Jika aku manusia biasa, maka segala hal yang baru saja kudengarkan dan kulihat dari keluarga Shiginuchi akan kuanggap sebagai kegilaan semata. Namun, meskipun menyadari identitasku bukanlah manusia pada umumya, semuanya tetap sulit kuterima. Dan setelah seluruh hal yang menimpaku dalam satu malam, tidur menjadi satu-satunya kebutuhanku.
Untungnya pasangan Shiginuchi begitu berpengertian. Mereka menyuruh kami untuk tidur didalam rumah pribadi mereka saja malam ini. Ada dua kamar kosong dibagian ujung bilik kanan rumah, ruangannya begitu tradisional, seluruhnya beralaskan tatami. Dengan pintu geser kayu coklat. Sebuah kasur berselimut tebal diletakkan begitu saja tanpa ranjang. Hiasan lukisan menggantung disepanjang dinding kayunya. Terdapat pot berisi bambu jepang di sisi-sisi ujung ruangan. Sebuah penghangat disebelah kasur. Meja kayu panjang coklat tak jauh dari kasur. Serta sebuah lemari baju geser, bertingkap dipasang disamping kanan ruangan. Aroma khas melati langsung menyerbu indra penciumanku begitu aku masuk.
Ash menempati ruang kosong tepat disisi kiri kamarku. Dia tak banyak bicara sejak perbincangan kami dengan keluarga Shiginuchi. Ash bahkan mengelak menatapku dan hanya menungguku hingga aku masuk kedalam kamarku.
Seusai mencuci muka, kumatikan lampu minyak yang diletakkan diatas meja, kemudian masuk bergelung didalam kasur. Kulirik jam dinding kayu kuno yang bercahaya akibat fosfor. Sudah pukul 01.00 dini hari. Aku berusaha keras memejamkan mata, namun sulit untuk bisa tenang jika bayangan gambar Ash versi iblis terus menggentayangi pikiranku. Kuputuskan untuk menghitung domba, cara ini dulu selalu berhasil setiap kali aku sulit tidur, sayangnya hasilnya nihil. Suara detik jarum jam seperti menusuk dadaku saat bergerak.
Pada akhirnya aku menyerah. Bangkit duduk diatas kasurku. Menjadi separuh were-eagle memberikan banyak kelebihan, salah satunya, panca indra yang lebih peka berkali kali lipat dari manusia umumnya. Aku dapat melihat kegelapan meskipun tak ada fosfor pada jam dinding itu atau senter sekalipun.
Mendadak, setiap urat sarafku menegak. Aku mendengar suara derap langkah kaki mendekat, dan berhenti tepat didepan kamarku. Melalui embusan suara serta debam dua jantungnya. Aku langsung tahu siapa dia.
‘Masuklah’ perintahku pada Ash melalui pikiran.
Pintu kayu bergeser sejenak. Sosok kekar Ash muncul diambang, hanya memakai boxer. Mata langit malam berbintangnya begitu indah, meskipun hanya kecemasan menautinya saat ini. Wajahnya telah menunjukkan berbagai perasaan didalam hatinya, dan aku menjadi sangat sedih karena itu.
“ Maafkan aku...” tukas Ash dengan suara serak seperti menahan tangis. Dan kuduga memang iya. Berjalan perlahan ketempatku.
Aku berdiri dari atas kasur, melangkah menghampirinya. Setelah jarak kami cukup dekat, Ash meraihku kedalam pelukannya, mendekapku begitu erat. Kukuncikan kedua tanganku diatas bahunya, membiarkan wajahku tenggelam diatas bahunya. Tubuh Ash bergetar, jelas dia telah menangis.
Aku membiarkan kami seperti ini untuk sementara, hingga Ash mengangkat wajahnya dari leherku. Sedikit menjauhkan diri, aku menyentuhkan kedua tanganku untuk mengelap air matanya dengan tanganku, merasakan panas tubuhnya menguar yang bahkan tak bisa ditahan oleh kain sekalipun.
Ash menarik tanganku kearahnya, menciumi punggung tanganku sambil berkata. “ Aku takut Ai, sangat takut. Aku sudah melihatnya dalam visi itu dan...”
“ Oh, persetan...” potongku cepat. “ Dengarkan aku, itu bukan kamu Ash. Ash yang kukenal adalah manusia berjiwa ksatria, memiliki kelembutan serta begitu banyak cahaya. Tak peduli apapun kata para cenayang. Kitalah yang menentukan masa depan kita, bukan mereka!”
Ash ternganga untuk beberapa saat takjub pada keberanianku. “ Tapi bagaimana jika semua itu memang benar. Jika aku memang...adalah...” menunduk, mencoba mencari kalimat tepat”
“ Jendral dari segala pasukan iblis” kataku tepat pada poinnya.
Ash menengadah lagi, tak menjawab. Seulas senyum lembut terpasang dimukaku. “ Maka kita akan mencari jalan keluar supaya kamu tak perlu menjadi seperti itu. Kamu dengar sendiri kata-kata Yuki tadi, ‘mencari jalan sendiri’. Itu artinya masih ada kesempatan bagi kita selama kita masih mau berusaha”
Tangan kananku bergerak dari pipinya yang agak kasar karena jenggot mau tumbuh, menyapukan lembut kerahangnya, terus ke leher hingga mencapai bahu telanjangnya. Otot-otot Ash menengang, erangan kecil keluar dari mulutnya. Lalu Ash menarikku lagi ke pelukannya, menunduk, bibirnya menemukan bibirku dan mencumbuku dengan caranya yang posesif. Seketika seluruh ketahanan tubuhku melemah.
Aku merasakan lututku melemas didetik pertama dia menyentuhku. Lidahnya menjilatiku. Inti didalam diriku menggelegak, punggungku menegak, dan setiap bulu tubuhku berdiri. Aku tak sadar betapa inginnya diriku untuk memilikinya, mendambanya, serta mendapatkan tubuhnya didalam diriku. Setelah sepanjang malam berat ini.
Ash merasakan hal yang sama padaku, terlihat jelas dari gerakan tubuhnya padaku. Melepaskan diriku, sorot didalam matanya telah kembali menjadi Ash semula. Penuh semangat, gairah, serta kontrol akan aku.
“Angkat tanganmu” perintahnya. Dan aku melakukannya.
Ash mengangkat halter neck-ku melewati leher dengan cepat, membuka sabuk serta celanaku, kemudian aku menemukan diriku melangkah melewati bra dan celana dalamku dibawah kakiku. Dia memerintahkanku membuka boxernya, dengan semangat berlebihan aku melakukannya. Mataku dengan rakus menatap gembira alat kejantanannya yang selembut sutra teracung didepanku, seakan siap berperang. Ash menarikku berdiri dengan satu tangannya, kilat licik terpampang diwajah tampannya. Didalam keremangan cahaya bulan serta penglihatan kami para were-eagle.
"Aku suka ketika kau terekspos untukku." Bibirnya menutup bibirku, lidahnya lahap menjelajahi mulutku.
Aku merasakan otot-otot perut dan dadanya bergerak menghantam payudaraku, menciptakan sensasi menggeliat didalam diriku. Monster didalam diriku mulai mencengkram tepian seksualku. Dadanya lebar, ditutupi oleh rambut halus yang tipis. Aku meletakkan tanganku membelai dan merasakan betapa keras dadanya.
Tanganku menyelinap di bawah pinggangnya, jariku menyentuh pangkal ereksinya. Menggerakkan tanganku untuk membungkusnya dalam genggaman, dan merasakan seberapa besar miliknya.
Tangan Ash membelai sisi wajahku, dan ia menarikku ke mulutnya. Sebuah ciuman panas membakar diikuti tanganku mengeeksplorasi panjang ereksinya. Kulit selembut beludru, menyelubungi kejantanan terkeras dan terbesar itu. Gelombang kegairahan meledak dalam diriku saat kusadari bahwa aku adalah obyek penyebab kegairahannya.
"Ya Tuhan, sentuhanmu begitu sempurna." Bisik Ash parau. Lalu dia menangkup payudaraku masing-masing di tangannya, menggosok putingku dengan ibu jarinya. Dia menggendongku secara tiba-tiba, membawaku keatas kasur.
"Aku sudah sangat ingin merasakanmu sepanjang malam ini" katanya, mencium leherku, dadaku, berhenti di masing-masing p****g, membuat lingkaran dengan lidahnya. Puncak putingku mengeras karena gerakannya.
Ash kemudian berlutut dibawahku. Mengangkat kakiku dengan salah satu tangan besarnya, kuat, memegang pergelangan kedua kakiku. Lidahnya menjilati kedua betisku, kemudian turun belakang lututku, ini terasa panas . Dibagian bawah pahaku, mencium, mengisap, berhenti di sana. Ketika kakiku terpisah, dia menempatkan salah satu kakiku diatas bahunya. Dia mendorong keluar kakiku yang lain, jauh, menyebarkan diriku terbuka lebar.
"Aku suka kalau kau begitu terbuka bagiku," katanya, menggemakan pikiranku.
"Ash..." Suaraku melemah. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata. Aku bahkan tak yakin apa yang harus kukatakan.
Dia mencium bagian dalam masing-masing pahaku, berlama-lama sedikit disalah satunya, membuka mulutnya dan membiarkan giginya menyeret sepanjang kulitku. Kemudian membenamkan wajahnya diantara kedua kakiku, lidahnya membelai sepanjang lipatan basah. Ash menggunakan jari-jarinya untuk membukaku, mengekspos clitku yang sudah begitu terangsang kepadanya. Ketika lidahnya bersentuhan dengannya, aku ingin tetap seperti itu untuk sementara waktu, mungkin berjam-jam, berhari-hari. Aku hanya tak ingin dia berhenti.
Pinggulku bergoyang bersama sentuhan lidahnya yang membuat gerakan melingkar disekitar clitku, tubuhku membuat gerakan dalam arah berlawanan, menciptakan gesekan menakjubkan. Tubuhku memohon untuk disentuh dan Ash memberiku semua yang bisa kuterima. Aku menjadi gila oleh suara yang dia ciptakan, erangan dan hampir menggeram seperti saat dia akan berubah wujud, namun ini dalam kenikmatannya sendiri, berasal dari usahanya memuaskanku.
"Ash, aku begitu dekat..." Aku merasakan napas panasnya padaku. Aku menggeliat bersamaan dengan belaian lidahnya, o*****e menyentak melalui tubuhku. Otot perutku meregang, berhenti, berulang-ulang, dan tubuhku bergetar saat aku melemparkan kepalaku diatas bantal dan meneriakkan namanya. Dia mengerang, menambahkan getaran saat lidahnya membelai, dan o*****e meningkat mengguncang melalui setiap inci dari tubuhku.
Ketika o*****e itu mereda, Ash terdiam ditempat, mencium paha dalamku. Setelah beberapa saat, ia bergerak diatasku, mulutnya segera mengaitku. Aku merasakan kelaparan dalam ciumannya,mendalam, b*******h, penuh keinginan, kebutuhan. Dia berlutut di antara kakiku dan bisa mendengar jantungku berdetak ditelingaku. Aku ingin lebih. Aku butuh lebih.
Kepalaku berguling kesatu sisi ketika dia meletakkan tangannya disamping kasur. Menaruh bantal untuk menopang berat tubuhnya yang kuat. Lenganku hanya diatas kepalaku. Ash meraih kedua tanganku dengan satu tangan, memegang pergelangan tanganku bersama-sama seperti yang ia lakukan dengan pergelangan kakiku, menjepitku. Aku melihat wajahnya. Bibirnya terkatup rapat, hidungnya mengembang, dan matanya menatap tajam ke arahku dengan nafsu. Aku berada dibawah kendali seorang pria yang berniat mendapatkanku, tidak hanya memilikiku secara seksual, menuju pelepasannya sendiri.
Aku merasakan kepala kejantananya menyentuh diantara lipatanku. Dia mendorong sedikit dan aku menerima satu inci pertama atau lebih. "Kau begitu ketat."
Ash masuk sepenuhnya dalam satu dorongan keras, membuat kepalaku kembali ke bantal, saat punggung dan leher melengkung, menerima semua miliknya dalam diriku, aku merasakan bolanya menempel kulitku. Aku terkesiap. Ash begitu keras, besar, dalam, aku tak yakin aku bisa menerima lebih lagi tanpa mencapai o*****e dengan cepat.
Mulutnya dileherku, bibirnya mengisap kulitku, lidahnya menjilatiku. Dia menyebut namaku lagi dan ditarik kembali, hampir semuanya keluar, kemudian masuk lagi kedalam diriku dengan dorongan yang panjang. Pinggulnya bergoyang maju mundur, kemudian bergerak hampir seperti gerakan melingkar, kejantanannya mengisiku, menyentuh setiap bagian dari intiku yang membengkak.
"Kau terasa begitu nikmat" geramnya.
Dia menundukkan kepala ke dadaku, mengambil p****g kedalam mulutnya. Mengisapnya dalam dan lembut, tapi kemudian merapatkan bibirnya, menggoda dan menarik putingku hingga benar-benar berubah menjadi keras. Ash memandangnya, menjilat, dan kemudian memberikan perhatian yang sama dengan putingku lainnya.
Dia melepaskan pegangannya padaku, meletakkan tangannya dikedua sisi tubuhku. Aku mengulurkan tangan dan merasakan lengan kerasnya. Tangannya menopang berat badannya saat ia menghunjamku lebih keras. Begitu garang. Nafasnya berubah semakin dalam dan pendek. Ash memberiku kenikmatan pada kami bersamaan. Aku ingin dia klimaks dan mendapat o*****e terbaik. Dia menciumku lagi, mengambil lidahku ke dalam mulutnya, mengisapnya. Kenikmatan itu meningkat, aku mulai membuat suara-suara kecil didalam mulutnya, membuat pinggulnya bergerak dengan kekuatan lebih.
Aku merasa kejantanannya berdenyut, semakin dekat untuk mencapai klimaks. Tanganku mengepal erat dilengan atasnya, otot-ototnya berubah menjadi lebih menegang.
Aku mendongak saat dia memiringkan kepalanya kebelakang. Lalu Ash menciumku dengan liar sambil berkata "Aku mencintaimu"
Ash adalah seorang pria yang sangat hebat. Begitu bertekad untuk bercinta seperti ini. Bicara denganku dengan begitu manis dan begitu kotor pada waktu bersamaan. Aku ingin memberikan apapun yang Ash inginkan.
Aku tersentak, bergetar saat merasakan o*****e lain muncul dalam diriku dari titik dimana kejantanan Ash yang keras itu bergesekan denganku dalam irama sempurna. Dia menegang. Sodokannya melambat nyaris berhenti. Lalu ia kembali masuk kedalam diriku, sangat dalam, mengerakkan pinggulnya penuh semangat saat ia memompa benihnya masuk kedalamku.
Ketika pelepasan itu akhirnya terjadi, kami sama-sama meneriakkan nama masing-masing.
Ash lalu menurunkan tubuhnya kesampingku, memelukku erat-erat. Aku menyukai berat tubuhnya berada diatas tubuhku, kelelahannya akibat nafsu yang kuat atas diriku.
Kami berbaring seperti itu selama beberapa saat, hingga Ash merubah posisinya sehingga aku bisa menaruh kepalaku disamping tubuhnya. Lenganku melintang di dadanya dan kepalaku bersandar padanya, menatap kearah wajah pria yang begitu mendambakanku.
Ash menunduk, mencium puncak kepalaku satu kali dengan amat kuat, saat melepaskanku dia berkata.
“ Aku mencintaimu Aiyana. Kamulah salah satu alasanku tetap bertahan hidup. Aku bersumpah, akan melakukan segalanya agar bisa membunuh monster didalam diriku ini, agar kelak, tak berubah menjadi iblis itu...”
Menengadah, kulihat sepasang bola mata indahnya memantulkan cahaya kekuningan akibat sinar rembulan yang menyusup masuk perlahan dari celah-celah sekat pintu. “ Aku tahu...” kataku sungguh-sungguh. “ Kita akan mengubah semua ramalan bodoh itu. Berjanjilah, jangan pernah-sekalipun-meninggalkanku....” suaraku berubah menjadi sangat berat diakhir kalimat. Lalu tangisku meledak.
Ash menarik bibirku, melumatnya, saat melepaskanku lagi, tekad didalam kedua irisnya membuatku terhanyut dalam ketenangan.
“ Tidak akan pernah. Aku lebih memilih mati daripada meninggalkanmu”
Dan dengan itu, aku bergelung didalam panas tubuhnya. Mencium aroma kayu manis bercampur seks indah. Hingga akhirnya terlelap