Damar berlari kecil melewati gerbang kampus karena melihat sosok Farel yang sedang berjalan sedikit jauh di depannya. Damar merasa harus memperbaiki hubungan pertemanan mereka agar tidak seperti saat ini lagi. Damar juga ingin memberikan pengertian pada Farel tentang pekerjaan yang digelutinya saat ini.
“Farel!” seru Damar agar Farel menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya.
Namun, saat Farel berhenti dan menoleh sesuai keinginan Damar justru sosok Damar yang menghilang secara tiba-tiba. Farel sampai mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari orang yang memanggilnya barusan. Karena tidak menemukan siapa yang memanggil, dan juga tidak satu pun orang yang menghampirinya maka Farel kembali melanjutkan langkah kakinya.
Ternyata Damar ditarik oleh Aditya dan membawanya bersembunyi di balik gedung yang ada di dekatnya, sehingga Farel tidak bisa melihat mereka.
“Hai, Mar! Apa kabar?” Aditya tersenyum menepuk bahu Damar.
“Kamu yang apa kabar, Dit? Kenapa kamu tidak masuk-masuk kuliah? Sakit?” tanya Damar.
Aditya menggeleng. “Nggak sakit kok. Hanya ada sedikit urusan saja,” jawabnya.
“Urusan apa sampai tidak masuk kuliah berminggu-minggu?” Damar penasaran.
Aditya hanya tersenyum simpul kemudian menjawab, “Belum waktunya lo tahu. Nanti saja kalau sudah waktunya.”
Kemudian Aditya dan Damar berjalan bersama-sama menuju kelas yang harus mereka hadiri pagi ini. Sesekali Damar menolehkan kepalanya ke arah Aditya. Rasa penasaran Damar seolah sudah tidak bisa ditampung oleh dirinya lagi. Damar harus memastikan jika pekerjaannya tidaklah membahayakan dan tidak akan beresiko bagi beasiswanya. Karena Damar memang membutuhkan pekerjaan ini.
“Ada apa lo ngelirik ke gue terus? Ada yang mau lo tanyain?” tanya Aditya yang menyadari hal tersebut.
“Ada sebenarnya, tetapi saya belum yakin kamu mau menjawabnya jujur atau tidak,” jawab Damar.
“Kalau memang ada yang mau ditanya, silahkan ditanyakan saja. Gue jawab jujur deh,” kata Aditya mempersilahkan.
Damar menghentikan langkah kakinya lalu menarik lengan Aditya agar ikut berhenti. Damar menatap Aditya serius, berharap pemuda itu memberikan jawaban yang mampu melegakan hati Damar.
“Jawab saya dengan jujur. Sebenarnya pekerjaan kita ini halal atau tidak?” Damar mulai menginterogasi Aditya.
Aditya tersenyum remeh mendengar pertanyaan Damar barusan. Aditya pun menjawab, “Kan lo sudah pernah nanya itu, Mar! Masa gue harus jawab lagi. Pekerjaan jadi kurir itu -"
"Barang yang gue kirim bukan barang haram atau terlarang kan?" Damar memotong ucapan Aditya dan memperjelas lagi apa yang ia maksud.
"Menurut lo sendiri gimana, Mar? Lo belum pernah intip isi dari paket yang lo kirim?" Aditya malah membalikkan pertanyaan Damar.
Damar menggelengkan kepalanya. "Saya tidak mungkin sembarangan membuka paket orang lain hanya karena saya penasaran ingin tahu isi di dalam paket itu."
"Kalau begitu, itu salah lo sendiri karena nggak cari tahu." Aditya malah menyalahkan Damar. "Lo butuh uang kan? Sudah deh nggak perlu mikir macam-macam. Tugas lo cuma antar barang seperti biasanya. Di mana lagi lo bisa dapat upah sebesar itu dalam satu hari?" Selanjutnya Aditya seperti mencuci otak Damar agar tidak lagi mencurigai pekerjaannya.
"Tapi nggak tahu kenapa saya mulai merasa cemas. Saya memang butuh uang, dan pekerjaan ini mampu menghasilkan uang untuk saya. Tetapi tetap saja saya merasa nggak tenang, Dit," ungkap Damar.
"Sekarang terserah lo saja masih mau lanjut atau nggak. Tapi setahu gue bos kita nggak akan ngebiarin kita keluar deh. Jadi, kerja saja yang benar ya." Aditya menepuk bahu Damar dan menunjukkan senyum licik di wajahnya. Kemudian setelah itu Aditya melangkahkan kakinya meninggalkan Damar.
Kini, Damar benar-benar dilanda kebingungan. Dia butuh uang, tetapi kecemasan juga menyelimuti dirinya.
"Saya harus bagaimana ini? Mana bapak dan ambu sangat membutuhkan saya. Saya harus bagaimana ini?" Digaruk kepala bagian belakang Damar karena terlalu bingung menemukan jawaban untuk dirinya sendiri.
Saat Damar tiba di kelas dia melihat Farel duduk di kursi tengah, sementara Aditya duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Inginnya Damar menghampiri Farel dan menjelaskan semuanya, tetapi hal tersebut sangatlah tidak mungkin karena Aditya ada di dalam kelas tersebut dan pastinya akan mengawasi Damar. Oleh karena hal itu Damar memilih duduk di kursi yang dekat dengan pintu.
Tak lama kemudian dosen memasuki ruang kelas lalu memberikan kuliah pada seluruh mahasiswa yang sudah menunggu di kelas tersebut. Damar berusaha fokus menerima kuliah yang disampaikan oleh sang dosen. Jangan sampai kecemasan terhadap pekerjaannya mengganggu konsentrasi belajarnya dan menyebabkan ia mendapatkan nilai yang buruk.
Kelas berjalan lancar hingga waktunya habis. Dosen memberikan salam lalu keluar dari ruang kelas tersebut.
Damar dengan cepat memasukkan buku-bukunya ke dalam ransel. Ia ingin menghampiri Farel dan mengajaknya ke kantin bersama-sama. Namun, tidak disangka saat Damar hendak menghampiri Farel, dia melihat Farel sudah berada di hadapan Aditya.
"Ada yang mau gue omongin sama lo," kata Farel pada Damar.
"Ya sudah ngomong saja!" ketus Aditya.
"Kita ngobrol di luar saja. Karena gue yakin lo nggak mau ada yang mendengar tentang hal yang mau gue omongin ini," pinta Farel, membuat dahi Aditya mengernyit bingung.
Pandangan Aditya kemudian dilempar pada Damar yang berdiri di samping meja yang tadi ditempatinya.
"Cih! Si anak kampung itu pasti sudah ngomong macam-macam sama lo kan?" Sorot mata Aditya berpindah pada Farel.
"Nggak usah banyak tanya sekarang. Ayo kita ngobrol di luar!" tegas Farel memaksa Aditya untuk ikut keluar bersamanya.
Sekali lagi Aditya melemparkan pandangannya sinis ke arah Damar, barulah kemudian pemuda itu bangkit dari kursi dan mengikuti ke mana Farel membawanya pergi.
Damar tidak tinggal diam. Dia juga mengikuti kedua pemuda itu karena tidak mau sampai ada pertengkaran di antara mereka. Damar merasa bertanggung jawab jika hal itu sampai benar-benar terjadi.
Di taman belakang kampus yang tidak ramai orang Farel berhenti lalu berbalik menghadap Aditya.
"Gue nggak tahu pasti apa kerjaan yang lo kasih ke Damar, tapi gue yakin kerjaan itu nggak beres. Gue minta lo nggak usah ajak-ajak Damar lagi. Jangan libatkan dia dalam urusan berbahaya." Bisa dibilang saat ini Farel sedang melabrak Aditya.
"Maksud lo apa? Memangnya Damar sudah ngomong apa sama lo?" tanya Aditya dengan tatapan menantang.
"Jangan berlagak nggak tahu deh maksud gue apa. Pokoknya gue minta lo nggak usah libatkan Damar lagi. Kerjaan lo tuh berbahaya buat dia. Jangan buat beasiswanya terancam!" Farel membentak Aditya karena masih saja berpura-pura tidak mengerti maksud Farel.
Dari belakang Damar menghampiri Farel dan menarik lengan temannya itu. "Rel, jangan buat keributan di sini."
Namun, Farel menghempaskan tangan Damar dan tetap memilih untuk berhadapan dengan Aditya. Bagi Farel, urusannya dengan Aditya masih belum selesai.
"Huh! Gue itu kasihan sama Damar. Dia butuh uang buat biaya hidup. Gue baik dong sudah kasih kerjaan buat dia. Kok malah jadi gue yang lo bentak-bentak gini sih, Rel?" protes Aditya yang tidak terima dibentak.
"Hey, sudah! Buat apa sih kalian berdua ribut begini!" seru Damar. Dia berusaha melerai kedua temannya tersebut.
Farel menoleh ke arah Damar dengan mata mengerling tajam. "Buat apa? Ini biar lo nggak didepak dari kampus, Mar!"
"Tapi saya nggak ngapa-ngapain, Farel. Saya hanya kerja biasa saja," balas Damar.
Terdengar Aditya terkikik. "Lo dengar sendiri kan? Dia hanya kerja biasa. Lo saja yang berlebihan. Lo iri ya karena Damar sudah bisa menghasilkan uang sendiri, sementara lo masih minta sama orang tua?" hina Aditya kemudian.
"b******k lo!" Farel murka dengan ucapan Aditya barusan.
Farel melayangkan tangannya yang terkepal ke arah wajah Aditya, tetapi dengan mudah Aditya menghindarinya lalu membalasnya dengan sebuah tinju yang mendarat mulus di perut Farel hingga pemuda itu tersungkur ke tanah.
Bugh!
"Farel! Kamu nggak apa-apa kan, Rel?" Damar mengkhawatirkan temannya itu. "Kamu apa-apaan sih, Adit! Sudah, jangan buat keributan lagi!" teriak Damar pada Aditya kemudian.
Beberapa mahasiswa yang melewati taman belakang kampus sempat menghentikan langkah mereka untuk menonton ketiga pemuda yang tengah bertikai saat ini. Mereka mengira jika pemuda-pemuda itu sedang memperebutkan wanita sampai membuat mereka bertikai.
"Cih! Malas gue berurusan sama orang ini!" Maksud Aditya adalah Farel.
Kemudian Aditya memilih untuk pergi dari hadapan Damar dan Farel. Namun, baru beberapa langkah Aditya berhenti dan memutar tubuhnya menghadap kedua pemuda itu lagi.
"Mar, jangan lupa nanti datang ke tempat biasa. Jangan telat. Kalau lo nggak datang, gue sama bos yang akan nyamperin lo. Ngerti kan?" perintah Aditya pada Damar. Setelah itu Aditya kembali memutar tubuhnya dan berlalu dari hadapan keduanya.
"Farel, ayo saya bantu berdiri," kata Damar seraya mengangkat tubuh Farel.
"Nggak usah, Mar. Gue bisa sendiri." Sayangnya Farel menolak bantuan Damar.
"Saya akan bicara sama Aditya nanti. Kita bertiga kan teman, jangan sampai kita ribut-ribut begini," ujar Damar.
Farel yang sudah berdiri tegak sambil menahan rasa sakit di perutnya pun berkata, "Tidak ada teman yang menjerumuskan."
"Maksud kamu?" Damar menatap Farel bingung.
"Sudahlah, tidak ada gunanya bicara sama lo kalau ujung-ujungnya lo tetap bekerja sama dia!" tukas Farel yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Damar seorang diri.
Saat ini Damar benar-benar merasa bingung harus berbuat apa. Dia bingung harus memilih kehilangan pekerjaan demi teman baiknya, atau tetap mempertahankan pekerjaannya tetapi akan menjadi jauh dengan teman baiknya.
"Sepertinya saya harus bicara dengan Aditya terlebih dahulu," gumam Damar.
Saat jam kuliah selanjutnya tiba, Danar dan Farel kembali berada di kelas yang sama. Farel enggan menyapa Damar serta memilih meja yang berjauhan dengannya. Farel bukan membenci Damar. Dia hanya sedikit kecewa karena Damar menutup mata dengan pekerjaan yang ia geluti saat ini.
Sementara kedua pemuda itu melanjutkan kuliahnya, Aditya justru pergi dari kampus mendatangi rumah yang juga dijadikan markas gembong narkoba. Rumah tempat biasa Damar datang untuk mengambil paket lalu mengantarkannya ke masing-masing alamat yang diberitahukan oleh bosnya.
"Tumben lo ke sini? Memangnya sudah aman?" tanya pria berambut gondrong di dalam sana.
"Gue males kuliah. Ada yang bikin gue kesal di sana," jawab Aditya.
"Tapi lo datang ke sini sudah aman apa belum? Nggak ada yang ngikutin lo kan?" Pria gondrong itu sedikit khawatir.
"Tenang saja sih! Kalau belum aman nggak mungkin gue berkeliaran begini!" tegas Aditya.
"Nanti ada dua kiriman. Si Damar itu datang kan?" tanya pria tersebut.
Aditya melirik dua buah kotak yang sudah dibungkus dengan rapi dengan bubble wrap. "Dia seharusnya datang, karena kalau tidak dia akan berurusan dengan kita."
Akankah Damar datang ke sana lagi? Apakah ia memilih untuk dijauhi saja oleh teman baiknya daripada kehilangan pekerjaan?