Enam koas cicak—termasuk Geya dan Ridho—tengah berdiri berjajar menyandar pada tembok rumah sakit yang dingin, persis seperti cicak.
Mereka tengah menunggu Dokter Aryo yang sedang memeriksa pasien di dalam sana.
“Ini kita ngapain di sini?” Ridho yang kakinya sudah mulai kebas protes.
“Diam!” Geya memukul lengan pria itu. “Titah Dokter Aryo haram hukumnya kalau dibantah.”
Suara knop pintu yang berputar membuat keenamnya sontak menundukkan wajah.
“Kenapa harus berdiri di situ? Merusak pemandangan saja.” Aryo mengernyit heran, menatap keenam muridnya yang terlihat sangat cupu.
“Dokter bilang tunggu di sini, Dok,” Ridho menjawab dengan wajah polos.
“Kalian sudah mau jadi dokter juga otaknya nggak dipakai,” sahutnya geram. “Di situ banyak kursi kosong, di sana ada tangga. Kalian di sini ganggu orang lewat tahu, nggak?”
“M-maaf, Dok.”
Aryo membuang napasnya. Masih pagi kelakuan para anak ayam ini sudah bikin emosi saja. “Sore ini akan saya ada jadwal operasi. Salah satu dari kalian akan saya panggil untuk menjadi asisten saya. Jadi tolong persiapkan diri kalian,” ucapnya lalu melenggang pergi begitu saja.
Kesempatan langka. Seharusnya mereka senang mendapatkan kesempatan menjadi seorang asisten operasi. Namun, fakta bahwa mereka akan terjebak dalam satu ruangan kecil yang dingin bersama Dokter Aryo sangatlah horor. Jangankan satu ruangan operasi, mendengar namanya saja sudah berhasil membuat bulu kuduk merinding.
“Kalau begini ceritanya, gue nggak tahu bakal doa supaya dipilih atau nggak,” celetuk Rini dengan wajah pias.
“Memangnya operasi apaan sih? Ada yang tahu?”
Pertanyaan Ridho itu dibalas dengan gelengan.
“Mampus!” seru Fiona, tampak semakin panik saja. “Kalau dapat operasi yang susah gimana?”
“Atau gini aja.” Geya angkat bicara. “Gimana kalau kita tanya perawat administrasi soal detail operasinya?”
“Bercanda lo?” Rini menatap Geya tak percaya. “Perawat administrasi yang judes-judes itu nggak bakalan mau ngasih!”
“Betul!” Ridho menimpal dengan penuh semangat. “Gue pas itu tanya Dokter Arini pegang berapa pasien aja cuman dilirik sinis, apalagi nanya yang beginian.”
“Memangnya nggak mau dicoba dulu?” Geya memandang satu-persatu temannya penuh harap.
Fiona menghela napas. “Kalau backing-an lo sekelas Dokter Dharma sih nggak apa-apa, Ge. Secara kan perawat-perawat itu cuman jinak sama dokter-dokter ganteng.”
***
“Beneran nggak bisa ya, Mbak?”
“Kerjaan saya banyak, Dek. Nggak ada waktu ngurusin kamu,” sahut perawat itu dengan acuh.
Dalam hati, Geya mencibir. Sibuk apanya? Jelas-jelas dia sedang dandan!
“Tapi ini penting, Mbak.” Geya mencoba sekali lagi keberuntungannya, memasang wajah semenyedihkan mungkin.
“Kami nanti bakal jadi asisten Dokter Aryo, Mbak. Saya cuman minta informasi mengenai jenis operasi yang akan dilakukan Dokter Aryo sore ini, nggak lebih kok.”
“Repot, Dek,” jawabnya sedikit kesal. “Harus buka website rumah sakit, masukin pin khusus, kode segala lagi. Repotlah pokoknya. Kamu tanya sendiri aja sana sama Dokter Aryo! Kenapa pakai nyusahin saya segala?”
“Nggak sampai sepuluh detik. WiFi di sini juga oke. Kenapa kamu mempersulit orang lain?”
Mendengar suara bass yang menghampiri telinganya, perawat itu langsung menyembunyikan cermin yang sedari tadi ia genggam. “Selamat siang, Dokter Dharma,” sapanya malu-malu.
Geya sontak menoleh menatap Dharma yang ternyata berdiri menjulang di sampingnya. “Siang, Dok.” Geya ikut menjawab dengan sopan.
“Butuh apa kamu?” tanya Dharma.
“Em … informasi soal operasi yang akan dilakukan Dokter Aryo nanti sore, Dok.”
“Sore, ya?” jari Dharma mengetuk-ngetuk permukaan meja sebelum menatap perawat itu dengan tatapan heran. “Kalau operasinya sore ini seharusnya kamu sudah punya print out-nya, kan?”
“E-eh iya, Dok.” Dengan tergesa-gesa, perawat itu menarik salah satu lembar yang bertumpuk di atas mejanya. “Ini informasi tentang operasi Dokter Aryo.”
“Kenapa nggak diambil, Ge?”
Teguran itu membuat Geya tersadar. Dengan segera, dia mengambil kertas tersebut dari tangan Dharma. “Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih juga, Mbak. Kalau begitu saya pamit pergi dulu.”
Senyuman bangga terpatri pada wajah Geya ketika dirinya menunjukkan selembar kertas itu pada teman-temannya.
“Gila! Seriusan ini asli, Ge?” Ridho berteriak tak percaya.
Cih, melihat ekspresi mereka semakin membuat Geya besar kepala saja. Jika begini, dia merasa seperti seorang pahlawan super.
“Bisa dilihat itu ada cap resminya.” Geya berujar dengan sombong.
“Beneran Ge, lo emang yang terbaik!” seru Rini sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Geya.
“Kalian pada senggang, kan? Kalau gitu ayo kita belajar bareng,” ajak Geya yang sudah siap dengan buku kecilnya yang selalu dibawa ke mana-mana.
“Kayaknya lo aja deh Ge yang belajar.” Fiona menimpal dengan senyuman prihatin.
“Loh, kok gitu? Gue udah susah-susah mohon sama perawat buat dapetin ini tapi kalian malah nggak mau belajar?”
Ridho menepuk-nepuk pundak Geya. “Baca grup deh. Itu Dokter Aryo udah nentuin siapa yang jadi asistennya. Selamat ya Ge, hari pertama jadi koas bedah udah jadi asisten aja.”
***
Empat puluh menit. Seharusnya, operasi abses hati hanya memakan waktu paling lama 20 menit, tetapi karena nanah yang lebih banyak dari perkiraan dan letaknya yang sulit dijangkau, alhasil operasinya dua kali lebih lama.
“Kerja bagus.”
Geya menoleh, mendapati Aryo yang berdiri di belakangnya, masih mengenakan pakaian steril.
Pujian singkat itu tentu saja langsung membuat hati Geya berbunga-bunga. Tidak sia-sia dia belajar tadi. “Terima kasih banyak, Dok.”
“Ada urusan penting?” Aryo mengangkat sebelah alisnya, menatap Geya heran lantaran kini perempuan itu sudah melepas pakaian sterilnya.
“Ah … nggak ada kok. Saya mau langsung pulang, Dok,” jelas Geya salah tingkah.
“Oh ….”
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, Dok. Mari.”
Geya berjalan menuju lobi rumah sakit sambil membuka aplikasi ojek online. Sejujurnya, dia rindu membawa motor kesayangannya itu ke rumah sakit. Sudah satu tahun ini dia tidak menyentuh kendaraan roda dua itu sama sekali.
Biasanya, Geya pergi ke mana-mana dengan motor itu. Namun suatu hari saat Geya nekat mengendarai motor saat sedang ngantuk, dia tak sengaja menabrak tiang, membuat benjolan besar di dahi yang setara dengan bola bekel.
“Mas Dharma …. Aku benar-benar nggak mau merepotkan kamu. Tapi boleh nggak aku minta tolong kali iniiii saja,” ucapnya kala itu dengan suara sendu saat Dharma mengangkat telepon.
Tidak ada balasan. Geya dengan sepihak menganggap Dharma setuju untuk menolongnya.
“Anu, Mas. Aku baru aja nabrak tiang. Bagian depan motorku rusak parah, motornya nggak bisa hidup lagi. Jalan di sini sepi banget, aku nggak bisa minta tolong orang lewat. Awalnya mau pesan ojek tapi takut,” jelasnya dengan suara bergetar.
“Mas, bisa tolong jemput aku nggak? Aku udah kirim lokasinya.” Geya kembali bersuara saat tak mendapatkan balasan apapun dari Dharma.
“Tunggu.”
Satu kata itu berhasil membangkitkan semangat Geya. Jika saja kakinya tidak lecet, sudah pasti Geya akan melompat kegirangan.
“Makasih banyak, Mas!” serunya terharu. “Bukannya aku nggak tahu diri. Tapi, bisa ngebut dikit nggak, Mas? Aku takut ….”
“Jaraknya jauh. Paling cepat lima belas menit sampai.”
Geya meringis. Rasanya ia ingin menangis sekarang juga. “Nggak bisa dicepetin jalannya, Mas?”
“Kamu mau saya kecelakaan?”
“B-bukan gitu maksudnya, ta—”
“Nggak usah ditutup teleponnya kalau takut.”
“Beneran?” Geya membelalak tak percaya.
“Hm.”
Geya menggigit bibirnya. “Tapi, Mas … kan sama aja kalau nggak ada suaranya. Aku tetap takut.” Oke, Geya mengakui kalau kini dia adalah orang paling tidak tahu diri.
“Kamu nggak apa-apa?”
Tanpa Geya sadar, Dharma mengalihkan topik pembicaraan.
“Nggak parah-parah banget sih. Cuman kaki sama tangan yang lecet sama kepalaku rasanya sakit banget.”
“Kepalamu berdarah?”
“Nggak sampai berdarah. Cuman benjol aja.”
“Oh, baguslah kalau hanya benjol.”
“Tapi, Mas. Benjolannya sebesar bola bekel.” Geya meringis, menahan semu merah di wajahnya begitu menatap pantulan wajahnya di kaca spion.
Selanjutnya, obrolan mereka mengalir begitu saja—tentu tidak jauh-jauh dari topik benjol—sampai Geya tidak menyadari mobil Dharma telah tiba.
Dan sejak saat itu, Dharma mengambil kunci motor Geya secara sepihak dan melarang perempuan itu untuk naik motor lagi.
“Ngapain kamu?”
“Pesan ojek, Dok.” Geya menjawab tanpa menoleh.
Toh, tanpa menoleh saja dia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Di rumah sakit ini, tidak ada lagi yang bersuara sangat angkuh selain Dharma. Eh?
“Kok?” Geya dengan cepat menoleh, memandangi Dharma dengan kerutan bingung.
Seharusnya kan dia sudah pulang setengah jam yang lalu.
“Pulang sama saya aja.”