Part 15--Menunggu

2269 Words
Sejak pulang dari rumah anaknya--Hadi, Pak Indrayana dipenuhi dengan banyak kecemasan. Beliau langsung membawa rambut sang putra lalu menyimpannya. Tak hanya itu, ayah Hadi itu juga meminta orang untuk mengambil sampel rambut milik anak yang berada di panti asuhan itu. Tanpa banyak bicara, ayah Hadi melakukan tes DNA itu tanpa ada orang lain yang tahu. Dua minggu, waktu yang dijanjikan oleh pihak rumah sakit membuat Pak Indrayana harap-harap cemas. Takut dan merasa bersalah jika benar anak itu adalah darah daging sang putra--Hadi. Hingga saat ini, pihak panti asuhan masih memilih untuk bungkam. Mereka seolah sangat merahasiakan siapa ibu biologis dari anak itu. Pak Indrayana tidak akan mengusik kehidupan sang ibu biologis anak itu. Hanya sekadar ingin tahu. Jika kenal, maka beliau akan meminta sang putra untuk bertanggungjawab. Sebab, adanya anak itu di panti asuhan itu saja sudah menelantarkannya. Terlebih Hadi hidupnya saat ini boleh dibilang berkecukupan. Pak Indrayana telah menerima hasil tes DNA dari rumah sakit. Beliau sangat terkejut ketika membaca hasil tes tersebut, 96, 27% mirip. Artinya anak bernama Ganesha Indrayana itu adalah cucunya. Akan tetapi, siapa ibu dari anak itu? Bertanya pada Hadi belum tentu anak itu akan jujur. Berpikir sejenak, akhirnya Pak Indrayana memutuskan untuk menemui pihak panti asuhan. Beliau sendiri yang akan datang ke Kota Semarang. Meminta kejelasan pada pemilik panti asuhan dengan menunjukkan bukti tes DNA. Bukan masalah sepele yang harus diabaikan. Hadi sudah berani berbohong padanya. Pak Indryana sangat murka dengan apa yang dilakukan anaknya di belakang pengawasannya. Anak yang selalu dibanggakan telah mencoreng mukanya dengan perbuatan bejatnya. Bagaimana bisa anak yang dianggap paling penurut itu berbuat asusila di belakangnya. Rasanya ingin memberikan pelajaran pada sang putra. Akan tetapi, tidak boleh gegabah, mengingat Maya sedang hamil. Bisa bahaya akibatnya juga untuk psikis Maya nantinya. Jika memikirkan hal ini, mendadak penyakit darah tinggi Pak Hadi kambuh. Kepalanya sangat sakit. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kepercayaannya pada sang putra dikhianati. Dulu pembatalan perjodohan dengan Arini sudah sangat membuat beliau malu pada sahanat baiknya. Saat ini justru, Pak Indrayana mendapati kenyataan yang lebih memalukan. Adanya hasil tes seorang anak yang sangat mirip dengan DNA Hadi. Bisakah sang putra jujur? Sangat sulit, Hadi bukan sosok yang mudah bercerita. Sementara itu, Maya semakin menjauh dari sang suami. Tidak ada lagi obrolan hangat seperti sebelumnya. Hadi merindukan sosok istrinya yang murah senyum dan menenangkan hatinya. Kini sosok itu telah mati suri karena ulahnya. Mereka seperti dua orang asing yang tinggal di tempat yang sama. Maya tak lebih seperti boneka hidup. Tidak ada lagi keinginan untuk sekadar berbicara pada suaminya. Ia bahkan mulai kembali mencari pekerjaan. Beruntung salah satu temannya memberikan pekerjaan sebagai konsultan bangunan. Pekerjaan itu bisa dilakukan dari rumah saja. Pekerjaan Maya bisa dilakukan secara online melalui email. Tergantung kebutuhan, jika klien meminta bertemu, mau tidak mau harus bisa. Meski pun penghasilannya tak seberapa, tetapi bisa untuk simpanan ketika suatu saat harus berpisah dengan suaminya. Maya sudah berpikir jauh tentang masa depannya kelak. Bukan tidak mungkin masalah rumah tangganya akan berakhir di pengadilan agama. Arini pasti akan menuntut sang suami karena telah memiliki anak. Tak hanya itu, hal utama yang menyakiti hatinya adalah ketidakjujuran Hadi. Maya sudah berpikir sangat jauh tentang berbagai kemungkinan. Wanita bernama Arini bisa saja datang kembali dan mengambil suaminya. Mengingat wanita itu sangat cantik dibandingkan dengan dirinya. Tidak mudah dan tidak siap ketika harus berpisah dengan sosok Hadi. Cintanya terhadap sang suami sangat besar. Akan tetapi, karena cinta itulah, ia harus rela pergi suatu saat nanti. Membandingkan diri dengan sosok Arini membuat hati Maya berdenyut nyeri. Ia merasa kalah jauh dari sosok wanita tinggi semampai itu. Tak hanya itu, Arini adalah sosok yang cerdas. Cara berbicara wanita itu menunjukkan kualitas isi dalam otaknya. Saat ini Hadi, Maya, dan Keenan sedang berada di ruang televisi. Keenan putra mereka ingin ditemani bermain lego. Maya sebenarnya enggan. Akan tetapi tidak mau membuat sang putra kecewa dengan penolakannya. "Ma ... besok malam kita makan malam berdua, yuk." Sebisa mungkin Hadi mengatakan dengan lembut pada sang istri. Hadi ingin memperbaiki semuanya. Menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan hal yang telah terjadi antara dirinya dengan Arini. Memang berat dan sulit, tetapi mungkin dengan perhatian-perhatian kecil yang diberikan oleh Hadi bisa membuat sosok Maya luluh. Maya malas mendengar ataupun mengobrol dengan Hadi. Sejak berada di ruang televisi, ia hanya diam. Menonton acara televisi yang tidak menarik. Ia hanya mengalihkan perhatiannya, agar tidak berbicara dengan sang suami. "Ga usah. Aku lebih nyaman makan di rumah. Jika ingin makan di luar silakan." Maya mengatakannya dengan dingin tanpa memandang ke arah Hadi. Ajakan Hadi bagi Maya tak ubahnya hanya sekadar basa-basi yang memuakan. Maya lelah dan yang diinginkan adalah sebuah kejujuran. Sepahit apa pun itu akan ia terima dengan lapang. Sayangnya, sang suami seolah menundanya. Hadi menghela napas kasar. Kali ini kalimat jawaban yang keluar dari mulut maya sangat panjang. Biasanya, sang istri akan mengabaikan setiap ucapannya. Tidak masalah bagi Hadi, ia akan tetap mencoba merayu sang istri. "Baiklah, tapi aku yang masak. Kamu istirahat saja besok." Hadi tersenyum ke arah sang istri meskipun tidak mendapatkan balasan dari Maya. Hadi ingin berusaha memanjakan sang istri. Tak apa sedikit lelah, terpenting Maya bisa kembali seperti dulu. Bagaikan mimpi, keramik yang sudah pecah tidak akan kembali seperti sedia kala. Pasti akan ada retakan di setiap sisinya. Maya segera masuk ke kamar Keenan. Anak itu ternyata sudah mengantuk dan ingin tidur. Keenan segera mengekori sang mama. Matanya sudah sangat mengantuk saat ini. "Ma ... adik bayi sedang apa?" tanyanya dengan nada riang sambil berbaring berdua dengan Maya. Maya mengelus puncak kepala sang putra dengan sayang. Ia sangat mencintai anak pertamanya. Keenan-lah sumber kekuatan saat ini. Anak berusia hampir enam tahun itu membuatnya merasa sangat istimewa. Anak pertamanya selalu menghiburnya di kala sedih seperti saat ini. "Em ... sedang apa, ya?" tanya Maya menggoda sang putra pertama. "Ish ... Mama 'kan yang tahu. Soalnya adik bayi ada di dalam perut Mama." Keenan mengelus lembut perut mamanya. Maya tersenyum melihat kemajuan sang putra. Ia berjanji akan mendidik anak-anaknya agar kelak menjadi sosok yang jujur. Agar tidak ada wanita atau orang lain yang kecewa kelak. Rasa kecewa itu sangat menyesakkan d**a. Setelah beberapa saat, Keenan pun akhirnya tertidur dengan pulas. Maya pun ikut tidur bersama dengan putranya. Memang sejak ada masalah dalam rumah tangganya, Maya lebih memilih tidur bersama dengan sang putra. Ia sengaja melakukan hal itu agar memberikan ruang untuk hati dan pikirannya. Hari ini seharusnya Hadi harus meeting dengan klien. Beruntung kliennya membatalkannya karena ada urusan pribadi. Tak masalah baginya, justru bisa membantu pekerjaan Maya. Ia ingin memberikan waktunya untuk istrinya. Berusaha memperbaiki rumah tangganya yang menjadi dingin karena ulahnya. "Papa nggak ke kantor?" tanya Keenan yang berjalan bersisihan dengan Maya. "Enggak sayang. Papa libur sampai hari Minggu buat temani Keenan, Mama, dan adik bayi," jawab Hadi sambil menciumi sang putra. Maya memilih mengabaikan sosok ayah Keenan. Ia segera pergi ke dapur dan hendak menyiapkan sarapan. Hadi yang tiba-tiba datang sambil menggendong Keenan, memeluk Maya dari belakang. Mengecupi rambut wangi milik sang istri. Maya tidak bisa menghindar seperti biasanya. Ada Keenan yang akan melihat. "Gimana kalo kita makan bubur ayam di dekat pasar baru?" tanya Hadi pada Keenan. Sontak putra mereka melonjak kegirangan. Bahagia rasanya karena jarang sekali makan bersama di luar selain hari libur. Pun jarang jika sang papa lembur karena banyaknya pekerjaan. Hadi bahagia karena berpikir Maya tidak akan menolak. Keenan kini menjadi senjatanya untuk memperbaiki rumah tangganya. "Kalian makan berdua di luar, ya. Kebetulan Mama pusing." Maya mencoba memberikan alasan pada Keenan. Maya malas ketika berdekatan dengan sang suami. Ia sadar jika Hadi hanya ingin membuatnya terlihat baik-baik saja. Tidak bisa seperti itu, semua harus dibicarakan. Masalah yang timbul tidak sesederhana itu. Seketika raut kecewa di wajah anak laki-laki itu terlihat jelas. Tidak tega sebenarnya melihat Keenan kecewa. Akan tetapi, Maya memiliki prinsip jika Hadi belum jujur, maka ia pun akan tetap diam. Tidak ingin ada komunikasi. Kejujuran meskipun menyakitkan, tetapi bisa mengubah segalanya. Baik dan buruknya rumah tangga memang mereka berdua yang tahu. Akan tetapi, jika salah satu tidak jujur akan membuat semuanya hancur. Hal itulah yang kini menimpa rumah tangga Hadi dan Maya. Seolah memang tidak ada masalah, tetapi badai sudah di depan mata. "Baik, Ma. Keenan pergi berdua dengan Papa. Nanti, Mama, pasti Keenan bungkuskan." Anak pertama Maya dan Hadi berusaha meredam rasa kecewanya. "Mama janji, kalo udah sembuh pusingnya, kita berdua main lagi sama adik bayi juga." Maya memcoba menghibur Keenan. Tidak mudah bagi Maya untuk kembali berdekatan dengan Hadi. Terlebih tidak ada penjelasan apa pun dari suaminya tentang Arini dan masa lalunya. Entah sampai kapan, sosok wanita penyabar itu mampu bertahan. "May ... bisakah kita pergi bertiga? Hanya hari ini saja. Selebihnya aku tidak akan memaksakan kehendakku lagi." Hadi memohon agar sang istri berbaik hati hari ini saja. Maya bahkan lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Masalah demi masalah yang tak kunjung usai yang membuat melupakan hari bahagianya. Hadi sudah menyiapkan kejutan kecil dengan memesan bubur khusus. Sayangnya Maya tetap menolak. "Maaf, aku lelah dan ingin istirahat. Lelah karena ingin mendemgarkan sebuah kejujuran." Tanpa menunggu jawaban dari Hadi, wanita penyabar itu memasuki kamarnya. Hadi menatap kepergian sang istri dengan pandangan tak menentu. Hatinya sakit dan sedih. Maya telah benar-benar berubah. Lebih baik melihat sang istri mengomel dibandingkan mendiaminya saja. Hadi bertekad akan mengumpulkan keberanian dan menceritakan semua tentang masa lalunya dengan Arini. "Pa ... ayo kita berangkat!" seru Keenan tampak bersemangat. Hadi segera menggandeng tangan kecil itu. Mereka berdua berjalan kaki menuju ke tempat penjual bubur langganan mereka. Tempatnya penuh sesak, tetapi karena sudah memesan tempat bertiga mereka masih diberikan tempat. Hadi segera mengambil pesanannya. "Pa ... Keenan mau porsi besar. Biar cepat besar dan bisa jagain Mama dan adik bayi. Keenan sering lihat mama menangis sendirian," kata Keenan sambil mengambil satu bungkus kacang goreng. Hadi terkesiap mendengar ucapan sang putra. Seberapa lama Maya sering menangis? Pasti karena ulahnya. Bahkan wanita penyabar itu tidak lagi bersikap hangat terhadapnya. Semua perhatian kecil darinya diabaikan. "Lho? Pak Hadi, mana Bu Maya?" tanya Pak Maman penjual bubur ayam langganan keluarga Hadi. "A- anu, Pak. Mamanya Keenan sedang pusing. Hamil trimester pertama," jawab Hadi yang tidak sepenuhnya berbohong. "Masya Allah, ikut senang, ya, Pak. Semoga sehat-sehat semuanya," kata Pak Maman sambil meletakkan mangkung bubur pesanan mereka. Ada tiga buah mangkuk. Satu mangkuk seharusnya untuk Maya. Hadi hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Maman. Keenan tampak antusias dengan bubur di depannya. Ia melahap perlahan. Mandiri, semenjak sang mama sering bed rest. Terkadang masih keluar sifat manjanya ketika bersama dengan sang mama. "Pa ... nanti jangan lupa dibungkusin buat Mama," celoteh Keenan sambil menikmati bubur ayamnya. Hadi menoleh ke arah sang putra. Buburnya belum sama sekali dimakan. Kehilangan selera makan karena penolakan yang sangat jelas dari Maya. Hatinya tercubit. "Papa ... ayo dimakan buburnya. Keenan ga mau Papa sakit kaya Mama. Keenan nanti sendirian," kata Keenan saat tahu bubur sang papa belum dimakan. "Um ... anak ganteng Papa, iya deh, Papa makan." Hadi menyendok bubur dan memasukkan ke dalam mulutnya. Bubur langganan mereka semestinya sangat lezat. Banyak pengunjung yang tampak menikmatinya di pagi ini. Bagi Hadi terasa hambar, karena belahan jiwanya tidak ikut datang ke tempat ini. Bahkan hari yang sangat spesial bagi Maya pun tidak dihiraukan oleh sang istri. Jika ada yang tahu, Maya tidak serta merta hanya sakit hati yang dirasakan, lelah pikiran pun menjadi beban yang luar biasa. Fisiknya tidak setangguh dulu saat belum hamil anak kedua mereka. Tidak mudah, tetapi ia lebih memilih diam. Diamnya semoga bisa dipahami oleh Hadi. Hadi menghela napas berulang kali membuat Keenan heran dan memandang ke arahnya. Anak laki-laki itu mengerjabkan matanya berulang kali. Menatap sang papa dan memastikan semuanya baik-baik saja. Ya, Keenan menjadi lebih dewasa saat tahu akan mempunyai adik. "Papa sakit?" tanyanya singkat sambil menempelkan tangan kecilnya di dahi sang papa. "Tidak sayang, hanya mendadak kenyang saja." Hadi berusaha memberikan alasan yang masuk akal pada sang putra pertamanya. Keenan sosok anak yang cerdas tidak langsung percaya dengan ucapan sang papa. Berulang kali menatap papanya dan mangkuk bubur itu. Ia meletakkan sendok di mangkuk bubur miliknya. "Lihat, Papa saja belum makan banyak. Masa sudah kenyang," kata Keenan sambil menoel perut rata milik sang papa. Hadi gelagapan menjawab pertanyaan sang putra. Jika ada istri tercinta, pasti akan mudah menjawab pertanyaan sang putra. Ia menghela napas panjang. Berpikir sejenak sebelum menjelaskan pada Keenan. Anak itu tampak melanjutkan acara makan buburnya. "Papa ayo makannya cepat. Mama pasti udah nunggu di rumah." Keenan kembali mengingatkan sang papa. Benar juga, Maya pasti menunggu di rumah. Gegas Hadi menghabiskan bubur miliknya. Ia segera membayar 3 porsi bubur dengan tambahan beberapa kerupuk. Jatah milik Maya dibungkus dan dibawa pulang. Mereka berdua berjalan dengan santai menuju ke rumah. Keenan memang tampak ceria, tidak sama sekali menunjukkan rasa kecewanya pada Maya. Akan tetapi, Hadi bisa memahami jika sang putra sangat kecewa saat ini. Setelah selesai makan dan membayar semuanya, Hadi mengajak sang putra untuk pulang. Keenan kali ini minta digendong. "Keenan jangan marah sama Mama, ya. Mama sedang kurang sehat. Juga adik bayi ada di perut Mama harus dijaga." Hadi memberikan nasihat pada putra semata wayangnya itu. Keenan menatap sang papa dengan pandangan bertanya. Anak laki-laki cerdas itu memang heran ketika mendadak sang papa mengatakan hal itu. Hadi hanya tersenyum simpul saat Keenan menatapnya. Anak laki-laki baik yang mengubah hidupnya. "Keenan ga marah. Hanya kadang ingin pergi bertiga bersama dengan Mama seperti dulu. Sejak Mama sakit, Mama lebih sering diam dan menangis kalo Papa berangkat kerja. Keenan ga tahu Mama kenapa." Keenan sangat polos saat menceritakan tentang hari-harinya bersama Maya. Beberapa waktu ini, Keenan tidak mau berangkat ke sekolah. Alasannya sang mama masih sakit. Pihak sekolah tidak bisa memaksaya. Sebab, Keenan akan tantrum jika dipaksa sekolah tanpa sang mama yang mendampinginya. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD