Damar masih tergugu, sementara Farel tidak sabar menunggu jawaban dari Damar.
“Mar? Kok malah diam? Sebenarnya lo ada kepentingan apa sama Aditya?” tanya Farel sekali lagi.
“A-anu, Farel. Sebenarnya … saya itu ….” Damar masih ragu memberi tahu Farel karena terus teringat apa yang dikatakan oleh Aditya agar tidak memberi tahu siapa pun.
“Sebenarnya kenapa, Mar?” Farel tidak bisa menunggu jawaban lebih lama lagi.
“Tapi apa kamu bisa janji untuk tidak bilang siapa-siapa?” Damar merasa harus memastikannya terlebih dahulu.
Farel mengangguk. “Iya. Gue nggak akan bilang siapa-siapa.”
“Saya sebenarnya … kerja bareng sama Aditya. Kerja sampingan.” Akhirnya Damar memberitahukannya pada Farel.
“Kerja sampingan bareng Aditya?” Kedua alis Farel terangkat. “Terus kenapa kok lo kayak ragu mau kasih tahu gue?” tanyanya kemudian.
Damar memperhatikan wajah Farel seraya menimbang-nimbang apakah harus memberi tahu detail pekerjaannya pada Farel dan meminta pendapat temannya itu atau tidak. Damar takut salah mengambil keputusan.
Namun, selama ini Farel adalah orang pertama yang selalu membantunya di saat ia mengalami kesulitan. Tidak seharusnya Damar menyembunyikan sesuatu dari temannya tersebut. Damar harus menceritakannya pada Farel, meski Aditya terus melarangnya.
“Farel, ada yang mau saya ceritakan ke kamu.” Damar sudah siap memberitahukan detail pekerjaannya pada Farel.
“Mau cerita apa?” tanya Farel.
Damar menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Barulah kemudian Damar angkat bicara. “Hmm … jadi begini, kamu tahu kan saya itu butuh uang tambahan?”
“Tahu, Mar,” jawab Farel cepat.
“Nah, jadi saya itu sudah dapat kerja sampingan bareng Aditya jadi –“ Kalimat Damar harus terpotong karena tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Damar segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu melihat nama ibunya tertera jelas di layar ponselnya. “Ambu telepon, Rel,” katanya.
“Angkat saja dulu teleponnya, siapa tahu penting,” ujar Farel.
Damar mengangguk, lalu menggeser tanda hijau di layar ponselnya. Didekatkan ponsel tersebut ke telinga kemudian Damar bisa mendengar suara wanita yang ia rindukan.
“Assalamualaikum,” Ibunya mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam, Ambu,” balas Damar.
“Gimana kabar kamu, Jang? Sehat kan?” Sang ibu menanyakan keadaan Damar.
“Alhamdulillah sehat, Ambu. Di Garut sana pada sehat semua kan, Ambu?” Damar balas menanyakan keadaan keluarganya di Garut.
“Sehat, Jang. Gimana kuliah kamu? Tidak susah kan? Ambu mah yakin kamu pintar, jadi pasti kuliahnya tidak susah. Iya kan, Jang?” Di seberang sana terdengar sang ibu sangat yakin dan bersemangat. Membuat Damar hanya bisa mengiyakan ucapan ibunya tadi.
“Iya, Ambu. Tidak terlalu susah kok. Damar akan belajar giat, biar pintar dan membanggakan Ambu sama Bapak,” jawab Damar.
“Uang pemberian bapak sudah habis belum, Jang? Ambu mau kirim uang ke kamu tapi Ambu tidak ngerti harus kirim ke mana,” ungkap sang Ibu.
Sesuatu di dalam hati Damar seakan ingin menangis saat sang ibu berkata ingin mengirimkan uang padanya. Begitu kuat naluri sang ibu mengetahui jika Damar memang sedang mengalami kesulitan di Jakarta ini. Hatinya seakan memaksa Damar untuk menangis, tetapi di hadapan Farel tidak mungkin Damar menangis.
“Memangnya Ambu dan Bapak sedang ada uang? Jangan memaksakan, Ambu,” ujar Damar yang bersikeras tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya.
“Ada sedikit untuk kamu, Jang. Ambu sama Bapak tidak bisa kirim banyak karena Aruni baru saja bayar uang praktek di sekolahannya. Setidaknya bisa untuk kamu bayar kos di Jakarta,” ungkap sang Ibu.
Aruni adalah nama adik perempuan Damar yang saat ini duduk di kursi sekolah menengah atas. Damar masih memiliki satu orang adik lagi yang duduk di kursi sekolah menengah pertama bernama Sakti. Mengingat hal tersebut membuat Damar semakin tidak tega jika menerima uang yang akan diberikan oleh ibunya.
“Ambu, uangnya disimpan saja dulu. Kalau suatu saat Aruni dan Sakti butuh biaya untuk keperluan sekolah, Ambu ada uang untuk diberikan ke mereka.” Meski berat hati Damar harus menolak pemberian sang ibu.
“Yakin kami, Jang? Sudah, jangan nolak atuh. Kamu coba tanya teman kamu yang punya rekening tabungan, nanti Ambu kirim ke rekening teman kamu. Ambu nanti juga cari tetangga sini yang punya rekening untuk kirimnya. Kamu kuliah saja yang benar ya, Jang. Kabari Ambu secepatnya ya.” Sebagai seorang ibu mana tega ia membiarkan putranya mengalah di saat putranya itu dalam kesusahan di perantauan. Meski Damar tidak mengatakannya, tetapi naluri seorang ibu memberitahunya.
Damar tidak bisa membantah. Dia mengiyakan perintah sang ibu lalu mengakhiri perbincangan mereka. Setelah itu Damar menunjukkan raut wajah yang benar-benar kebingungan.
“Mar, ada apa?” tanya Farel yang masih berada di sebelah Damar.
“Tidak apa-apa kok.” Damar menggelengkan kepalanya.
Padahal Farel masih penasaran dan ingin mendengar kelanjutan dari kalimat Damar yang terpotong karena panggilan telepon yang masuk. Tetapi melihat wajah Damar yang langsung begitu suntuk membuat Farel terpaksa menahan segala rasa penasaran itu.
“Mar, beli makan yuk! Biar gue pulang nanti sudah kenyang. Tinggal tidur aja hehehe ….” Farel mengalihkan pembicaraan dan mengajak Damar membeli makan.
Damar mengangguk. Bahkan rasanya Damar sendiri tidak sanggup memberitahu Farel tentang detail pekerjaannya karena ia masih membutuhkan penghasilan dari pekerjaannya itu.
“Yuk, Mar! Ada yang jual nasi bebek di sekitar sini nggak sih?” tanya Farel.
“Saya kurang tahu juga,” jawab Damar.
“Kita cari saja yuk!” Farel bangkit berdiri.
Damar mendongakkan wajahnya menatap Farel. Kemudian pemuda itu ikut bangkit berdiri dan melangkah keluar bersama dengan Farel. Mungkin tidak hari ini Damar memberi tahu Farel, tetapi suatu saat Damar pasti akan memberitahukan semuanya pada temannya itu.
Di tempat lain, di kota Garut kampung halaman Damar, kini Pak Hadi dan Ibu Utari yang adalah kedua orang tua Damar tengah berbincang-bincang di teras depan rumahnya . Ibu Utari membawakan sepiring sukun kukus yang uapnya masih terlihat menari-nari serta secangkir kopi s**u untuk suaminya.
“Pak, Ambu khawatir sama Damar di Jakarta. Setiap hari dia makan apa? Biasanya kan kalau ada sukun kukus gini Damar selalu maju paling depan. Makan berdua sama Bapak.” Ibu Utari tampak sangat mengkhawatirkan putra sulungnya.
Pak Hadi mengambil sepotong sukun dari piring lalu langsung menggigitnya. Udara malam yang dingin di Garut membuat sukun yang baru saja matang itu tidak lagi terasa panas untuk langsung dimasukkan ke dalam mulut.
“Kalau Ambu tanya si Damar makan apa, ya Bapak tidak tahu. Damar kan tidak pernah bilang ke Bapak. Ambu jangan terlalu khawatir. Damar kan laki-laki, jadi percayakan saja kalau dia akan baik-baik saja di Jakarta,” jawab Pak Hadi atas pertanyaan sang istri barusan seraya mengunyah sukun kukus di mulutnya.
“Damar tidak akan terjerumus pergaulan bebas kan, Pak?” tanya Ibu Utari.
“Jangan aneh-aneh berpikirnya, Ambu. Damar anak baik-baik. Dia kuliah juga karena beasiswa. Mana berani dia macam-macam di Jakarta. Bisa-bisa beasiswanya dicabut!” Kedua alis Pak Hadi sampai saling bertautan menanggapi pertanyaan istrinya.
“Namanya juga kan orang tua, Pak. Wajar saja kalau Ambu khawatir. Di d**a tuh seperti ada yang mengganjal gitu, Pak. Otak Ambu juga kepikiran Damar terus. Tadi juga Ambu telepon Damar bilang mau kirim uang, Damar malah nolak. Gimana Ibu tidak makin kepikiran, Pak,” ungkap Ibu Utari.
Kali ini Pak Hadi mengangkat cangkir kopi dan membawanya mendekat ke bibirnya. Diseruputnya kopi s**u tersebut dengan pandangan yang dilempar ke depan. Pak Hadi jadi ikut memikirkan putra sulungnya tersebut di perantauan.
“Besok, biar Bapak yang telepon si Damar. Kita tetap harus kirimkan uang sama dia. Jangan sampai dia tidak bisa membayar sewa kost di Jakarta,” ujar Pak Hadi kemudian.
“Iya, Pak. Biar kita juga tidak kepikiran begini,” timpal istrinya.
Keesokan paginya sebelum Damar berangkat kuliah, Pak Hadi menyempatkan diri menghubungi putra sulungnya.
“Damar, bapak mau kirim uang untuk kamu. Ada temanmu yang bisa dititipkan tidak? Minta nomor rekeningnya. Kalau tidak ada nanti Bapak kirim lewat pos saja,” tanya Pak Hadi pada Damar.
Di kamar kosnya, Damar menjawab seraya mengisi ransel dengan buku-buku kuliahnya. “Tidak usah, Pak. Damar cari uang sendiri saja di sini.”
“Cari uang gimana? Kamu kan harus kuliah, Mar. Mana sempat kamu bekerja, Mar.”
“Bapak sama Ambu tidak perlu khawatir sama Damar ya. Damar bisa kerja sampingan kok. Damar sudah dapat uang, Pak. Bilang Ambu biar tidak khawatir ya, Pak.” Damar meyakinkan sang bapak.
“Hati-hati ya, Damar. Jangan sampai terjerumus pada pekerjaan yang menyesatkan. Meski butuh uang, tetapi tidak bisa semua dianggap halal,” pesan Pak Hadi pada putra sulungnya.
Sejenak Damar terbungkam oleh perkataan sang bapak. Gerakan tangannya juga terhenti karena hal tersebut. Namun, kemudian pemuda itu kembali meyakinkan bapaknya jika dia tidak akan terjerumus pada apapun yang menyesatkan.
“Damar mengerti, Pak. Jangan khawatir ya. Damar matikan teleponnya dulu ya, karena Damar sudah hampir telat,” pungkas Damar.
Pak Hadi pun tidak memaksa untuk tetap melanjutkan pembicaraan. Dia mengerti jika putranya memang harus berangkat kuliah. Pak Hadi mengakhiri teleponnya. Kepercayaan penuh sudah ia berikan pada Damar, dan Pak Hadi sangat yakin jika Damar akan selalu menjadi pemuda baik-baik yang mana nantinya juga sanggup mengangkat derajat kehidupan keluarganya.
Kemudian Damar pun tergesa keluar dari kamar dan mengunci pintu. Dia berlari keluar dari rumah kos untuk mempersingkat waktu. Kebetulan saat dia menghentikan kedua kakinya di tepi jalan, angkot yang melewati kampusnya juga terlihat berhenti di tepi jalan tersebut. Angkot itu memang sengaja berhenti di sana untuk menunggu kursinya terisi penuh.
“Empat enam empat enam empat enam!” seru supir angkot seraya melambaikan tangannya keluar jendela.
Damar serta beberapa orang yang sama-sama tergesa menaiki angkot dan memilih tempat duduk mereka. Damar memilih duduk di dekat pintu.
“Sudah penuh, Bang! Ayo jalan sekarang!” kata seorang wanita berpakaian rapi seperti orang kantoran.
“Oke, Neng! Berangkat …!” jawab supir angkot tersebut.
Sang supir menancapkan gas di kakinya dan melajukan angkot yang sudah terisi penuh. Dalam perjalanan notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Damar. Karena jarak ke kampusnya tidak terlalu jauh, maka Damar mengabaikan pesan masuk tersebut hingga angkot mengantarkannya hingga ke depan kampusnya. Setelah keluar dari angkot barulah Damar membaca pesan masuk tadi sambil tetap melangkahkan kakinya terburu-buru menuju kelasnya.
Aditya : [Nanti sore antar paket lagi ke Komplek Perumahan Angkasa. Jangan telat. Oke?]
Pesan tersebut ternyata dikirimkan oleh Aditya. Sontak langkah Damar yang sedang terburu berhenti seketika.
“Harus bagaimana ya ini? Kalau saya tolak, saya akan merepotkan Bapak dan Ambu. Tapi kalau saya terima saya belum yakin sebenarnya pekerjaan ini halal atau tidak,” gumam Damar kebingungan.
“Damar! Kenapa bengong?” sapa Farel yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Eh? Tidak bengong saya, Rel.” Damar memasukkan ponselnya dengan segera ke saku celana.
“Ya sudah yuk kita ke kelas bareng. Mata kuliah kita pagi ini sama, Mar,” kata Farel.
“I-iya. Ayo kita ke kelas bareng!” sahut Damar.
Damar dan Farel berlari menuju ke kelas. Tanpa mereka berdua sadari Aditya berada di belakang mereka, berjalan dengan pandangan mata melekat pada Damar. Senyum miring tersungging di wajah Aditya seolah merencanakan sesuatu untuk Damar.