Chapter 08: Sean itu Duda…
Hazel terdiam kaku di kursinya sembari celangap karena melihat makanan mahal berjejeran di mejanya.
Sementara didepannya ada Sean yang sudah melepaskan jasnya dan sudah menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku. Sesekali tangannya mengusap poninya sendiri sampai jidatnya terlihat.
Sepertinya kewarasan Hazel udah menghilang. Atuh lah, makan siang steak mahal begini ditemani orang ganteng, SIAPA JUGA YANG MASIH WARAS?!
Gadis itu mengigiti bibirnya sesekali, gugup sendiri. Takut disuruh bayar dia tuh. Masalahnya ini makanan yang dipesen Sean mahal semua anjir.
Sean juga menyuruh Hazel memesan makanan yang dia tunjuk—yang harganya bikin kantong Hazel sekarat seketika—pas Hazel nanya apa makanan yang enak di restoran steak ini.
"Kenapa diem aja?" tanya Sean bingung karena sedari tadi Hazel enggak nyentuh makanannya. "kamu masuk masih lama kan, jadi makan aja dulu. Santaii."
Hazel mengigiti bibirnya, lalu memainkan jari-jari lentik miliknya. Sedangkan Sean yang melihatnya hanya menahan diri untuk tidak teriak melihat Hazel yang menggemaskan, juga menahan diri untuk tidak menerkam Hazel sekarang.
Ntah kalo nanti.
Eh ga.
'Berhenti ngegigitin bibir dong,' batin Sean diam-diam resah. 'daripada ngegigitin bibir sendiri mending gigit bibir saya aja. Eh.'
"B-bukan gitu Pak," Hazel akhirnya bicara. Sean bersyukur dia tidak mengigiti bibirnya lagi. "saya cuman ngerasa bingung aja."
"Bingung kenapa hm?"
"Ini saya bayarnya gimana ya? Saya ga punya duit." Hazel terlalu jujur emang.
Sean terdiam sebentar, lalu kemudian dia ketawa. "Ahahaaha ya ampun Hazel. Tenang aja kali, ini saya yang bayar. Udah kamu makan aja."
"Aduh kalo gitu saya makin enggak enak sama bapak," balas Hazel lalu menghela napasnya, mukanya masih bigung.
"Kenapa ga enak? Ini makanannya enak kok."
BUKAN GITU DUDA! Plis, tolong ya siapapun tahan Hazel biar ga nampol Sean. Hazel tau makanan disini enak, soalnya Chaeryl pernah naktir dia disini.
Soal ga enak jelas bukan tentang makanan, toh buat Hazel mah nasi tambah citato aja udah enak. Ga enak itu karena Sean ngebayarin dia makanan mahal ini, padahal kan Hazel bukan siapa-siapa dia.
Hazel cuman gurunya Deon. Ngajar Deon pun baru bentar.
Duh kan, Hazel suka enggak enakan sama orang baik macam Sean ini.
"Bukan ituuu."
"Terus kenapa?"
"Karena bapak bayarin saya makanan, saya ngerasa enggak enak," kata Hazel lalu menggaruk pipinya. "kurang lebih begitu."
Sean menatap Hazel intens, membuat yang ditatap menelan ludahnya. Apalagi saat Sean memajukan wajahnya sembari terus menatap Hazel. Jantung Hazel hampir terjun bebas dong. "Kamu ini bilangnya enggak punya uang, tapi kamu ngerasa enggak enak saya bayarin. Kamu maunya apa?"
"E-enggak tau pak," Hazel kembali mengigit bibir bawahnya. "saya bingung."
Sean menghela napasnya, berusaha menahan diri agar tidak melakukan hal yang macam-macam. Meskipun kadang birahinya susah dikendalikan. Tapi Sean enggak mau membuat Hazel takut.
Toh dia sudah berjanji pada Chaeryl.
"Yasudah sekarang kamu makan aja, soal ngebayarin kamu enggak perlu ngerasa enggak enak. Anggap aja ini hadiah karena kamu berhasil akrab dengan Deon. Toh jarang loh Deon akrab sama guru privatnya."
Hazel menganggukan kepalanya. Berusaha menggerti meskipun itu alasan yang sungguh tidak masuk akal. Serius. Hazel baru dua hari ngajar masalahnya.
"O-oke."
"Saya harap setelah ini kamu lebih semangat lagi dalam mengajarnya. Kamu juga bisa meningkatkan perfoma mengajar kamu sehingga nilai matematika Deon yang buruk bisa membaik. Ingat saya membayar kamu mahal."
"Kalo itu pasti pak, saya akan berusaha sebaik mungkin agar Deon mendapatkan nilai yang bagus," ucap Hazel semangat. Sean Senang mendengarnya.
"Yaudah kalo gitu makan atuh, ntar keburu dingin."
"Siap kapten!"
Hazel memakan makananya dengan lahap, sampai-sampai Sean tertawa.
Ini mah sama kaya Deon banget kalo terlalu exited. Makannya berantakan.
"Hazel." Sean memanggilnya, otomatis Hazel mengangkat kepalanya. "Ya?"
Tiba-tiba saja Sean membersihkan sisa makanan di deket bibir Hazel dengan tangannya. "Berantakan banget makannya, kamu ini beneran anak kuliah atau masih SD sih?"
Hazel membulatkan matanya, terlalu kaget dia sebenarnya. Apalagi ketika jempol Sean menyentuh sudut bibirnya.
'ASAKAKAKAKAKSKAKAAKAKKAAKKAAKKAKAKAAKAKAKKAKAKAKSKAAKAK.' saking deg-degannya Hazel ga bisa ngomong apa-apa lagi.
Sumpah, ini Sean ngapain sih? Mau nyindir sekalian bikin Hazel mati?
Astaga!
"A-ah iya, maaf kan saya," Hazel menundukan kepalanya. Berpikir lain kali dia harus hati-hati dan lebih menjaga imagenya.
Sean tersenyum manis, "Ga apa-apa sih. Ga perlu minta maaf juga. Saya cuman risih."
Lah, katanya ga perlu minta maaf, tapi risih? "Maksudnya? Risih gimana?"
"Risih soalnya jadi pengen ngebersihin bibir kamu terus," kata Sean yang dilanjutkan didalam hati. 'malah pake cara yang lain kalo bisa.'
"Hah?"
"Yaudah lah lupain aja. Makan nanti keburu dingin."
"O-oke."
Yang selanjutnya terjadi hanyalah keheningan diantara mereka. Ah enggak hening sih, soalnya tiba-tiba aja terputer lagu I Love You 3000.
Sialan, kenapa lagunya mendukung sih? Hazel kan jadi pengen nikah. Sama Sean kalo bisa.
'Eh astagfirullah, mikir apa gua?' Hazel cepat-cepat menampar pipinya sendiri.
"Kenapa?" Sean bertanya setelah menciduk Hazel telah menampar pipinya sendiri.
"A-ah enggak," cicit Hazel malu. "maaf."
'Kenapa sih minta maaf mulu, jadi gemes kan?' tanya Sean dalam hati. Baru kali ini dia berurusan sama perempuan enggak enakan yang kayanya juga hobi minta maaf untuk kesalahan yang enggak dia lakukan. 'lucu ih. Ya ampun inget umur.'
Sean meringgis dalam hati, iya sih kalo soal umur mereka terpaut jauh. Hazel 19 tahun sedangkan Sean 34 tahun, udah punya anak pula.
'Lagian kalo umurnya ga beda, emang dia mau sama saya?'
OH YA AMPUN PAK, SIAPA YANG ENGGAK MAU SAMA BAPAK?!
Lagi asik ngelamun gitu tiba-tiba aja Hazel bersuara. "Oh iya pak, saya mau nanya sesuatu tapi bapak jangan marah ya," ucapnya dengan hati-hati. Jujur Hazel mau menanyakan hal yang menghantui kepalanya dari awal dia bertemu dengan Sean.
Tentang istrinya Sean.
Kenapa Hazel enggak pernah liat istrinya Sean? Padahal Hazel kan penasaran siapa wanita beruntung yang menjadi istrinya Sean yang baik ini.
Dirumah Sean juga enggak ada foto istrinya. Yang ada cuman Foto Sean dan Deon, dan keluarga besarnya.
Sean mengangguk. "Boleh, mau nanya apa?"
"Em itu, sa-saya dan bapak pas berduaan begini e-emang enggak ada yang marah?" tanya Hazel dengan gugup sampai pertanyaan yang dia lontarkan membuat Sean menyiritkan dahinya, bingung. "Maksud?"
"Mak-maksud saya, istri bapak enggak marah emang kalo tau kita makan berdua begini?"
Sean menggelengkan kepalanya. "Enggak. Toh saya enggak punya istri. Enggak akan ada yang marah sih."
Hazel cengo untuk kesekian kalinya.
'Lah, duda dong?'
................