RANTAU 8 - Pekerjaan Haram?

2039 Words
“Hai, Mar! Mau ke mana?” Farel menepuk bahu Damar dari belakang. “Hai, Rel! Saya mau ke kantin. Saya belum sempat beli sarapan tadi dari kosan,” jawab Damar. “Tumben. Ya sudah gue ikut deh ke kantin. Belum sarapan juga nih gue hehehe …,” kekeh Farel. Kedua pemuda itu pun berjalan bersama menuju ke kantin. Masih ada cukup waktu bagi mereka sampai mata kuliah pertama dimulai. Hal yang sangat langka melihat bagi Farel melihat Damar menginjakkan kakinya di kantin kampus atas kemauannya sendiri. Biasanya Farel yang harus menariknya ke sana. Karena harga makanan di kantin kampus sedikit lebih mahal dibandingkan dengan warung atau warteg di luar kampus. “Lo mau beli apa, Mar?” tanya Farel saat mereka berdua tiba di kantin. Damar mengambil roti berbentuk segitiga dengan isian daging lembaran, telur, keju, daun selada dan tomat, serta dibungkus rapi dengan plastik. Diberikan juga saus sambal di dalam kemasan plastik tersebut. “Ini sandwich kan? Saya mau coba makanan ini sekali-sekali. Pasti enak makanan orang bule kayak gini,” jawab Damar atas pertanyaan Farel barusan. “Kalau lo mau beli itu, gue juga beli deh. Kita bisa makan bareng di dalam kelas sekalian nunggu dosen.” Farel pun mengambil sandwich yang sama dengan Damar. Farel merogoh saku celana bagian belakang. Mengambil dompet lalu hendak mengeluarkan uang untuk membayar sandwich miliknya dan juga Damar. Namun, Damar terlebih dahulu menyodorkan uang pada penjual sandwich tersebut. “Saya yang traktir kamu kali ini,” ucap Damar dengan senyum sumringah. “Eh, jangan! Gue saja yang bayar. Uang lo mending disimpan saja.” Farel menolak. Tetapi uang yang disodorkan Damar sudah diterima oleh si penjual, dan Damar pun sudah menerima kembaliannya. “Tidak apa-apa, Rel. Sekali-sekali saya yang traktir kamu. Masa kamu terus yang traktir sih hehehe …. Tapi saya tidak bisa sering-sering traktir,” ungkap Damar seraya berjalan keluar dari area kantin. Farel mengernyitkan dahinya. “Memangnya lo baru dapat kiriman uang dari orang tua lo di kampung? Lo jadi minta uang sama mereka?” duga Farel seperti itu. Karena seingat Farel beberapa hari lalu Damar bercerita jika ia sedang dalam masalah keuangan hingga Farel meminjamkan uang padanya. Damar menggelengkan kepalanya. “Saya baru dapat kerja sampingan. Kalau lancar, saya bisa kembalikan uang yang saya pinjam dari kamu.” “Kerja sampingan? Jadi apa?” Farel penasaran. “Jadi kurir antar barang. Lumayan bisa untuk tambahan biaya hidup di Jakarta,” jawab Damar. Farel mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia pun ikut senang jika memang temannya itu bisa mendapat pekerjaan sampingan. “Uang yang lo pinjam nanti-nanti saja dikembalikannya. Itu memang untuk tabungan aja kok. Nanti-nanti saja kalau gue butuh baru gue bilang ya dari jauh-jauh hari,” ucap Farel. Dia tidak ingin memberatkan Damar perihal hutangnya. “Iya, Rel. Terima kasih ya.” Damar mengulas senyum di wajahnya. Seperti hari-hari sebelumnya Damar fokus dengan kuliahnya hingga sore hari. Saat kuliahnya berakhir, Damar kembali menemui Aditya di depan gerbang kampus. Aditya duduk di atas motornya, menunggu Damar datang menghampirinya. “Dit! Sudah lama kamu nunggu di sini?” tanya Damar pada pemuda tersebut. “Belum. Baru sampai juga kok. Tadi ambil motor dulu di parkiran,” jawab Aditya. “Damar! Adit!” Farel tiba-tiba memanggil dan menghampiri mereka. Sontak Aditya menarik lengan Damar lalu berbisik, “Mar, jangan bilang-bilang sama orang tentang pekerjaan kita ya. Nggak enak aja gue.” “Sama Farel juga nggak boleh?” tanya Damar. “Pokoknya jangan!” tegas Aditya. “Kalian ngapain? Mau balik? Gue antar yuk, Mar!” Farel menawarkan tumpangan pada Damar. Namun, kemudian Aditya yang menolak niat baik Farel. “Sorry ya, Rel. Gue masih ada perlu sama Damar. Jadi Damar gue yang antar aja.” “Oh, gitu? Tapi gue lagi malas pulang cepat-cepat. Kalian lama nggak? Gue ikutan aja boleh ya?” pinta Farel. Awalnya dia memang berniat ingin mampir ke kosan Damar terlebih dahulu. “Karena kali ini ada hal penting, jadi sorry banget gue nggak bisa ajak lo, Rel. Tapi lo bisa nunggu Damar di kosannya aja. Kita cepat kok, nggak akan lama.” Aditya masih tidak membiarkan Farel ikut serta dengan mereka. Kemudian Aditya menyenggol lengan Damar. Memberi kode dengan lirikkan matanya yang mengarah ke Farel. Seolah mengerti maksud Aditya, Damar langsung mengeluarkan kunci dari saku celananya dan memberikannya pada Farel. “Ini, Rel. Kamu tunggu saya di kosan saja ya,” kata Damar seraya memberikan kunci tersebut pada Farel. Farel mencium sesuatu yang mencurigakan dari gerak-gerik Aditya dan Damar. Tetapi dia tetap menerima kunci kamar kos Damar dan akan menanyakannya nanti pada Damar langsung saat Damar kembali. “Ya sudah kita duluan ya, Rel!” pamit Aditya pada Farel. “Cepat naik ke motor, Mar!” perintahnya kemudian pada Damar. Keraguan tiba-tiba datang dan hinggap di hati Damar. Dia melirik Farel, melihat temannya itu menatap ke arahnya seolah menuntut penjelasan. Namun, kemudian Damar tetap naik ke motor Aditya dan pergi bersama pemuda itu. Damar masih membutuhkan uang untuk memenuhi biaya hidupnya. Dalam perjalanan bersama Aditya, Damar akhirnya menanyakan tentang pekerjaan yang dijalaninya tersebut. “Dit, kerjaan kita ini halal kan?” tanya Damar. “Kenapa lo tiba-tiba nanya begitu?” Aditya mulai waspada. “Kok kita tidak boleh bilang ke orang-orang tentang pekerjaan kita? Ini bukan pekerjaan yang haram kan?” “Menurut lo sendiri gimana? Apa kurir pengantar barang itu pekerjaan haram?” Aditya membalikkan pertanyaan itu pada Damar. Sejenak Damar berpikir. Kemudian dia menjawab, “Seharusnya itu halal sih, Dit.” “Nah, ya sudah! Jangan bingung, Mar. Lo butuh uang kan? Gue kasih jalan biar lo bisa dapat uang. Lo tinggal kerja aja yang benar. Jangan kecewain gue dan bos kita,” ujar Aditya membuat Damar bungkam. Aditya tahu kelemahan Damar. Dia sangat membutuhkan uang. Oleh karena itu sangat mudah bagi Aditya untuk menjerumuskannya ke pekerjaan yang mungkin bisa menghancurkan masa depan Damar. Aditya tidak akan memikirkan hal itu, karena Aditya sendiri akan mendapat keuntungan dengan mengajak Damar masuk menjadi kurir sepertinya. Mereka berdua sampai di tempat yang sama seperti kemarin. Damar diberikan sebuah bungkusan paket yang serupa dengan yang kemarin, hanya saja ukurannya sedikit lebih kecil. “Itu kirim ke alamat yang gue tempel,” kata pria yang pada akhirnya Damar ketahui adalah bos mereka. “Baik,” jawab Damar. “Mar, lo boleh pakai motor gue biar lebih hemat ongkos.” Aditya melemparkan kunci motornya pada Damar. “Lo bisa naik motor kan?” tanyanya kemudian. “Bisa kok, Dit. Makasih ya.” Damar pun pergi dari hadapan Aditya dan bosnya itu. Setelah Damar sudah tidak berada di tempat tersebut, pria dengan tubuh tinggi besar itu menarik bahu Aditya agar pemuda itu menoleh padanya. “Pilihan lo bagus ngajak orang lugu itu jadi kurir. Dia nggak akan gampang dicurigai. Tetapi, gue minta lo cari orang lagi biar jejak kita nggak mudah dilacak polisi,” pinta pria tersebut pada Aditya. “Jangan khawatir. Saya akan coba cari dari tempat lain. Jangan dari kampus lagi, biar tidak ada yang curiga,” jawab Aditya. “Bagus. Lo memang bisa diandalkan,” kata pria tersebut seraya menepuk punggung Aditya. Sementara itu kini Damar mengendarai motor Aditya sambil mencari alamat yang dicarinya. Damar terlebih dahulu memasukkan alamat yang tertulis di paket yang akan dikirimnya itu ke GPS di ponselnya. Meski ponsel Damar bukanlah keluaran terbaru, tetapi jika hanya untuk sekedar mencari alamat pun ponsel Damar masih sanggup melakukannya. Walau terkadang sering macet dan koneksi tidak tertangkap dengan baik oleh ponselnya. Berkat mengandalkan GPS dan juga bertanya pada orang yang ia temui di jalan pada akhirnya Damar sampai di sebuah warung pinggir jalan. “Benar ya ini diantar ke warung?” Damar memperhatikan kembali alamat yang ditempel di paket yang diantar olehnya. “Benar kok. Kayaknya harus saya telepon dulu orangnya.” Damar pun menghubungi penerima paket dan mengatakan jika dia sudah berada di depan warung. Kemudian dari dalam warung munculah seorang pria, mungkin usianya sekitar empat puluh tahunan, memanggil Damar mendekat ke warung tersebut. “Mana barangnya?” tanya pria tersebut. “Ini, Pak.” Damar langsung memberikan paket yang dimaksud pada pria tersebut. Sejenak Damar memperhatikan wajah pucat pria itu. Keringat juga tampak mengalir membasahi keningnya. Tangannya gemetar saat menerima paket yang diberikan oleh Damar. “Ini tip buat lo. Cepat pergi dari sini!” kata pria tersebut seraya memberikan selembar uang lima puluh ribu. Damar menerimanya lalu berkata, “Terima kasih, Pak.” Setelah itu Damar pun pergi meninggalkan tempat tersebut kembali ke tempat di mana Aditya menunggunya. Sepanjang perjalanan selalu terngiang dalam benak Damar bagaimana keadaan pria penerima paket tersebut. Damar kemudian berpikir apakah pria itu sedang sakit dan sangat membutuhkan obat yang ia bawa, atau apakah pria tersebut membutuhkan obat-obatan yang dibawa Damar karena sebuah ketergantungan atau kecanduan. Memikirkan hal itu membuat jantung Damar berdebar kencang. Tubuhnya sedikit gemetar. Bukan karena sakit, melainkan karena ia takut sudah terjun pada pekerjaan yang salah. “Saya harus tanyakan pada Aditya sampai dia mau memberitahu saya kerjaan apa yang dia kasih ini,” gumamnya dengan suara bergetar. Aditya sudah menunggunya di pinggir jalan. Tersenyum ke arah Damar yang semakin mendekat. “Jauh nggak tempatnya, Mar?” tanya Aditya sesaat motor yang dikendarai Damar berhenti di depannya. Tanpa menjawab ataupun menuruni motornya Damar langsung melontarkan pertanyaan pada Aditya. “Dit, sebenarnya pekerjaan apa yang kita jalani sekarang?” “Kok lo nanya lagi sih, Mar?” Aditya mengernyit heran. “Kita bukan mengantar barang haram kan?” Suara Damar dibuat pelan agar tidak ada orang yang mendengarnya. Aditya sempat terdiam beberapa detik, tetapi kemudian dia tertawa kikuk. “Ha … ha … ha … yang benar saja sih loh, Mar!” “Jawab saya, Dit! Kamu tidak menjerumuskan saya kan?” desak Damar. Tawa kikuk Aditya pun berhenti. Ditatapnya Damar dengan tajam sebelum menjawab pertanyaannya. Senyum miring juga tersungging di wajah Aditya. “Jangan khawatir, Mar. Kita hanya kurir kok. Selain obat-obatan, kadang kita juga diminta kirim barang-barang elektronik seperti handphone dan semacamnya. Jadi, lo nggak perlu khawatir kayak gini,” jawab Aditya. “Kamu yakin kan, Dit?” Damar berusaha memastikan. “Iya gue yakin dong!” seru Aditya. Aditya pun kemudian mengeluarkan uang dari saku celananya. Diberikan uang tersebut pada langsung ke tangan Damar. “Dua ratus ribu pas, nggak gue potong bensin. Hehehe ….” Dalam dua hari Damar berhasil mengumpulkan uang yang cukup banyak baginya. Dia tidak perlu menahan lapar, dia juga bisa menabungkan sebagian uangnya untuk digunakannya nanti membayar uang sewa kos. Tetapi lagi-lagi nurani Damar seakan memintanya untuk tidak melakukan pekerjaan tersebut. “Mar! Kok bengong? Gue antar pulang ya!” Aditya menepuk bahu Damar, mengembalikannya dari lamunan. “I-iya, Dit,” balas Damar. “Lo mundur ke belakang, gue antar lo pulang,” kata Aditya. Damar pun menggeser bokongnya dan mempersilahkan Aditya duduk di depan mengendarai motor. Mengantarkan Damar sampai ke depan kosannya. “Sampai ketemu besok ya, Mar!” kata Aditya seraya berlalu dari hadapan Damar. Kemudian Damar melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah kos. Terus berjalan langsung menuju ke kamarnya. Damar sempat lupa jika Farel tengah menunggunya di dalam kamar. Tepat di depan pintu kamar Damar menghentikan langkahnya dan sibuk mencari kunci kamarnya. “Perasaan teh saya kantongi tadi. Kok bisa hilang ya kuncinya?” Damar kebingungan. Tiba-tiba pintu kamar Damar terbuka dari dalam. Farel muncul dari dalam kamar dan mengejutkan Damar. “Mar! Ngapain?” “Astagfirullah, Farel! Kamu ngagetin saya saja!” Damar menghela nafas sambil mengusap dadanya. “Lo ngapain nggak langsung masuk ke kamar? Malah sibuk berdiri di sini,” tanya Farel. “Saya lupa kalau kamu ada di kosan saya. Jadi dari tadi saya sibuk nyari kunci kamar,” jawab Damar. “Hahahaha …!” Farel tertawa. “Ya sudah masuk, Mar. Anggap saja kamar sendiri,” candanya kemudian. “Kan memang ini kamar saya, Farel. Hahaha …,” timpal Damar. Damar masuk ke kamarnya lalu duduk di sisi kasur bersama dengan Farel. Baru juga meletakkan ransel yang ia pakai, Farel langsung menatapnya serius. “Mar, sebenarnya ada kepentingan apa lo sama Aditya?” tanya Farel dengan tatapan seriusnya itu. Damar tergugu sulit menjawab. Aditya memintanya untuk tidak mengatakan pada siapa pun termasuk Farel. Tetapi Farel adalah orang terdekat Damar di tanah perantauannya ini. Dia menjadi bimbang apakah harus memberitahu Farel atau tidak. Sementara Farel terus menatapnya menunggu jawaban keluar dari bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD