Part 8

845 Words
Rejeki memang tidak ke mana-mana. Kemarin ia kehilangan separuh gajinya sebab mengganti vas dan bunga yang dipecahkan pria itu. Sekarang, pria itu pula yang membuatnya mendapatkan bonus lumayan yang dapat digunakan untuk menggantikan separuh gaji pokoknya. Bosnya datang dan melihat toko yang kosong melompong, tak menyisakan satu pun bunga di dalamnya selain bunga hiasan yang tidak diperjualbelikan. Sebelum Lenna mengeluarkan suara, Hesti dengan berani mengadu terlebih dahulu, bahwa itu merupakan berkat Alina yang berhasil meyakinkan pembeli untuk memborong seluruh bunga di sana. Bosnya sangat senang, tidak ragu-ragu ia memberikan bonus untuk dua karyawannya tersebut. Tentu saja Hesti gembira bukan kepalang, cuek saja dengan mata tajam Lenna yang menatapnya kesal. Toko tutup lebih cepat, mereka akan kembali sibuk esok pagi saat kedatangan banyak bunga untuk mengisi toko. “Jajan, yuk, Lin!” ajak Hesti bersemangat, ia telah menyandang tasnya, siap pulang. “Mumpung dapat bonus cuma-cuma. Kalau ngandelin gaji pokok, mana berani royal keluar duit.” “Enggak, deh. Aku mau langsung pulang saja, mau ketemu adik-adik. Merayakannya bareng mereka.” Keuangan Alina tidak sama seperti Hesti. Jika gadis itu bekerja hanya untuk diri sendiri, maka Alina memiliki empat kepala yang harus diberi makan. Ia tidak akan bersenang-senang sendiri di luar tanpa adik-adiknya. Merayakan versi Alina adalah masak yang lumayan banyak untuk makan sekeluarga, sesekali menyediakan makanan di luar kebiasaan sehari-harinya yang tak jauh dari tempe dan sayur. Makanan sederhana yang sudah menambahkan rasa syukur mereka, sebab kadang mereka harus puas hanya dengan makan nasi garam di tanggal tua, atau malah menahan lapar. Hesti dan Alina berpisah di parkiran. Hesti dengan sepeda motor hasil kredit yang tiap hari dikeluhkan terus cicilannya, sedangkan Alina berjalan kaki. Menapaki trotoar, otak Alina memikirkan makanan enak tapi tidak menguras bonusnya yang dapat ia masak untuk membahagiakan adik-adiknya. Hatinya gembira, bibirnya tidak kuasa menahan simpulan senyumnya. Riang kakinya melangkah, tidak sabar untuk segera sampai rumah, berbelanja di warung tetangga dan masak. Sebuah suara keras klakson mengagetkannya, Alina menoleh dan mendapati sebuah mobil hitam mengikutinya. Berhenti, pengendara mobil menurunkan kaca jendela dan Alina melihat pria monster itu duduk di balik kemudi. “Naik!” perintahnya. Tentu saja Alina tidak mau, memang siapa gadis bodoh yang bersedia ikut dengan orang asing, terlebih ia adalah sosok yang melemparkan ancaman akan membunuhnya. Menggelengken kepala, Alina melanjutkan langkah. Kali ini lebih buru-buru, berusaha menghindari pria monster itu. “Kamu benar-benar keras kepala, ya!” serunya, pria itu turun dari mobil dan mengikuti langkahnya. “Kamu mau apa?” “Sudah kubilang, naik, ikut mobilku!” “Dan membiarkan diri masuk dalam perangkap bahaya?” “Perangkap bahaya?” “Jangan pura-pura tidak tahu,” sindirnya. “Aku tidak akan dekat-dekat dengan orang yang sudah hampir berhasil membunuhku!” Alina bergerak untuk pergi, tetapi pria itu menghalangi langkahnya, tidak membiarkan Alina menghindar. “Jangan menghalangiku,” serga Alina. “Atau aku akan berteriak minta tolong, meneriakimu copet agar semua orang datang mengeroyokmu!” Ancamannya manjur, pria itu membeku di tempat, tak lagi berusaha menghalangi langkahnya. Kesempatan terseut digunakan Alina untuk berlari kabur dan tidak coba-coba menoleh ke belakang. Alina pikir ia telah berhasil menghindari pria itu, nyatanya tidak demikian. Minggu berikutnya ia kembali datang, kali ini tidak sendirian, melainkan bersama orang yang dikenalnya. Orang yang berjasa membiayai seluruh pengobatannya di rumah sakit. Alina sedang melayani Daniel, Amira datang bersama pria itu. Ceria wajah Amira datang untuk mengambil pesanan suaminya, berbanding terbalik dengan muka keruh pria di belakangnya. Sungguh kontras. Namanya Alarick, demikian Amira memperkenalkannya sebagai adik ipar. Alina terkejut, tidak menyangka dunia begitu sempit. Amira baik dan berteman dengan Alina, tetapi adik iparnya begitu memusuhi. Alina sedang sibuk menyiapkan pesanan Daniel, tetapi ia merasakan tajam matanya seolah hendak menelanjanginya, lantas mengoyak kulit Alina. Ia pura-pura tidak tahu. Sesungguhnya Alina penasaran, apa yang telah dilakukannya pada pria itu hingga Alarick begitu membenci bahkan berusaha menabraknya hingga ia berakhir di rumah sakit. Pantas saja Amira yang bertanggung jawab membayar seluruh biaya rumah sakitnya, yang menabrak adalah adik iparnya. Daniel telah pergi setelah sopan berpamitan dengan Amira. Selama ia melayani Amira, tiada hentinya Alarick menatapnya tajam. Kalau saja tatapannya adalah pisau, mungkin sudah mencincang seluruh tubuh Alina. Alina merasa gugup dan takut, tetapi ia berusaha bersikap wajar, pura-pura tidak melihatnya. Hari Minggu seharusnya menjadi hari libur Alina, tetapi sebab ia bertanggung jawab menyelesaikan rangkaian bunga pesanan suami Amira. Alina akan pulang setelah pekerjaannya selesai dan menemani Bu Yani di rumah. Namun, Amira ternyata justru mengajaknya ke makam kala tahu ia akan segera pulang. Alina tidak bisa menolak, termasuk kala Alarick menyuruhnya duduk di depan. Pria itu marah kala Amira dan Alina masuk ke jok belakang, sementara Alarick duduk sendiri di depan bak seorang sopir. Jantung Alina berdebar kencang, antara takut dan penasaran. Alih-alih meminta Amira, ia justru memerinta Alina duduk di sisinya. Apa yang diinginkan pria itu darinya? Selama perjalanan, Alina menyadari pria itu terus meliriknya, membuat debaran jantungnya kian meningkat kencang. Dalam hati berdoa, semoga Alarick tidak membawa mobil masuk ke dalam jurang atau apa pun yang dapat mengakhiri nyawa Alina. Ia merasa, dengan ikut bersama Amira sama saja dengan masuk ke dalam perangkap monster mengerikan itu. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD