[TSP] benang merah

1229 Words
“Bi, nanti kalau Papa udah datang airnya langsung dipanasin, ya. Nggak usah sampai mendidih, yang penting hangat aja biar bisa langsung diminum.” “Oke, Bu.” Sama seperti sebelumnya, setiap kali Ahmad—mertuanya—berkunjung, Geya diharuskan pulang lebih awal, menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Kini, dia tengah menyiapkan daun mint kering setelah mendapatkan kabar bahwa tiga hari lalu Ahmad terserang pilek. “Pak Ahmad datang jam berapa, Bu?” tanya Siti yang kini telah dipenuhi peluh setelah memasak tiga jenis lauk berbeda dalam waktu singkat. “Bapak cuma kasih tahu bakal datang malam, Bi. Usahakan habis Magrib udah siap aja biar nanti kalau Papa datang cepat nggak repot. Ada yang bisa saya bantu lagi, Bi?” “Ini udah mau siap, Bu. Tinggal beres-beres meja makan. Ibu istirahat saja dulu sambil siap-sip. Dari pulang tadi sama sekali nggak istirahat. Nanti Ibu capek.” Geya tersenyum bahagia mendengarnya. “Makasih banyak ya, Bi. Nanti kalau butuh panggil saya aja ke atas.” Sekitar satu jam Geya habiskan untuk mandi dan bersiap-siap. Dengan celana kulot berwarna krem dan dan baju berkerah dongker, kakinya kembali melangkah turun. “Bapak belum pulang juga ya, Bi?” Geya menatap segala arah dengan heran. Ini sudah pukul tujuh malam. Seharusnya Dharma sudah pulang sekarang terlebih lagi ayahnya akan berkunjung. “Belum, Bu.” Geya mengeluarkan ponselnya, tanpa pikir panjang langsung menghubungi Dharma dengan gusar. Kalau sampai ayahnya datang terlebih dahulu, bisa habis dia! “Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Cobalah dalam beberapa saat lagi.” Geya berdecak. Padahal Dharma yang mewanti-wanti dirinya agar berada di rumah, kini malah dia yang menghilang. “Bu, ada tamu datang.” Memet—supir pribadi—menghampiri Geya dengan sedikit berlari. “Papa Mas Dharma udah datang?” Memet mengangguk. “Sudah, Bu. Tapi beliau masih di luar melihat-lihat bunga.” Mau tak mau, langkah Geya juga terbawa ke luar sana, menemui mertuanya yang kini menjadi sumber kepanikan. Semoga saja sebentar lagi Dharma datang. Geya tak yakin bisa mengatasi pria itu tanpa Dharma. “Pa.” Geya mencium tangan pria itu dengan sopan. “Mana suami kamu, Ge?” tanyanya langsung, sama sekali tak berniat untuk basa-basi. “Mobilnya nggak ada di garasi. Belum pulang dia?” Geya menggigit bibir. “Mungkin Mas Dharma lagi kejebak macet, Pa. Biasa, jam pulang kerja jalan pasti ramai.” “Kamu memangnya nggak pulang sama anak itu? Kok udah sampai sini aja.” Dalam hati, Geya meringis. Otaknya ini memang selalu mengucapkan jawaban yang tak jelas disaat-saat genting. “Biasanya kami pulang bareng kok, Pa. Tapi karena tadi Papa bilang mau makan malam di sini, aku pulang lebih cepat supaya bisa nyiapin makanan,” jelas Geya, masih dengan senyuman—yang tentu saja dibuat-buat. Ahmad berdecak. “Saya kesini mau bertemu dengan anak saya. Untuk apa kalau dianya saja nggak ada. Memang anak kurang ajar!” “Sebentar lagi Mas Dharma pulang, Pa.” Geya berusaha meredakan emosinya. “Masuk dulu, Pa. Aku udah nyiapin teh peppermint untuk Papa. Papa akhir-akhir ini pilek, kan?” Langkah tak ikhlas pria itu akhirnya tiba di meja makan. Mata tajamnya yang bersembunyi dibalik kacamata petak menatap satu-persatu hidangan yang tersedia, seakan tengah menilai sesuatu. “Kamu yang nyiapin ini semua?” “Dibantuin Bi Siti, Pa,” jawab Geya sambil menuangkan air hangat ke dalam cangkir setelah memasukkan daun peppermint kering di dalamnya. Helaan napas terdengar. “Suamimu itu kaya, Geya. Tidak perlu masak-masak yang repot setiap kali saya ke sini. Minta Dharma panggilkan koki. Done! Kenapa harus repot-repot, sih?” Geya tersenyum. “Papa akhir-akhir ini sering sakit. Aku takut masakan koki nggak diolah dengan baik. Jadi aku mutusin untuk buat sendiri supaya kualitasnya terjaga. Lagian yang buat ini semua Bi Siti, kok. Aku hanya bantu sedikit-sedikit saja.” “Suamimu. Telepon dia sekarang!” Geya mengangguk samar, pamit untuk menelpon Dharma meski dia tahu teleponnya tak akan pernah diangkat. Pesan sama sekali tak terbaca. Telepon tidak diangkat. Apa yang harus Geya lakukan?! “Kamu bakal datang?” “Memang kapan?” “Malam ini.” “Datang.” Geya sempat termenung sejenak kala percakapannya dengan Dharma siang tadi tiba-tiba muncul di kepalanya. Benar … malam ini Gamala mengundang Dharma party dan pria itu berjanji akan datang. Dasar manusia aneh! Memang Gamala jauh lebih penting dari ayahnya yang pemarah ini! Pantas saja Ahmad selalu memaki Dharma. Kelakukannya saja tidak beradab. Sial. Sial. Sial. “Gimana?” Ahmad langsung bertanya saat Geya kembali. “Em … Mas Dharma lagi ada urusan penting katanya, Pa. Nggak bisa ditinggal. Tapi dia bakal langsung pulang kok.” Terbukti. Wajah Ahmad semakin tertekuk mendengar jawaban dari Geya yang sama sekali tak menyenangkan hatinya. “Kita makan duluan yuk, Pa?” Geya berusaha mengalihkan perhatian Ahmad. “Kamu Minggu kemarin datang ke rumah sakit?” Ahmad kembali membuka suara setelah memasukkan setengah sendok nasi ke dalam mulutnya. “Iya, Pa. Kondisi Mama makin sehat. Aku yakin sebentar lagi Mama bakal sembuh.” Geya menjawab dengan optimis. “Really? Kamu benar berpikir begitu?” Geya mengangguk. “Mama kelihatan makin gemuk.” “Dokter malah bilang sebaliknya.” Ungkapan singkat itu menghentikan pergerakan sendok garpu diatas piring Geya. “Semalam dokternya bilang kalau Rosnida kembali berusaha melukai dirinya. Karena dia sudah dijauhkan dari benda tajam, pelariannya kini makanan. Dia makan sebanyak-banyaknya seperti orang rakus lalu memuntahkannya dengan paksa. Sudah seminggu seperti itu.” “Mas Dharma … dia nggak tahu soal ini?” tanya Geya hati-hati. Pasalnya, Geya tak yakin Dharma akan setenang itu jika tahu kondisi ibunya. “Tentu saja tidak! Anak setan itu nggak bakalan bisa nanya kalau saya tidak kasih tahu terlebih dahulu. Itu kenapa saya ke sini. Tapi anak sialan itu malah pergi. Memang dia nggak pernah mengerti tata krama!” “Aku bakal sampaikan ke Mas Dharma soal ini, Pa.” Geya memotong sebelum cacian Ahmad tak dapat terbendung lagi. “Tentu. Itu tugasmu sebagai seorang istri.” Makanan sudah siap dan Dharma masih belum menunjukkan batang hidungnya. Ahmad kembali berdecak, melempar tisu yang tadi digunakan untuk menyeka kotoran di ujung bibirnya. “Anak itu selalu pulang larut?” Geya menggeleng dengan cepat. “Biasanya selalu pulang tepat waktu kok, Pa. Paling lama jam tujuh udah pulang.” Tentu saja apa yang diucapkan Geya itu bohong. Tak ada kata pulang tepat waktu dalam kamus hidup Dharma. “Anak nakal itu …. Kamu ngak pernah mencoba untuk mendisiplinkannya?” Geya mengernyit sesaat sebelum akhirnya menggeleng pelan. Mendisiplinkan Dharma? Bisa-bisa dia langsung diusir dari rumah! “Sejak kecil dia sudah nakal. Disuruh A yang dia lakukan B. Anak itu baru akan nurut jika saya memberikannya hukuman.” “Hukuman?” “Ini.” Ahmad menunjuk sabuk kulit yang melingkar di pinggangnya. “Saya selalu memukul Dharma dengan ini jika dia berani membantah perintah saya.” Geya lantas meringis negri. Membayangkan bagaimana perihnya saat sabuk itu mengenai kulit berhasil membuat bulu kuduknya bergidik ngeri. “Papa ngelakuin itu sejak kapan?” tanya Geya penasaran. Ahmad mengernyitkan dahi, mengira-ngira kapan tepatnya dia mulai main tangan dengan Dharma. “Saat adiknya lahir. Mungkin sekitar umur 7 tahun. Saat itu dia mendadak jadi anak nakal.” Geya kembali meringis. Bukankah normal bagi anak kecil umur segitu menjadi nakal? Apalagi saat dia punya adik. Tidak seharusnya seorang ayah memukul anaknya sendiri. Mendengar fakta baru itu, pantas saja Dharma sekarang berubah menjadi sosok dingin yang tak berperasaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD