Episode 11 Konflik Rokok

1502 Words
“Oke, sebatang dulu kita di sini,” kata Aswin dan mengluarkan bungkusan rokok dari sisi kerilnya. Kemudian bergantian menyulutnya dengan korek api dan menyesap dalam-dapam. Asap rokok mengepul di depan wajah lelah mereka. Seperti melepas kelelahan perjalanan sebelumnya lalu kemudian mendapatkan tenaga baru dari isapan rokok yang diapit oleh jari-jari mereka. “Kenapa harus sambi merokok?” pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut polos Zhera, “Apalagi di gunung, kan udah cape ngos-ngosan nih, bukanya ngerokok malah jadi bikin tambah engap yah?” tambahnya panjang lebar. Ketiga laki-laki di sekelilingnya belum ada yang berminat menjawab, mereka fokus pada isapan rokok masing-masing. Suasana hening, Zhera tak ditanggapi, ia minum air lagi, kehausan. “Katanya, alasan orang-orang merokok itu karena stress, apakah diantara kalian beralasan sama dengan yang Gue tahu itu?” Zhera bertanya lagi. “Ya betul, dan akan bertambah stres lagi sekarang karena Lo banyak nanya,” jawab Aswin sedikit pedas. Perkataannya berhasil masuk kedalam perasaan Zhera. Ini akan menjadi perjalanan super lama jika dia sendiri tidak nyaman dengan perasaannya. “Emang apa salahnya Gue nanya, soal rokok doang,” bisiknya dalam hati. “Gue mau kencing nih abang-abang, ada yang bisa tunjukan dimana tempatnya?” Zhera berdiri, ia memilih mengakhiri pembahasan rokok yang akan membuat hatinya tidak nyaman. Jangan sampai nanti dia pulang tidak selamat. Di waktu yang sama Sandi mamatikan rokoknya yang tinggal sedikit. Ia semangat mendengar permintaan Zhera. “Mari Gue antar nyonyah. Lo bawa tisu basah?” “Bawa, nih…” Zhera memerlihatkan tisu basah di tangannya, lalu mengikuti langkah Sandi. “Ikut Gue,” lalu keduanya keluar dari jalur pendakian dan mencari tempat untuk buang air. “Gue tunggu di sini, Lo pilih aja tempat yang enak menurut Lo, tenang aja, Gue gak bakalan lihat.” Zhera melihat sekitar, sama sekali tidak ada tempat yang nyaman untuk buang air. Ia coba injak rumput-rumput kecil dan mulai berjongkok. Matanya awas memerhatikan Sandi takut kalau-kalau dia melihat apa yang sedang dilakukannya. Sandi bisa di percaya. Ia sama sekali tak bergerak dari tempat berdirinya. “Yu,” ucap Zhera. “Tunggu, sekarang giliran Gue.” Ternyata Sandi mengantar bukan sepenuhnya tulus, namun juga karena kebutuhan yang sama untuk buang air kecil. “Kalau bisa Lo jangan singgung-singgung lagi tentang rokok depan Aswin.” Sandi memperingatkan setelah keduanya memenuhi kebutuhan hajatnya. “Kenapa?” “Kalau kita mau selamat di gunung, sebaiknya jangan memancing konflik. Atau omongan yang menyinggung, apalagi Aswin sebagai leader dalam perjalanan kita, jadi sebisa mungkin Lo hindari tentang rokok ini. Nanti dia tambah stres.” “Gue jadi ngerasa bersalah, Gue harus minta maaf ke dia. Terus kapan Gue boleh tanya?” “Tanya apa saja boleh, kecuali rokok,” tegas Sandi. “Oke oke.” Zhera mengangguk, “Gue boleh nanya kenapa dia stress?” tambah Zhera. “Tanya ke Gue aja kalo Lo mau tahu.” Zhera mengangguk lagi. “Tapi… Lo juga tadi udah nyinggung Gue.” Sandi tiba-tiba berhenti berjalan dan menghadap Zhera. “Kapan?” ia menatap Zhera lekat-lekat. “Lo nanyain Gue patah hati,” ucap Zhera sedikit manyun. “Oh, oke Gue minta maaf kalau begitu.” Sandi meminta tulus. “Tapi karena udah terlanjur Lo nanya, yaudah gak apa-apa kalo Lo mau nanya itu lagi” “Oke, Gue masih penasaran.” ucap Sandi serius. “Lo sendiri ngerokok karena stress?” Sandi hanya menganggukkan kepala, dan terus berjalan. “Yu berangkat,” ucap Sandi sesampainya di depan kedua temannya, menghiraukan Zhera yang masih penasaran dengan alasannya merokok. Bukan sesuatu yang penting untuk dibahas saat ini. “Oke, siap?” Eki sudah bangkit dengan keril beratnya. “Ahk” Aswin menghembuskan napas kasar, “Gak nyangka Gue dulu bisa bawa keril sampe 25 kiLo lebih kaya gini dulu, sekarang rasanya berat banget, gara-gara kurang olahrga juga kayanya.” Aswin sedikit berkeluh dengan kerilnya. “Bawa apa aja Lo 25 kilo?” tanya Zhera. “Bawa beban hidup Lo hahaha,” jawab Aswin sekenanya. “Apakah nyonyah lupa kalau nyonyah membayar kita untuk membawa sisa beban pundak nyonyah?” Eki mengingatkan, matanya sinis kea rah Zhera. “Oh iya, Gue baru ingat, jadi Lo nih yang bawain?” Zhera ingat dengan permintaannya. “Enggak, kita bagi tiga.” Jawab aswin singkat. “Selain barang-barang pribadi seperti baju, kaos kaki, jas hujan, payung, tisu dan yang paling pribadi, kita harus bagi-bagi perlengkapan bersama, kaya kompor, gas, minyak, alat makan, tenda, matras, gelas, sleeping bag, dan jaket,” tambah Eki. “Eits sorry, sleeping bag Gue bawa sendiri juga ya, gak di bawain.” Zhera memotong Eki. “Ya oke, kita juga bawa beras, mie instan, dan bahan makanan buat kita selama lima hari. Harus di awet-awet,” tandas Eki. “Gue jadi penasaran berat beban yang Lo bawa.” Aswin tiba-tiba balik badan menghadap Zhera di belakangnya. “Tas Gue juga berat...” Belum selesai Zhera bicara, Aswin mengangkat keril di pundak Zhera. “Hahaha, ringan seringan kehidupan Lo.” Aswin tertawa puas meledek. “Hidup Gue sama beratnya sama tas Lo kok,” Zhera menjawab serius dengan memanyunkan mulutnya cemberut. “Berat gara-gara cowok Lo itu?” tanya Sandi serius. “Ya gitu deh.” Zhera menjawab tak berminat. “Kenapa berat banget?” “Gue gak nyangka hidup Gue bakalan sedih dan terpuruk kaya gini. Gue pacaran sama dia empat tahun, terus hampir setiap hari Gue jalan sama dia, diantar saat kerja, di jemput saat pulang kerja. Padahal Gue gak perlu itu, Gue kerja sama bokap, di kantor bokap, Gue bisa aja bareng sama bokap, tapi ya Gue hargain usaha dia buat antar jemput Gue kerja,” kata-katanya meluncur begitus saja. Ketiga laki-laki itu menyimak dengan seksama. “Mungkin kebiasaan pas kuliah kali ya, kita selalu berangkat dan pulang bareng padahal kita jurusannya beda.” “Selama ini Lo gak pernah curiga sama sekali sama pacar Lo?” “Engga, kan kita hampir tiap hari bareng terus,” “Terus dia kerja dimana?” “Nah, abis kuliah inilah Gue mulai merasakan keraguan, karena dia sering banget minjem uang ke Gue, gak banyak sih minjem juga, cuma sering. Sering dan dikit-dikit, tapi karena sering, terus gue hitung kalo di kumpulin jadi puluhan jutalah.” “Puluhan juta?” Sandi memastikan dengan nada tinggi ditekan. “Iya, Gue baru sadar pas sekarang-sekarang ini aja, dibayangin, dihitung, sejak kapan dia mulai berani minjem uang, makan dibayarin, pokonya hal yang gue anggap biasa Gue bayangin jadi luar biasa sekarang, mungkin dua puluh juta mah ada.” “Dua puluh juta? Buat apa orang itu?” “Macam-macam alasanlah, buat bensin, tol, ibu sakit, dan karena minjamnya dikit demi sedikit, gak kerasa dan Gue percaya aja, bodoh banget ya Gue.” “Orang tua Lo tahu?” “Semua tentang Gue, orang tua Gue tahu, makanya ibu Gue gak ngerestuin Gue sama dia, tapi Gue gak tahu alasan mereka apa, cuma gak setuju aja. Mungkin perasaan seorang ibu lebih kuat kepada anaknya, terus ada firasat kalau anaknya akan sakit hati, makanya sebaiknya jauhi.” “Emang bokap Lo kasih restu?” “Kalau bokap sebenarnya ikut nyokap, tapi ya… dia terlalu manjain Gue jadinya Gue patah hati sekarang patah hati… banget akh.” Zhera menekan kata hati, ia melempar trekking polesnya sembarangan, luka di hatinya terbuka kembali, seperti ada sesuatu di pikiran Zhera yang tak bisa ia terima. “Gue yakin ada alasan lain yang bikin Lo susah putus sama dia dan Lo ga bisa lepas dari dia, dan Gue yakin Lo sadar kalau Lo sebenarnya dimanfaatin sama cowo Lo, Gue yakin, cuma Lo lagi bohogin diri sendiri aja.” ucap aswin, menerka. “Haah, cape Gue.” Zhera menghela napas, berucap sedikit berteriak, ia menghindar dari pernyataan Aswin. Zhera duduk dan menyender pada keril besarnya. “Guys…” lirih Zhera. “Langit mendung…” ketiganya spontan melihat langit. “Kita harus segera sampai ke mata air dua,” Aswin memberi intruksi. Dan mereka berempat bergegas berjalan kembali. Bersamaan dengan intruksinya, ia merasakan bulukuduknya merinding. “Biasanya kalau bulu-bulu halus ini merinding,” ia memperlihatkan tangannya, “Itu ada hal-hal gaib yang ngikutin kita, dan Gue ngerasa ada yang ngikutin kita.” Aswin melihat ke arah kiri dan kanannya, bekang depan atas bawah, lalu matanya sigap melihat ke sekliling atasnya. Instingnya sebagai manusia ketika ada bahaya aktif, terlebih kalau ada makhluk gaib disekitarnya, bulu-bulu itu bertambah bangkit merinding. “Hey…” Aswin tiba-tiba, “Hey…” ucapnya lagi melihat ke arah kanan, “Hey…” sekali lagi sambil melihat arah kiri. Sandi sebagai cameramen sigap mendokemntasikan apa yang dilakukan Aswin. “Sebenarnya Gue ngerasa ada yang ngikutin dari tadi,” ungkap Awsin akhirnya dengan nada menakutkan dan ragu. “Hey…” kata Aswin lagi sambil melihat arah atas. “Kayanya kita diikutin.” Aswin menyimpulkan, “Iiikkkhhh takut,” ucap Aswin lagi, Eki dan Sandi terlihat cengengesan. Sedang Zhera tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. “Woy, kalian serius.” Zhera menegur ketakutan. “Hahaha…” ketiga laki-laki di hadapan Zhera tertawa lagi. “Yu lanjut yu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD