[TSP] pengkhianatan

1151 Words
Dharma baru tiba tepat tengah malam. Lantai bawah sepi, seperti dugaannya, Geya pasti sudah mengurung diri di kamar. Helaan napas keluar sembari kaki jenjangnya menaiki tangga sementara jari telunjuk dan jempol saling bekerja sama untuk melepaskan kancing-kancing kemejanya. Rasa lelahnya begitu terasa saat Dharma menginjakkan kaki di rumah. Semoga saja Geya sudah tidur sekarang. Pria itu sama sekali tak memiliki stok kesabaran jika dia harus berhadapan dengan Geya sekarang. “Dari mana kamu, Mas?” Sial. Seharusnya Dharma tahu, pria itu tak pernah mendapatkan apapun yang diharapkannya. Jika tahu Geya masih terjaga, sudah pasti Dharma akan memilih untuk tidur di kamar yang satunya. Geya berjalan mendekat. Tangannya refleks menutup hidung kala menangkap bau menyengat yang selalu membuat kepalanya pusing. “Habis dari club kamu, hah?” Dharma tak menjawab. Ia berjalan begitu saja melewati Geya menuju walk in closet, mengambil handuk baru dari laci, hendak langsung membersihkan dirinya. “Hebat ya kamu! Kamu nyuruh aku ngeladenin papa kamu sendirian sedangkan kamu asik senang-senang sama perempuan lain. Kenapa nggak sekalian booking kamar aja, Mas?” “Diam, Ge.” Suara Dharma begitu dalam, tampak sekali sedang menahan gejolak emosinya. “Kenapa? Atau jangan-jangan kamu udah booking kamar dan sekarang perempuan itu lagi tidur nyenyak di sana semetara kamu pulang, gitu?” “Gila kamu,” desis Dharma tak terima. “Kamu yang gila, Mas!” Geya berteriak. “Mama kamu semakin sekarat dan kamu masih aja b***t. Kalau sampai Mama kamu tahu kelakukan kamu selama ini gimana dia, Mas?” “Ge! Jangan bawa-bawa Mama dalam pertengkaran kita.” Dharma memperingatkan. “Kenapa?” Geya balas menantang. “Kenapa aku nggak boleh bawa mama kamu sedangkan kamu selalu bawa statusku yang menyedihkan itu kalau aku minta pisah?” “Ge, saya lagi capek.” “Aku juga capek, Mas! Aku capek terus dikomentarin sama papa kamu. Aku capek harus selalu ngebela kamu setiap kali Papa bicara buruk tentang kamu. Aku capek! Kamu pikir cuman kamu yang capek?” Dharma mengacak-acak rambutnya frustasi. “Saya tidur di kamar lain,” putus Dharma sepihak, lantas pergi meninggalkan Geya begitu saja ditengah ledakan emosinya. *** Tubuh Geya panas dingin. Dia bersumpah tidak akan menyentuh nasi dihadapannya sekarang sebelum sebuah pesan di grup chat w******p yang ia tunggu-tunggu tiba. “Kalau gue dapat Dokter Aryo, gue bakal makan bawang putih ini.” Ridho berujar lesu, menusuk potongan bawang putih yang menyatu bersama sayuran sup. “Kata nenek gue, makan bawang putih bakal mencegah hal buruk mendekat. Semoga setan-setannya Dokter Aryo nggak berani dekat sama gue.” “BAHAHAHAHA!” Lia—satu-satunya orang yang bisa makan dengan lahap—tertawa sambil memegangi perutnya. “Percuma, Dho! Kalau lo g****k mau sebanyak apapun bawang putih yang lo makan bakal tetap dihajar lo!” Mata Geya tertarik menatap Lia. Di antara ketiganya, hanya Lia yang sudah melewati masa-masa suram stase bedah bersama Dokter Aryo. “Memang dulu lo dihajarnya gimana, Ya?” tanya Geya penasaran. Seketika, wajah Lia berubah drastis. “Parah! Gue gugup salah nyebut usus jadi liver langsung disuruh gambar anatomi manusia sepuluh lembar full warna!” serunya berapi-api. “Tapi ka—” “Eits! Bukan cuma itu Ridho.” Lia menutup mulut pria itu. “Pas gue tiba-tiba disuruh jadi asisten operasi pengganti, kan nggak ada briefing tuh. Dokter Aryo cuma ngacungin tangannya tanpa ngomong. Gue pikir dia minta mess, ternyata dia minta scalpel! Trus lo tahu dia ngapain?” Geya dan Ridho kompak menggelengkan kepalanya. “Gue diomelin!” serunya sambil menggebrak meja. “Gue nggak terima. Jadi gue dengan beraninya bela diri lah yakan. Gue bilang, ‘maaf Dok, saya salah paham karena Dokter tidak memberitahu apa alat spesifik yang Dokter inginkan’ trus lo tahu gue diapain?” Untuk yang kedua kalinya, Geya dan Ridho menggeleng. “Kaki gue ditendang, anjir! Terus dia bilang ‘kamu sudah sering ikut operasi saya ngapain aja? Dengan track record-mu itu, seharusnya kamu bisa membaca situasi. Kalau kamu bukan asisten saya sudah saya usir kamu!’. Gila, kan? Padahal selama ini gue cuman nangkring di belakang ngeliatin dokter anestesi main sudoku.” “Sakit nggak kaki lo ditendang?” Ridho bertanya dengan wajah pias. “Beuh bukan main! Sakit sih sakit. Tapi lo tau malu gue jauh lebih besar dari rasa sakit! Bayangin itu ruangan dipenuhi sama perawat senior semua, coy! Mana tuh perawat suka muji gue pintar. Gara-gara Dokter Aryo, title pinter gue dicopot, sialan!” “Aduh … mati ini gue.” Ridho menggigit jarinya panik. Mana dia jauh lebih bodoh dari Lia. Bisa-bisa kepalanya dicukur habis oleh Dokter Aryo kelak. Setelah meminum air, Lia kembali berbicara, “Andaikan Dokter Dharma masih jadi konsulen nih ya, gue bakal milih Dokter Dharma buat jadi pembimbing gue.” Geya hampir saja tersedak minuman mendengar ucapan Lia yang muncul entar dari mana. Dengan kesal, diam-diam ia menendang kaki Lia. Namun, sama sekali tidak dipedulikan oleh perempuan itu. Sementara Ridho yang polos mengerjap-erjap matanya heran. “Memangnya kenapa?” “Kalau Dokter Dharma masuk, berarti ada tiga konsulen bedah di rumah sakit ini.” Tiga jari Lia terangkat tepat di depan wajah Ridho. “Yang pertama Dokter Anna. Gue bakal jujur aja, Dokter Anna itu keras kepala, pelit nilai, diam-diam evil. Dokter Aryo, kayaknya gue nggak perlu jelaskan lagi. Dan Dokter Dharma.” “Tampangnya aja udah seram, Ya. Gimana aslinya.” Geya memotong sebelum Lia membicarakan Dharma lebih jauh lagi. Bisa-bisa emosinya kembali tersulut lantaran mengingat tingkah kurang ajar pria itu semalam. “Tampangnya aja yang seram, Ge. Gue bisa baca orang. Tampang seram-seram gitu Dokter Dharma pintar habis. Otaknya daging semua dan yang terpenting, dia nggak pelit ilmu. Jadi kalau sama dia, walaupun lo makan hati, lo bakal tetap dapat ilmu yang nggak ada di buku.” “Memangnya kalau sama Dokter Aryo nggak dapat ilmu?” Geya diam-diam menelan ludahnya. Entah kenapa hatinya mendadak tak nyaman mendengar pertanyaan dari Ridho barusan? “Well … kalau secara pengalaman pasti lebih banyakan Dokter Dharma. Jadi secara otomatis ilmu yang dibagikan juga bakal lebih berharga punya Dokter Dharma,” jawab Lia dengan lantang. “Lia, kalau mau membicarakan seseorang, alangkah baiknya jangan di tempat umum. Orang yang kamu bicarakan itu telinganya masih berfungsi dengan baik.” Ketiga pasang mata itu melirik sumber suara dengan tampang horor. Dan … tada! Sungguh, melihat pocong, kuntilanak, suster ngesot, dan hantu-hantu lainnya secara sekaligus jauh lebih baik daripada melihat kehadiran Dokter Aryo dan Dokter Dharma sekaligus! “D-dokter.” Lia berujar lirih, sama sekali tak berani mengangkat kepalanya untuk menatap Dokter Aryo yang sudah dipenuhi hawa-hawa tak menyenangkan. “Oh iya, Geya dan Ridho.” Dokter Aryo beralih kepada dua sejoli yang mendadak kejang-kejang saat dipanggil namanya. “Saya nggak sempat kirim chat. Jadi akan saya kasih tahu secara langsung saja. Selanjutnya kamu kalian berdua akan berada dibawah bimbingan saya saat stase bedah. Tolong jangan mengkhianati saya seperti mantan murid yang satu ini. Terima kasih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD