SENCIT.

2840 Words
Saat  usiaku  lima tahun, aku  mampu menciptakan  badai hujan berkepanjangan  selama empat hari hanya gara-gara  kucing kesayanganku mati. Waktu itulah, untuk  pertama kalinya aku tahu jika selama ini manusia  bukanlah satu-satunya penguasa Bumi. Masih ada hal-hal  diluar nalar serta rasional manusia. Pada akhirnya Orang  Tuaku memutuskan untuk menceritakan segala rahasia mengenai  siapa  kami?apa  dan tujuan  kami.      Terdapat  dunia lain  yang berdampingan  dengan manusia, orang  awam menyebutnya ‘Supernatural’  namun bagi penghuninya disebut, WORLDSIDE. Sebuah  tempat yang dihuni hanya oleh makhluk-makhluk non-manusia  memiliki kemampuan dan kekuatan diluar garis batas akal sehat  manusia. WORLDSIDE dibagi menjadi 3:      THE  UNDERDARK : Tempat  bagi para kaum penyesap  darah, makhluk peralihan ( shapeshifter ), Wiccan ( penyihir  yang mempraktekkan ilmu hitam ) Demonic ( keturunan manusia  dan Iblis ) serta Demmilim ( separuh Demonic, separuh Nephillim – Alias ketu-runan  malaikat terbuang dan manusia.      THE  UPPERSHINE : Dunia  bagi para makhluk supernatural  pecinta cahaya. Wizzard ( penyihir  putih dan bijak ) para Ksatria terberkarti  ( kebanyakan pendeta dan para su-pernatural yang  mengabdikan diri untuk tetap berjalan di kebenaran ) kaum  The Marked ( Orang-orang  dari Underdark  yang beralih ke  Uppershine ), dan Nephillim ( keturunan  Malaikat terbuang  dan  Manusia )      Terakhir, MEDIATION : Dihuni  kaum Supernatural yang tidak  memihak kedua sisi. Kebanyakan adalah  cenayang. Demi  terciptanya  selalu perdamaian  setelah perang panjang  antara UNDERDARK dan UPPERSHINE  yang telah terjadi selama ribuan  tahun, maka dibentuklah komite bernama  LEGIUM. Yaitu badan tertinggi yang menguasai  ketiga dunia dengan berisikan para orang-orang  terhormat dari sisi gelap dan terang. LEGIUM telah  berdiri selama 200 tahun lamanya, dan sejak saat itu  peperangan pun berhasil dihindarkan. LEGIUM memiliki pasukan  khusus yang sangat kuat bernama SHADOW GUARD. Terdiri dari para  orang-orang hebat dan pemberani yang diambil dari dua dunia. Bertugas  seperti polisi dan tak segan memberikan hukuman serta menjalankan undang-undang  bagi mereka yang melanggar tanpa mempedulikan apakah si pelaku satu kaum dengan  mereka atau tidak.      Aku  sendiri  adalah seorang  hybrid ( peranakan ) Ibuku, Vera  Caragua adalah seorang Nephillim, sedangkan  Ayahku, Asga Achak merupakan Kepala Suku indian-post-modern  Algoncuian. Suku  kami mendapatkan  ‘berkah’ warisan dari  para leluhur berupa kekuatan  luar biasa sebagai salah satu  pengubah wujud ( Shapeshifter ) berjenis  Were-Eagle   ( Manusia-separuh  burung Elang ) Berbeda  dari kebanyakan klan Shapeshifter  lain, genetik  Were-eagle  ini  juga diturunkan  pada anak perempuan  keturunan mereka. Kasus  berbeda terjadi padaku.      Aku  memiliki  dua jantung  serta kecepatan  dari warisan Ayahku,dan  kemampuan mengendalikan unsur  alam dari Ibuku. Aku tidak dapat  berubah bentuk menjadi elang raksasa  berukuran dua kali dari manusia, ataupun  makhluk elok bersayap seperti dalam gambaran  novel-novel fiksi supernatural tentang para Nephillim  pada umumnya.       Pada  awalnya  hidupku berjalan  biasa-biasa saja. Maksudku, bagi  anggota kaum pengubah bentu aku  tak dapat berubah wujud, bagi manusia  lain aku tampak normal. Itu sebabnya aku  tetap dapat bersekolah di tempat umum dan  menjalani hidupku seperti anak kebanyakan, bahkan  melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi negeri  di Oregon. Hingga segalanya berubah sebulan lalu.      Orang  Tuaku mengetahui  hubunganku dengan Ash, mereka  marah besar. Bukan saja karena selama  ini Ash telah mereka anggap seperti putra  sulung sendiri, namun lebih kepada identitas kehormatan  keluarga. Ash berasal dari ‘kaum takhlukan’, julukan untuk  orang-orang yang berasal dari suku yang telah dikalahkan kemudian  tinggal menetap bersama suku penakhluk mereka. Koloni asalnya bernama  Hopi, kelompok  Were-Eagle  penguasa  wilayah selatan  Oregon. Dikalahkan  oleh Alasav Achak ‘si  tangan dingin’, beliau adalah  Kakekku. Nyawa Ash berada diujung  tanduk ketika Ayahku menemukannya dan  membawanya pulang kerumah serta ‘menandainya’ sebagai  miliknya. Umur Ash baru tujuh tahun ketika semua itu  terjadi. Dan Kakekku membenci Ash hingga akhir hidupnya.      Orang  Tuaku jelas  kecewa. Kemudian, secara  mengejutkan mereka berkata  akan me-ngirimku ke Inggris, dan  mulai membicarakan hal-hal menakutkan  seperti ‘masa depanku’ dan ‘pertunangan’. Merasa  tak bisa mentolerir lagi sikap mereka, kuputuskan  untuk melarikan diri dari rumah dimana Ash siap sedia  untuk selalu menemaniku. Meskipun konsekuensinya bakal sangat  berat baginya. Dicap sebagai ‘pengkhianat’ serta tak boleh kembali  lagi selamanya ke tempat kami. Setidaknya, sebanyak itulah yang kutahu  dan kupahami. Hingga seluruh insiden malam ini terjadi.      Festival  kota Red Dawn  berubah menjadi bencana. Kami  dikejar-kejar tiga makhluk menyerupai  binatang yang pada akhirnya kutahu sebagai  bilang keladi dari kerusakan diacara rakyat tadi. Enam  korban ditemukan tewas dalam kondisi tercabik, sangat mengerikan. Puluhan  lebih terluka parah, dan Ash pikir itu sama sekali tidak bagus, malahan, merupakan  dari neraka yang cepat atau lambat akan terjadi di kota tenang ini. Pada akhirnya, aku  dan Ash berhasil mengalahkan dua dari tiga makhluk pengalih wujud tersebut. Hingga bantuan datang  dari pihak tak diduga, meringkus panther hitam mengerikan yang siap mencabik tubuh kami juga.       Jadi, disinilah  kami sekarang. Basement  pribadi keluarga Shiginuchi. Mereka  memiliki sebuah rumah mewah ( versi jepang ) yang sangat  luas serta memanjang disisi utara ladang Sakura, terhubung  langsung dengan penginapan mereka. Cukup satu kata menggambarkan  tempat rahasia sekaligus perlindungan keluarga ini. Yaitu. Tak  terkatakan.      Kenapa  aku bilang  begitu? Sebab  basement Shiginuchi  lebih mirip Museum  Senjata Dunia  ketika  ruang bawah  tanah normal. Mulai  dari peralatan yang kutahu  dipakai ninja dalam cerita-cerita  di film, hingga bazooka paling canggih  buatan Jerman. Tidak hanya itu, mereka juga  memiliki ruang latihan pribadi yang ukurannya  separuh rumahku dengan berbagai peralatan olahraga  lengkap beserta pelindungnya. Dua buah kamar kosong. Terakhir  serta paling mengejutkan. Sebuah sel penjara.      Sempat  terlintas  dalam benakku  jika pada akhir  malam ini disanalah  tempatku dan Ash akan  tidur. Tapi janji Yuki yang  mengatakan kami akan mendapatkan  kamar nyaman malam ini meskipun setelah  usaha kami menghancurkan penginapannya, membuatku  lega sekaligus berpikir. Apakah mungkin gadis itu  punya kemampuan telepati juga?      Sudah  satu jam  lebih berlalu. Aku  dan Ash terjebak diatas  sofa beledu empuk berwarna  merah tua yang bahkan terlalu  mewah untuk kategori tempat-duduk-ruang-bawah-tanah. Mendengarkan  penjelasan ketiga Shiginuchi mengenai segalanya. Serta  hal-hal  rahasia tentangku  yang selama ini tak  pernah kuketahui.      Menurut  cerita mereka, aku  bukan sekedar hybrid  biasa. Diriku  sebenarnya adalah  seorang Sencit. Kata  Yuki, hitam  dan putih, baik  dan buruk, terang  dan gelap. Atau di  Cina lebih dikenal dengan  sebutan Yin  dan Yang. Sencit  hanya  terlahir  satu dari  setiap generasi, sayangnya, kelahiran  ‘jenisku’ selalu menjadi pertanda akan  hadirnya marabahaya di muka Bumi ini.      Kata  Matsuo, kekuatan  Sencit  yang  besar serta  unik selalu menjadi  perebutan dari dua kubu. Ksatria  terang, atau SHADOW GUARD dan para  pasukan kegelapan alias MORTEM. Para  Sencit  memiliki  waktu hingga  menginjak usia  ke duapuluh lebih  untuk memutuskan jalan  mana yang harus mereka ambil, hitamkah  atau putih. Sambil menunggu itu, keberadaan  orang-orang disekitar Sencit  sangat  penting dalam  perkembangannya. Apabila  Sencit  tersebut  berada dikalangan  baik, maka kecil kemungkinan  jalan iblis yang akan diambilnya. Melihat  pengalaman terdahulu, tidak ada satupun Sencit  mempergunakan  berkah mereka untuk  membantu kaum setan perusak  dunia dan itu sedikit melegakanku.      Yuki  menjelaskan  pada kami jika  pihak LEGIUM demi  menjaga para Sencit  telah  memberikan  dia sejak lahir  para ‘pembimbing’ dan  ‘jiwa pelindung’. Pembimbing  biasanya disebut Patron, terdiri  dari dua  orang atau  lebih yang akan  menjaga, serta membimbing  Sencit  sampai  masa pemenuhan  tiba, yaitu ketika  usia si Sencit  menginjak 21 tahun, letak  sebuah kedewasaan. Sesudah  itu, para Patron  akan  memberikan  Sencit  kepada  ‘jiwa pelindungnya’ atau  lebih sering dipanggil The  Guardian  Soul.        Baik  Patron  ataupun  The  Guardian  Soul ini  terbentuk  oleh takdir  serta penglihatan  dari para Visioners. Dalam  kasus ini, keluarga  Shiginuchi telah digariskan  untuk selalu menjadi patron  bagi  para Sencit, sebuah  kutukan sekaligus  warisan kebangaan mereka. Keluarga  mereka sudah sejak lama memantau serta  mengawasi perkembangan dan gerak-gerikku, meskipun  tak pernah bertemu langsung denganku tapi mereka sudah  cukup sering berinteraksi kepada kedua Orang Tuaku.       Matsuo  berkata jika  kedua Orangtuaku  sudah sejak lama mengetahui  mengenai beban takdir yang harus  kuemban dipundakku, namun mereka terlalu  takut dan tak ingin aku mengetahuinya secepatnya. Mereka  mau aku merasakan serta menjalani kehidupan normal seperti  anak muda lainnya hingga waktunya benar-benar tiba. Menurut Kisaki  itu merupakan pilihan salah. Dan dihari kepergianku dari rumah bersama  Ash, barulah Mom dan Dad percaya seutuhnya pada ramalan si Visioners  ini.      Bukan  sebuah kebetulan  aku dan Ash memilih  Red Dawn sebagai tempat  tujuan kami berikutnya. Bukan  juga ketidaksengajaan ketika kami  memutuskan menginap di hotel milik  keluarga Shiginuchi. Serangan dari tiga  makhluk shapeshifter  beberapa  saat lalu, juga  telah direncanakan  dengan matang. Pada akhirnya, takdir  telah membentuk pola jalannya sendiri  dengan cara unik serta aneh.       Pada  intinya, hidupku  telah digariskan. Aku  seorang Sencit  dan  inilah  jalan yang  memang harus  kulalui.      Namun, ada  sebuah pertanyaan  besar yang mengganjal  kepalaku sejak tadi. Benang  merah tipis tapi memberikan efek  besar pada seluruh rangkaian pola bola rajut hidupku      “ Jika  memang ini  sebuah takdirku, bukankah  segalanya bermula dari keinginan  ‘bodoh’ Orang Tuaku untuk menjodohkanku  dan menerbangkanku ke Inggris. Apakah itu  bagian dari rencana juga?”      Matsuo  menggeleng. “ Tidak, itu  semua faktor ketidaksengajaan. Orang  Tuamu sebetulnya ingin mengirimkanmu ke  perlindungan utama LEGIUM di markas besar  mereka di Inggris. Dan yang mereka maksud ‘tunangan’  itu adalah ‘Jiwa Pelindungmu’. Sudah dikatakan dengan jelas  jika satu-satunya tameng perlindungan terkuat para Sencit  adalah  para Guardian  of Soul mereka. Sejak  dulu jika bersama, maka  kekuatan mereka tak terpisahkan. Ibumu  bertindak tanpa pikir panjang sebab pada  akhirnya menyadari jika ramalan yang selama  ini dia remehkan mulai menjadi kenyataan”      “ Apa  maksudmu?”  tanya Ash menegang. Aku sama  sekali melupakan keberadaannya  sejak tadi disampingku. Duduk tegang  dan mencengkram keras pahaku dengan tangan  kanannya yang besar.      Matsuo  dan Kisaki  yang sejak tadi  duduk diatas kursi  kayu dihadapan kami saling  bertatapan sejenak. Alis mereka  tertaut kebawah. Ekspresi mereka tampak  sedih. Kisaki berpaling pada Ash dan mulai  berkata. “ Apakah kamu percaya pada ramalan Mr. Cheveyo?”      “ Tidak  pernah” jawab  Ash mantap tanpa  membuka mulutnya.      Mendesah, Yuki  berkata sambil memajukan  tubuhnya dari duduknya. “ Sayang  sekali, kurasa ini memang harus dilakukan” tukasnya  kepada kedua Orang Tuanya. Matsuo dan Kisaki mengangguk, tampak  cemas.      Sebelum  aku bisa  menanyakan apa  maksud mereka, kedua  tangan Yuki sudah terjulur  padaku dan Ash, masing-masing  mencengkram erat satu tangan kami. Kedua  mata buah zaitunnya menemukan kami, seketika  itu juga aku merasa seperti diperangkap di dalam  kedua irisnya. Jiwaku seakan ditarik paksa dari ragaku, tersedot  masuk kedalam dua titik hitam paling terang pada pupil Yuki. Yang  mendadak, berubah menjadi ungu terang. Terkesiap. Aku berusaha bergerak  namun anehnya tubuhku seakan dibekukan ditempat. Segalanya, berubah menjadi  gelap. ************      Aku  mengerjapkan  mata berulang  kali. Awalnya semua  samar, hingga kelebatan  warna satu-persatu muncul  memenuhi penglihatanku. Pertama-tama  putih, kemudian merah, hitam, diikuti pergerakan  objek-objek didepanku. Asap tebal membumbung disekitarku, hawa  disekelilingku menjadi begitu panas serta gerah. Ketika udara asing  memasuki paru-paru, aku terbatuk dan mulai sadar pada apa yang ada dihadapanku.      Sebuah  kebakaran! Besar  dan hebat.      