bc

GAIRAH TERLARANG ISTRI TETANGGA

book_age18+
7
FOLLOW
1K
READ
dark
forbidden
love-triangle
one-night stand
age gap
friends to lovers
playboy
blue collar
drama
sweet
bxg
serious
kicking
bold
campus
city
office/work place
love at the first sight
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

​Mbak Via (40 tahun) dikenal warga sebagai istri ketiga yang salihah dari Pak Deni, seorang pebisnis dan pemuka agama terpandang. Namun, di balik hijab panjangnya, Via merasa kesepian setengah mati karena suaminya yang punya empat istri itu cuma pulang sebulan sekali.​Semua berubah saat Raka (25 tahun), pemuda perantau yang menyewa kontrakan tepat di sebelah rumahnya.Hanya terpisah oleh pagar, Raka diam-diam selalu memperhatikan tubuh montok Via, sementara Via mendambakan stamina pria muda.​Dinding pertahanan runtuh saat malam badai dan listrik padam. Ketakutan sendirian, Via nekat mengetuk pintu Raka hanya dengan sehelai daster tipis tanpa hijab.​Di dalam kegelapan kontrakan, gairah liar yang bertahun-tahun terpendam akhirnya pecah. Hubungan terlarang yang panas dan candu pun dimulai. Mereka tahu taruhannya adalah kehormatan dan nyawa, tapi sentuhan intim itu terlalu sulit untuk dihentikan.​Sampai kapan rahasia ranjang ini aman sebelum suami Via pulang dan memergoki mereka?

chap-preview
Free preview
01. Rumah Sewa Di Kota Baru
"Ahhhh... Mas.... Terus Mas... Enak banget..." Via mendesah pelan di bawah tubuh suaminya. Keringat tipis membasahi kulit putihnya. Matanya terpejam menikmati setiap tusukan batang sumainya yang masuk ke dalam lubang intimnya. Malam itu, Deni—suaminya, bergerak liar penuh nafsu. Menyentakkan batangnya yang besar ke dalam lubang intim istrinya dengan kasar. Via hanya bisa mencengkeram sprei, mencoba mengikuti ritme suaminya itu. Di balik statusnya sebagai istri ketiga seorang pebisnis dan pemuka agama, ada riak gairah liar di dalam diri Via yang malam ini terpuaskan—walau hanya sesaat. "Ahhhh... Aku mau keluar... Sayang..." Deni mempercepat goyangannya, lalu menyemburkan cairan panas ke dalam rahim sang istri. Begitu semuanya selesai, Deni langsung berbaring ke samping Via, tanpa ada kecupan atau pelukan hangat. Pria itu menyeka keringat di tubuhnya dengan tisu, lalu mengenakan sarungnya kembali. "Besok subuh aku harus berangkat lagi," kata Deni, suaranya kembali datar seperti biasanya. "Mungkin dua bulan ke depan aku tidak bisa pulang ke rumah ini. Ada urusan bisnis di luar kota, sekaligus jadwal safari ceramah." Via yang masih mengatur napasnya langsung tertegun. Dadanya mendadak sesak oleh rasa kecewa yang menghantam. Dua bulan lagi? Berarti dia harus melewati malam-malam sepi di rumah ini sendirian lagi. Namun, sebagai seorang istri, Via hanya bisa menelan kekecewaannya. "Lama sekali, Mas?" tanya Via lirih. "Iya. Banyak yang mau diurus di sana. Kamu di rumah jaga diri baik-baik," jawab Deni. Pria itu menoleh sejenak ke arah jendela yang menghadap ke samping rumah. "Oh ya, rumah kita yang di sebelah itu, dikontrakkan saja. Biar kamu dapat uang tambahan dari sana. Kalau ada yang menempati, rumah itu ada yang mengurus. Jadi tidak merepotkan kamu untuk membersihkan dua rumah sendirian." Via terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. "Iya, Mas. Besok aku buat iklannya." --- Setelah menunaikan salat Subuh, Via langsung membuka ponselnya. Ia mengambil beberapa foto bagian depan dan dalam rumah di sebelah, lalu mengunggahnya ke media sosial dengan keterangan fasilitas dan nomor teleponnya yang tertera jelas. Tak lama setelah sarapan, Deni sudah bersiap dengan koper pakaiannya. Mobil jemputannya sudah menunggu di depan pagar. "Aku berangkat dulu, Sayang. Jaga dirimu dan rumah ini," ujar Deni sembari mengulurkan tangan. Via mencium punggung tangan suaminya. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab Via. Setelah mobil menghilang di belokan jalan, Via menutup pintu rumahnya. Ia berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa. Keheningan kembali datang. Rumah ini terasa sangat sunyi. Via menghela napasnya dan menatap langit-langit rumah. Rasa kesepian kembali menjalar di dadanya. Perasaan nelangsa itu merayap perlahan, mencengkeram hatinya yang kian hampa. Menjadi istri simpanan yang sah secara agama ternyata tidak seindah bayangan orang-orang. Fasilitas mewah dan uang bulanan yang berlimpah tidak mampu membeli kehadiran seorang pria saat malam-malam dingin menusuk tulang. Keintiman yang baru saja mereka lalui bagaikan fatamorgana yang menguap begitu cepat tanpa bekas kehangatan. Via adalah istri ketiga dari Pak Deni yang merupakan seorang pebisnis dan tokoh agama yang cukup terpandang di kotanya. Pak Deni selalu menjadwalkan rutin kedatangan ke rumah Via setiap sebulan sekali. Oleh karena itu, Via benar-benar merasakan kehampaan karena statusnya dan juga jadwal tersebut. Via meraba dadanya yang bergemuruh kencang, meratapi nasibnya yang terkunci dalam sangkar emas berpagar tinggi ini. Di usianya yang menginjak empat pukul tahun, tanpa adanya anak dan suami yang jarang pulang, hidupnya terasa begitu kosong. --- Stasiun kereta siang itu tampak cukup ramai. Beberapa kereta datang dan pergi silih berganti. Orang-orang tampak berlalu-lalang dengan tergesa-gesa. Deru mesin lokomotif beradu bising dengan suara pengumuman pengeras suara yang menggema di langit-langit peron. Udara siang yang gerah bercampur aroma asap besi tidak menyurutkan langkah para penumpang yang berjejalan mencari jalan keluar. Seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, turun dari gerbong kereta sambil menyandang ransel di punggungnya, sementara tangan kanannya menggeret sebuah koper yang cukup besar. Tubuhnya kekar, kulitnya putih, dan wajahnya ganteng khas anak muda, membuat beberapa penumpang wanita melirik ke arahnya. Raka membetulkan letak tali ranselnya yang terasa berat, lalu mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan. Perjalanan panjang dari kampung halaman menuju kota ini demi mengadu nasib cukup menguras energinya. Dia melangkah tegap membelah kerumunan dengan penuh percaya diri, mengabaikan tatapan kagum dari beberapa gadis remaja yang berpapasan dengannya. Raka mulai berjalan keluar dari stasiun kereta tersebut. Perutnya yang keroncongan memaksanya untuk singgah ke sebuah warung makan di dekat stasiun. Setelah memesan nasi dan es teh manis, ia duduk di sudut warung dan langsung mengeluarkan ponselnya. Tangannya bergerak cepat, mencari info rumah kontrakan murah. Matanya terpaku pada sebuah postingan yang baru masuk beberapa jam lalu. Sebuah rumah kontrakan sederhana yang lokasinya dekat dengan kawasan industri. Sesuai dengan apa yang dia harapkan. Raka langsung mengirim pesan ke nomor w******p yang tertera di iklan tersebut. "Halo, selamat siang. Saya mau tanya, apa rumah kontrakannya masih ada?" Pesan balasan, datang tak beberapa menit kemudian. "Selamat siang. Iya, rumahnya masih kosong." Raka mengetik balasan lagi. "Kalau boleh tahu, berapa harga sewa per bulan? Dan alamat lengkapnya di mana ya, Mbak?" Ponselnya bergetar lagi. "Harganya satu juta per bulan, sudah bersih. Alamatnya di Jalan Garuda Nomor 12, tepat di sebelah rumah cat putih." Melihat harganya yang cukup murah, Raka tersenyum puas. Setelah makanannya datang, ia bergegas menghabiskannya dengan cepat. Selesai membayar makannya, Raka segera melangkah ke pangkalan taksi di depan stasiun dan naik di salah satu taksi. Before taksi melaju, ia mengirim pesan terakhir ke pemilik kontrakan. "Baik Mbak. Saya sudah di taksi dan sedang otw ke sana." "Baik. Saya tunggu." --- Tiga puluh menit kemudian, taksi yang ditumpangi Raka berhenti di alamat rumah sewa tersebut. Raka turun dari taksi, pandangannya langsung tertuju pada teras rumah tersebut. Seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi teras. Wanita itu memakai hijab panjang yang menutup d**a dan gamis yang longgar. Wajah wanita itu tampak putih bersih dan terlihat sangat terawat untuk ukuran usianya. Melihat Raka sudah datang. Via segera berdiri. Ia merapikan sedikit hijabnya, lalu berjalan mendekat ke halaman. Raka mendekat sambil menggendong ranselnya. Ia melemparkan sebuah senyum ramah. "Selamat siang, Mbak. Saya Raka yang tadi kirim pesan lewat WA," sapa Raka. Via menatap pemuda di depannya. Ia melihat postur tubuh Raka yang tinggi, tegap, dan kekar di balik kaus ketat yang dipakainya. Wajah ganteng Raka membuat d**a Via berdegup tidak karuan. "Oh, iya. Saya Via," jawab Via lembut, mencoba mengendalikan suaranya agar tetap terdengar sopan. "Rumah yang mau di sewa ada di sebelah." Raka mengangguk dan kembali tersenyum, membuat jantung Via kembali berdetak kencang tidak karuan. Mereka saling berpandangan sejenak, lalu berjalan beriringan menuju teras rumah.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
781.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
371.0K
bc

Not just, the Beta

read
355.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook