Nyeri dan panas terasa di sana, menusuknya kala ia membuka mata dan bergerak untuk mengganti posisi tidur.
Seketika diam kaku, matanya memanas sebab rasa sakit yang demikian hebat menyerbu lengannya, bahkan seperti merambat dan menyebar ke mana-mana.
Sakit yang dirasakannya membuat air matanya merebak.
Alina terdiam, tak membuat gerakan, napas pun ia hati-hati. Ia tetap pada posisinya semula, terbujur. Hanya matanya yang mengerjap, air mata yang telah bergumul di pelupuk matanya, perlahan luruh.
Rumah sakit, langit-langit bercat putih, gorden, dan kelambu putih, serta tiang infus yang dapat ditangkap matanya sudah jelas menunjukkan keberadaannya.
Otaknya berputar, mencoba menggali kejadian yang membuatnya berakhir di sini.
Pria berjaket kulit dan pistol, mencoba mencelakai Amira, tetapi ia berhasil menggagalkannya.
Alina teringat, sosok yang mendekapnya, berteriak panik meminta bantuan, dan menekan lukanya sebelum kemudian jatuh tak sadarkan diri.
Alarick jugakah yang membawanya ke rumah sakit?
Di mana pria itu setelah menolongnya?
Jika Daniel merupakan pria yang paling tidak dapat dimengerti olehnya, maka Alarick adalah pria yang misterius dan sukar ditebak.
Pria itu mengaku membenci Alina, ingin membunuhnya, tetapi ia mencium Alina.
Apakah seseorang akan mencium orang yang dibencinya?
Dan kini ia menolong Alina. Bukankah tujuannya adalah ingin mencelakakan Alina?
Melihatnya tertembak, seharusnya ia hanya perlu membiarkan Alina hingga kehabisan darah, dengan demikian Alarick tidak perlu repot-repot mengotori tangannya sendiri, alih-alih menyelamatkan Alina.
Entah apa maunya, kalau saja bisa, ingin sekali Alina membedah kepalanya untuk mengetahu isi di dalamnya.
Hanya sesekali matanya yang mengerjap, tubuh Alina tidak bergerak, terbujur di atas tempat tidur menatap lurus ke langit-langit kamar. Namun, dari ekor matanya ia dapat melihat ada seseorang di ruangan tersebut.
Jantungnya berdebar. Apakah itu Alarick?
Alina tidak yakin mampu bertemu kembali dengannya, menatap suram matanya, setelah ciuman yang hingga kini masih saja terbayang-bayang olehnya, di tengah kondisinya yang terbujur di atas ranjang rumah sakit.
Luar biasa memalukannya!
Alina ingin menoleh, tetapi takut pergerakan akan semakin menambah rasa sakitnya.
“Nona, syukurlah, Anda sudah sadar!”
Tanpa melihatnya pun Alina tahu pemilik suara itu. Alina bersyukur, setidaknya bukan Alarick. Ia tidak perlu menghadapi pria itu.
Daniel berdiri di sisi tempat tidur. Tatapan yang biasanya hangat, kini menatap Alina dengan sorot sendu. Entahlah, Alina seperti dapat menangkap sejenis sorot penyesalan dalam netranya.
“Bagaimana keadaan Anda?”
Bagaimana keadaannya? Yang jelas tidak baik-baik saja. Alina bahkan terlalu lemas sekedar untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tenggorokannya terasa kelu dan kering, sukar digerakkan.
“Sa—sakit.”
Daniel duduk di kursi, tatapannya dilumuri kesedihan. Diulurkannya tangan menyentuh pipi Alina, lantas secara lembut dan pelan jemarinya bergerak mengusap lelehan air mata di sana.
“Maaf, saya tidak bisa melindungimu.”
Alina tersentuh, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Fisiknya terasa begitu lemah, hal yang ingin dilakukannya hanyalah memejamkan mata dan tidur, siapa tahu rasa sakitnya akan berkurang ketika ia bangun nanti.
Perlahan, kelopak matanya kembali memejam. Hanya dalam waktu singkat, ia telah terbang kembali ke alam bawah sadar dengan Daniel tiada sekejap pun beranjak meninggalkannya.
Pria itu terus berada di sisinya, tanpa kedip menatap wajah lelapnya seolah khawatir Alina akan menghilang begitu ia mengedipkan mata.
***
“Kak Alin dapat panggilan kerja,” bisik Rani.
Alina sudah bisa bergerak dan bangun dari tempat tidur, meski luka bekas operasi pengeluaran peluru masih terasa sangat sakit. Ia terkena tembakan di lengan atasnya.
Hari itu Rani datang bersama Daniel, pria itu menjemput Rani, satu-satunya keluarga yang bisa datang menengok kakaknya. Dito dan Damar masih bocah, sedangkan Bu Yani hanya bisa berbaring di atas tempat tidur.
“Tadi Pak Trisna bilang, kalau temannya udah benar-benar mengundurkan diri. Jadi, majikannya butuh pengganti cepat. Surat lamaran Kak Alin sudah sampai di tangannya, dia minta Pak Trisna untuk memanggil Kak Alin.”
Alina menghela napas sedih. Kesempatan emas itu tidak datang dua kali, tetapi justru pada saat ia masih harus berbaring di rumah sakit.
Keinginan dan harapannya untuk bekerja paruh waktu ada di depan mata, tinggal selangkah lagi ia akan mendapatkannya. Alina tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
“Kapan aku harus datang, Ran?”
“Harusnya hari ini, Kak.”
“Aku harus datang, Ran. Kesempatan emas seperti ini tidak akan datang dua kali.”
“Tapi kondisi Kak Alin ‘kan masih seperti ini. Sudahlah, lupakan saja. Kita cari pekerjaan lain setelah Kak Alin sembuh.”
Alina menggeleng keras kepala. Ia bergerak turun dari tempat tidur sembari memegangi lengannya. Dan tepat pada saat itulah Daniel datang, pria itu masuk ke dalam ruangan sambil menenteng sebuah kresek putih.
“Nona, Anda mau ke mana?”
“Aku hars segera pulang, Pak.”
“Anda baru saja operasi, luka Anda masih perlu perawatan agar sembuh.”
Alina menggelengkan kepala. “Aku sudah merasa baikan. Terima kasih atas perhatiannya, tapi aku benar-benar harus pergi.”
“Kak,” panggil Rani cemas. Gadis itu menyesal memberitahunya di waktu yang sangat tidak tepat. Namun, Alina tidak bisa dihalangi lagi. Daniel pun kalah olehnya.
***
Klasik dan elegan adalah kesan pertama yang ditangkap Alina kala melihat bangunan putih bergaya mediterania tersebut.
Menjadi ciri khas rumah mediterania, banyak menggunakan bebatuan alam layaknya rumah-rumah di negeri dongeng dan memiliki area taman yang sangat luas.
Tidak bersedia menyebutkan alasannya, Alina benar-benar memutuskan keluar dari rumah sakit hari itu juga.
Amira bahkan tidak sanggup menahannya, perempuan itu melepas Alina dengan berat hati setelah Alina berjanji bersedia dibawanya ke rumah sakit secara rutin untuk mengecek lukanya.
Sejujurnya Alina merasa tidak enak harus membebani Amira lagi, ia memiliki harga diri yang sangat tinggi.
Meski miskin, pantang baginya memanfaatkan kebaikan orang lain. Alina akan berjuang sendiri, ia akan bekerja keras dan menyimpan sendiri kesusahannya, tidak akan menceritakannya pada orang lain hingga memancing belas kasihan. Ia tidak sudi dikasihani.
Amira sudah membayar biaya pengobatannya kala ia terserempet mobil Alarick, kini ia pula yang harus keluar biaya untuk operasi pengeluaran pelurunya. Alina tidak ingin terus-terusan membebani orang lain.
Sore itu juga, dengan berbekal selembar kertas bertuliskan alamat calon majikannya, Alina menaiki ojek, datang untuk memenuhi wawancara kerja. Ia tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Mencari pekerjaan paruh waktu yang menyesuaikan dengan jam kerjanya di toko bunga, tidaklah mudah.
Selama ini pekerjaan paru waktu yang ditawarkan padanya dimulai pukul 14.00 sampai malam, pekerjaan yang cocok untuk para mahasiswa, bukan untuknya.
Alina pulang dari toko setelah pukul 4 sore, ia hanya dapat mengambil pekerjaan kasar seperti menyetrika pakaian-pakaian milik para tetangga yang bayarannya tak seberapa.
Sekarang, mendapat kesempatan untuk kerja dengan waktu yang pas, Alina akan memanfaatkannya sebaik mungkin, Dalam hati marapal doa, berharap calon majikannya cocok dan bersedia menerimanya.
“Silakan masuk,” senyum seorang perempuan paruh baya, mengenakan daster rumahan yang sudah pudar. “Tuan sedang di atas, kupanggilkan sebentar.”
Alina dipersilakan duduk di ruang tamu yang luas, banyak menggunakan perabotan kayu di sana. Lantai tempatnya berpijak pun menggunakan lantai kayu, memberi kesan hangat yang menyenangkan.
Alina deg-degan, merasa sedikit gugup dan cemas. Ia memang tidak pernah sekolah memasak, tetapi sangat pandai melakukannya.
Kala masih tinggal bersama kakak-kakak tirinya, ia ibarat upik abu yang setiap hari diwajibkan memasak untuk kakak-kakaknya, sehingga berurusan dengan dapur bukan lagi hal baru baginya.
Namun demikian, sedikit ia merasa cemas. Menurut Rani, teman Pak Trisna yang bekerja di sini merupakan seorang koki profesional. Dulu pernah kerja di hotel bintang lima dan kapal pesiar. Sementara Alina hanya berbekal nekat, sekedar bisa masak.
Jantungnya berdetak keras kala mendengar langkah-langkah berat berjalan mendekat, ia benar-benar gugup.
Menengadahkan kepala, Alina terperanjat melihat sosok Alarick berdiri di sana. Menjulang tinggi dan lekat menatapnya bak seekor singa melihat mangsa.
“Selamat datang di rumahku,” geramnya penuh intimidasi.
Bersambung …