RANTAU 10 - Menghapus Kecurigaan

1580 Words
“Damar! Makan siang yuk!” seru Farel mengajak Damar untuk makan siang. “Saya puasa dulu deh, Rel. Mau ngerjain tugas,” sahut Damar yang saat ini berjalan menuju ke halaman kampus yang ditumbuhi oleh rerumputan hijau. “Beneran puasa?” Farel merasa tidak yakin. “Tidak kok, hanya bercanda hehehe …,” jawab Damar terkekeh. “Ayo makan dulu, Mar. Temenin gue juga nggak apa-apa kok!” desak Farel. “Saya nemenin aja ya. Saya serius mau ngerjain tugas.” Damar menunjukkan buku berisi tugas yang harus ia selesaikan. “Ayo, Mar! Sekalian gue kenalin sama temennya cewek gue.” Farel pun menarik lengan Damar agar mengikutinya ke kantin. Damar bukan tidak memiliki uang untuk membeli makan siang. Tetapi dia merasa harus tetap berhemat meski sudah mendapat penghasilan dari pekerjaan sampingannya setelah bapaknya menelepon tadi pagi. Ponsel Damar tiba-tiba berbunyi. Damar menerima panggilan masuk di ponselnya sambil tetap berjalan mengikuti Farel. “Iya, Dit? Iya, Iya, nanti sore bisa. Iya ya sudah sampai ketemu nanti sore ya.” Setelah terlibat perbincangan singkat dengan Aditya panggilan pun berakhir. “Siapa, Mar?” tanya Farel. “Aditya,” jawab Damar singkat. “Kerja sampingan?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh Damar dengan sebuah anggukan kepala. “Lo belum cerita apa pekerjaan sampingan lo, Mar. Nggak mau cerita?” tanya Farel kemudian. Damar menepuk bahu Farel lalu menjawab, “Nanti akan saya ceritakan. Sekarang kamu makan siang saja dulu, saya mau mengerjakan tugas.” “Oke deh!” Farel setuju. Namun, di tempat lain Aditya memberitahu bosnya jika dia akan datang bersama dengan Damar seperti dua hari kemarin. “Siapkan saja barangnya dengan baik. Bungkus yang rapi, jangan sampai si Damar curiga. Kita harus bisa membuat Damar tetap bekerja dengan kita. Karena dia tidak akan mudah dicurigai. Walaupun harus tertangkap, maka dia adalah orang yang akan tertangkap terlebih dahulu,” kata Adit pada bosnya melalui telepon. Aditya kini berada di tempat yang sangat sepi di dalam area kampusnya agar tidak ada yang bisa menguping perbincangannya. Tempat di mana jarang sekali orang berlalu-lalang. “Lo yakin, Dit? Gue nggak mau aksi kita cepat tercium polisi. Masih banyak pelanggan yang butuh barang dari gue.” Pria yang menjadi bosnya Aditya dan Damar berusaha memastikan. Bukan dia merasa tidak yakin, tetapi dia hanya ingin waspada terhadap intaian polisi. “Jangan khawatir. Serahkan semua sama saya,” ujar Aditya meyakinkan bosnya. Kemudian setelah itu Aditya mengakhiri pembicaraan mereka. Mengakhiri panggilan telepon lalu melangkah pergi dari tempatnya. Saat sore tiba, Damar menemui Aditya di depan gerbang seperti biasa. Farel memperhatikan dari kejauhan. Ada yang mencurigakan dari sikap Damar dan Aditya baginya. Damar yang belum mengatakan apa pekerjaan sampingannya membuat Farel menjadi penasaran dan mulai menaruh curiga dengan pekerjaan sampingan Damar. Farel harus memastikan jika pekerjaan Damar bukanlah pekerjaan yang salah. “Mar, sudah siap? Kita ke tempat si bos sekarang,” tanya Aditya pada Damar. “Ayo, Dit,” jawab Damar. Raut wajah Damar yang mulai ragu dengan mudah terbaca oleh Aditya. Aditya menarik senyum di wajahnya. Dia sudah menyiapkan sesuatu yang akan membuat Damar tetap bekerja untuknya. “Ya sudah ayo naik!” perintah Aditya. Damar pun naik ke motor Aditya tanpa banyak bicara. Kemudian Aditya segera melajukan motornya pergi dari kampus. Tanpa sepengetahuan Aditya dan Damar, Farel menguntit mereka dari belakang. Sayangnya, Aditya melihat Farel mengikuti mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh saat pemuda itu melihat ke kaca spion. Oleh karena itu Aditya mempercepat laju motornya dan memutar jalan lain untuk mengelabui Farel. Laju motor Aditya begitu cepat sehingga Farel tidak bisa mengikutinya dan kehilangan jejak. “Kenapa kita lewat jalan yang beda?” tanya Damar yang menyadari hal tersebut. “Jalan-jalan sore aja biar nggak bosen, Mar,” alasan Aditya. “Nanti kita keburu telat loh,” ujar Damar yang memperhatikan langit sore yang warnanya semakin gelap. “Nggak kok, ini sudah mau sampai,” balas Aditya. Tidak sampai tiga ratus meter motor yang dikendarai Aditya masuk ke pemukiman warga yang tidak asing lagi bagi Damar. Motornya kemudian berhenti di tempat biasa Damar memulai pekerjaan sampingannya. “Kenapa baru pada datang?” tegur bos mereka. “Sorry, nanti saya yang ceritakan. Sekarang kasih saja barangnya ke Damar biar cepat diantar.” Aditya memberi kode dengan menaik-turunkan alisnya lalu menggerakkan bola matanya ke arah Damar pada pria tinggi besar yang menunggunya. Pria tersebut pun mengambil barang yang harus diantar oleh Damar yang masih ia letakkan di dalam. Kemudian diberikannya sebuah kotak tanpa dibungkus seperti biasanya. “Antar ke alamat ini.” Pria itu juga memberikan secarik kertas pada Damar bertuliskan alamat yang harus ia tuju. Damar memperhatikan kotak yang akan ia kirimkan. Kotak ponsel dengan merk yang tercetak jelas di sana. Masih rapi seperti masih baru. “Ini HP?” tanya Damar dengan lugu. “Iya. Awas hilang. Gue belum sempat bungkus, jadi alamatnya juga nggak gue tempel,” jawab pria tersebut. “Mar, lo boleh pakai motor gue. Jangan sampai lo telat,” ujar Aditya. Damar mengangguk. Saat ini seperti ada kelegaan di hati Damar saat melihat kotak ponsel yang akan dia antar. Damar pun segera memasukkannya ke dalam ransel. Kemudian dengan meminjam motor Aditya pemuda itu langsung pergi untuk mengantarkan barang tersebut. “Kayaknya dia sudah nggak curiga lagi sama kita,” celetuk Aditya. Pria bertubuh tinggi besar itu membawa tangannya bersedekap di depan dadanya sambil melempar pandangannya ke arah Damar pergi. “Selama dia masih bisa bekerja dengan benar, gue nggak masalah. Tapi kalau dia sudah mulai mengganggu, buang saja dia!” ucap pria tersebut dengan tegas. “Saya ngerti, Bos!” sahut Aditya. *** Damar sudah berada di dalam kamar kostnya. Setelah mengirimkan barang pada si penerima tadi, seperti biasa Damar mendapat uang tip dari si penerima sekaligus upah dari bosnya. Hanya dalam waktu beberapa hari saja uang untuk membayar kost bulan depan sudah terkumpul. Bahkan masih ada sedikit lebih yang bisa ia gunakan untuk makan atau ongkos. “Besok saya masih disuruh mengantar barang. Jadi besok juga masih bisa dapat uang. Saya harus berterima kasih pada Aditya karena sudah memberikan pekerjaan sampingan pada saya,” gumam Damar sambil melihat uang yang baru selesai ia hitung. Tok … tok … tok …. Seseorang mengetuk pintu kamar Damar dari luar. Damar pun refleks memasukkan uang di tangannya ke dalam ransel yang ada di dekatnya, lalu langsung mengizinkan Gibran masuk. “Masuk saja!” seru Damar dari dalam kamar. Saat pintu terbuka, Gibran yang baru saja pulang bekerja masuk ke kamar Damar dengan membawa sebuah kantung plastik hitam di tangannya. “Makan bareng yuk, Mar! Gue sudah beli ketoprak nih,” kata Gibran yang langsung meletakkan bokongnya di lantai. “Beli di mana kamu, Gib? Perasaan di sekitar sini tidak ada tukang ketoprak,” tanya Damar. “Di jalan pulang tadi. Perut gue lapar banget, Mar. Sudah yuk kita makan,” jawab Gibran. “Jadi ini saya dibeliin sama kamu, Gib?” Damar merasa tidak enak hati. “Ssstt … jangan berisik! Kita makan saja, jangan banyak tanya ya,” pungkas Gibran. Keduanya menyantap ketoprak yang dibelikan oleh Gibran bersama-sama. Tidak memerlukan piring, karena mereka menggunakan kertas pembungkus ketoprak tersebut sebagai pengganti piring yang diletakkan begitu saja di lantai. Sendok plastik putih juga sudah disediakan oleh si penjual ketoprak. Hidup sebagai anak kost memang harus praktis seperti itu. Ketoprak mereka sudah habis. Tetapi mereka lupa jika mereka berdua tidak memiliki air untuk diminum. “Gib, kita belum punya minum. Tunggu sebentar saya lari beli minum dulu ke warung,” kata Damar. Ia bangkit dan melangkahkan kakinya keluar kamar. “Iya cepetan ya, Mar!” seru Gibran. Tidak lama kemudian Damar kembali dengan membawa dua botol air mineral dingin. Diberikannya satu pada Gibran. Ditenggaknya dengan cepat air tersebut. “Aaahhh … lega, Mar,” kata Gibran. “Iya, Gib. Makasih ya makanannya.” Damar menepuk lengan teman satu kostnya itu. “Oh iya, Mar. Lo masih butuh kerjaan nggak?” Gibran bertanya. “Hmm … masih sih. Kenapa memang, Gib?” “Besok lo kuliah cuma sampai siang saja kan? Nah, besok kita butuh tambahan orang. Lo mau nggak?” Damar terdiam sejenak. Besok pun dia harus mengantar barang seperti biasanya. Upah yang diterimanya juga lumayan besar. Terasa sayang jika Damar harus melepaskan pekerjaan tersebut. “Hmm … gimana ya, Gib?” Damar menunjukkan kebingungannya. “Kok bingung gitu? Lo nggak bisa ya?” tanya Gibran. “Iya, Gib. Kalau besok saya nggak bisa. Saya sudah ada janji dengan yang lain,” jawab Damar. “Yah, sayang banget. Ya sudah kalau nggak bisa. Lain waktu lagi saja ya.” “Iya, Gib.” Damar takut melepaskan pekerjaan dari Aditya karena upah yang ia terima cukuplah besar. Keraguannya terhadap pekerjaan yang diberikan oleh Aditya perlahan lenyap hanya karena kotak ponsel yang ia kirimkan tadi sore. Entah karena keluguan dalam dirinya yang membuatnya menjadi yakin dengan pekerjaan sampingannya, atau karena kebutuhan hidup yang memaksa dirinya untuk meyakini pekerjaannya? *** Aditya tampak berlari menyusuri gang-gang sempit tanpa mau menolehkan kepalanya ke belakang. Dia seperti sedang menghindari kejaran seseorang. Memilih gang sempit agar tidak tertangkap. Kemudian dia menemukan tempat persembunyian. Seorang pria mengenakan jaket kulit hitam sedikit kesusahan mengejar Aditya. Tubuh pria tersebut sedikit besar, sehingga gerakannya tidak selincah Aditya. Pria itu kehilangan jejak Aditya. Sempat untuk beberapa detik pria itu menghentikan langkahnya tepat di dekat tempat persembunyian Aditya. Namun, kemudian pria tersebut kembali berlari berharap bisa menangkap Aditya di suatu tempat. Dengan nafas tersengal-sengal Aditya keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan pria yang mengejarnya. Sebenarnya siapa pria yang mengejar Aditya tadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD