Permainan
"True or Dare!" seru Ana Chanler ketika smapai dipuncak Signature Hill. Dibelakangnya ,sahabat sahabatnya. ketika Adela Kelly dan Andyn Mercer, masih mendaki bukit berumput itu. Gedung Weaton High yang berbentuk bujur sangkar terhambar dibawah. dikejahuan kaca jendela gedung-gedung di pusat Cambrel berkilau ditimpa sinar matahari pagi.
"Memangnya kita anak umur sepuluh tahun?" Adela berusaha keras menahan rambut hitam legamnya yang sudah dibuat superlurus dari tiupan angin kencang yang berhembus dari sungai Ohio. "Lagi pula, ini kan jam tujuh pagi."
"Dan hari pertama sekolah," kata Andyn sambil memegangi ujung gaun klasiknya supaya tidak terinjak. "Hari pertama di tahun terakhir sekolah kita."
"Betull" seru Queen meningkahi suara angin, "Saat paling tepat untuk melakukan tantangan, bukan? la membentangkan tangan lebar-lebar dan menengadah, membuat rambutnya yang panjang dan berwarna merah berkibar seperti lidah api.
Adela dan Andyn nyengir ke arah teman mereka itu. Dengan jins sobek-sobek dan kaus hitam, Queen kayak orang-orangan sawah bergaya punk, Pergelangan tangannya penuh gelang dan rantai peraklehernya dihiasi kalung manik-manik, Setiap tahun pada hari pertama sekolah sejak kelas satu, tiga sahabat itu selalu memanjat ke puncak W berwarna putih besar dan terbuat dari batu. Batu berbentuk W itu terletak di Signature Hill, di belakang Wheaton High, tepat di atas lapangan parkir. Tempat yang sangat ideal untuk melihat pemandangan Queen yang menyarankan bertemu di sana. Dan memang, hampir semua gagasan datang dari Queen. Menurutnya, hari pertama sekolah sama seperti Tahun Baru bagi kebanyakan orang: hari baik untuk memulai hal baru.
"Kau lupa sesuatu ya, wahai ratu yang gagah berani" tanya Ana yang seperti biasa duduk dipuncak bebatuan putih yang membentuk garis pertama W.
Queen berdiri di tengah-tengah w dan memiringkan kepala. "Beri aku petunjuk!"
"Tanda tangan." Hall hall Andyn menarik tiga spidol dari tas rajut kecil yang tersampir di bahunya. ia membagikan spidol itu kepada teman temannya, kemudian berlutut di garis terakhir W. "Setiap tahun kita kan menulis inisial nama dan tanggal di batu putih ini."
Andyn menggunakan spidol ungu untuk menulis inisial namanya dan menggambar simbol perdamaian yang biasa ia lakukan setiap tahun di atas batu yang sama. Di bawah tanggal ia menulis kata PERCAYA! Orangtua Andyn menganut aliran hippie dan sangat aktif dalam gerakan perdamaian dunia. Andyn berusaha keras mengikuti langkah mereka.
Ana tentu saja menulis inisialnya dengan spidol merah. Sebagai pencetus mode, pakaian, rambut, dan rias wajahnya selalu mengikuti warna yang sedang digandrungi. Warna bulan ini adalah merah. Di bawah inisial namanya, Ana si cewek pesta menulis KEJUTKAN MEREKA!
Akhirnya Queen berlutut dan menuliskan namanya beserta tanggal. Ia selalu mencoba menulis kata-Kata yang bisa memacu semangatnya sepanjang tahun. Ketika mereka masih kelas satu ia menulis TENTUKAN KEINGINANMU DAN JADILAH DIRI SENDIRI! Dan ia benar-benar melakukan apa yang ia tulis. Ia nggak ambil pusing untuk bergabung dengan kelompok anak-anak populer di sekolah. Ia berpakaian sesukanya dan belajar main gitar. Sekarang, ketika sampai di tahun terakhir SMU dan menghadapi banyak pilihan di hadapannya, Ia ingin menulis ungkapan yang dapat memberinya kekuatan, Karena itu Queen menulis GAPAILAH IMPIANMU Shoot the Moon!
