Part 10

1201 Words
Jika ada orang yang paling tidak dapat dipahaminya, maka orang itu adalah Daniel, entah apa yang diinginkan pria itu. Alina merasakan seperti main layangan, seenaknya tarik-ulur. “Anda melamun,” tegurnya. Alina tergagap, semua hal tentang Alarick menguap seketika dari kepalanya. Ia meringis tidak nyaman kala bertemu pandangan dengan tatapan Daniel. Alina ketahuan tengah melamun disaat melayani pembeli. “Maaf.” Daniel menjadi pelanggan tetap Diana Florist. Setiap akhir pekan selalu datang membeli bunga, ia mengaku diminta bosnya. Mereka rutin mengunjungi makam setiap akhir pekan. “Apakah ada sesuatu yang sedang mengganggu Anda?” “Pak Daniel, biasakah Bapak tidak formal begitu kepadaku? Tidak perlu bersaya-anda, panggil saja namaku. Aku bukan Amira, rasanya tidak nyaman dipanggil nona sedangkan aku bukan nona.” “Saya tidak bisa,” tolaknya. Alina memaksakan sebuah senyuman pahit, sejuurnya ia kecewa, tetapi tidak ingin memaksa. Lagi pula ini bukan kali pertamanya ia meminta, dan pria itu tetap saja menolaknya. Mungkin itu adalah cara Daniel membatasi diri, tidak ingin terlalu dekat dengannya. “Anda belum menjawab pertanyaan saya, Nona.” “Pertanyaan apa?” “Apakah ada yang sedang mengganggu Anda? Anda melamun.” Alina mengibaskan tangan, tidak mau menjawabnya. Ia harus mulai mengingatkan diri untuk tidak berharap terlalu banyak pada pria itu. Daniel membatasi diri, maka Alina pun akan melakukan hal yang sama. Harapan sepihaknya tidak baik untuk perasaannya, akan lebih baik ia memupusnya sebelum berkembang lebih jauh. Alina tidak ingin mempermalukan diri, mengharapkan seorang pria yang tidak ingin diharapkan. Segera, tangannya bergerak cepat menyelesaikan pesanan Daniel, agar pria itu segera meninggalkan toko. Alina tidak ingin ia melihat kekecewaan yang melumuri netranya. “Bunga telah siap,” katanya tanpa menatap Daniel. Ia lebih memilih membuang pandangan ke mana saja asal bukan kepada pria itu. “Nona—” “Silakan, Pak.” Alina menyunggingkan senyuman profesional sembari menyerahkan bunga tersebut. “Terima kasih atas kunjungannya.” Alina segera berbalik, tetapi Daniel memanggilnya. Pria itu jelas menyadari perubahan sikapnya. “Apakah saya melakukan kesalahan?” “Oh, sama sekali tidak,” jawabnya enggan. “Sayang minta maaf kalau secara tidak sengaja menyinggung Anda.” “Silakan, pembayaran di kasir seperti biasa, Pak.” Daniel menyerah, ia tidak lagi berusaha mengejar Alina, membiarkan gadis itu berlalu meninggalkannya. Menatap punggungnya bergerak menjauh. *** Menghilang bak ditelan bumi. Entahlah, Alina seharusnya bersyukur tanpa perlu bertanya-tanya ke mana pria itu pergi, dan mengapa tidak pernah muncul kembali. Sejak insiden ciuman kasarnya, Alarick tidak pernah lagi datang untuk mengganggunya. Hampir sebulan lamanya, Amira masih tetap datang, membeli bunga sambil mengajaknya mengobro lama. Namun, ia tidak membawa Alarick serta seperti sebalumnya. Masih membekas jelas, bagaimana rasa ciuman pria itu. Alarick memaksanya, ia bahkan tidak ragu berbuat kasar kala Alina memberinya penolakan. Namun, makin lama ciuman kasarnya berubah lembut, tapi menuntut. Andai bisa, ingin sekali Alina membedah kepalanya untuk mengetahui isi di dalamnya. Aneh saja, ia mengaku membencinya, ingin melenyapkannya, tetapi Alarick justru menciumnya. Dan lebih aneh lagi, kala ciuman pria itu berubah lembut, Alina terbuai dan mengikuti insting turut membalasnya. Benar-benar memalukan, mengingat itu merupakan ciuman pertamanya. Bagaimana mungkin ia bisa menjadi gadis yang tidak tahu malu seperti itu? Alina tiada henti memarahi diri, rasa malu menyergapnya setiap kali mengingat sikapnya yang bergerak mengikuti naluri, mengabaikan otak warasnya yang meminta untuk menolak. Seharusnya Alina lega, pria itu menghilang dan tidak lagi berusaha mengganggunya alih-alih merasa penasaran akan kepergiannya. Namun demikian, ia menahan diri untuk tidak bertanya pada Amira. Setiap perempuan itu datang, mereka hanya mengobrol ringan. Membahas apa saja, mulai dari bunga hingga menggosipi artis terkenal. Amira perempuan yang sangat ceria, cocok sekali jika sangat menyukai bunga. Bunga dan Amira adalah perpaduan yang sempurna. Ia banyak bertanya banyak mengenai bunga. Dan biasanya perempuan itu akan membawa paling sedikitnya dua buket bunga usai mengobrol dengannya. “Aku tidak ingin kamu kena semprot Madame Medusa,” bisiknya sembari terkikik. Alina paham betul yang dimaksud olehnya, tidak lain dan tidak bukan adalah Lenna. Perempuan itu langsung memasang ekspresi sewot setiap kali melihat Alina mengobrol dengan Amira. Namun, ia tidak berani berkata-kata sebab Amira adalah pembeli, orang yang pasti akan membawa pulang bunga-bunga di toko mereka. “Ngomong-ngomong, mulai sekarang kamu tidak perlu lagi takut pada si Madame Medusa. Dia tidak bisa mengancam untuk memecatmu. Lenna justru yang akan kehilangan pekerjaannya jika berani melakukan itu padamu.” “Benarkah, mengapa begitu?” “Tadi, suamiku kasih tahu aku kalau toko ini sudah dibeli olehnya.” “Sungguh, Mir?” Alina membelalakkan mata terkejut. “Bagaimana ceritanya, Mir?” “Kamu tahu, aku pernah merengek pada suamiku agar menambah uang jajan untuk membeli bunga agar bisa mengunjungimu tanpa kena omel Lenna, keesokan harinya Alarick memenuhi rumah kami dengan berbagai macam jenis bunga,” ceritanya dengan mata berbinar jelita, bak boneka. “Kupikir dia b******n tengik yang tidak punya perasaan, ternyata bisa manis juga terhadap kakak iparnya.” “Kurasa dia hanya diminta oleh suamimu,” sanggah Alina. Entahlah, ia ragu monster yang nyaris membunuhnya seperti Alarick bisa bersikap manis. “Kamu benar, kurasa juga begitu. Dia benar-benar mengerikan,” decaknya, lebih kepada diri sendiri. Namun, membuat Alina bergidik. Kakak iparnya saja mengatakan pria itu mengerikan, apa lagi orang lain. Tidak mungkin terhadap orang lain sikapnya lebih baik dibanding dengan keluarganya sendiri. Alina berani menjamin, pasti lebih mengerikan lagi, dan ia adalah gadis malang yang harus berurusan dengannya. “Selang beberapa hari setelah Alarick memborong bunga, suamiku memutuskan membeli toko ini untukku. Alasannya agar aku bisa bebas mengunjungimu tanpa ada kewajiban membeli bunga.” Amira tertawa keras, mengabaikan Lenna di balik meja kasir. Perempuan itu sudah tidak akan berani macam-macam lagi jika tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Alina berdecak takjub, betapa mudahnya menjadi orang kaya, bisa mengendalikan banyak hal dengan uangnya. Tidak suka dengan sikap seorang karyawan, dengan mudah tokonya dibeli agar karyawan tidak lagi bisa semena-mena. Mereka asyik mengobrol, kali ini Alina tidak perlu khawatir akan mendengar teriakan Lenna. Ia bisa sedikit bersantai tanpa mengabaikan pekerjaannya. Amira memintanya bekerja santai dan riang agar suasana kerja menjadi lebih menyenangkan, yang terpenting semua pekerjaan terhandel. Mengobrol dengan Amira sangatlah menyenangkan, lupa waktu hingga tahu-tahu sudah mendekati jam istirahat. Namun, Alina merasa tidak nyaman kala Amira menyebut-nyebut Alarick, ia bilang bahwa Alarick akan datang menemputnya. Itu artinya Alina akan bertemu dengannya setelah peristiwa ciuman yang memalukan. Alina memutar otak, memikirkan cara agar tidak perlu bertemu dengan pria itu. Mungkin ia akan berlari masuk ke belakang, bersembunyi di tempat Hesti, atau pura-pura ijin ke toilet. Denting bel di atas pintu terdengar, Alina deg-degan, mengira itu adalah Alarick. Namun, rupanya orang lain. Ramah ia menyambutnya, melayaninya dengab baik sambil berusaha memperlihatkan koleksi-koleksi bunga di sana. Namun, rupanya pria itu memiliki tujuan lain. Alina terkejut setengah mati mendengar sebuah letusan disertai jeritan keras Amira. Ya Tuhan, pria itu membawa pistol dan sedang memburu Amira! Refleks Alina adalah menerjangnya, mati-matian ia berusaha menahan tangan pria itu. Namun, malang, justru ia yang terkena letusan pistol. Alina jatuh tertunduk di atas lantai, ia merasakan sakit yang luar biasa menembus lengannya. Kabur pandangannya syok melihat darah yang berceceran di dekatnya. Kegaduhan di sekitarnya terdengar jauh. Ia merasakan udara di sekitarnya menipis, hendak merenggut kesadarannya. Namun, ia masih dapat menangkap sosok wajah yang merenggut ciuman pertamanya. Alarick, dia ada di sana dan berteriak keras meminta Amira menelepon ambulans. Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD