Sudah beberapa hari berlalu, tetapi batang hidung Aditya belum juga terlihat. Sempat Damar bertanya-tanya kenapa temannya yang satu itu tak kunjung datang ke kampus. Namun, karena sesekali Aditya masih mengirimkan pesan singkat pada Damar untuk datang ke tempat biasa maka Damar tidak terlalu mengkhawatirkan temannya itu, hanya saja Damar sedikit penasaran alasan Aditya tidak hadir selama beberapa hari ini.
Saat ini Damar tengah berbaring di halaman rumput yang ada di kampusnya dengan sebuah buku yang menutupi wajahnya. Damar ingin beristirahat sejenak sambil menunggu mata kuliah selanjutnya dimulai.
“Kok tidur di sini? Hati-hati bablas.” Suara Farel membuat Damar menyingkirkan buku yang ada di atas wajahnya.
“Kamu mau ikutan tidur? Ya ayo atuh kalau mau tidur juga,” balas Damar.
“Lo saja yang tidur, nanti gue bangunin kalau kelas sudah mau mulai. Lo pasti capek belajar mulu,” ucap Farel.
“Iya, tolong bangunkan saya ya. Makasih loh, Rel.” Damar menutupi wajahnya lagi dengan buku.
Namun, sekitar lima menit kemudian Farel kembali mengusik tidur Damar. Baru terlintas lagi dalam benak Farel rasa penasaran yang belum terjawab selama ini.
“Mar, sudah tidur belum? Gue mau tanya deh.” Farel mengguncang pelan lengan Damar.
Damar pun menyingkirkan lagi buku yang menutupi wajahnya lalu mengerling tajam pada temannya itu.
“Saya baru mau masuk ke alam mimpi tetapi kamu sudah membangunkan saya lagi,” katanya dengan wajah merengut.
“Sorry ya hehehe …,” kekeh Farel. “Tapi gue masih penasaran,” tambahnya.
“Penasaran apa?” Damar bangkit dari posisi berbaringnya, duduk dengan kedua kaki bersila di hadapan Farel.
“Penasaran sama pekerjaan sampingan lo itu apa. Karena lo belum jadi cerita ke gue,” jawab Farel.
Damar menimbang-nimbang sejenak sebelum memberitahu Farel tentang pekerjaannya. Tetapi kemudian Damar pun memutuskan untuk mengatakan semuanya, karena Farel adalah orang terdekatnya dan baginya pekerjaannya tidak membahayakan.
“Saya dapat kerja sampingan dari Aditya itu mengantar barang, Rel. Dibayar kalau antar barang saja bukan kayak digaji bulanan,” tutur Damar.
“Oh, kurir maksud lo?” Farel memperjelas.
“Iya, kurir,” angguk Damar.
“Biasa antar barang apa?” Farel lanjut bertanya.
Namun, Damar menjawabnya dengan mengendikkan bahunya. Karena memang sampai sekarang dia belum tahu dengan pasti barang apa yang diantarkan olehnya.
“Saya tidak tahu. Pernah bawa HP, pernah juga bawa obat China. Setahu saya juga Aditya kerja di toko obat China, makanya saya tanya kerja sampingan sama dia,” jawab Damar apa adanya.
Dahi Farel mengernyit mendengar jawaban Damar. Perasaannya mengatakan ada hal yang janggal dari pekerjaan yang dijalani oleh Damar.
“Obat China? Tapi antar HP juga? Lo yakin kerjaan lo antar obat China dan HP? Lo sudah cari tahu benar-benar kan?” Farel memberondong Damar dengan berbagai pertanyaan.
Damar ikut mengernyitkan dahinya. “Maksudnya gimana, Rel?”
“Mar, lo itu pintar. Lo nggak bodoh. Lo nggak curiga barang apa yang lo antar. Jangan sampai terjebak, Mar.” Farel seakan gemas dengan Damar. Gemas karena keluguan Damar yang bisa menjerumuskannya.