Ia berdiri dan menghadap teman-temannya,
“Oke.” Kata Queen. “Siapa yang pertama mau membuat pengakuan?”
“Oh. Jadi ya” kata Ana. “Kalau begitu, aku duluan.”
Ana berdiri. Ia menaruh tangan di pinggang rok mininya yang berbahan suede hitam. Embusan angin membuat mantel merah semata kakinya berkibar-kibar dan nyaris membuatnya terjengkang. Ia menegakkan tubuh, dengan lincah menggerak-gerakkan kepala ala Ana sambil bicara. “Aku senang sekali kita sekarang murid senior, karena itu berarti sebentar lagi kita lulus dan masalahku selesai. Aku menyesal mengambil kelas Computer Aided Design. Aku benci si monster jahat itu Mr. Bedford dan aku benci komputer.”
“Terus kenapa kau mengambil kelas CAD?’” tanya Queen
“Gara-gara Bastian Logan,” jawab Ana
“Kau mengambil kelas itu hanya gara-gara cowok?” tanya Andyn., matanya membelalak.
“Bastian bukan sembarang cowok!” tukas Ana sambil membungkus tubuhnya dengan mantel untuk melindungi diri dari angin. “Waktu kau dan keluargamu berlibur ke hutan musim panas lalu dan Queen berkemah dengan kelompok pemain gitar, aku dan Bastian menjalin hubungan yang sangat istimewa. Lalu di bulan Agustus waktu pendaftaran kelas dia bilang. ‘Ayo kita pilih kelas yang sama sebanyak mungkin.’ Dan aku bertingkah seperti, ‘Apa pun yang kau mau, Bastian.’ Ternyata dua minggu kemudian ia sudah melupakanku dan aku terjebak di kelas
CAD.”
Queen ketawa. “Ya ampun!”
“Bukan kau banget,” kata Andyn terkejut. “Maksudku, itu kan lemah.”
Ana menengadah dan mengerang. “Memang!”
Queen mendorong Ana. “Kutantang kau untuk pergi ke kantor konselor pagi ini juga dan bilang kau salah pilih kelas hanya gara-gara cowok. Aku yakin Mr. Boggs bakal mengizinkan kau mengganti kelas.”
“Nggak adil!” protes Andyn. “Itu sih tantangan gampang!”
“Buat Cewek hippie seperti kau memang gampang,” sergah Ana. “Tapi buat aku yang pantang diperintah siapa pun? Aku bakal kelihatan kaya pecundang.”
Queen berputar menghadap Andyn. “Giliran kau. Bicara sejujurnya!
Andyn menggigit bibirnya gelisah dan melangkah ke puncak bukit, bersiap membuar pengakuan. Tampangnya benar-benar kayak cewek hippie kulit cokelat dengan rambut pirang ikal menumpuk di bagian atas kepala yang dibungkus selendang linen usang warna hijau. Hari ini ia hanya memakai anting hidung yang mungil dan kalung dari sutra bertabur kristal. Cewek itu berbalik untuk menghadap Queen dan Ana. Rok panjang kembang-kembang yang dipakainya ikut berputar di pergelangan kakinya.
“Ingat nggak waktu aku pergi kemping dengan keluargaku dan kubilang kami bersenang-senang disana? Sebenarnya, alasannya bukan karena cuaca atau karena kami pergi naik gunung.” Ia menatap Ana dan menambahkan, “Atau karena granola. Aku senang sekali karena aku ketemu cowok di Blue Ridge Mountains.”
“Aha!” Ana menunjuk Andyn. “Jadi bukan aku saja.”
Queen mengerutkan dahi. “Kau kok nggak pernah cerita?”
“Aku nggak mau kalian menganggapku nggak asyik lagi karena sudah punya pacar,” jawab Andyn sambil menutup wajah dengan satu tangan. “Kita kan berjanji untuk selalu jujur pada diri sendiri dan nggak pernah membiarkan cowok mengatur hidup kita seperti yang terjadi pada semua cewek di Wheaton.”
“Trus siapa nama si ganteng ini? Goda Ana.
Andyn menurunkan tangan kemudian tersenyum. Mata biru pucatnya berkilau. “Brain Sutton. Dia asyik banget loh! Dia sangat menyukai kegiatan alam, sangat jujur, dan bersekolah di Fairmont, di seberang kota.”
“Si Brain ini vegetarian nggak?” tanya Queen. Ia ingat baru-baru ini Andyn pernah bersumpah nggak bakal makan daging.
Mata Andyn mengerjap terkejut. “Ya iyalah!”
“Syukurlah,” Ana terbahak-bahak. “Sebal kan, kalau tiba-tiba kau makan Big Macs dan Chicken McNuggets hanya gara-gara cowok.”
Andyn ketawa. “Nggak mungkin. Kami Cuma mau pergi ke Natural Café atau Noodles.”
“Wah!” Queen menjatuhkan lengannya karena takjub. “Aku baru tahu Iho! Padahal hampir setiap hari kita mengobrol di telepon, tapi sekali pun kau nggak pernah cerita tentang dia.”
Andyn menunduk malu. “Kami sudah berkencan beberapa kali,” Andyn sambil nyengir dengan tampang bersalah. “Tapi aku nggak tahu bagaimana menceritakannya pada kalian.”
“Nggak pa-pa, Andyn Goosey. Aku sangat senang kau menemukan cowok yang cocok.” Kata Ana sambil mencari-cari lipgloss di dalam tas. Hati-hati ia memoleskannya kemudian berkata, “Memang sih kita pernah berjanji untuk selalu memegang teguh prinsip kita: kau tetap jadi seniman dan Queen musisi, sementara aku tetap melakukan apa pun yang kulakukan. Tapi hadapi saja deh: sekarang sudah waktunya kita mencari perhatian cowok. Meskipun ternyata Bastian Logan b******n, tapi dia cerdas dan seksi karena itu aku akan tetap di kelas CAD Supaya dia bisa melihat betapa cerdas dan seksinya aku."
Queen nggak tahan lagi. la melompat ke atas batu besar di puncak Signature Hill dan berteriak, "Oke!Aku punya pengakuan."
Ana bersedekap. "Coba katakan pada kami,wahai ratu yang gagah berani."
Queen menatap Ana dengan matanya yang hijau gelap. "Sudah empat tahun ini aku jatuh cinta kepada Joe Strauss."
"Si pemusik? Ana terkesiap.
Hebat!" kata Andyn sambil bertepuk tangan.
Joe Strauss rocker beken di Wheaton High. Bandnya, Side Effects, mulai terkenal di tiga negara bagian itu.
"Dia cocok banget untukmu!" kata Ana.
"Tapi aku nggak pernah mengungkapkan perasaanku," kata Queen, melompat turun dari batu besar,"Aku hanya menjadi pengagum rahasia."
Sama dong." ujar Ana sambil menaruh satu tangan di pinggul. "Aku juga pernah naksir dia selama kelas dua."
"Serius?" tanya Queen.
Ana mengangguk. Setelah itu Andyn juga mengaku, "Aku juga pernah naksir dia tahun lalu."
“Itu nggak aneh kok,” tambah Ana. “Karena setengah murid cewek Wheaton yang menonton Side Effects kan sebenarnya hanya ingin melihat Joe.”
“Selama tiga tahun ini aku tahu jadwalnya,” lanjut Queen. “Aku tahu dia bakal berada di mana pada jam berapa. Aku akan memastikan bertemu dengannya secara tidak sengaja di lorong sebelum jam makan siang, dan aku buru-buru ke lokerku untuk menunggunya lewat ketika sekolah bubar. Menyedihkan, ya?”
“Itu namanya dedikasi.” Ana menggeleng takjub.
“Nah, ini yang paling parah...” Queen menyipitkan mata. “Alasan aku belajar main gitar adalah supaya Joe memperhatikanku.”
“Wah!” gumam Ana. “Kau nggak main-main, ya.”
“Hebat,” Andyn tersenyum sambil menggandeng tangan Queen. “Kau jadi pemusik jēmpolan gara-gara naksir cowok.”
“Naksir?” ulang Ana seraya mengangkat satu alis. “Kalau menurutku sih jauh lebih dalam daripada itu.”
“Yah, apa pun deh.” Andyn melambaikan tangan ke arah Ana untuk membuatnya bungkam. “Maksudku, Queen kan terlahir sebagai pemusik. Apa yang memicunya tidaklah penting.”
“Kalian nggak marah karena aku merahasiakan ini?” tanya Queen. “Padahal akulah yang bilang sahabat harus saling memberitahu segalanya. Aku juga yang bilang cowok adalah sumber malapetaka. Aku melanggar kata-kataku sendiri.”
“Hei, kita sudah hampir lulus,” Ana mengangkat bahu. “Kalau tidak dari sekarang kita belajar menghadapi cowok, kapan lagi?”
Queen terkulai lega di atas batu besar.
Andyn berlutut di sampingnya dan berbisik, “Waktunya untuk tantangan.”
Ana setuju. “Menurutku kita harus menantang Queen untuk mengungkapkan perasaannya kepada Joe.
“Setuju,” Andyn cekikikan senang. “Queen, kau harus menelepon dan memberitahunya.”
Mendengar itu Queen nyaris tersedak. “Nggak mau! bagaimana kalau dia malah menutup telepon atau mengatakan sesuatu yang sangat kasar? Aku nggak bisa menerima penghinaan kayak begitu.”
Ana mengangkat bahu. “Kalau begitu kirim surat saja.”
Queen memutar bola mata. “Ih, kayak anak SMP.”
Ana berkacak pinggang dan menggerak-gerakkan kepala, “Waktu SMP berhasil, kan? Nah, sekarang juga pasti berhasil. Tapi kalau kau mau menghabiskan tahun terakhir sekolahmu dengan gergila-gila kepada Joe Strauss tanpa melakukan apa-apa, ya terserah.”
“Aku nggak tergila-gila kepada joe Strauss!” Seu Queen. Saat itu Toyota 4Runner merah Joe muncul di lapangan parkir. Beberapa murid yang berkumpul di sana mendengar seruan Queen dan memandang ke atas bukit.
Queen menutup mulut dengan tangan. “Courtney dan Caitlin dengar nggak, ya? Bisiknya
Salsa Kass dan Sinta Winters adalah biang gosip paling terkenal di Wheaton High.
Ana ngakak sampai mendengus. “Mungkin kau nggak perlu menelepon atau menulis surat. Salsa dan Ruby yang bakal menyampaikan pesanmu.”
Queen membekap mulut Ana. “Nggak lucu. Kalau mereka bilang kepada Joe, aku bakal malu.”
“Ah, jangan dibesar-besarkan!” sergah Ana sambil menepis tangan Queen. “Nggak masalah dong kalau Joe tahu kau naksir dia?
“Eh, omong-omong,” potong Andyn. “Nggak lucu Kalau kita terlambat masuk kelas di hari pertama sekolah.”
“Betul,” ujar Queen sambil menegakkan tubuh. “Aku nggak mau sampai dimarahi guru. Masalahku sudah cukup banyak.”
Ketika mereka sudah dekat lapangan parkir yang mulai dipenuhi mobil dan murid-murid Wheaton High, Queen membungkuk sejenak untuk menarik nafas. “Ingat ya,” katanya terengah-engah, “percakapan kita di atas bukit adalah rahasia kita bertiga.
Andyn mengangguk ke arah Queen, “Aku ga akan bilang siapa siaoa.”
“Aku juga,” Ana berjanji. Senyum nakal menghiasi wajahnya ketika berkata, “Tapi mungkin kau bakal berubah pikiran, Lihat siapa yang berjalan ditrotoar-tepat di belakangmu. “ Ana membisikkan tiga kata terakhir dengan gaya berbisik berlebihan.
Mata hijau gelap Queen membesar, la nggak berani melihat. “Aku mau masuk saja,” katanya kaku. “Pelajaran hampir mulai.”
Ana menangkap tangannya.”Eh, sebentar, memangnya kau nggak mau menyapa Joe?” Ana menggerak-gerakkan alisnya. “Mungkin ini saa yang tepat untuk bilang kau tergila-gila padanya.”
Queen melihat sekilas ke belakang bahunya. Joe berjalan bersama Charlie Riddle, pemain bass Side Effects. Semakin lama Joe semakin mirip rock star, rambut pirangnya diatur sedemikian rupa sehingga berdiri. Ia mengenakan jaket kulit superlusuh, kaus Fox Motocross, dan jins garis-garis tegak lurus. Rantai perak menjuntai dari ikat pinggangnya dan gelang kulit berhiaskan ornamen perak melingkar di pergelangan tangan. Joe nggak bisa dibilang manis. Ia tipe cowok jantan berwajah tampan.
“Aku nggak mau ngomong sama Joe,” bisik Queen kepada Ana. “Dan kalau kau sekali lagi menyebut istilah ‘tergila-gila’, aku mungkin akan membunuhmu.”
“Ih, kau keterlaluan,” gumam Ana sambil mengikuti Queen ke pintu masuk sekolah.
Andyn melangkah lebar-lebar di samping mereka. “Ana Cuma mencoba membantu kok, Queen.”
“Yang benar saja.” Queen menarik pintu sehingga terempas mengenai punggung cowok yang sedang mengobrol dengan guru di luar pintu masuk. Cowok itu berbalik dengan terkejut.
“Maaf, Reyhan.” Queen mengernyit malu. “Aku nggak melihatmu di situ”
Royhan Lockhart mengenakan seragamnya yang biasa: kemeja putih sederhana, dasi hitam kecil celana cokelat muda, dan topi yang sudah ketinggalan zaman. Ketika melihat Queen, Royhan tersenyum hangat. “Nggak pa-pa, Queen,” katanya sambil menyentuh tepi topinya. “Nggak masalah.”
Queen balas tersenyum dan hendak mengatakan sesuatu, tapi Ana mendorongnya masuk ke gedung sekolah
“Si Reyhan itu kenapa sih?” bisik Ana ketika mereka berjalan sepanjang lorong menuju loker. “Dia sebenarnya bisa terlihat manis Iho, tapi gaya berpakaiannya itu kayak pengungsi yang mendapat jatah baju amal. Mobilnya minivan, lagi.”
“Mungkin dia misionaris Mormon,” kata Andyn.
“Bukan!” Ana mengibaskan tangan, “Misionaris Mormon naik sepeda dan nggak mungkin pakai topi aneh begitu.”
Queen yang melangkah tergesa-gesa karena takut berpapasan dengan Joe, dihentikan Kara LaCross. Temannya sesama pemusik dan penulis lagu. “Queen Aku lihat pertunjukanmu di Evo Senin lalu,” kata Kara. “Aku suka musikmu.
“ Terimakasih, Kara. Mereka memintaku kembali akhir pekan depan,” kata Queen. Ia kepingin memberitahu Kara tentang lagu baru yang sedang ditulisnya dan gitar Fender Telecaster Custom merah mengilat yang baru ia beli. Tapi Ana dan Andyn pasti nggak bakal membiarkannya karena mereka punya misi.
Ana menarik Queen ke loker. Loker mereka bersebelahan sejak kelas satu. “Joe sebentar lagi lewat. Kalau kau nggak bilang kau tergila-gila” ia menaruh tangan di mulut dan meralat kata-katanya “maksudku, kau naksir dia, kau bakal menyesal karena menghabiskan tahun terakhirmu di SMU tanpa pernah punya pacar”
Queen mengangkat satu tangannya. “Oke, Ana, kau menangl Aku akan menulis surat untuk Joe dan memberitahunya tentang perasaanku. Aku akan bilang nggak bisa hidup tanpa dia. Dan aku akan memohonnya jadi pacarku. Selama-lamanya,”
Ana terdiam lama. Akhirnya ia berkata, "Boleh juga untuk permulaan."
Andyn melompat-lompat. "Boleh nggak aku yang mengantar suratnya?"
Queen memutar bola matanya. "Terserah."
Queen beruntung karena lonceng berbunyi, menandakan pelajaran dimulai. la bersandar lega di lokernya.