Haus. Itulah yang dia rasakan hingga membuatnya membuka mata. Tenggorokannya terasa kering sekali dan dia butuh minum. Ana melirik ke nakas dan kosong, tak ada minuman. Ana berniat turun dari ranjang untuk mengambil minum tapi rasa sakit itu menghentikannya. Kepalanya terasa pusing dan seperti ada sengatan dari tangannya. Dia melirik tangannya dan betapa terkejutnya dia saat mendapati sebuat jarum infus tertancap. Sangat parah, kah sampai harus diinfus segala? Lalu pintu terbuka dan membuat Ana mendongak. Kakaknya datang dengan membawa air putih dalam teko kaca. Dia melihat air dengan penuh binar. “Mas, haus.” Katanya dan kakaknya itu dengan sigap mendekat, menuangkan air ke dalam gelas, lalu menyodorkannya pada Ana. Ana mengucapkan terima kasih kala air yang diminumnya berhasil membua

