09: Petrus atau jaga jarak?

1187 Words
Chapter 09: Petrus atau jaga jarak?........ Pikiran Hazel masih ngeblank, jujur aja sekarang dia bingung. Antara mau seneng atau takut setelah mendengar Sean itu duda.   'Tapi kalo duda juga enggak bisa dimilikin, percuma sih.'   Hazel menghela napasnya, suasana setelah Hazel menanyakan hal itu agak awkward. Hazel bingung antara mau menjaga jarak atau tidak pas tau Sean itu duda.   Tapi ngejaga jarak juga buat apa? Hazel kan udah ga punya siapa-siapa. Sean juga duda.   Tapi ... kalo petrus juga aneh ga sih? Ntar disangkanya pengen harta doang kaya kasus di sinetron ercetei.   Sekarang otak Hazel complicated sendiri memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang harus dia lakukan kedepannya.   "Zel, lo napa dah?" Chaeryl nyenggol lengan Hazel, sampai Hazel kaget.   "Eh?" Hazel mengedipkan matanya berulang. Kesadarannya kembali. "apa?"   "Lo kenapa bengong? Bukannya merhatiin dosen."   "Males ah."   Chaeryl menggelengkan kepalanya. Hazel pasti lagi kacau, makannya dia enggak bisa konsen.   Iya dia kacau, dan itu gara-gara om elu Chaeryl! Pengen Hazel bilang gitu, tapi ga jadi ah, dia malu   "Mau cerita ga?" tanya Chaeryl. Soalnya dia penasaran apa yang bikin Hazel gini. Biasanya kan Hazel semangat kalo ada matkul psikologi, dan biasanya Hazel selalu merhatiin karena dia suka pelajarannya.   Hazel menolehkan kepalanya lalu menatap Chaeryl. "Chae, om elu jadi duda sejak kapan?"   Chaeryl auto was-was. Tapi dia berusaha menjawab dengan tenang. "Udah lama sih. Kenapa emang?"   "Istrinya meninggal atau gimana?"   "Dia ditinggalin istrinya. Soalnya dulu dia kelepasan gitu dan keduanya sama-sama ga cinta," Chaeryl menjelaskan sesuatu yang sebenernya enggak pengen dia bahas.   "Hah? Gimana?"   "Eum gimana ya ngejelasinnya, you know kan cinta satu malam?"   "Iya tau, itu lagunya Aura Kasih." Yeu malah bercanda si Hazel. Jadinya Chaeryl menjitak Hazel. "Melinda anjir bukan Aura kasih." Pake ditanggapin lagi sama Chaeryl.   "Ya maaf, gua kan ga tau cuman asal nebak doang," Hazel meringgis. Lagian heran kenapa Chaeryl tau aja? Apa Chaeryl pengikut Dangdut akademi? "jadi om elu tuh duda sejak kapan dan why?"   Chaeryl noleh. "Kenapa lo penasaran? Lo suka?" "Ga semua rasa penasaran itu suka Chae," kata Hazel meyakinkan. Padahal Chaeryl sudah membuat hipotesis kalo Hazel menyukai Omnya.   Sebenernya sih enggak apa-apa sih Hazel mau suka sama siapapun, enggak masalah juga. Tapi kalo buat Sean sih Chaeryl agak khawatir.   Secara dari umur aja keduanya beda jauh, Sean juga udah enggak muda lagi, anaknya bahkan mau masuk SMA. Chaeryl enggak mau sahabatnya jadi bahan hujatan satu kampus.   Habis di negara +62 warganya suka begitu kalo ngeliat cewek pacaran sama yang lebih tua. Pasti dibilangnya cuman pengen harta, tapi enggak semuanya gitu kan? Kebanyakan nonton sinetron yang isinya azab sama perselingkuhan sih.   Tapi yaudah lah ya, Chaeryl berusaha berpikir positif. Hazel mungkin cuman penasaran aja. Toh dia harus tau juga tentang majikannya. Akhirnya setelah kelas berkahir Chaeryl menceritakan tentang Sean yang merupakan sodara dari keluarga Ibunya, makannya ya bisa dibilang deket tapi ga sedeket itu juga.   "Gua ga tau sih manggil dia harusnya apa, tapi dari kecil gua biasa manggil Sean Om," kata Chaeryl. “Maaf kalo kedengerannya aneh ya Zel.”   "Tapi kok berasa elu yang jadi cewek simpenan ya."   Mendengar itu Chaeryl lantas menjitak Hazel. "Jir sialan lo, makannya jangan keseringan baca cerita plus-plus bareng si Kura. Rusak otak lo."   Hazel memegangi kepalanya. "Sakit ih."   "Rasain."   "Tayi ledig. Yaudah lanjut lah, gua penasaran sumpah."   Lantas Chaeryl kembali nyeritain Sean yang dulunya adalah badboy. Maklum ortunya Sean kaya, Sean juga anak satu-satunya, jadi selalu dimanja gitu. Makannya jadi badboy.   "Klise banget," komentar Hazel.   Chaeryl mendelik. "Ga gua lanjut nih ceritanya."   "Eheheh jangan, lo kan belum cerita kenapa dia bisa punya Deon."   Untung aja Chaeryl sabar punya teman suka menjulid gini, ia akhirnya melanjutkan acara berceritanya. "Soal dia punya Deon itu kaya yang udah gua bilang, itu kecelakaan dia sama jalang."   "Ga pake pengaman?" tanya Hazel   "Pake, cuman ya mungkin aja bocor. Jadinya tekdung dan dia harus tanggung jawab."   Hazel menganggukkan kepalanya agak enggak nyangka juga manusia yang kaliatan berwibawa seperti Sean pernah melakukan kesalahan yang fatal. "Terus mereka nikah?"   "Iyo, soalnya sih sejahat-jahatnya Sean, dia masih mau tanggung jawab," Chaeryl menganggukan kepalanya. "untung aja pas itu dia lagi tingkat akhir, malah udah sidang."   "Eh bentar-bentar," Hazel menyela. "lo bilang umur Pak Sean 34 tahun, terus Deon 14 tahun sekarang. Berati Deon lahir pas pak Sean umur 20 tahun kan?"   Chaeryl cuman ngangguk. Sedangkan Hazel natap dia ga percaya. "Kok udah skripsian pas dia tau em maaf jalangnya hamil? Berati ngehamilin umur 19 taun dong dia?"   "Iyaa," Chaeryl ngangguk, bukan mau nyebarin aib sih, tapi emang kenyataannya gitu.   "Kok bisa sih? Maksud gua kok bisa udah skripsian?"   "Om gua pinter elah, lulus sma aja di umur yang enggak seharusnya," Chaeryl menggaruk alisnya. "kata lainnya sih, kalo lo sama gua anak aksel, Om gua levelnya lebih dari itu."   "Wih kece tuh."   "Kece tapi dia tuh sebenernya sama aja kaya kita, dituntut. Malah lebih parah. Makannya pelampiasan stresnya ke cewek. Seks udah jadi makanan dia sejak SMA, jadi elo ga usah heran kenapa dia b*****t. Untung aja tu orang kaga kena penyakit yang aneh-aneh atau sampe raja singa. Ngeri kalo iya."   Hazel menganggukan kepalanya dia ngerti sekarang tentang Sean. "Untung ya kita pas SMA ga pernah ke klub, sekalinya stess cuman kabur dari rumah buat nonton oppa doang." katanya sembari tertawa mengingat kisah smanya dulu bersama Chaeryl dan Salsa.   "Untung juga pas itu lo bikin gua menang olimpiade sih Zel," balas Chaeryl. "coba kalo enggak, kita bakal dibatasin."   "Ehehe gua cuman bosen menang sih."   "b*****t kao."   Keduanya lantas tertawa bersamaan.   "Tapi serius sih Zel, gua ga tau itu kalo misalnya gua ga menang olim hidup gua bakal gimana. Gua mungkin ga bakal dapat semua kebebasan ini," ucap Chaeryl lalu menghela napasnya. "makannya kadang gua iri sama elo dan Salsa, idupnya enak banget walaupun kismin juga."   "Kok elu ujungnya ngatain sih jir?" kata Hazel. Kesinggung dia dibilang miskin, meskipun kenyataannya iya.   "Kan ketularan Salsa," kata Chaeryl. Emang sih, dulu antara mereka bertiga Salsa itu paling demen ngatain orang.   Tanpa keduanya ketahui dikelasnya Salsa tiba-tiba bersin dengan sangat keras. Batinnya langsung menjulid, 'Pasti gua lagi diomongin nih.' Tapi bener sih.   Hazel noel Chaeryl lagi. "Eh kan kata elu Pak Sean tanggung jawab, terus kenapa sekarang dia jadi single daddy begono?"   "Kan istrinya jalang, pas Deon lahir dia malah pengen cerai. Berhubung Om gua juga ga suka sama dia, lalu mereka bercerai tapi Deon hak asuhnya ada ditangan Sean."   "Lah napa?"   "Om gua tuh sayang sama Deon meskipun dia ga cinta sama mantan istrinya. Karena Om mau Deon terjamin masa depannya makannya hak asuhnya ditangan Sean. Mau jadi apa Deon kalo ditangan mantan istrinya?”   Hazel menganggukkan kepalanya. Ternyata Sean benar-benar mempunyai kisah kelam dibalik kesuksesannya sekarang.   "Eh, om elu ga nikah lagi? Kan dia udah kaya sekarang."   Chaeryl menatap Hazel curiga. 'Ini Hazel mau modus apa gimana sih?' tapi karena melihat wajah polosnya Hazel, Chaeryl pun berkata, "Enggak. Dia kapok, lagian katanya belum nemu yang cocok."   "Oo. Tapi dia dah tobat kan?"   "Ya kadang tobat kadang kaga sih, namanya juga cowok. c***l otaknya. Apalagi kalo dipancing."   Mendengar itu Hazel langsung menelan ludahnya, auto panik dia. Keingetan kejadian tadi pas Sean datang ke rumahnya dan Hazel menyambutnya dengan tampilan yang minta diterkam. 'Duh, ntar malem gua ga akan kenapa kenapa kan?' ............
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD