Saat usiaku lima tahun, aku mampu menciptakan badai hujan berkepanjangan selama empat hari hanya gara-gara kucing kesayanganku mati. Waktu itulah, untuk pertama kalinya aku tahu jika selama ini manusia bukanlah satu-satunya penguasa Bumi. Masih ada hal-hal diluar nalar serta rasional manusia. Pada akhirnya Orang Tuaku memutuskan untuk menceritakan segala rahasia mengenai siapa kami?apa dan tujuan kami.
Terdapat dunia lain yang berdampingan dengan manusia, orang awam menyebutnya ‘Supernatural’ namun bagi penghuninya disebut, WORLDSIDE. Sebuah tempat yang dihuni hanya oleh makhluk-makhluk non-manusia memiliki kemampuan dan kekuatan diluar garis batas akal sehat manusia. WORLDSIDE dibagi menjadi 3:
THE UNDERDARK : Tempat bagi para kaum penyesap darah, makhluk peralihan ( shapeshifter ), Wiccan ( penyihir yang mempraktekkan ilmu hitam ) Demonic ( keturunan manusia dan Iblis ) serta Demmilim ( separuh Demonic, separuh Nephillim – Alias ketu-runan malaikat terbuang dan manusia.
THE UPPERSHINE : Dunia bagi para makhluk supernatural pecinta cahaya. Wizzard ( penyihir putih dan bijak ) para Ksatria terberkarti ( kebanyakan pendeta dan para su-pernatural yang mengabdikan diri untuk tetap berjalan di kebenaran ) kaum The Marked ( Orang-orang dari Underdark yang beralih ke Uppershine ), dan Nephillim ( keturunan Malaikat terbuang dan Manusia )
Terakhir, MEDIATION : Dihuni kaum Supernatural yang tidak memihak kedua sisi. Kebanyakan adalah cenayang.
Demi terciptanya selalu perdamaian setelah perang panjang antara UNDERDARK dan UPPERSHINE yang telah terjadi selama ribuan tahun, maka dibentuklah komite bernama LEGIUM. Yaitu badan tertinggi yang menguasai ketiga dunia dengan berisikan para orang-orang terhormat dari sisi gelap dan terang. LEGIUM telah berdiri selama 200 tahun lamanya, dan sejak saat itu peperangan pun berhasil dihindarkan. LEGIUM memiliki pasukan khusus yang sangat kuat bernama SHADOW GUARD. Terdiri dari para orang-orang hebat dan pemberani yang diambil dari dua dunia. Bertugas seperti polisi dan tak segan memberikan hukuman serta menjalankan undang-undang bagi mereka yang melanggar tanpa mempedulikan apakah si pelaku satu kaum dengan mereka atau tidak.
Aku sendiri adalah seorang hybrid ( peranakan ) Ibuku, Vera Caragua adalah seorang Nephillim, sedangkan Ayahku, Asga Achak merupakan Kepala Suku indian-post-modern Algoncuian. Suku kami mendapatkan ‘berkah’ warisan dari para leluhur berupa kekuatan luar biasa sebagai salah satu pengubah wujud ( Shapeshifter ) berjenis Were-Eagle
( Manusia-separuh burung Elang ) Berbeda dari kebanyakan klan Shapeshifter lain, genetik Were-eagle ini juga diturunkan pada anak perempuan keturunan mereka. Kasus berbeda terjadi padaku.
Aku memiliki dua jantung serta kecepatan dari warisan Ayahku,dan kemampuan mengendalikan unsur alam dari Ibuku. Aku tidak dapat berubah bentuk menjadi elang raksasa berukuran dua kali dari manusia, ataupun makhluk elok bersayap seperti dalam gambaran novel-novel fiksi supernatural tentang para Nephillim pada umumnya.
Pada awalnya hidupku berjalan biasa-biasa saja. Maksudku, bagi anggota kaum pengubah bentu aku tak dapat berubah wujud, bagi manusia lain aku tampak normal. Itu sebabnya aku tetap dapat bersekolah di tempat umum dan menjalani hidupku seperti anak kebanyakan, bahkan melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi negeri di Oregon. Hingga segalanya berubah sebulan lalu.
Orang Tuaku mengetahui hubunganku dengan Ash, mereka marah besar. Bukan saja karena selama ini Ash telah mereka anggap seperti putra sulung sendiri, namun lebih kepada identitas kehormatan keluarga. Ash berasal dari ‘kaum takhlukan’, julukan untuk orang-orang yang berasal dari suku yang telah dikalahkan kemudian tinggal menetap bersama suku penakhluk mereka. Koloni asalnya bernama Hopi, kelompok Were-Eagle penguasa wilayah selatan Oregon. Dikalahkan oleh Alasav Achak ‘si tangan dingin’, beliau adalah Kakekku. Nyawa Ash berada diujung tanduk ketika Ayahku menemukannya dan membawanya pulang kerumah serta ‘menandainya’ sebagai miliknya. Umur Ash baru tujuh tahun ketika semua itu terjadi. Dan Kakekku membenci Ash hingga akhir hidupnya.
Orang Tuaku jelas kecewa. Kemudian, secara mengejutkan mereka berkata akan me-ngirimku ke Inggris, dan mulai membicarakan hal-hal menakutkan seperti ‘masa depanku’ dan ‘pertunangan’. Merasa tak bisa mentolerir lagi sikap mereka, kuputuskan untuk melarikan diri dari rumah dimana Ash siap sedia untuk selalu menemaniku. Meskipun konsekuensinya bakal sangat berat baginya. Dicap sebagai ‘pengkhianat’ serta tak boleh kembali lagi selamanya ke tempat kami. Setidaknya, sebanyak itulah yang kutahu dan kupahami. Hingga seluruh insiden malam ini terjadi.
Festival kota Red Dawn berubah menjadi bencana. Kami dikejar-kejar tiga makhluk menyerupai binatang yang pada akhirnya kutahu sebagai bilang keladi dari kerusakan diacara rakyat tadi. Enam korban ditemukan tewas dalam kondisi tercabik, sangat mengerikan. Puluhan lebih terluka parah, dan Ash pikir itu sama sekali tidak bagus, malahan, merupakan dari neraka yang cepat atau lambat akan terjadi di kota tenang ini. Pada akhirnya, aku dan Ash berhasil mengalahkan dua dari tiga makhluk pengalih wujud tersebut. Hingga bantuan datang dari pihak tak diduga, meringkus panther hitam mengerikan yang siap mencabik tubuh kami juga.
Jadi, disinilah kami sekarang. Basement pribadi keluarga Shiginuchi. Mereka memiliki sebuah rumah mewah ( versi jepang ) yang sangat luas serta memanjang disisi utara ladang Sakura, terhubung langsung dengan penginapan mereka. Cukup satu kata menggambarkan tempat rahasia sekaligus perlindungan keluarga ini. Yaitu. Tak terkatakan.
Kenapa aku bilang begitu? Sebab basement Shiginuchi lebih mirip Museum Senjata Dunia ketika ruang bawah tanah normal. Mulai dari peralatan yang kutahu dipakai ninja dalam cerita-cerita di film, hingga bazooka paling canggih buatan Jerman. Tidak hanya itu, mereka juga memiliki ruang latihan pribadi yang ukurannya separuh rumahku dengan berbagai peralatan olahraga lengkap beserta pelindungnya. Dua buah kamar kosong. Terakhir serta paling mengejutkan. Sebuah sel penjara.
Sempat terlintas dalam benakku jika pada akhir malam ini disanalah tempatku dan Ash akan tidur. Tapi janji Yuki yang mengatakan kami akan mendapatkan kamar nyaman malam ini meskipun setelah usaha kami menghancurkan penginapannya, membuatku lega sekaligus berpikir. Apakah mungkin gadis itu punya kemampuan telepati juga?
Sudah satu jam lebih berlalu. Aku dan Ash terjebak diatas sofa beledu empuk berwarna merah tua yang bahkan terlalu mewah untuk kategori tempat-duduk-ruang-bawah-tanah. Mendengarkan penjelasan ketiga Shiginuchi mengenai segalanya. Serta hal-hal rahasia tentangku yang selama ini tak pernah kuketahui.
Menurut cerita mereka, aku bukan sekedar hybrid biasa. Diriku sebenarnya adalah seorang Sencit. Kata Yuki, hitam dan putih, baik dan buruk, terang dan gelap. Atau di Cina lebih dikenal dengan sebutan Yin dan Yang. Sencit hanya terlahir satu dari setiap generasi, sayangnya, kelahiran ‘jenisku’ selalu menjadi pertanda akan hadirnya marabahaya di muka Bumi ini.
Kata Matsuo, kekuatan Sencit yang besar serta unik selalu menjadi perebutan dari dua kubu. Ksatria terang, atau SHADOW GUARD dan para pasukan kegelapan alias MORTEM. Para Sencit memiliki waktu hingga menginjak usia ke duapuluh lebih untuk memutuskan jalan mana yang harus mereka ambil, hitamkah atau putih. Sambil menunggu itu, keberadaan orang-orang disekitar Sencit sangat penting dalam perkembangannya. Apabila Sencit tersebut berada dikalangan baik, maka kecil kemungkinan jalan iblis yang akan diambilnya. Melihat pengalaman terdahulu, tidak ada satupun Sencit mempergunakan berkah mereka untuk membantu kaum setan perusak dunia dan itu sedikit melegakanku.
Yuki menjelaskan pada kami jika pihak LEGIUM demi menjaga para Sencit telah memberikan dia sejak lahir para ‘pembimbing’ dan ‘jiwa pelindung’. Pembimbing biasanya disebut Patron, terdiri dari dua orang atau lebih yang akan menjaga, serta membimbing Sencit sampai masa pemenuhan tiba, yaitu ketika usia si Sencit menginjak 21 tahun, letak sebuah kedewasaan. Sesudah itu, para Patron akan memberikan Sencit kepada ‘jiwa pelindungnya’ atau lebih sering dipanggil The Guardian Soul.
Baik Patron ataupun The Guardian Soul ini terbentuk oleh takdir serta penglihatan dari para Visioners. Dalam kasus ini, keluarga Shiginuchi telah digariskan untuk selalu menjadi patron bagi para Sencit, sebuah kutukan sekaligus warisan kebangaan mereka. Keluarga mereka sudah sejak lama memantau serta mengawasi perkembangan dan gerak-gerikku, meskipun tak pernah bertemu langsung denganku tapi mereka sudah cukup sering berinteraksi kepada kedua Orang Tuaku.
Matsuo berkata jika kedua Orangtuaku sudah sejak lama mengetahui mengenai beban takdir yang harus kuemban dipundakku, namun mereka terlalu takut dan tak ingin aku mengetahuinya secepatnya. Mereka mau aku merasakan serta menjalani kehidupan normal seperti anak muda lainnya hingga waktunya benar-benar tiba. Menurut Kisaki itu merupakan pilihan salah. Dan dihari kepergianku dari rumah bersama Ash, barulah Mom dan Dad percaya seutuhnya pada ramalan si Visioners ini.
Bukan sebuah kebetulan aku dan Ash memilih Red Dawn sebagai tempat tujuan kami berikutnya. Bukan juga ketidaksengajaan ketika kami memutuskan menginap di hotel milik keluarga Shiginuchi. Serangan dari tiga makhluk shapeshifter beberapa saat lalu, juga telah direncanakan dengan matang. Pada akhirnya, takdir telah membentuk pola jalannya sendiri dengan cara unik serta aneh.
Pada intinya, hidupku telah digariskan. Aku seorang Sencit dan inilah jalan yang memang harus kulalui.
Namun, ada sebuah pertanyaan besar yang mengganjal kepalaku sejak tadi. Benang merah tipis tapi memberikan efek besar pada seluruh rangkaian pola bola rajut hidupku
“ Jika memang ini sebuah takdirku, bukankah segalanya bermula dari keinginan ‘bodoh’ Orang Tuaku untuk menjodohkanku dan menerbangkanku ke Inggris. Apakah itu bagian dari rencana juga?”
Matsuo menggeleng. “ Tidak, itu semua faktor ketidaksengajaan. Orang Tuamu sebetulnya ingin mengirimkanmu ke perlindungan utama LEGIUM di markas besar mereka di Inggris. Dan yang mereka maksud ‘tunangan’ itu adalah ‘Jiwa Pelindungmu’. Sudah dikatakan dengan jelas jika satu-satunya tameng perlindungan terkuat para Sencit adalah para Guardian of Soul mereka. Sejak dulu jika bersama, maka kekuatan mereka tak terpisahkan. Ibumu bertindak tanpa pikir panjang sebab pada akhirnya menyadari jika ramalan yang selama ini dia remehkan mulai menjadi kenyataan”
“ Apa maksudmu?” tanya Ash menegang. Aku sama sekali melupakan keberadaannya sejak tadi disampingku. Duduk tegang dan mencengkram keras pahaku dengan tangan kanannya yang besar.
Matsuo dan Kisaki yang sejak tadi duduk diatas kursi kayu dihadapan kami saling bertatapan sejenak. Alis mereka tertaut kebawah. Ekspresi mereka tampak sedih. Kisaki berpaling pada Ash dan mulai berkata. “ Apakah kamu percaya pada ramalan Mr. Cheveyo?”
“ Tidak pernah” jawab Ash mantap tanpa membuka mulutnya.
Mendesah, Yuki berkata sambil memajukan tubuhnya dari duduknya. “ Sayang sekali, kurasa ini memang harus dilakukan” tukasnya kepada kedua Orang Tuanya. Matsuo dan Kisaki mengangguk, tampak cemas.
Sebelum aku bisa menanyakan apa maksud mereka, kedua tangan Yuki sudah terjulur padaku dan Ash, masing-masing mencengkram erat satu tangan kami. Kedua mata buah zaitunnya menemukan kami, seketika itu juga aku merasa seperti diperangkap di dalam kedua irisnya. Jiwaku seakan ditarik paksa dari ragaku, tersedot masuk kedalam dua titik hitam paling terang pada pupil Yuki. Yang mendadak, berubah menjadi ungu terang. Terkesiap. Aku berusaha bergerak namun anehnya tubuhku seakan dibekukan ditempat. Segalanya, berubah menjadi gelap.
************
Aku mengerjapkan mata berulang kali. Awalnya semua samar, hingga kelebatan warna satu-persatu muncul memenuhi penglihatanku. Pertama-tama putih, kemudian merah, hitam, diikuti pergerakan objek-objek didepanku. Asap tebal membumbung disekitarku, hawa disekelilingku menjadi begitu panas serta gerah. Ketika udara asing memasuki paru-paru, aku terbatuk dan mulai sadar pada apa yang ada dihadapanku.
Sebuah kebakaran! Besar dan hebat.
Terdengar teriakan kencang, jeritan melengking, serta isak tangis tiada henti. Aku berdiri ditengah-tengah antah berantah, begitu banyak gedung pencakar langit, kendaraan, rusak, hancur, menjadi puing-puing. Banyak ledakan. Orang-orang menghambur berlarian dari berbagai arah didepanku. Meskipun enggan, secara ajaib kakiku melangkah dengan sendirinya melewati jalan raya setapak dimana hanya ada satu kalimat untuk menggambarkan segalanya.
Kiamat.
Mayat-mayat bergelimpangan, segalanya hancur dan remuk redam. Isi perutku bergolak hebat. Kangguru didalamku menendang-nendang jantungku sangat keras. Refleks, tanganku menekan dadaku karena rasa sesak serta perih aneh yang mencengkram. Mataku memandang berbagai arah, melahap visualisasi apapun tapi tak menemukan satupun hal baik disana. Kurasa aku mulai menangis. Ketakutan. Kemarahan. Kengerian tak mendasar menyelubungiku seperti bola raksasa.
Aku sudah sampai diujung jalan, didepanku terbentang lapangan luas berisi tumpukan tubuh yang sudah tak utuh lagi. Banyak api. Suara denting benda besi dipukulkan. Segerombol manusia terlihat sedang berperang dihadapanku. Meski samar, aku bisa menangkap suara familiar yang begitu menggetarkan jiwaku.
Kakiku berlari melewati kerumunan orang berperang, sadar jika mereka tak menyadari keberadaanku ataupun bisa menyentuhku. Seakan aku tahu jika ini tidak nyata seperti saat aku tengah bermimpi. Aku telah mencapai bagian terdepan ketika mendapati sosok tinggi besar, mengenakan celana zirah hitam didepanku.
“ Ash!!” pekikku gembira. Aku berlari memutar sekelompok pria berpakaian serba putih dan perak. Kemudian, sebuah pemandangan menghentikan langkahku.
Pedang hitam raksasa Ash terangkat diudara, dengan mudahnya menebas kepala seorang manusia seakan dia hewan ternak. Darah mengucur menciprati wajah dan tubuh bagian atasnya yang telanjang. Refleks aku menjerit, berlari kedekatnya kemudian memakinya, berusaha menerjang dan memukulnya. Tapi nihil. Karena setiap tindakanku takkan berdampak apapun padanya.
Lalu Ash menoleh tepat kewajahku. Ketika iris kami bertemu. Jantungku rasanya benar-benar siap meledak melihat kenyataan itu.
Pupil mata Ash tidak lagi seindah langit malam berbintang ketika menjadi manusia, ataupun orange terang saat berubah ke wujud lainnya. Melainkan merah. Seterang darah. Taring muncul melalui sela-sela mulutnya, alis lebatnya terangkat ke atas dan mulutnya membentuk seringai semengerikan monster.
Tidak, ini tidak benar. Dia bukanlah Ashku. Sosok didepanku lebih mirip Iblis haus darah daripada seorang manusia penyanyang meskipun memiliki jiwa pengubah wujud didalam dirinya. Aku tertegun pada fakta ini. Aku menangis, menjerit, dan meraungkan namanya. Namun Ash sama sekali tidak bergeming.
“ Yang Mulia....”
Tiba-tiba Ash bicara, membuatku terlonjak mundur kebelakang. Bukan karena dia berkata-kata tapi lebih kepada suara yang dikeluarkannya. Lebih mirip kaokan burung ketimbang suara manusia. Aku bingung selama beberapa waktu, hingga seseorang ber-jalan melewati tepat disamping bahuku. Seorang wanita.
Seketika Ash jatuh bersimpuh dihadapannya. Sebuah rasa cemburu aneh menyerangku. Sadar jika yang dipanggilnya ‘Yang Mulia’ tadi pastilah wanita itu. Dari belakang aku tak bisa mengenal sosoknya dengan baik. Selain rambut panjang hitamnya mencapai punggung. Tubuh mungilnya. Serta pakaian unik serupa baju zirah berwarna hitam dengan rok menyerupai pakaian pasukan Irlandia zaman dulu.
Wanita itu memerintah Ash untuk mengangkat kepalanya dengan suara yang sangat kecil hingga susah kudengar ditengah segala kekacauan ini. Ash melakukan keinginan nya. Tanpa instruksi, wanita itu menundukkan wajahnya kemudian mencium bibir Ash!
Ash!! Kekasihku!!
“ Dasar b******k kau!” umpatku kesal, bermaksud berlari untuk memukul kepalanya karena telah berani mencium bibir pria yang telah memiliki kekasih. Tepat saat itu, seperti disengaja wanita tersebut menolehkan kepalanya kepadaku. Dan tubuhku langsung terpaku ditempat.
Darah seakan disedot dari diriku. Seluruh tubuhku gemetar dan rasa sakit yang tak ada hubungannya dengan pukulan apapun menggerogotiku.
Wanita itu, adalah aku!
Aku!!
Dalam versi mengerikan, mata merah seperti darah, taring bermunculan dari mulutnya. Itu aku versi iblis!!
Sebelum otakku bisa mencerna segalanya dengan benar, aku melihat diriku-versi-jahat mengatakan sesuatu dengan sangat lantang diatas wajah Ash yang masih meman-dang diri iblisku penuh memuja.
“ Hancurkan seluruh manusia. Jangan ada yang tersisa....”
Lalu, segalanya menggelap. Karena rohku untuk kesekian kalinya seakan ditarik paksa dari tempatnya. Terangkat memasuki lubang ungu terang menyilaukan. Lalu menghilang.
*******************
Kedua kelopak mataku mengerjap membuka dengan cepat. Aku bernafas dengan terkejut, paru-paruku terasa basah dan lembap. Seakan aku baru saja ditenggelamkan oleh seseorang dan berhasil selamat. Tubuhku gemetar hebat, gigiku bergemeletuk parah.
Wajah Kisaki yang pertama kali muncul dikedua retinaku. Mengangsurkan dua cangkir teh bunga sakura hangat untukku dan Ash. Aku melirik pria itu sekilas, reaksi tubuhnya berbeda dariku namun jelas dia sama shocknya denganku. Matanya melebar sehingga aku cemas kalau-kalau bakal keluar dari rongganya.
“ Minumlah, itu akan mengembalikan substansi kekuatan kalian yang baru saja tersedot” kata Kisaki.
Aku mengangguk, dan menghabiskan satu cangkir hanya dalam empat tegukan. Tak menyadari sebelumnya betapa hausnya diriku sesungguhnya. Kisaki benar, saat cairan hangat itu menyentuh tenggorokanku, secara ajaib seakan mampu menyapu segala hawa dingin, kecemasan, dan menggantikannya dengan sebuah perasaan nikmat serta kedamaian.
“ Barusan itu apa?” tanyaku setelah berhasil mengatasi segala gemetaran badanku.
“ Itu adalah, alasan mengapa Orang Tuamu tak setuju pada kedekatan kalian” jawab Matsuo, menuding Ash, yang kini mencengkram erat cangkir tanah liat ditangannya dengan begitu kencang. Kurasa sebentar lagi dia akan meremukkannya.
“ Barusan itu visi?” tanya Ash, suaranya sangat lemah.
Aku langsung teringat suara Ash saat berubah menjadi iblis tadi. Sungguh mengerikan. Aku tak mau mendengar itu lagi. Seumur hidupku.
“ Setiap Patron pasti memiliki seorang Visioners, dalam kasus ini, akulah orang beruntung yang mendapatkan berkah itu” kata Yuki, sangat tenang.
Meneguk perlahan cangkir tanah liatnya. Aku terkejut menyadari betapa gemetarannya dia, sama sepertiku. Sedangkan Ash, merasa kaget atas ucapannya barusan.
“ Visioners memiliki keakuratan penglihatan mencapai 97%, ada yang bilang masa depan bisa dirubah. Itu benar, tapi hanya nasib, sementara jalinan takdir, merupakan suatu kepastian” tambah Kisaki.
Tangannya menggengam erat jemari-jemari mungil putrinya yang sejak tadi duduk disamping kirinya. Seakan berusaha mengalirkan kekuatan dari sana.
“ Dengarkan aku” kata Matsuo “Hal yang sangat buruk akan segera terjadi. Para mortem kali ini mencari Sencit bukan sekedar untuk mendapatkan kekuatan semata, melainkan melakukan sumpah setia yang pernah mereka lakukan pada Tuan mereka ratusan tahun silam. Sudah puluhan generasi sejak Sencit terakhir dilahirkan ke dunia dan menunaikan tugasnya untuk menyegel iblis yang berjalan diatas muka Bumi. Sebuah peperangan hebat tak terelakkan kala itu terjadi antara terang dan gelap, akhirnya setelah menunggu lama, Sencit baru kembali terlahir namun dengan sebuah takdir besar yang harus diembannya “
“ Seorang Iblis akan kembali dibangkitkan” ujar Kisaki. Mengejutkanku, “ Iblis yang dulunya manusia namun menyerahkan jiwa dan tubuhnya pada jalan kegelapan. Setan itu dulunya dikurung oleh Sencit terakhir sebelum dirimu. Dan kini, para pengikutnya akan melakukan segala cara demi mendapatkan dirimu, karena kamulah kunci pembuka segel tersebut”
Menelan ludah susah payah, akupun bertanya. “ Lalu bagaimana dengan Ash, kalian bilang dialah alasan ketakutan kedua Orang Tuaku. Dan visi barusan itu ”
Menghembuskan nafas panjang, Kisaki memandang prihatin Suaminya sebelum menyahut. “ Bukan rahasia besar setiap Raja selalu membutuhkan seorang Jendral yang hebat...”
Lalu Ash tertawa, sebuah tawa yang menurutku lebih mirip kesedihan daripada kegembiraan. Saat mendongak, aku terkejut melihat keputus asaan ada didalam matanya.
“ Itukah intinya. Kalian ingin berkata jika akulah si Jendral kegelapan tersebut. Salah satu penyebab kemungkinan Aiyana akan memilih jalan yang salah. Itu juga sebabnya Orang Tuanya dan kalian ingin memisahkan kami.....” ujarnya sinis.
Pasangan Shiginuchi tak menjawab, mereka hanya bisa memberikan tatapan simpatik pada kami berdua. Namun, sebuah kebulatan tekad didalam mata Yuki membenarkan semua perkataan sekaligus pemikiran Ash.
“ Takdir telah digariskan” itu suara Yuki bergema. Terdengar lebih keras daripada biasanya. Aura ungu keemasan berkuar hebat disekeliling tubuhnya. “ Jauhi Aiyana. Biarkan dia memilih takdir seharusnya. Dan begitu juga dirimu. Kamu tidak tercipta untuk menjadi pasangannya. Lakukan yang semestinya, jauhi masalah, mengindarlah. Maka masa depan yang barusan kita lihat, takkan pernah terjadi....”