“Ge!”
Panggilan itu berhasil membuat tidur Geya terganggu. Belum sempat Geya tersadar sepenuhnya, kursi yang menyangga kakinya ditarik secara paksa, membuat sepasang kaki tanpa alas itu terjun bebas menghantam lantai.
“Ck, apaan sih lo!” balas Geya tak terima, hampir saja berteriak keras kalau dia tak segera sadar kalau kini mereka tengah berada di ruang istirahat di mana ada beberapa koas lainnya yang sedang tertidur.
Lia—pelakunya. Hanya tersenyum enteng, mendekatkan kursi yang tadi ditarik hingga lutut mereka saling bertemu.
“Tadi gue lihat Dokter Dharma datang diantar sama cewek. Kelihatannya akrab banget sampai pelukan segala.” Lia berbisik tepat di telinga Geya.
Perempuan itu lantas memicing, mencoba memberi kode pada Lia, mengingatkannya untuk tidak berbicara apapun tentang Dharma di rumah sakit.
Ya, satu-satunya orang yang mengetahui pernikahannya hanya Lia, satu-satunya sahabat yang dikenalnya sejak SMP.
“Yang lain tidur, tenang aja.” Lia meyakinkan Geya.
Helaan napas terdengar cukup keras. “Lo tahu gue nggak peduli dengan kehidupan pribadinya. Mau ngelakuin apapun, asalkan dia tetap bayarin uang kuliah gue, gue nggak akan mau ikut campur,” balasnya dengan acuh.
Lia berdecak kesal. “Tapi karena itu satu rumah sakit ngira kalau cewek itu istrinya! Orang-orang cuma tahu kalau Dokter Dharma udah nikah karena dia pakai cincin kawin.”
“Ya bagus kalau gitu. Dengan begitu, gue nggak bakal dicurigai. Hubungan gue dan dia bakal aman sampai nanti kami cerai.” Geya tetap menanggapinya dengan acuh.
Mata Lia memicing penuh selidik. “Lo … memangnya yakin bakal bisa lepas gitu aja?”
Kepalanya mengangguk. “Sure. Pernikahan hanya bakal bertahan sampai ibunya dia sembuh. Sampai saat ini, kondisi ibunya semakin membaik dan sehabis cerai, dia bakal tetap bayar semua study gue sepenuhnya.”
Geya hapal diluar kepala semua poin yang ditulisnya dan Dharma sesaat setelah mereka memutuskan untuk bekerja sama. Tidak banyak, hanya ada lima poin di sana.
1. Status pernikahan akan dirahasiakan. Hanya beberapa orang tertentu saja yang boleh tahu
2. Pernikahan akan berjalan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Baik Dharma maupun Geya diperbolehkan untuk mengajukan cerai jika Ibu Rosnida sudah pulih sepenuhnya atas keterangan resmi dari dokter
3. Dharma akan membiayai seluruh rencana pendidikan yang akan ditempuh Geya dan akan terus berlanjut meskipun sudah bercerai
4. Dharma dan Geya tidak boleh ikut campur dalam privasi masing-masing. Boleh melakukan hubungan asmara dengan pihak lain asalkan tidak berhubungan secara terbuka
5. Hubungan badan diperbolehkan dengan izin kedua pihak
“Lo tahu bukan itu maksud gue.” Lia mendengus.
“Oke, gue tahu pernikahan lo macam apa. Gue akan mendukung lo jika suatu hari lo memutuskan untuk cerai. Tapi gimana orang lain? Bokap laki lo misalnya? Setahu gue dia sayang banget sama lo. Yakin dia bakal setuju gitu aja kalau kalian cerai?”
Geya terdiam sejenak, membayangkan bagaimana rupa pria paruh baya yang usianya terpaut puluhan tahun itu selalu mengangganya seperti istri sungguhan sang anak daripada Dharma sendiri.
“Itu bisa dipikirin nanti.”
“Tap—”
“Geya! Dokter Shinta mau visit!”
Teriakan nyaring dari ambang pintu langsung membuat Geya berdiri tegap, melupakan perbincangan alot antara dirinya, segera berlari setelah mengambil note dan pena.
Dokter Shinta adalah konsulennya. Wanita beranak tiga dengan kacamata tebal yang selalu menatap sinis para koas itu mewajibkan semua koas dalam bimbingannya mengikuti visit pada waktu yang tidak pasti. Pernah sekali, saat jam baru menunjukkan pukul 6 pagi, telah muncul berita di grup kalau Dokter Shinta akan visit.
Geya menghebsukan napas lega kala dia berhasil bergabung dalam barisan panjang seperti anak itik tepat sebelum Dokter Shinta membuka pintu ruang rawat inap.
“Aman. Coba aja lo datang sepuluh detik lebih telat.” Ridho memberi isyarat dengan menyeret jarinya di leher, pertanda kalau dia akan dicecar habis oleh Dokter Shinta.
Satu jam setengah Geya habiskan dengan berkeliling rumah sakit, dari atu bangsal ke basang sal yang lain. Sesekali dirinya mencatat beberapa kasus yang bisa ia pelajari nanti.
Setelah perjalanan tanpa henti itu, Geya akhirnya bisa mengistirahatkan kakinya. Sambil, duduk di salah satu kursi kantin sambil memijit tumitnya yang memerah.
"Geya, kebetulan aku ketemu kamu di sini.”
Suara yang memanggil namanya itu membuat kepala Geya otomatis terangkat, menatap sosok wanita yang berdiri di hadapannya dengan setelan yang … sedikit terlalu berlebihan untuk berkunjung ke rumah sakit.
Lihatlah tas berkelip-kelip itu! Sungguh merusak pemandangan rumah sakit yang asri.
“Mbak,” sapa Geya pada Gamala dengan malas.
“Nanti bilangin Mas Dharma, ya. Pulangnya aku jemput. Aku bakal ngajak dia party, kebetulan aku baru nemu info club yang oke.”
Ini kedua kalinya Gamala menyuruhnya tanpa disertai kata tolong dan hal tersebut sudah cukup untuk menyulut emosinya.
“Mas Dharma sibuk, Mbak. Nggak bakalan sempat dia ikut party-party gitu.” Geya membalas dengan kecut.
Daripada repot-repot menyampaikan hal yang sudah pasti akan ditolak oleh Dharma, lebih baik Geya mendahului.
Gamala langsung tertawa mendengar penuturan Geya. “Pasti sempat. Sejak kuliah dulu dia nggak pernah nolak ajakan aku,” balasnya meninggi.
“Mbak sudah lama nggak ketemu Mas Dharma, kan? Dia sangat-sangat sibuk sekarang. Setiap hari pulang malam dan biasanya langsung tidur. Mas Dharma nggak aka sempat ikut acara, Mbak. Kalau memang ngebet, lebih baik Mbak ajak sendiri Mas Dharma di hari libur,” jelas Geya penuh penekanan.
Senyuman miring terulas pada bibir yang terpoles lipstik merah mencolok itu. “Geya, kamu hanya perlu menjalankan perintahku. Kasih tahu Mas Dharma kalau aku ngundang dia party. Selesai. Kamu nggak punya hak untuk membantah perintahku.”
Jemari Geya terkepal, bersiap-siap untuk menjambak rambut ikal Gamala jika saja wanita itu tidak segera pergi.
“Agh nyebelin banget!” erang Geya frustasi, kembali mendaratkan tubuhnya pada kursi dengan keras.
“Kimi nggik pinyi hik intik mimbintih pirintihki. Bacot!”
“Ini rumah sakit. Seorang dokter seharusnya sudah mengerti kode etik pada semester pertama.”
Suara rendah yang menggema di belakangnya langsung membuat Geya berbalik badan.
Dharma. Pria itu berdiri tegak bersama sepiring nasi dan botol air. Langkah besarnya membawa tubuh tinggi itu duduk berseberangan dengan Geya. Saling berhadapan.
“Mas. Ngapain?!” Geya berbisik panik.
Aduh, bisa gawat kalau ada yang mencurigai mereka!
“Makan,” jawab Dharma dengan santai.
Geya berdecak. “Ngapain di sini? Nanti bakal ada yang curiga.” Geya memperingati.
“Nggak akan. Dengan wajah kamu yang kusut begitu, mereka pasti mikir kalau saya lagi cecar kamu.”
Geya membuang napas. Menyerah untuk mendebat pria di hadapannya ini. Percuma.
“Tadi Mbak Gamala ke sini. Mas disuruh datang ke party dia.” Dengan terpaksa, Geya menyampaikan pesan dari Gamala.
“Oh.”
Ujung matanya tertarik untuk menatap Dharma. “Kamu bakal datang?”
“Memang kapan?”
“Malam ini.”
Dharma berhenti mengunyah sejenak. “Datang.”
“Tap—”
“Kamu malam ini jangan pergi. Papa bakal datang buat makan malam sama-sama.”
Geya termenung sesaat. “Aku makan berdua sama Papa?” alisnya berkerut bingung.
“Sama saya.”
Alis Geya semakin berkerut mendengar jawaban Dharma. “Tapi bukannya Mas mau pergi party?”
“Bisa saya akalin yang pasti saya tidak akan terlambat untuk makan malam nanti dan sebaiknya kamu juga begitu.”