Otakku mengabur karena panik. Pikiranku gelap oleh rasa takut. Nafasku terengah, dadaku begitu sesak, irama jantungku begitu cepat seakan ingin meledak menjadi kepingan. Kedua tanganku basah oleh keringat mencengkram erat kursi jok mobil.
Seluruh isi perutku seakan ikut melompat bersama gerakan mobilku yang lebih mirip melayang daripada berjalan diatas tanah....
Darimana, bagaimana, kenapa.
Adalah tiga pertanyaan besar yang menghantui isi kepalaku saat ini. Sekaligus tidak ingin kucari tahu jawabannya.
Memoriku berputar cepat mengingat kejadian setengah jam terakhir ini. Aku masih berdansa bersama Ash didalam kerumunan lantai dansa Festival kembang api Red Dawn, saat firasat tanda bahaya itu mendatangi kami berdua. Insting kami melebihi manusia biasa, segera memberitahu ada yang tak beres. Tanpa banyak bicara Ash menarikku keluar dari kerumunan secara tersembunyi, dengan kecepatan kami diatas kemampuan normal manusia, hanya butuh beberapa detik hingga berada didalam mobil aman. Ash baru menstater mobilnya saat ledakan hebat terdengar dari dalam tempat festival. Tepat ketika kendaraan kani keluar dari alun-alun, asap tebal membumbung diatas langit, teriakan serta jeritan menggema diikuti ratusan manusia berlarian keluar ke jalan raya. Seperti semut baru saja kebanijiran sarangnya.
Aku merasakan d**a kananku bagian atas memanas. Secara refleks memegangnya, menahan rasa sakit. Ash menyadari, memandangku panik.
“ Ini dimulai...” bisikku lirih. Kesakitan itu menggerogotiku lagi, setelah sekian lama. Aku ingin berteriak, menjerit, merobek bajuku, tapi sorot mata Ash mulai menenangkanku. Membuatku berusaha lebih kuat.
“ Kita kembali ke penginapan, ambil semua barang lalu bergegas pergi dari tempat ini” kata Ash. Dan menurutku, itu saran terbaik untuk saat ini. Aku mengangguk setuju.
Kami tiba tak kurang dari lima menit kemudian, pintu gerbangnya masih tertutup, artinya belum ada penjaga ataupun tamu yang pulang. Atau bisa jadi mereka masih terjebak didalam alun-alun dan menjadi korban dari-apapun-itu-hanya-Tuhan-yang-tahu.
Ash memarkir kendaraan sekenanya, berlari ke arah pagar, dan dalam satu kali entakan gembok besi hancur menjadi kepingan ditangannya. Kami berlari masuk kedalam penginapan melalui lobi utama, terpaksa merusak pintunya. Tak sampai dua menit, kami tiba dikamar kami. Ash tak perlu repot-repot membuka dengan kunci. Aku bersyukur karena diriku adalah orang yang suka kerapian, kami tak perlu lagi berkemas karena barang bawaan kami masih dalam keadaan tertata.
Ash menggandeng tanganku. Matanya awas memandang sekitar. Kami sudah mendekati mobil ketika alarm tanda bahaya dalam diriku berbunyi kencang.
“ Kamu merasakan itu....” bisik Ash. Berdiri dihadapanku. Kedua pupilnya berubah warna seketika menjadi keemasan, dan kurasa, begitu pula denganku.
Mempertajam pendengaran, memperkuat penciuman. Aku langsung dapat merasakan perubahan udara disekeliling kami. Melalui ketajaman mata diatas normal manusia, bisa kulihat kabut tebal kehijauan mulai turun perlaha disekitar kami. Aroma amis daging memenuhi hidungku. Lalu, sebuah suara eraman seakan membuat jantungku berhenti terpompa.
Kami menoleh bersamaan, dan....
“ Cepat masuk kedalam!” teriak Ash.
Kami berhasil melompat kedalam mobil tepat waktu, terlamat satu detik saja maka binatang Panther hitam sebesar tubuh lelaki dewasa itu telah mencabik tubuh kami menjadi serpihan. Ash menyalakan mobil dan menginjak pedal gas sekencang dia bisa, menimbulkan bunyi decitan panjang.
Ash melemparkan tasnya ke jok belakang sambil mengumpat, sementara itu aku melihat dua ekor serigala, hitam dan abu-abu ditambah 1panther hitam mengejar kami dengan kecepatan tak normal dibelakang. Eraman mereka membahana.
“ Itu tidak mungkin suruhan Astaga! Siapa mereka?” tanyaku panik.
“ Persetan mereka pelijharaan siapa, yang jelas mereka akan mati malam ini jika tak menyerah mengejar kita!” pekik Ash emosi. “ Menunduklah dan buka kotak obat dibawah jokmu”
Aku mengangguk, melakukan perintahnya. Tanganku berhasil menggapai kotak kecil berwarna keperakan, membukanya, dan menahan nafas seketika.
Satu buah glock 47 beserta amunisinya. Lima buah botol berukuran sedang berisi cairan keperakan. Aku langsung tahu itu apa. Serta sebuah tongkat putih tulang pipih.
“ Semua amunisinya telah dilapisi cairannya, namun jika terpaksa harus mengisi ulang, maka hanya kamu satu-satunya yang bisa mencampurkan peluru pada cairan itu Ai. Karena hanya dirimu yang kebal terhadap Holy Water”
Aku mengangguk, dan memandang melalui kaca spion, memekik terkejut, karena jarak ketiga binatang tersebut dengan kami sekarang tak kurang dari lima meter.
Ash mengambil salah satu pistol dariku.Tangan kiri memegang kemudi sementara tangan kanan dan kepalanya dilongokkan keluar jendela, tak lama kemudian terdengar suara desingan peluru, benda bertabrakan, sesuatu jatuh ke tanah disertai ledakan api. Dari tempatku duduk bisa terlihat kepulan asap membumbung dikejauhan. “ Strike” kata Ash puas kembali pada setirnya, kurasa dia berhasil melukai salah satu atau bahkan semua binatang tersebut.
Sayangnya, si serigala abu-abu dan panther hitam masih bisa bertahan. Kini mereka mengejar mobil kami dipenuhi nafsu membunuh tinggi. Ash mengumpat keras, marah. Rasa panik mulai menguasainya.
Kuputuskan untuk melakukan sesuatu, kuambil benda panjang terbuat dari kayu oak berinti daun basil suci sepanjang delapan centi, memiliki lebar tujuh mili dari dalam kotak kayu kecil di dashboard.
Ash memandangku gamang. “ Tidak Ai, jangan berpikir untuk”
Aku tersenyum simpul padanya, menurunkan kaca jendela hingga batas minimum, sambil mengacungkan tongkat, seluruh energi kupusatkan pada getaran alam disekitar. “ Morst Cei!!” jeritku.
Awan menggelap, secara ajaib badai es muncul diatas pengejar kami. Dalam hitungan detik si serigala abu-abu terkapar, sekarat karena beku. Si panther terluka pada bagian perut. Tapi masih memiliki kekuatan untuk mengejar kami, langkahnya malah semakin cepat. Gerakannya seperti angin.
Kujernihkan pikiran, kutiupkan seluruh energi melalui alam bawah sadarku, kupejamkan mata mencoba berbicara dengan alam lalu berbisik. “ Erthund Rac” Tongkatku mengeluarkan suara desis, tak lama kemudian serangkaian busur halilintar menerjang sisa si panther. Ajaib, dia tetap berhasil selamat, dengan kemarahan tak terkendali dia melompat keatas kap mobil. Mengaum, mencakar, merusak.
“ Pergi ke hutan!” teriakku, karena Ash akan mengarahkan kami dan binatang ini ke pusat kota. Merasa aneh sebab sejak tadi jalanan yang kami lewati sesunyi kuburan, dan aku sadar ada hal benar-benar tak bagus sedang terjadi.
Ash mengangkat pistolnya ke atas kap mobil dan menembakkan peluru empat kali. Terdengar suara erangan diikuti bunyi gedebuk dari depan mobil. Saat berpaling kembali ke jalan, panther itu sudah berada sejauh 4 meter didepan kami, menghadang. Kakinya mencabik tanah, seperti menyiapkan kuda-kuda.
Secara refleks Ash menginjak rem sekencangnya. Aku menutup mata sambil berpegang erat pada pegangan diatas kursiku, berdoa sebanyak kubisa.Suara decitan mesin mentulikan telingaku, isi perutku terlonjak-lonjak minta dikeluarkan. Si Panther mengeram, aku mendengar teriakan Ash.
“ Aku harus melawannya. Sekarang!”
Aku sempat menahan lengannya. “ Kumohon jangan lakukan itu, segalanya akan berakhir jika kamu ‘merubah diri’ ” aku tahu aku egois. Tapi konsekuensi kehilangan Ash jauh lebih besar jika dia tetap nekad.
Ash menggertakkan gigi, mengumpang, rahangnya mengencang dan mengeras. Sepasang mata gelapnya mula berubah menjadi terang. Tanpa perlu melirik ke depan aku tahu jika si panther hitam sialan itu telah berlari ke araha kami.
Saat kupikir segalanya akan berakhir, tepat didetik terakhir sesuatu yang berkilat seterang ledakan radiasi keluar dari samping kanan hutan, bergerak secepat roket menerjang si panther hitam. Kami termangu didalam mobil melihat kejadian berikutnya.
Si panther menjerit mengerikan,aumannya memenuhi langit malam. Detik berikutnya yang kutahu dia telah terlempar jauh-entah-kemana diikuti bunyi debuman keras dari dalam hutan gelap.
Untuk sejenak segala sesuatunya menjadi hening, sepi, dan mencekam.
“ Apa itu tadi?....” kataku dengan jantung berdetak menggila. Tangan kananku mencengkram kuat lengan kiri Ash.
Ash menahan nafas, tampak sama kagetnya dengan diriku. “ Entahlah, apapun itu, yang jelas semoga dia berniat menolong kita”
Lalu, sesuatu melompat tepat kedepan mobil kami. Aku menjerit dan mengumpat. Namun cahaya lampu setir mobil memperlihatkan siluet ramping berdiri tegak, menengadah kepada kami. Dan tidak hanya satu, melainkan tiga!
Butuh waktu sangat lama bagi kami untuk mampu memproses segala sesuatunya didalam kepala. Ash yang pertama kali sadar, mengumpat. Matanya menatap nanar sosok-sosok didepan kami.
“ Sialan!” kataku tak dapat menyembunyikan keterkejutan.