Satu hal yang disukai Alina dari Daniel, tatapan pria itu. Entahlah, Alina merasa dicintai hanya dengan melihat caranya menatap.
Sorotnya tidak terbaca, tetapi seperti memancarkan magnet kasih sayang yang dapat menariknya masuk dan merasakan suatu perasaan yang mampu menghangatkan hatinya.
Jantungnya berdebar kencang, debarannya terasa menyenangkan. Bak musim semi, di dalam sana seperti dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran indah. Warna-warni mencerahkan harinya.
Dalam hati Alina bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya perasaan Daniel padanya?
Daniel bak memiliki banyak sekali kepribadian. Sikapnya seringkali berubah-ubah. Daniel sangat baik padanya, meski cenderung menjaga jarak, tidak membiarkan diri terlalu dekat. Terkadang ia begitu manis dan perhatian walau tetap dalam batas kewajaran. Tipis senyumannya terlihat tulus dan menyenangkan untuk dilihat, hanya dengan melihat senyumnya, Alina merasa aman.
Namun, tak jarang pria itu sering terlihat tak acuh, memperlakukannya dengan formal sebagaimana yang dilakukannya terhadap Amira.
Dua perbedaan sikapnya menunjukkan ambiguitas yang tidak dapat ditebak secara pasti oleh Alina.
Keraguan Alina kian bertambah, kala mereka dipertemukan kembali di hari yang sama. Daniel berada di pemakaman yang dikunjungi Amira, bersama Mbah Sena, pria baik hati yang beberapa kali mengunjunginya di rumah sakit. Alina menangkap kilat tidak senang kala pria itu melihatnya turun bersama Amira dan Alarick.
Daniel tidak mau menatapnya seperti biasa. Pria itu juga tidak banyak bicara, sekedar menyapanya pun tidak. Alina merasa kehilangan kehangatan sorotnya yang kerap ia rindukan.
Alina berharap, Daniel memiliki perasaan padanya dan sikapnya tersebut merupakan bentuk kecemburuannya melihat Alina bersama pria lain.
Namun, jika memang cemburu seperti yang diharapkan Alina, tetapi mengapa bersikap seolah-olah tidak mengenalnya? Pria itu semakin membuatnya bingung, dan meraba-raba perasaannya dalam keraguan.
Alina menghela napas sedih, hatinya diliputi kekecewaan. Namun, tetap tersenyum lebar kala melihat Mbah Sena. Ia menyalaminya sopan.
***
Mungkin ketakutannya berlebihan kala dalam perjalanan menuju pemakaman ia berpikir Alarick akan mencekaianya, sebab ada Amira bersama mereka. Namun, kala sepulang dari pemakaman Alina hanya berdua dengan pria itu dan mobil melaju dengan kecepatan mengerikan, pemikian tersebut kembali melintas.
Suami Amira datang menyusul mereka ke pemakaman, dan pria itu meminta Alarick untuk mengantarkan Alina pulang, sementara mereka akan pulang belakangan.
Alina sudah takut setengah mati harus ikut monster yang membuatnya celaka, tetapi tidak punya pilihan lain. Ia tidak mungkin menolak dan merengek pada Amira untuk ikut bersamanya. Alina memendam ketakutannya dalam hati sambil tiada henti merapal doa, memohon keselamatan.
“Kamu tidak ingin membunuhku sekarang, bukan?” tanyanya. Erat tangannya menyengkeram sabuk pengaman yang dipakainya.
Tak sedikit pun Alarick mengurangi kecepatan mobilnya, ia berkendara seperti orang gila. Salip sana-sini dengan cara yang mengerikan. Pria itu tidak menjawabnya, melainkan fokus pandangannya lurus ke depan. Dari sisi, Alina melihat rahangnya yang kokoh dan ditumbuhi jambang rapi, mengeras. Tampan, tapi seperti monster.
“Kalau aku mati, kamu harus bertanggung jawab mengurus tiga orang adikku dan ibu yang sakit-sakitan,” lanjutnya, berharap Alarick mengurangi kecepatan.
“Aku bukan badan amal tempat penitipan anak!” sentaknya kasar, tanpa menoleh sedikit pun.
Alina meliriknya. Alarick seperti sedang menahan kemarahan besar. Tak hanya rahangnya yang mengeras, kedua tangannya juga erat menyengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
“Kalau begitu, kurangi kecepatan mobilnya. Aku masih ingin hidup, setidaknya sampai adik-adikku bisa mandiri dan ibuku sehat kembali. Setelah itu kamu bebas membunuhku.”
Alina tak kuasa menahan desah leganya, kala Alarick benar-benar bersedia memelankan laju mobilnya. Perlahan, mobil berjalan dengan lambat. Tak lama kemudian Alarick menepikannya di pinggir jalan, berhenti di sana.
Sejenak terdiam, baik Alina maupun Alarick taka da yang bicara. Pria itu mengatur napas, terlihat seperti sedang berusaha mengendalikan diri. Tatapannya lurus ke depan. Alina mengamatinya melalui ekor matanya.
Tersentak dan gelagapan kala tiba-tiba Alarcik menoleh kepadanya, menatapnya bak silet baru yang sangat tajam, mampu mengiris hanya dengan ringan pergerakan.
“Katamu, aku harus membalas dendam dengan cara yang tidak kekanakan?” katanya.
“A—apa?”
“Aku akan melakukannya dengan cara yang dewasa.” Ia mendengus keras. “Seperti katamu.”
Memberanikan diri, Alina menoleh, balas menatapnya. Ia nyaris tidak sanggup melakukannya dan menunduk, tetapi ditahannya. Suram dan dingin netranya seolah mengintimidasi Alina. Sangat kontras dengan netra teduhnya yang bersorot sendu.
“Apa salahku, Alarick? Mengapa kamu begitu membenciku?” tanyanya.
“Salahmu adalah lahir ke dunia!”
“Aku tidak minta dilahirkan,” balasnya menyerupai bisikan. Alina tersenyum pedih. Benar, Alina tidak minta dilahirkan, terlebih lahir di tengah keluarga yang membencinya, tidak ada kasih sayang selain ada kedua orang tua yang terlalu cepat meninggalkannya, membiarkannya menderita seorang diri. “Untuk apa dilahirkan jika hanya akan menderita?”
“Tanyakan itu pada arwah ibumu!”
Alina terkesip. “Kamu membenciku sebab punya masalah dengan ibuku?” Alarick tidak menjawan, tetapi intens pandangannya kian menajam, seolah membenarkan ucapan Alina. “Ibu sangat baik dan lembut, aku tidak percaya Ibu bisa melakukan hal jahat yang membuat seseorang begitu membencinya.”
“Baik dan lembut?” geram Alarick. “Dia tidak akan tega menghancurkan sesama perempuan, kalau benar seorang yang baik dan lembut!”
“Katakan Alarick, apa yang dilakukan Ibu hingga membuatmu begitu membencinya?” tanyanya getir, sembari menundukkan kepala. “Ibu telah tiada, apa pun kesalahannya, tolong maafkanlah. Biar aku yang menanggung kesalahannya.”
“Anak yang berbakti,” decih Alarick sinis. “Sebagai peninggalan satu-satunya, kamu memang pantas menanggung kesalahan ibumu.”
Tersentak, Alina merasakan sesuatu yang kasar menyapu pipinya. Mengangkat kepala, ia tersentak mendapati wajah pria monster itu begitu dekat dengannya. Jambangnya menyentuh pipi Alina, terasa kasar di kulit halusnya.
Seketika Alina terlonjak, ia menghindar menjauh. Namun, Alarick terus mendekatinya, mengkis jarak di antara mereka.
Alina tidak punya ruang lagi untuk mundur, sabuk pengaman membuatnya tidak dapat bergerak bebas. Ia terpojok di jok mobil tanpa dapat menghindari lagi. Alarick mengukungnya, tidak membiarkannya lolos.
Degup jantung Alina bekerja ektra keras, ia merasakan sebuah kekhawatiran baru, alih-alih membunuhnya, Alina takut pria itu akan berbuat macam-macam yang merugikannya.
“Kamu akan membayar semuanya.” Suaranya menyerupai geraman, tepat di depan wajah Alina hingga ia dapat merasakan napasnya yang panas menerpanya. Alina menelan ludah gugup. “Berikut bunga yang harus kamu lunasi.”
Kalimat itu melebur bersamaan dengan bibir pria itu menabrak kasar bibirnya. Alina membelalakkan mata, sekuat tenaga mendorong pria itu menjauh. Namun, Alarick tak bergeming. Pria itu justru memagutnya paksa.
Bersambung …