“Tetapi gue butuh uangnya. Awalnya gue sempat curiga, tetapi saat mereka kasih kotak HP untuk dikirim gue jadi sedikit tenang. Seenggaknya itu barang elektronik yang gue kirim.” Damar mengungkapkan hal berusaha mengusir keraguan dalam hatinya lagi. Damar harus yakin jika pekerjaannya halal, dan barang yang dikirimnya bukanlah barang yang akan menjerumuskannya.
Namun, Farel tidak semudah itu mengubah rasa curiganya dengan menganggap pekerjaan Damar tidaklah membahayakan.
“Sorry ya, Mar, gue mau tanya lo dibayar berapa sih dari antar barang itu?” tanya Farel.
“Lumayan besar, Rel. Belum genap satu minggu saja saya sudah bisa transfer uang ke kampung untuk bapak beli bibit dan pupuk. Makanya saya bilang tadi saya butuh uangnya, Rel,” jawab Damar.
“Dalam satu minggu saja?” Farel menatap Damar dengan mata memincing. “Lo benar-benar harus waspada, Damar! Jangan buat kepintaran lo itu sia-sia hanya karena uang! Lo harus cari tahu kerjaan lo sekarang sebelum lo menyesal belakangan,” sambungnya.
“Tapi ….”
“Please deh, Mar. Sayang beasiswa lo kalau sampai terjerumus ke hal berbahaya!” Farel memotong ucapan Damar.
Notifikasi ponsel Damar berbunyi. Damar pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Aditya mengirimkan pesan singkat kepadanya lagi. Meminta Damar untuk datang ke tempat biasa.
“Siapa, Mar?” tanya Farel penasaran.
“Aditya,” jawab Damar cepat.
“Bilang apa dia?” Farel mendadak menjadi teman yang sangat posesif pada Damar karena kecurigaan terhadap pekerjaan sampingannya.
Damar menjawab, “Dia minta saya datang untuk antar barang lagi.”
“Gue ikut!” pinta Farel dengan tegas.
“Kamu tidak boleh ikut, karena sebenarnya saya juga tidak boleh bilang-bilang tentang pekerjaan saya.” Damar tidak memberikan izin.
“Nggak boleh bilang-bilang? Tuh kan, Mar! Kerjaan lo itu sudah tidak beres. Keluar dari kerjaan lo, Mar. Jangan sampai lo menyesal!” Farel menatap Damar dengan tajam dan sangat serius.
Damar menjadi sangat bingung harus menuruti Farel atau tetap datang menuruti Adit demi bisa mendapatkan uang. Perbincangan dengan Farel tadi membuat Damar perlahan menyadari jika pekerjaan yang ia jalani sekarang mungkin memang benar-benar berbahaya. Beasiswa prestasinya menjadi taruhan. Akan tetapi mengingat lagi upah yang akan ia terima setelah mengantarkan barang nanti bisa ia tabung dan juga memenuhi kebutuhan hidupnya membuat Damar mengesampingkan hal-hal yang membuatnya tersadar tadi.
“Saya masih butuh uangnya untuk tambahan biaya hidup, juga untuk bayar hutang saya ke kamu,” ucap Damar seraya membalas tatapan Farel berharap temannya itu mau mengerti.
“Lo bakal nyesel, Damar! Gue bisa bantu lo cari pekerjaan lain kok!” Farel bersikeras mendesak Damar agar meninggalkan pekerjaannya.
Namun, Damar tetap tidak mau mendengarnya. Apa yang dibutuhkan oleh Damar saat ini adalah uang, dan penghasilan yang didapat oleh Damar dari pekerjaannya saat ini cukup besar sehingga membuatnya berat untuk melepaskannya.
Keesokan harinya, karena Damar tidak mau mendengarkan Farel sama sekali, maka Farel pun menunjukkan kekecewaannya pada Damar. Farel mengabaikannya dan tidak ingin menyapanya saat mereka berpapasan. Damar memilih untuk membiarkan Farel untuk beberapa saat hingga Damar mampu memberikan pengertian lagi padanya.
Kemudian Damar mendatangi kamar Gibran, menceritakan masalahnya dengan Farel, meminta nasihat dari pria yang beberapa tahun lebih tua dari Damar tersebut.
“Lo berantem sama teman lo gara-gara lo nggak mau dengar apa yang dia katakan?” tanya Gibran.
Damar menganggukkan kepalanya mengiyakan. Memang itulah inti masalahnya menurut Damar.
“Kalau gue jadi dia juga gue akan milih menjauhi lo sampai lo benar-benar sadar kalau lo sudah salah,” celetuk Gibran.
“Kenapa begitu?” Damar mengernyitkan dahinya.
“Pekerjaan kurir yang nggak boleh lo ceritakan ke siapa-siapa itu sudah pasti pekerjaan nggak beres, Damar. Teman lo si Farel itu benar, tapi lo yang pura-pura bodoh,” jawab Gibran yang ikut kesal dengan Damar.
“Tapi kan saya butuh uangnya, Gib!” tegas Damar.
“Gue tahu lo butuh banget uang untuk menyambung hidup di Jakarta ini. Tetapi ya jangan sampai lo salah pilih pekerjaan aja, Mar. Sebesar apapun bayaran yang lo terima kalau misalnya itu pekerjaan nggak beres apalagi haram, nggak akan berkah untuk hidup lo, Mar!” Gibran berusaha menasihati Damar lagi.
Kali ini Damar memilih bungkam. Dia sudah benar-benar sadar jika pekerjaan yang saat ini ia jalani bukanlah pekerjaan yang baik. Namun, lagi-lagi kebutuhannya akan uang membuatnya mengesampingkan kembali hal tersebut.
“Ya sudah saya balik ke kamar saja ya, Gib,” kata Damar seraya bangkit dan melangkahkan kakinya mendekat ke pintu.
“Pikir baik-baik ya, Mar. Teman lo itu benar, dia hanya nggak mau lo sampai terjerumus ke pekerjaan penuh resiko sampai kehilangan beasiswa lo nanti. Lo cari kerjaan lain saja. Gue juga akan tanya-tanya teman gue, siapa tahu mereka ada info lowongan kerja buat lo.” Sama halnya dengan Farel, Gibran juga bersedia membantu Damar untuk mencari pekerjaan baru.
“Nanti kita obrolin lagi,” balas Damar seraya meninggalkan kamar Gibran.
Sesampainya Damar di kamarnya sendiri, dia langsung mengambil ponsel yang ia letakkan di bawah bantal. Niat awal dia ingin menghubungi Farel untuk mencoba memberi pengertian pada temannya itu, tetapi saat melihat layar ponselnya tampak sebuah pesan masuk dari bapaknya.
Bapak : [Mar, atas rumah kita sudah banyak yang bocor. Sudah masuk musim hujan begini harus cepat-cepat dibenerin. Ambu sampai kepleset karena lantai basah dari tetesan air, Mar.]
Damar menghela nafas panjang. Bagaimana bisa ia meninggalkan pekerjaannya saat ini jika kedua orang tuanya saja masih sangat membutuhkan bantuannya.
“Susah rasanya meninggalkan pekerjaan ini. Sebaiknya saya pastikan saja kalau pekerjaan saya tidak berbahaya seperti yang Farel dan Gibran katakan,” katanya sambil terus menatap pesan singkat dari bapaknya di layar ponsel.
Rasanya semakin Damar mulai tersadar jika pekerjaanya berbahaya semakin banyak pula hal yang membuatnya semakin bergantung pada pekerjaannya tersebut, sampai-sampai Damar kembali memilih untuk menutup mata dengan kemungkinan resiko dari pekerjaannya.