Terdengar  teriakan kencang, jeritan  melengking, serta isak tangis  tiada henti. Aku berdiri ditengah-tengah  antah berantah, begitu banyak gedung pencakar  langit, kendaraan, rusak, hancur, menjadi puing-puing. Banyak  ledakan. Orang-orang menghambur berlarian dari berbagai arah  didepanku. Meskipun enggan, secara ajaib kakiku melangkah dengan  sendirinya melewati jalan raya setapak dimana hanya ada satu kalimat  untuk menggambarkan segalanya.      Kiamat.      Mayat-mayat  bergelimpangan, segalanya  hancur dan remuk redam. Isi  perutku bergolak hebat. Kangguru  didalamku menendang-nendang jantungku  sangat keras. Refleks, tanganku menekan  dadaku karena rasa sesak serta perih aneh  yang mencengkram. Mataku memandang berbagai arah, melahap  visualisasi apapun tapi tak menemukan satupun hal baik disana. Kurasa  aku mulai menangis. Ketakutan. Kemarahan. Kengerian tak mendasar menyelubungiku  seperti bola raksasa.          Aku  sudah  sampai diujung  jalan, didepanku terbentang  lapangan luas berisi tumpukan  tubuh yang sudah tak utuh lagi. Banyak  api. Suara denting benda besi dipukulkan. Segerombol  manusia terlihat sedang berperang dihadapanku. Meski samar, aku  bisa menangkap suara familiar yang begitu menggetarkan jiwaku.      Kakiku  berlari melewati  kerumunan orang berperang, sadar  jika mereka tak menyadari keberadaanku  ataupun bisa menyentuhku. Seakan aku tahu  jika ini tidak nyata seperti saat aku tengah  bermimpi. Aku telah mencapai bagian terdepan ketika  mendapati sosok tinggi besar, mengenakan celana zirah  hitam didepanku.      “ Ash!!” pekikku  gembira. Aku berlari  memutar sekelompok pria  berpakaian serba putih dan  perak. Kemudian, sebuah pemandangan  menghentikan langkahku.      Pedang  hitam raksasa  Ash terangkat diudara, dengan  mudahnya menebas kepala seorang  manusia seakan dia hewan ternak. Darah  mengucur menciprati wajah dan tubuh bagian  atasnya yang telanjang. Refleks aku menjerit, berlari  kedekatnya kemudian memakinya, berusaha menerjang dan memukulnya. Tapi  nihil. Karena setiap tindakanku takkan berdampak apapun padanya.      Lalu  Ash menoleh  tepat kewajahku. Ketika  iris kami bertemu. Jantungku  rasanya benar-benar siap meledak  melihat kenyataan itu.      Pupil  mata Ash  tidak lagi  seindah langit  malam berbintang  ketika menjadi manusia, ataupun orange  terang saat berubah ke wujud lainnya. Melainkan  merah. Seterang darah. Taring muncul melalui sela-sela  mulutnya, alis lebatnya terangkat ke atas dan mulutnya  membentuk seringai semengerikan monster.      Tidak, ini  tidak benar. Dia  bukanlah Ashku. Sosok  didepanku lebih mirip Iblis  haus darah daripada seorang manusia  penyanyang meskipun memiliki jiwa pengubah  wujud didalam dirinya. Aku tertegun pada fakta  ini. Aku menangis, menjerit, dan meraungkan namanya. Namun  Ash sama sekali tidak bergeming.      “ Yang  Mulia....”       Tiba-tiba  Ash bicara, membuatku  terlonjak mundur kebelakang. Bukan  karena dia berkata-kata tapi lebih  kepada suara yang dikeluarkannya. Lebih  mirip kaokan burung ketimbang suara manusia. Aku  bingung selama beberapa waktu, hingga seseorang ber-jalan  melewati tepat disamping bahuku. Seorang  wanita.      Seketika  Ash jatuh  bersimpuh dihadapannya. Sebuah  rasa cemburu aneh menyerangku. Sadar  jika yang dipanggilnya ‘Yang Mulia’ tadi  pastilah wanita itu. Dari belakang aku tak bisa  mengenal sosoknya dengan baik. Selain rambut panjang hitamnya  mencapai punggung. Tubuh mungilnya. Serta pakaian unik serupa baju  zirah berwarna hitam dengan rok menyerupai pakaian pasukan Irlandia  zaman dulu.      Wanita  itu memerintah  Ash untuk mengangkat  kepalanya dengan suara  yang sangat kecil hingga  susah kudengar ditengah segala  kekacauan ini. Ash melakukan keinginan nya. Tanpa  instruksi, wanita itu menundukkan wajahnya kemudian  mencium bibir Ash!      Ash!! Kekasihku!!      “ Dasar  b******k kau!” umpatku  kesal, bermaksud berlari  untuk memukul kepalanya karena  telah berani mencium bibir pria  yang telah memiliki kekasih. Tepat  saat itu, seperti disengaja wanita tersebut  menolehkan kepalanya kepadaku. Dan tubuhku langsung  terpaku ditempat.      Darah  seakan disedot  dari diriku. Seluruh  tubuhku gemetar dan rasa  sakit yang tak ada hubungannya  dengan pukulan apapun menggerogotiku.      Wanita  itu, adalah  aku!      Aku!!      Dalam  versi mengerikan, mata  merah seperti darah, taring  bermunculan dari mulutnya. Itu  aku versi  iblis!!       Sebelum  otakku bisa  mencerna segalanya  dengan benar, aku melihat  diriku-versi-jahat mengatakan  sesuatu dengan sangat lantang  diatas wajah Ash yang masih meman-dang  diri iblisku penuh memuja.      “ Hancurkan  seluruh manusia. Jangan  ada yang tersisa....”      Lalu, segalanya  menggelap. Karena  rohku untuk kesekian  kalinya seakan ditarik  paksa dari tempatnya. Terangkat  memasuki lubang ungu terang menyilaukan. Lalu  menghilang. *******************     Kedua  kelopak  mataku mengerjap  membuka dengan cepat. Aku  bernafas dengan terkejut, paru-paruku  terasa basah dan lembap. Seakan aku baru  saja ditenggelamkan oleh seseorang dan berhasil  selamat. Tubuhku gemetar hebat, gigiku bergemeletuk  parah.     Wajah  Kisaki yang  pertama kali muncul  dikedua retinaku. Mengangsurkan dua  cangkir teh bunga sakura hangat untukku  dan Ash. Aku melirik pria itu sekilas, reaksi  tubuhnya berbeda dariku namun jelas dia sama shocknya  denganku. Matanya melebar sehingga aku cemas kalau-kalau bakal  keluar dari rongganya.          “ Minumlah, itu  akan mengembalikan  substansi kekuatan kalian  yang baru saja tersedot” kata  Kisaki.      Aku  mengangguk, dan  menghabiskan satu  cangkir hanya dalam  empat tegukan. Tak menyadari  sebelumnya betapa hausnya diriku  sesungguhnya. Kisaki benar, saat cairan  hangat itu menyentuh tenggorokanku, secara  ajaib seakan mampu menyapu segala hawa dingin, kecemasan, dan  menggantikannya dengan sebuah perasaan nikmat serta kedamaian.      “ Barusan  itu apa?” tanyaku  setelah berhasil mengatasi  segala gemetaran badanku.      “ Itu  adalah, alasan  mengapa Orang Tuamu  tak setuju pada kedekatan  kalian” jawab Matsuo, menuding  Ash, yang kini mencengkram erat  cangkir tanah liat ditangannya dengan  begitu kencang. Kurasa sebentar lagi dia  akan meremukkannya.      “ Barusan  itu visi?” tanya  Ash, suaranya sangat  lemah.     Aku  langsung  teringat suara  Ash saat berubah  menjadi iblis tadi. Sungguh mengerikan. Aku  tak mau mendengar itu lagi. Seumur hidupku.      “ Setiap  Patron  pasti  memiliki  seorang Visioners, dalam  kasus ini, akulah  orang beruntung yang  mendapatkan berkah itu” kata  Yuki, sangat tenang.       Meneguk  perlahan cangkir  tanah liatnya. Aku  terkejut menyadari betapa  gemetarannya dia, sama sepertiku. Sedangkan  Ash, merasa kaget atas ucapannya barusan.     “ Visioners  memiliki  keakuratan  penglihatan mencapai  97%, ada yang bilang masa  depan bisa dirubah. Itu benar, tapi  hanya nasib, sementara jalinan takdir, merupakan  suatu kepastian” tambah Kisaki.        Tangannya  menggengam erat  jemari-jemari mungil  putrinya yang sejak tadi  duduk disamping kirinya. Seakan  berusaha mengalirkan kekuatan dari  sana.      “ Dengarkan  aku” kata Matsuo  “Hal yang sangat  buruk akan segera terjadi. Para  mortem  kali  ini mencari  Sencit  bukan  sekedar  untuk mendapatkan  kekuatan semata, melainkan  melakukan sumpah setia yang  pernah mereka lakukan pada Tuan  mereka ratusan tahun silam. Sudah puluhan generasi  sejak Sencit  terakhir  dilahirkan  ke dunia dan  menunaikan tugasnya  untuk menyegel iblis  yang berjalan diatas muka  Bumi. Sebuah peperangan hebat  tak terelakkan kala itu terjadi  antara terang dan gelap, akhirnya setelah  menunggu lama, Sencit  baru  kembali  terlahir namun  dengan sebuah takdir  besar yang harus diembannya “      “ Seorang  Iblis akan  kembali dibangkitkan” ujar  Kisaki. Mengejutkanku, “ Iblis  yang dulunya manusia namun menyerahkan  jiwa dan tubuhnya pada jalan kegelapan. Setan  itu dulunya dikurung oleh Sencit  terakhir  sebelum dirimu. Dan  kini, para pengikutnya  akan melakukan segala cara  demi mendapatkan dirimu, karena  kamulah kunci pembuka segel tersebut”      Menelan  ludah susah  payah, akupun bertanya. “ Lalu  bagaimana dengan Ash, kalian bilang  dialah alasan ketakutan kedua Orang Tuaku. Dan  visi barusan itu ”      Menghembuskan  nafas panjang, Kisaki  memandang prihatin Suaminya  sebelum menyahut. “ Bukan rahasia  besar setiap Raja selalu membutuhkan  seorang Jendral yang hebat...”      Lalu  Ash tertawa, sebuah  tawa yang menurutku lebih  mirip kesedihan daripada kegembiraan. Saat  mendongak, aku terkejut melihat keputus asaan  ada didalam matanya.      “ Itukah  intinya. Kalian  ingin berkata jika  akulah si Jendral kegelapan  tersebut. Salah satu penyebab kemungkinan  Aiyana akan memilih jalan yang salah. Itu  juga sebabnya Orang Tuanya dan kalian ingin  memisahkan kami.....” ujarnya sinis.      Pasangan  Shiginuchi  tak menjawab, mereka  hanya bisa memberikan  tatapan simpatik pada kami  berdua. Namun, sebuah kebulatan  tekad didalam mata Yuki membenarkan  semua perkataan sekaligus pemikiran Ash.      “ Takdir  telah digariskan” itu  suara Yuki bergema. Terdengar  lebih keras daripada biasanya. Aura  ungu keemasan berkuar hebat disekeliling  tubuhnya. “ Jauhi Aiyana. Biarkan dia memilih  takdir seharusnya. Dan begitu juga dirimu. Kamu  tidak tercipta untuk menjadi pasangannya. Lakukan  yang semestinya, jauhi masalah, mengindarlah. Maka masa  depan yang barusan kita lihat, takkan pernah terjadi....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD