TERKEJAR.

1182 Words
Otakku  mengabur  karena panik. Pikiranku  gelap oleh rasa takut. Nafasku  terengah, dadaku begitu sesak, irama  jantungku begitu cepat seakan ingin meledak  menjadi kepingan. Kedua tanganku basah oleh keringat  mencengkram erat kursi jok mobil.      Seluruh  isi perutku  seakan ikut melompat  bersama gerakan mobilku  yang lebih mirip melayang  daripada berjalan diatas tanah....      Darimana, bagaimana, kenapa.      Adalah  tiga pertanyaan  besar yang menghantui  isi kepalaku saat ini. Sekaligus  tidak ingin kucari tahu jawabannya.      Memoriku  berputar cepat  mengingat kejadian  setengah jam terakhir  ini. Aku masih berdansa  bersama Ash didalam kerumunan  lantai  dansa Festival  kembang api  Red  Dawn, saat  firasat tanda  bahaya itu mendatangi  kami berdua. Insting kami  melebihi manusia biasa, segera  memberitahu ada yang tak beres. Tanpa  banyak bicara Ash menarikku keluar dari  kerumunan secara tersembunyi, dengan kecepatan  kami diatas kemampuan normal manusia, hanya butuh  beberapa detik hingga berada didalam mobil aman. Ash  baru menstater mobilnya saat ledakan hebat terdengar dari  dalam tempat festival. Tepat ketika kendaraan kani keluar dari alun-alun, asap  tebal membumbung diatas langit, teriakan serta jeritan menggema diikuti ratusan manusia  berlarian keluar ke jalan raya. Seperti semut baru saja kebanijiran sarangnya.      Aku  merasakan  d**a kananku  bagian atas memanas. Secara  refleks memegangnya, menahan rasa  sakit. Ash menyadari, memandangku panik.      “ Ini  dimulai...” bisikku  lirih. Kesakitan itu  menggerogotiku lagi, setelah  sekian lama. Aku ingin berteriak, menjerit, merobek  bajuku, tapi sorot mata Ash mulai menenangkanku. Membuatku  berusaha lebih kuat.      “ Kita  kembali ke  penginapan, ambil  semua barang lalu  bergegas pergi dari  tempat ini” kata Ash. Dan  menurutku, itu saran terbaik  untuk saat ini. Aku mengangguk  setuju.      Kami  tiba tak  kurang dari  lima menit kemudian, pintu  gerbangnya masih tertutup, artinya  belum ada penjaga ataupun tamu yang  pulang. Atau bisa jadi mereka masih terjebak  didalam alun-alun dan menjadi korban dari-apapun-itu-hanya-Tuhan-yang-tahu.      Ash  memarkir  kendaraan sekenanya, berlari  ke arah pagar, dan dalam satu  kali entakan gembok besi hancur  menjadi kepingan ditangannya. Kami berlari  masuk kedalam penginapan melalui lobi utama, terpaksa  merusak pintunya. Tak sampai dua menit, kami tiba dikamar  kami. Ash tak perlu repot-repot membuka dengan kunci. Aku bersyukur  karena diriku adalah orang yang suka kerapian, kami tak perlu lagi berkemas  karena barang bawaan kami masih dalam keadaan tertata.       Ash  menggandeng  tanganku. Matanya  awas memandang sekitar. Kami  sudah mendekati mobil ketika alarm  tanda bahaya dalam diriku berbunyi kencang.       “ Kamu  merasakan  itu....” bisik  Ash. Berdiri dihadapanku. Kedua  pupilnya berubah warna seketika  menjadi keemasan, dan kurasa, begitu  pula denganku.       Mempertajam  pendengaran, memperkuat  penciuman. Aku langsung dapat  merasakan perubahan udara disekeliling  kami. Melalui ketajaman mata diatas normal  manusia, bisa kulihat kabut tebal kehijauan mulai  turun perlaha disekitar kami. Aroma amis daging memenuhi  hidungku. Lalu, sebuah suara eraman seakan membuat jantungku  berhenti terpompa.      Kami  menoleh  bersamaan, dan....      “ Cepat  masuk kedalam!” teriak  Ash.       Kami  berhasil  melompat kedalam  mobil tepat waktu, terlamat  satu detik saja maka binatang Panther  hitam sebesar tubuh lelaki dewasa itu telah  mencabik tubuh kami menjadi serpihan. Ash menyalakan  mobil dan menginjak pedal gas sekencang dia bisa, menimbulkan  bunyi decitan panjang.      Ash  melemparkan  tasnya ke jok  belakang sambil mengumpat, sementara  itu aku melihat dua ekor serigala, hitam  dan abu-abu ditambah 1panther hitam mengejar  kami dengan kecepatan tak normal dibelakang. Eraman  mereka membahana.      “ Itu  tidak mungkin  suruhan Astaga! Siapa  mereka?” tanyaku panik.      “ Persetan  mereka pelijharaan  siapa, yang jelas mereka  akan mati malam ini jika tak  menyerah mengejar kita!” pekik Ash  emosi. “ Menunduklah dan buka kotak obat  dibawah jokmu”       Aku  mengangguk, melakukan  perintahnya. Tanganku berhasil  menggapai kotak kecil berwarna  keperakan, membukanya, dan menahan  nafas seketika.      Satu  buah glock  47  beserta  amunisinya. Lima buah  botol berukuran sedang  berisi cairan keperakan. Aku  langsung tahu itu apa. Serta sebuah  tongkat putih tulang pipih.      “ Semua  amunisinya  telah dilapisi  cairannya, namun jika terpaksa harus mengisi ulang, maka  hanya kamu satu-satunya yang bisa mencampurkan peluru  pada cairan itu Ai. Karena hanya dirimu yang kebal terhadap  Holy  Water”       Aku  mengangguk, dan  memandang melalui  kaca spion, memekik  terkejut, karena jarak  ketiga binatang tersebut  dengan kami sekarang tak kurang  dari lima meter.   Ash  mengambil  salah satu  pistol dariku.Tangan  kiri memegang kemudi sementara  tangan kanan dan kepalanya dilongokkan  keluar jendela, tak lama kemudian terdengar  suara desingan peluru, benda bertabrakan, sesuatu  jatuh ke tanah disertai ledakan api. Dari tempatku  duduk bisa terlihat kepulan asap membumbung dikejauhan. “ Strike” kata  Ash puas  kembali pada  setirnya, kurasa  dia berhasil melukai  salah satu atau bahkan  semua binatang tersebut.        Sayangnya, si  serigala abu-abu  dan panther hitam  masih bisa bertahan. Kini  mereka mengejar mobil kami  dipenuhi nafsu membunuh tinggi. Ash  mengumpat keras, marah. Rasa panik mulai  menguasainya.      Kuputuskan  untuk melakukan  sesuatu, kuambil benda  panjang terbuat dari kayu  oak berinti daun basil suci  sepanjang delapan centi, memiliki  lebar tujuh mili dari dalam kotak  kayu kecil di dashboard.       Ash  memandangku  gamang. “ Tidak  Ai, jangan berpikir  untuk”      Aku  tersenyum  simpul padanya, menurunkan  kaca jendela hingga batas minimum, sambil  mengacungkan tongkat, seluruh energi kupusatkan  pada getaran alam disekitar. “ Morst  Cei!!” jeritku.      Awan  menggelap, secara  ajaib badai es muncul  diatas pengejar kami. Dalam  hitungan detik si serigala abu-abu  terkapar, sekarat karena beku. Si panther  terluka pada bagian perut. Tapi masih memiliki  kekuatan untuk mengejar kami, langkahnya malah semakin  cepat. Gerakannya seperti angin.       Kujernihkan  pikiran, kutiupkan  seluruh energi melalui  alam bawah sadarku, kupejamkan  mata mencoba berbicara dengan alam  lalu berbisik. “ Erthund  Rac” Tongkatku  mengeluarkan  suara desis, tak  lama kemudian serangkaian  busur halilintar menerjang sisa  si panther. Ajaib, dia tetap berhasil  selamat, dengan kemarahan tak terkendali  dia melompat keatas kap mobil. Mengaum, mencakar, merusak.       “ Pergi  ke hutan!” teriakku, karena  Ash akan mengarahkan kami dan  binatang ini ke pusat kota. Merasa  aneh sebab sejak tadi jalanan yang kami  lewati sesunyi kuburan, dan aku sadar ada hal  benar-benar tak bagus sedang terjadi.       Ash  mengangkat  pistolnya ke  atas kap mobil  dan menembakkan peluru  empat kali. Terdengar suara  erangan diikuti bunyi gedebuk  dari depan mobil. Saat berpaling  kembali ke jalan, panther itu sudah  berada sejauh 4 meter didepan kami, menghadang. Kakinya  mencabik tanah, seperti menyiapkan kuda-kuda.        Secara  refleks Ash  menginjak rem  sekencangnya. Aku  menutup mata sambil  berpegang erat pada pegangan  diatas kursiku, berdoa sebanyak  kubisa.Suara decitan mesin mentulikan  telingaku, isi perutku terlonjak-lonjak  minta dikeluarkan. Si Panther mengeram, aku  mendengar teriakan Ash.      “ Aku  harus melawannya. Sekarang!”      Aku  sempat  menahan lengannya. “ Kumohon  jangan lakukan itu, segalanya  akan berakhir jika kamu ‘merubah  diri’ ” aku tahu aku egois. Tapi konsekuensi  kehilangan Ash jauh lebih besar jika dia tetap  nekad.      Ash  menggertakkan  gigi, mengumpang, rahangnya  mengencang dan mengeras. Sepasang  mata gelapnya mula berubah menjadi  terang. Tanpa perlu melirik ke depan  aku tahu jika si panther hitam sialan  itu telah berlari ke araha kami.      Saat  kupikir  segalanya  akan berakhir, tepat  didetik terakhir sesuatu  yang berkilat seterang ledakan  radiasi keluar dari samping kanan  hutan, bergerak secepat roket menerjang  si panther hitam. Kami termangu didalam mobil  melihat kejadian berikutnya.        Si  panther  menjerit mengerikan,aumannya  memenuhi langit malam. Detik berikutnya  yang kutahu dia telah terlempar jauh-entah-kemana  diikuti bunyi debuman keras dari dalam hutan gelap.      Untuk  sejenak  segala sesuatunya  menjadi hening, sepi, dan  mencekam.      “ Apa  itu tadi?....” kataku  dengan jantung berdetak  menggila. Tangan kananku mencengkram  kuat lengan kiri Ash.      Ash  menahan  nafas, tampak  sama kagetnya dengan  diriku. “ Entahlah, apapun  itu, yang jelas semoga dia  berniat menolong kita”       Lalu, sesuatu  melompat tepat  kedepan mobil kami. Aku  menjerit dan mengumpat. Namun  cahaya lampu setir mobil memperlihatkan  siluet ramping berdiri tegak, menengadah kepada  kami. Dan tidak hanya satu, melainkan tiga!       Butuh  waktu sangat  lama bagi kami  untuk mampu memproses  segala sesuatunya didalam  kepala. Ash yang pertama kali  sadar, mengumpat. Matanya menatap  nanar sosok-sosok didepan kami.      “ Sialan!” kataku  tak dapat menyembunyikan  keterkejutan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD