku. Lidahnya menjilati kedua betisku, kemudian  turun belakang lututku, ini terasa panas . Dibagian bawah pahaku, mencium, mengisap, berhenti  di sana. Ketika kakiku terpisah, dia menempatkan salah satu kakiku diatas bahunya. Dia mendorong  keluar kakiku yang lain, jauh, menyebarkan diriku terbuka lebar.     "Aku suka  kalau kau begitu  terbuka bagiku," katanya, menggemakan  pikiranku.     "Ash..." Suaraku melemah. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata. Aku bahkan tak yakin apa yang harus kukatakan.     Dia mencium  bagian dalam masing-masing  pahaku, berlama-lama sedikit disalah satunya, membuka  mulutnya dan membiarkan giginya menyeret sepanjang kulitku. Kemudian  membenamkan wajahnya diantara kedua kakiku, lidahnya membelai sepanjang lipatan basah. Ash  menggunakan jari-jarinya untuk membukaku, mengekspos clitku yang sudah begitu terangsang kepadanya. Ketika  lidahnya bersentuhan dengannya, aku ingin tetap seperti itu untuk sementara waktu, mungkin berjam-jam, berhari-hari. Aku hanya tak ingin dia berhenti.     Pinggulku  bergoyang bersama  sentuhan lidahnya yang  membuat gerakan melingkar disekitar  clitku, tubuhku membuat gerakan dalam  arah berlawanan, menciptakan gesekan menakjubkan. Tubuhku  memohon untuk disentuh dan Ash memberiku semua yang bisa  kuterima. Aku menjadi gila oleh suara yang dia ciptakan, erangan  dan hampir menggeram seperti saat dia akan berubah wujud, namun ini  dalam kenikmatannya sendiri, berasal dari usahanya memuaskanku.     "Ash, aku begitu dekat..." Aku  merasakan napas panasnya padaku. Aku  menggeliat bersamaan dengan belaian lidahnya, o*****e  menyentak melalui tubuhku. Otot perutku meregang, berhenti, berulang-ulang, dan  tubuhku bergetar saat aku melemparkan kepalaku diatas bantal dan meneriakkan  namanya. Dia mengerang, menambahkan getaran saat lidahnya membelai, dan o*****e meningkat  mengguncang melalui setiap inci dari tubuhku.     Ketika  o*****e itu  mereda, Ash terdiam  ditempat, mencium paha  dalamku. Setelah beberapa  saat, ia bergerak diatasku, mulutnya  segera mengaitku. Aku merasakan kelaparan  dalam ciumannya,mendalam, b*******h, penuh keinginan, kebutuhan. Dia  berlutut di antara kakiku dan bisa mendengar jantungku berdetak ditelingaku. Aku ingin lebih. Aku butuh lebih.     Kepalaku  berguling kesatu  sisi ketika dia meletakkan  tangannya disamping kasur. Menaruh  bantal untuk menopang berat tubuhnya  yang kuat. Lenganku hanya diatas kepalaku. Ash  meraih kedua tanganku dengan satu tangan, memegang  pergelangan tanganku bersama-sama seperti yang ia lakukan  dengan pergelangan kakiku, menjepitku. Aku melihat wajahnya. Bibirnya  terkatup rapat, hidungnya mengembang, dan matanya menatap tajam ke arahku  dengan nafsu. Aku berada dibawah kendali seorang pria yang berniat mendapatkanku, tidak  hanya memilikiku secara seksual, menuju pelepasannya sendiri.       Aku  merasakan  kepala kejantananya  menyentuh diantara lipatanku. Dia  mendorong sedikit dan aku menerima  satu inci pertama atau lebih. "Kau begitu ketat."      Ash masuk  sepenuhnya dalam  satu dorongan keras, membuat  kepalaku kembali ke bantal, saat  punggung dan leher melengkung, menerima  semua miliknya dalam diriku, aku merasakan  bolanya menempel kulitku. Aku terkesiap. Ash begitu  keras, besar, dalam, aku tak yakin aku bisa menerima  lebih lagi tanpa mencapai o*****e dengan cepat.     Mulutnya  dileherku, bibirnya  mengisap kulitku, lidahnya  menjilatiku. Dia menyebut namaku  lagi dan ditarik kembali, hampir  semuanya keluar, kemudian masuk lagi  kedalam diriku dengan dorongan yang panjang. Pinggulnya  bergoyang maju mundur, kemudian bergerak hampir seperti gerakan  melingkar, kejantanannya mengisiku, menyentuh setiap bagian dari intiku  yang membengkak.     "Kau terasa begitu nikmat" geramnya.       Dia  menundukkan  kepala ke dadaku, mengambil p****g  kedalam mulutnya. Mengisapnya dalam  dan lembut, tapi kemudian merapatkan bibirnya, menggoda  dan menarik putingku hingga benar-benar berubah menjadi  keras. Ash memandangnya, menjilat, dan kemudian memberikan perhatian  yang sama dengan putingku lainnya.     Dia melepaskan  pegangannya padaku, meletakkan  tangannya dikedua sisi tubuhku. Aku  mengulurkan tangan dan merasakan lengan  kerasnya. Tangannya menopang berat badannya  saat ia menghunjamku lebih keras. Begitu garang. Nafasnya  berubah semakin dalam dan pendek. Ash memberiku kenikmatan  pada kami bersamaan. Aku ingin dia klimaks dan mendapat o*****e  terbaik. Dia menciumku lagi, mengambil lidahku ke dalam mulutnya, mengisapnya. Kenikmatan  itu meningkat, aku mulai membuat suara-suara kecil didalam mulutnya, membuat pinggulnya bergerak  dengan kekuatan lebih.     Aku merasa  kejantanannya  berdenyut, semakin  dekat untuk mencapai  klimaks. Tanganku mengepal  erat dilengan atasnya, otot-ototnya  berubah menjadi lebih menegang.         Aku  mendongak  saat dia memiringkan  kepalanya kebelakang. Lalu  Ash menciumku dengan liar sambil  berkata "Aku mencintaimu"     Ash adalah  seorang pria  yang sangat hebat. Begitu  bertekad untuk bercinta seperti ini.  Bicara denganku dengan begitu manis dan  begitu kotor pada waktu bersamaan. Aku ingin  memberikan apapun yang Ash inginkan.     Aku tersentak, bergetar  saat merasakan o*****e lain  muncul dalam diriku dari titik dimana  kejantanan Ash yang keras itu bergesekan denganku dalam irama  sempurna. Dia menegang. Sodokannya melambat nyaris berhenti. Lalu  ia kembali masuk kedalam diriku, sangat dalam, mengerakkan pinggulnya  penuh semangat saat ia memompa benihnya masuk kedalamku.     Ketika  pelepasan  itu akhirnya  terjadi, kami sama-sama  meneriakkan nama masing-masing.       Ash  lalu menurunkan  tubuhnya kesampingku, memelukku  erat-erat. Aku menyukai berat tubuhnya  berada diatas tubuhku, kelelahannya akibat  nafsu yang kuat atas diriku. Kami  berbaring  seperti itu  selama beberapa  saat, hingga Ash merubah  posisinya sehingga aku bisa  menaruh kepalaku disamping tubuhnya. Lenganku  melintang di dadanya dan kepalaku bersandar padanya, menatap  kearah wajah pria yang begitu mendambakanku.      Ash  menunduk, mencium  puncak kepalaku satu  kali dengan amat kuat, saat  melepaskanku dia berkata.      “ Aku  mencintaimu  Aiyana. Kamulah  salah satu alasanku  tetap bertahan hidup. Aku  bersumpah, akan melakukan segalanya  agar bisa membunuh monster didalam diriku  ini, agar kelak, tak berubah menjadi iblis itu...”      Menengadah, kulihat  sepasang bola mata indahnya  memantulkan cahaya kekuningan akibat  sinar rembulan yang menyusup masuk perlahan  dari celah-celah sekat pintu. “ Aku tahu...” kataku  sungguh-sungguh. “ Kita akan mengubah semua ramalan bodoh  itu. Berjanjilah, jangan pernah-sekalipun-meninggalkanku....” suaraku  berubah menjadi sangat berat diakhir kalimat. Lalu tangisku meledak.      Ash  menarik  bibirku, melumatnya, saat  melepaskanku lagi, tekad didalam  kedua irisnya membuatku terhanyut  dalam ketenangan.       “ Tidak  akan pernah. Aku  lebih memilih mati  daripada meninggalkanmu”      Dan  dengan  itu, aku  bergelung didalam  panas tubuhnya. Mencium  aroma kayu manis bercampur  seks indah. Hingga akhirnya terlelap
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD