Chapter 06: Hazel Harus Perbaikan Hati
...
Hazel harusnya enggak bercanda. Kedatangannya ke rumah Deon jadi sia-sia karena ujungnya Deon tidak fokus belajar.
Dikit-dikit Deon ngomong, "Teteh jangan pulang yaa, tinggal disini aja."
GILA!
GA MAU LAH!
Kenapa sih Sean ngebikin otak anaknya rusak? Coba aja tadi Sean ga nyahut gitu, Deon kan enggak akan meminta hal yang nggak mungkin kaya gini.
Ya kali Hazel tinggal disini, ntar bisa dicap pelakor dia.
Ntar gimana kalo Hazel ditampar istrinya Sean dan dituntut karena telah melakukan perebutan suami orang. JANGAN SAMPE! Masalahnya, DUIT DARIMANA JIR?! INI JUGA DAPET KERJAAN GARA-GARA CHAERYL, MASA HAZEL NGEREPOTIN TEMENNYA LAGI?
Kenapa sih kerja itu susah amat? Baru hari kedua ngajar udah banyak cobaanya, kan sebel.
'Hidup susah amat sih?' batin Hazel nelangsa.
Ini lagi Sean, kenapa dia pulang cepet sekarang? HARUSNYA JANGAN DATENG PAS HAZEL LAGI NGAJAR DONG, JADI SALFOK INI.
MANA SEAN GANTENG BANGET. YA GUSTI.
Hazel ga kuat berhadapan dengan orang ganteng, rasanya mau menyublim aja.
Apalagi orangnya modelan Sean ini, udah ganteng, mapan, punya aura kebapak-an pula.
Kan jadi pengen milikin.
Eh astagfirullah.
Hazel ngusap d**a, dia bener-bener cuman bisa bersabar—toh ga mungkin dia ngusir Sean, lelaki itu kan majikannya. Gadis itu berusaha berpikir positif, mungkin Sean cuman ingin ngeliat cara mengajarnya Hazel.
Dan Hazel berharap jam cepat menunjukan pukul 10, agar dia bisa pulang dan jantungnya kembali berdetak normal. Enggak rusuh kek gini.
........
"Makasih Pakk."
"Sama-sama Non."
Setelah pamit sama supir pribadi yang diutus Sean, gadis itu segera lari agar bisa masuk ke kosan. Hazel enggak mau ketemu Yohan lagi malam ini.
Eh sial banget, Hazel malah ketemu Yohan. Dan yang terjadi adalah tubuhnya kembali ditarik oleh lelaki kampret itu seperti kemarin.
Hazel jelas meronta, tapi tenaganya yang kurang dari 50% ini rasanya enggak berpengaruh apa-apa. Sungguh.
"Yohan lepas!" Hazel mendorong tubuh Yohan, berusaha melepaskan diri dari cengkramannya.
"Enggak! Gua enggak bakal ngelepasin elo," ucap Yohan dengan tatapan tajamnya. "gua enggak akan ngelakuin kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, Hazel sayang."
Hazel mendadak mules mendengar Yohan memanggilnya begitu. Menjijikan. "Mau lo apa sih?!" tanya Hazel tanpa basa-basi lagi, dia udah muak ngeliat Yohan.
Udah muak dengan semua drama yang melibatkan dirinya, Yohan, dan Hanin.
Hazel pikir melepaskan Yohan adalah keputusan terbaik, tapi ternyata tidak. Yohan masih menyebalkan dan minta digeprek.
"Lo jauhin cowok yang kemarin ngenter elo pulang," balas Yohan yang bikin Hazel melongo. "gua ga suka liat elo sama cowok itu. Bikin hati sakit tau ga?"
Halah, ini tukang keong maunya apa?
Dia pikir Hazel ga sakit apa setiap ngeliat Yohan sama Hanin? Astaga, Hazel ga boleh nangis. Hazel harus kuat.
"Lo kenapa sih?!" bentak Hazel kesel. "Lu ga berhak atas hidup gua ya, lo tuh bukan siapa-siapa gua! Kita udah putus!" meskipun berkata dengan galak tubuh Hazel malah bergetar, dia hampir menangis dan Hazel harap Yohan tidak menyadari hal itu.
"Gua sayang sama elo!"
"Tapi elo juga sayang sama Hanin!" Hazel sekarang menatap Yohan tajam, meskipun matanya sudah berkaca-kaca. Hazel merasa sesak, ada perasaan sedih dan marah di saat yang sama.
Hanya saja karena amarah lebih menguasai Hazel, gadis itu lantas menendang bagian bawah Yohan disaat Yohan lengah. Tentu saja itu berguna, dia bisa melepaskan diri.
Namun sebelum Hazel kabur disaat Yohan kesakitan dan memegangi anunya, Hazel berbicara ini dulu, "Denger ya Yohan, hati itu bukan becak, ga bisa buat berdua. Lo ga bisa sayang sama dua orang yang sama. Jadi jangan egois!"
........
Hazel udah puas mengumpati Yohan di kamar mandi. Sekarang saatnya dia rebahan diatas kasurnya yang empuk.
"Ah enaknya." Hazel menatap langit-langir kamarnya yang gelap, lalu menghela napas panjang. Sebenarnya hari ini dia merasa harinya buruk, belum lagi Yohan selalu mengusiknya setelah dia selesai bekerja. Kan tai.
"Udah lah kenapa sih gua mikirin Yohan lagi? Kaya enggak ada hal lain yang bisa dipikirin aja," kata Hazel pada dirinya sendiri.
Hazel memejamkan matanya sejenak, berusaha merewind kejadian yang menimpanya hari ini. Berusaha mencari hal yang bisa disyukuri dari hari yang melelahkan ini.
Mungkin satu-satunya hal yang bisa dia syukuri hari ini hanya ketika dia pulang dan diantar oleh supirnya keluarga Deon ini.
Sumpah, Hazel benar-benar bersyukur bukan Sean yang mengantarnya pulang.
Soalnya tadi tiba-tiba saja Sean menerima telpon yang sepertinya orang penting, jadi Sean menyuruh supirnya mengantar Hazel pulang.
Coba kalo ga ada yang nelepon Sean, bisa kebayang betapa awkwardnya Hazel dan Sean di mobil. Ngeri men, Hazel merinding.
Hazel emang suka sama orang ganteng, tapi kalo kelamaan deket sama orang kaya Sean, Hazel takut kewarasannya hilang.
Sean jidatan aja bikin jantung rusuh coba. Kan sebel.
Ah ternyata di hari yang melelahkan ini enggak ada yang benar-benar bisa disyukuri.
"Yaudah lah buka twitter aja, siapa tau ada yang seru," Hazel lantas mengambil ponselnya. Niatnya buka aplikasi twitter, tapi sialnya bersamaan dengan itu malah ada Chat dari Sean.
Sialnya lagi, Hazel malah ngeklik pop up chat itu, sehingga dia mau enggak mau ngebales Chat dari bapanya Deon.
Sean: Halo Bu
Sean: Gimana udah di kosan?
Hazel: Halo Pak
Hazel: Udah Pak
Sean: Syukurlah
Sean: Sekali lagi maaf enggak bisa nganter kamu ke kosan
Hazel: Enggak apa-apa kok pak. Tadi kan saya dianterin sama supir Bapak
Hazel: Berati sama aja kaya saya dianterin bapak dong?
Sean: Beda dong. Masa saya disamain sama supir
Sean: Nangis nih
Hazel: E-eh maaf Pak
Sean: Tapi kamu enggak ketemu cowok yang narik kamu kemarin kan?
Hazel: Enggak kok Pak
Hazel merasa enggak perlu memberitahu Sean soal masalahnya dengan Yohan. Jadi kali ini Hazel berbohong.
Namun melihat balasan Sean membuat Hazel melotot.
Sean: JAngan bohong kamu, tadi saya dapat laporan dari supir saya kalo kamu ditarik sama cowok yang mirip Jonathan Christine.
Sean: Berati cowok kemarin kan?
Hazel: Bukan Pak, itu mah temen
Sean: Temen? Tapi tadi pas ditarik kamunya langsung mukulin dia.
Sean: Itu temen?
Hazel: Mantan teman
Sean: Kamu jangan coba-coba ngebohong sama saya ya, Zel
Sean: Saya tuh bawel karena enggak mau kamu kenapa-kenapa, padahal baru kerja.
Hazel: Maaf Pak
Hazel: Saya cuman enggak mau bapak terlalu mikirin hal itu. Lagian itu enggak penting
Sean: Penting lah, itu kan nyangkut keselamatan kamu. Nanti kalo Chaeryl marahin saya gimana?
Sean: saya enggak mau kamu kenapa-kenapa karena kamu gurunya Deon
Hazel: Iya Pak
Sean: Besok-Besok kalo digangguin bilang ya, saya bakal ngasih dia pelajaran
Sean: Enak aja ngegangguin asset berharga saya, ditarikin pula. Emang sapi
Hazel: Iya Pak
Sean: Bagus
Sean: Sekarang kamu tidur, besok kamu kuliah pagi kan?
Tunggu sebentar, ini Pak Sean tau darimana Hazel kuliah pagi?
Tapi karena Hazel enggak mau repot-repot mikirin hal yang enggak penting, jadi dia iyain aja lah biar cepet.
........