POV Nazhera, flashback.
Untuk pertama kalinya Farel mengajak Aku pergi istirahat di kosan temannya yang dekat dengan kampus. Tempatnya hanya sepuluh menit berjalan kaki dari kelas, melewati sebuah pintu kecil yang terdapat di beberapa sudut kampus. Jika harus berjalan ke gerbang utama itu terlalu jauh.
Kosannya terletak di gang kecil yang cukup ramai dan cenderung padat. Warteg, toko photo copy, kedai bakso, seblak dan tempat nongkrong murah untuk mahasiswa banyak di sana. Kosan murah pun tak kalah banyaknya.
Aku sudah tahu tempat ini, namun ini adalah pertama kalinya Aku ke sana menerima ajakan Farel. Tempat temannya ini cukup mewah dibandingkan dengan kosan lain di sekitar gang kecil ini.
Tempatnya luas, dengan satu kamar mandi dan dua ruangan terpisah antara kamar dan dapur. Satu televisi dengan layar standar menempel di tembok tepat di depan tempat tidur si empu punya kamar.
“Nyaman juga ya…” komentarku waktu pertama kali masuk.
“Iya, kenapa kamu gak ngekos aja Sayang? Dari pada jauh ke kampus?” usul Farel.
“Orang tuaku tidak akan pernah mengijinkannya, kamu tahu itu,” ucapku.
“Hehe, iya,” ia menjawab dengan tersenyum. Senyumnya yang selalu membuat Aku betah berdekatan dengannya.
“Kamu sendiri kenapa tidak ngekos?” tanyaku.
“Kalau ngekos, nanti gak bisa jemput kamu Sayang,” ucap Farel sambil mencolek hidungku. Dan kamu tahu, hal itu adalah untuk pertama kalinya Farel menyentuh kulitku.
Seluruh tubuhku bereaksi panas. Jantungku hampir keluar dari tempatnya. Anehnya aku tidak menolak dan tidak marah sama sekali. Bahkan Aku cenderung senang dengan perlakuannya.
Hampir setiap istrahat siang sekarang kita ke sana, dan selalu ada hal baru yang dia lalukan, memegang tangan, menatap mataku dalam, menyender di bahu, menyuapi makan dan posisi duduk kita yang semakin dekat.
Aku merasakan jantungku tak pernah tenang di dekatnya. Keringat panas karena pacuan jantung yang tak biasa sehinga keringat selalu mengalir dari seluruh tubuhku.
Yang lebih parah adalah ketika aku melihat sang empu punya kosan mencium pacarnya di depan kita tanpa malu sama sekali. Saat itu perasaan aku sangat tidak enak. Karena kita hapir setiap hari ada di sana.
“Sudah biarin aja, jangan ikut campur dengan urusan orang lain,” kata Farel kepadaku untuk tidak ambil pusing dengan si empu punya kosan.
“Aku cuma gak enak aja, privasinya terganggu karna kita setiap hari ke sini,” keluhku.
“Enggak sama sekali sayang…” senyum Farel begitu menghipnotisku untuk menghilangkan rasa tidak enak yang selama ini Aku rasakan.
Si empu punya kosan sama sekali tidak keberatan jika kita setiap hari ke sini, sudah biasa dilingkungan ini jika ada teman kampusnya beristirahat di kosan terdekat. dan si empu punya kosan selalu menyambutnya dengan baik. Bahkan kadang tidak ada karena ada jam kuliah.
Akhirnya Aku pun terbiasa. Sesekali Aku membawakan beberapa makanan atau camilan untuk si empu punya kosan, menghilangkan rasa tidak enak yang terus ada dalam hati.
Lepas dari perasaan itu, Aku dan Farel semakin dekat dan dekat.
Flash back off.
“Akh…” Zhera berteriak lagi mengingat hal-hal yang terjadi di masa lalunya itu. Ia benci dengan masa lalunya. Kalau bisa menghilangkannya, ia ingin sekali menghapusnya.
“Hahaha…” Aswin meledek kekesalan Zhera, “Keluarkan saja semua kekesalanmu,” ledek Aswin.
“Aaakkh…” ia berteriak lagi, kali ini trekking poles jadi sasaran, ia lempar dan ia pun menjatuhkan diri di semak-semak.
Aswin tersenyum sinis melihat Zhera yang terlihat putus asa. Napasnya terengah-engah.
“Nih minum dulu,” Sandi memberikan botolnya.
“Apakah kita masih jauh?” tanya Zhera.
“Kalau cape, udah istirahat dulu, mau makan?” tawar Sandi begitu perhatian. Namun dibalas dengan gelengan kepala Zhera.
“Yu lanjut lagi…” ajak Zhera. Ketika lembaran kenangan itu kembali berkelebat dalam ingatannya, tenaganya seolah kembali penuh.
Aswin, Sandi dan Eki sering merasa terheran dengan tenaga yang dimiliki Zhera. Sisi lain lemah dan selemah-lemahnya susah untuk bangkit, namun sisi lain menjadi yang terkuat dan tercepat ketika berjalan. Seakan beban yang dibawanya hilang begitu saja.
“Kekuatan patah hati, jangan disepelekan,” lirih Aswin melihat tingkah Zhera yang sudah beberapa langkah meninggalkan ketiga laki-laki itu dibelakang. Sontak Sandi dan Eki melihat ke arah Aswin.
“Lo juga kaya gitu Bang waktu patah hati Sabrina?” singgung Eki. Dengan senyum kecut, Aswin menganggukkan kepalanya.
“Lebih parah,” ungkap Sandi memberikan fakta baru tentang diri Aswin yang juga sama terpuruknya di masa lalu.
“Jaga baik-baik cewek itu di sini, jangan biarkan dia terpuruk sendiri.” Aswin sedikit berbisik pada kedua teman laki-lakinya.
“Kalau begitu itu bagian gue, hahaha…” ucap Sandi melangkah, menyusul Zhera.
Keempatnya kembali fokus melangkah. Kali ini treknya terus menanjak, tidak terjal, batu, pohon tumbang dan jurang mendominasi, tak lama mereka pun sampai di Sabana Besar. Mereka beristirahat sejenak di sana.
“Mantap,” ucap Aswin sesampainya di Sabana Besar.
“Kita di Sabana Besar ini jam 12.00 ketinggian di 2268 MDPL… haahh…” Aswin mengambil napas.
“Jadi dari Sabana kecil ke Sabana besar itu jalannya agak naik ya, dan kita jalan dari Sabana Kecil ke Sabana Besar itu sekitaran satu jam setengah, istirahat kita tadi satu kali sekitar 10 menitlah, berarti ya sekitaran segitu satu jam setengah, terus ini kita baru ngelihat dan masuk ke Sabana Besar.” Aswin menjeda laporannya, kemudian melihat sabana yang lebih besar dari sabana sebelumnya.
“Ini sabananya mirip ke alun-alun Surya Kencana mungkin,” ia membandingkan. Tangannya di pinggang, matanya berkeliling menyapu setiap sudut Sabana Besar.
“Enggak sih, lebih mirip Sabana Butek,” ucap Eki memberikan perbandingan lain tentang sabana.
“Wah… Gue enggak pernah ke Butek,” ujar Aswin yang belum pernah ke Sabana Butek.
“Atau ini lebih mirip…” Aswin terlihat berpikir membayangkan sabana mana yang mirip dengan Sabana Besar.
“Ini mirip Sabana Lawu atau Lembah kidang ya…” Sandi memberikan pandangan.
“ Ya Lembah Kidang, Arjuno.” Aswin mengambil napas lagi. Cape dan lelah.
“Jadi jalannya itu ketika sampai ke Mata Air Dua itu kita turun naik dulu dikit, terus turun sekitar 100 MDPL, terus naik lagi 150 MDPL ke Sabana Besar.” Aswin menerangkan trek pendakian menuju ke Sabana Besar ini.
“Terus ini cuaca udah mulai mendung,” tambahnya sambil melihat langit yang mulai ditutupi awan abu-abu, “Duh kalau hujan lagi nih… Ya Allah masa kedinginan lagi,” tambahnya geleng-geleng dan masih berkacak pinggang.
“Kita mungkin istirahat dulu sekitar 10 menit di sini, lalu langsung cabut. Mantap,” mereka lalu duduk dengan satu batang rokok yang diapit di jari-jari masing-masing.
Satu batang rokok bisa habis dalam waktu 10 atau 15 menit. Itu adalah acuan waktu yang mereka pakai untuk beristirahat. Satu batang rokok berarti 10 sampai 15 menit.
Sedekit demi sedikit asap mengepul dan tembakau habis dibakar, tiba-tiba rintik hujan jatuh dari langit.
“Hujan lagi…” decak Zhera menatap langit.
“Tapi kayanya kecil, cukup pakai payung aja,” ucap Eki memprediksi hujan yang akan turun. Zhera mengeluarkan payung yang dibawanya.
Peralatan penting seperti jas hujan, payung dan air minum disimpan pada posisi paling atas keril, supaya mudah dikeluarkan ketika kondisi tak terduga seperti ini. Sedangkan beberapa cemilan kecil disimpan pada sisi saku tas, termasuk rokok.
Setelah mendapatkan payungnya, ia berdiri dan siap melangkah kembali.
“Aduh hujan turun,” suara Aswin kembali kemayu. Zhera yang sudah siap melangkah maju berbalik badan memerhatikan Aswin yang sedang mengahadap kamera.
“Walaupun rintik, tapi aku harus menjaga kesehatanku,” senyum genit dan kemayu ia tampilkan pada mata kamera.
“Nah waktunya menggunakan payung keren ini. Tinggal sekali pencet.” Aswin memencet tombol yang ada di bagian pegangan payungnya.
“Wow… langsung terbuka,” dengan mata dibuat-buat berbinar takjub Aswin piawai memainkan perannya sebagai pria kemayu.
“Aduh… hujannya ternyata tidak terlalu besar, Aku nggak jadi pakai payung deh,” kemudian ia menutup kembali payungnya dengan tombol yang sama ketika dibuka.
“Wow langsung terlipat,” dengan nada kemayunya itu ia pun ingin menertawakan dirinya sendiri ketika menutup dan membuka payung. Memencet tombol pada payung tersebut ia lakukan beberapa kali.
“Waw… kayak payung kingsman, hahaha…” pungkasnya, ditambah dengan tawanya yang tertahan sejak awal. Semua pemandangan tersebut terekam oleh kamera.
Dibelakang kamera, Zhera menahan tawanya melihat kelakuan Aswin dengan tingkah kemayu, jauh dengan kepribadian aslinya yaitu super laki-laki. Tentu itu pun hanya gimmick yang dilakukan Aswin untuk menghibur dirinya dan teman-temannya, juga untuk fansnya.
Mereka mulai berjalan membelah Sabana Besar dan payung yang terus menaungi di atas kepala. Jalur tak berbeda jauh dengan sebelumnya. Landai, lalu menyempit, nanjak sedikit, terjal berbatu, kemudian landai lagi.
Brukk…
“Aduh…”
Hei… siapa yang mengaduh?