Sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponsel Damar. Namun, saat itu Damar tengah duduk di atas sajadahnya dengan menengadahkan kedua tangannya. Kepalanya menunduk dan bibirnya melantunkan doa dengan khusyuk.
Walaupun Damar sudah tinggal di kota besar, tetapi ia selalu mengingat pesan kedua orang tuanya untuk tidak pernah melupakan Tuhannya. Jangan pernah melupakan sholat lima waktu meski kesibukan sangat menggunung.
Damar akui, beberapa hari ia sempat melalaikan sholat karena mencemaskan kehidupannya di Jakarta. Kekurangan uang justru membuatnya jauh dari Tuhan, karena ia sibuk mencari jalan keluar sendiri tanpa melibatkan Tuhannya.
Setelah menyelesaikan sholat subuh dan juga doa-doanya, Damar bangkit berdiri sambil melipat sajadahnya. Dengan kain sarung yang masih ia kenakan Damar duduk di sisi kasur dan mengambil ponsel yang tergeletak di sana. Damar membuka pesan masuk yang ternyata dari Aditya.
Aditya : [Gue nggak bisa datang hari ini karena ada urusan mendadak. Nanti lo datang sendiri ke tempat biasa. Jangan telat! Oke?]
“Adit tidak datang ya? Jadi nanti saya sendirian saja ke sana? Ada urusan apa ya si Adit?” Timbul banyak pertanyaan dalam benak Damar.
Namun, Damar kemudian tidak mau terlalu memikirkannya. Dia mengganti pakaiannya lalu keluar dari kamar untuk membeli beras dan juga makanan untuk sarapan. Magic jar yang diberikan oleh Gibran belum pernah ia gunakan sama sekali. Jadi, dia ingin mencobanya hari ini.
“Mau kemana lo, Mar?” Dari arah belakang Gibran menghampirinya saat ingin keluar dari pintu gerbang kostnya.
Damar menoleh. “Eh kamu, Gib! Saya mau beli beras sama nasi uduk,” jawabnya.
“Bareng kalau gitu! Gue juga mau beli nasi uduk. Lapar nih hehehe …,” kekeh Gibran.
Sesampainya mereka di tukang nasi uduk yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan dengan sebuah meja, Damar dan Gibran ikut berbaris dalam antrian ibu-ibu berdaster yang juga ingin membeli nasi uduk sama seperti mereka.
“Rame pisan euy!” celetuk Damar.
“Pasti, Mar. Ini hari Sabtu, weekend, banyak yang libur kerja suami-suami mereka. Jadi biar praktis mereka beli nasi uduk saja untuk sarapan. Masaknya nanti-nanti saja kalau sudah agak siang.” Gibran berbisik pada Damar agar tidak terdengar oleh para ibu-ibu di depan mereka.
“Beda sama di kampung, Gib. Sarapan andalan ambu saya di kampung itu sukun di kukus. Selesai subuhan bisa tinggal makan hehehe …,” balas Damar.
Antrian kedua pemuda itu sudah sampai barisan paling depan. Si penjual nasi uduk menanyakan pesanan mereka. “Mas ganteng mau beli nasi uduk berapa bungkus?”
“Dua, Bu,” jawab Damar.
“Pakai telur sama sambal nggak?”
“Boleh pakai, Bu.” Kali ini Gibran yang menjawab.
Dibungkusnya dua porsi nasi uduk untuk Damar dan Gibran. Karena paras kedua pemuda itu terbilang cukup mempesona, maka si ibu penjual nasi uduk tersebut memberikan potongan harga untuk keduanya.
“Ini jadi sepuluh ribu berdua,” kata penjual nasi uduk tersebut seraya memberikan pesanan Damar dan Gibran di dalam satu kantong plastik putih.
“Beneran ini cuma sepuluh ribu?” tanya Damar yang masih tidak percaya mendapat harga murah untuk dua porsi nasi uduk.
“Beneran, Mas ganteng. Tinggalin saja nomor HP biar bisa saja kasih ke anak saya. Mau loh saya dapat mantu cowok ganteng kayak kalian berdua ini hehehe ….” Si penjual nasi uduk tadi terkekeh menggoda Damar dan Gibran.
Damar melihat sebuah pulpen di atas meja tempat dagang nasi uduk tersebut. Diambilnya pulpen tersebut lalu diambil selembar kertas pembungkus nasi. Dituliskan nomor ponsel di kertas pembungkus nasi tersebut.
“Simpan baik-baik ya, Bu! Saya permisi. Makasih nasi uduknya,” kata Damar seraya menarik tangan Gibran untuk pergi dari sana.
Gibran tersenyum lebar mata memincing ke arah Damar. Gibran juga kemudian berdehem menggoda Damar. “Ehem … ehem …!”
“Batuk kamu, Gib?” tanya Damar.
“Gue kira lo nggak ada niatan mau pacaran dulu, Mar. Ibu yang jual nasi uduk tadi nyari mantu loh, Mar. Serius lo mau jadi mantu dia? Ingat beasiswa lo, Mar,” ucap Gibran meledek Damar dengan alih-alih menasihatinya.
“Maksud kamu apa sih, Gib?” Damar mengernyitkan dahinya.
“Itu tadi, lo kasih nomor HP lo buat dikasih ke anaknya. Dia bilang kan mau punya mantu kayak lo,” jawab Gibran.
“Oh itu? Hahaha ….” Damar tertawa. “Itu mah tadi saya kasih nomor HP kamu hahaha …,” sambungnya.
Raut wajah Gibran berubah dalam sekejap. “Apaan lo bilang, Mar? Jadi tadi lo kasih ….”
“Iya, nomor kamu hahaha …!” Damar menyambung kalimat Gibran yang terputus.
Kedua pemuda itu kemudian saling berkejaran hingga ke kost mereka. Damar tertawa terpingkal, sedangkan Gibran berusaha mencubit Damar karena sudah dikerjai olehnya.
“Gue balas nanti lo ya, Mar!” serunya seraya membuka nasi uduk yang dibelinya tadi.
“Iya, coba balas saya. Nanti saya balas lagi hehehe …,” tantang Damar.
Keduanya menghabiskan nasi uduk mereka dengan cepat. Setelah itu Gibran kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu karena perutnya yang lapar. Sementara itu Damar bersiap berangkat ke kampus.
Karena ini adalah hari Sabtu, maka kuliah Damar hanya sampai pukul dua belas siang. Kebetulan kelas yang akan ia hadiri berbeda dengan Farel kali ini. Jadi, sejak datang ke kampus Damar belum bertemu dengan Farel sama sekali.
Damar belajar dengan sangat serius di dalam kelas. Mencatat hal-hal penting yang diucapkan oleh dosen yang mengajar saat itu. Begitu seterusnya hingga berganti mata kuliah selanjutnya, bahkan hingga jam kuliahnya berakhir.
Damar ingat jika dia harus datang ke tempat biasa untuk mengantarkan barang-barang seperti biasanya. Dengan berjalan kaki Damar pun tiba di rumah yang seperti gudang untuk bertemu dengan bosnya.
“Permisi!” seru Damar.
Tiba-tiba pria berbadan kurus tinggi dengan rambut gondrong sedikit acak-acakan keluar dari dalam rumah tersebut. Membawa dua buah kotak yang harus Damar antar ke alamat berbeda.
“Cepat masukin ke dalam ransel lo! Trus antar ke alamat ini. Isinya sama saja, jadi nggak akan tertukar,” perintah pria gondrong itu pada Damar. Selembar kertas bertuliskan dua alamat berbeda juga diberikan pada Damar.
Meski sedikit bingung Damar tetap menganggukkan kepalanya dan menerima kotak-kotak tersebut. Dimasukkan keduanya ke dalam ransel yang digunakannya.
“Ini bayaran lo. Nggak perlu balik ke sini. Besok juga nggak perlu datang. Sudah sana cepat antar itu!” Pria gondrong itu terkesan mengusir Damar dari sana setelah memberikan sebuah amplop berisi uang pada Damar.
Damar mengernyit heran, tetapi ia tetap mengantarkan barang tersebut dengan kedua kakinya. Bergonta-ganti angkot mencari alamat yang harus ditujunya.
Pada pengantaran pertama Damar diminta untuk meletakkan barang yang diantarnya di teras rumah saja. Kemudian pengantaran kedua Damar bertemu dengan seorang wanita berambut panjang dan memiliki tato kupu-kupu di punggung sebelah kirinya. Damar bisa melihatnya dengan jelas karena wanita itu mengenakan tanktop saat menerima barang yang diberikan oleh Damar dan berbalik masuk ke rumahnya.
Pengantarannya sudah selesai. Hari sudah petang. Damar mampir terlebih dahulu di masjid yang ada di sekitar wilayah pengantarannya yang kedua. Dia harus segera menunaikan sholat ashar sebelum magrib tiba. Setelah selesai, Damar bergegas pulang. Dengan menggunakan angkot bisa diperkirakan Damar akan sampai dalam waktu lebih dari tiga puluh menit ke rumah kostnya.
***
Di tempat lain, kebutuhan mendadak tiba-tiba menghampiri keluarga Pak Hadi dan Ibu Utari, orang tua Damar. Hasil panen mereka gagal karena hama. Mereka tidak bisa menjual hasil panen yang gagal sehingga mereka tidak bisa mendapatkan uang.
“Gimana atuh, Pak? Persedian uang kita juga sudah menipis. Belum lagi Aruni dan Sakti masih harus bayar sekolah. Kita tidak bisa pinjam pada siapa gitu untuk beli bibit unggul dan pupuk, Pak?” Ibu Utari terlihat sangat cemas sekaligus kecewa.
Pak Hadi belum menjawab pertanyaan sang istri. Dia mengangkat cangkir dan menyeruput kopi yang tersisa setengah. Dia harus memutar otak agar tetap bisa mendapat pemasukan.
“Pak, gimana? Ambu bingung ini, Pak.” Ibu Utari kesal karena suaminya hanya bungkam.
Kemudian Pak Hadi angkat bicara. “Nanti coba Bapak minta pendapat Damar dulu ya, Bu. Siapa tahu dia bisa kasih solusi untuk kita. Apa kita harus pinjam sana-sini atau bagaimana.”
“Ya sudah atuh buru di telepon si Damar. Ibu mau cuci piring di dapur dulu,” kata Ibu Utari melangkahkan kakinya pergi.
Diselimuti rasa terpaksa Pak Hadi menghubungi putra sulungnya. Dia berharap putra sulungnya itu bisa memberi solusi terbaik baginya.
“Halo, Damar. Kamu lagi apa?” Pak Hadi ingin sedikit berbasa-basi terlebih dulu.
“Damar baru saja sampai kost, Pak. Ada apa, Pak?” Damar menanyakan keperluan sang bapak.
“Begini, Mar. Panen kita gagal karena hama. Ambu kamu jadi uring-uringan karena kita tidak dapat pemasukan. Ibu menyuruh Bapak untuk pinjam uang biar kita bisa beli bibit unggul dan pupuk. Menurut kamu gimana, Mar?” Pak Hadi berharap Damar bisa memberikan pendapat dan solusi terbaik untuk masalah ini.
“Berapa ya harga bibit unggul dan pupuk, Pak?”
“Untuk sawah kita Bapak butuh satu juta. Menurut kamu apa perlu Bapak pinjam ke orang, Mar?” tanya Pak Hadi.
“Satu juta ya, Pak? Hmm … bapak bisa buat rekening tabungan tidak? Damar akan kirim uang setengahnya untuk Bapak. Sisanya minggu depan ya Damar kirim.”
Ucapan Damar membuat Pak Hadi tergugu dan tak bisa membalas ucapannya. Langsung timbul banyak tanda tanya dalam benak Pak Hadi dari mana Damar mendapatkan uang sebanyak itu. Namun, kemudian Damar memberitahu Pak Hadi tentang pekerjaan sampingannya.
“Damar sudah dapat kerja sampingan, Pak. Lumayan bayarannya. Damar bisa kumpulkan setiap hari, jadi Damar bisa bantu Bapak dan Ambu. Hari senin Damar akan sempatkan waktu membuka tabungan, Bapak juga ya. Nanti Damar transfer uangnya ke Bapak ya,” ungkap Damar.
“Ini serius, Mar? Kenapa jadi kamu yang transfer uang ke Bapak?” Pak Hadi masih belum percaya jika bantuan untuknya datang dari putra sulungnya sendiri.
Di kamar kostnya Damar membaringkan tubuhnya sambil meyakinkan sang bapak jika dia benar-benar akan mentransfer uang demi membantu bapaknya. “Benar, Pak. Bapak buka rekening tabungan saja hari Senin nanti. Damar juga buka rekening di Jakarta. Kasih tahu Damar nomor rekening Bapak nanti ya.”
“Bapak berterima kasih sama kamu ya, Mar. Bapak jadi merepotkan kamu. Nanti Bapak akan ganti uang kamu,” kata Pak Hadi tak enak hati.
Damar menolak. Damar sendiri juga ingin membuktikan jika dia adalah anak yang berbakti pada kedua orang tuanya dengan membantu mereka di saat mereka sedang mengalami kesusahan. Namun, dari sini awal di mana nantinya Damar akan menjadi tumpuan keluarga dan membuat Damar semakin bekerja keras di Jakarta.
Setelah panggilan telepon berakhir, Damar bangkit dan mengambil amplop yang ia terima sebagai bayarannya tadi. Damar belum sempat mengintipnya sama sekali. Saat amplop tersebut disobek oleh Damar, betapa terkejutnya Damar hingga kedua matanya terbelalak karena jumlah uang yang diterimanya.
“Seriusan sebanyak ini? Orang tadi nggak salah kasih kan?” Damar bertanya-tanya.
Dihitung jumlah uang dari amplop tersebut beserta uang tip yang diterimanya dari wanita bertato kupu-kupu. Totalnya mencapai enam ratus ribu rupiah.
“Kalau digabungkan dengan uang yang sebelumnya, hari Senin nanti sudah cukup untuk transfer Bapak di kampung,” gumamnya senang.
Damar semakin bergantung dengan pekerjaannya saat ini tanpa mencari tahu kembali resiko yang akan dia terima. Saat ini yang ada dalam benak Damar adalah dengan pekerjaan yang ia jalani saat ini dia bisa mengumpulkan uang sehingga bisa membiayai hidupnya dan juga memberikannya pada orang tuanya di kampung.
Sampai kapankah Damar akan menjalani pekerjaan ini? Pekerjaan yang sampai saat ini ia belum ketahui dengan pasti barang apa yang ia kirim.