SELESAI mengikuti tiga pelajaran, makan siang, dan rapat sekolah, Queen memeriksa jadwalnya. Kelas Teori Musik dengan Cleavon Cooper. "Oke," gumamnya. "Saatnya bersenang-senang."
Sebenarnya ia juga menyukai kelas Puisi Amerika, Sejarah Eropa, dan Bahasa Prancis 3, tapi mendaftar di kelas Teori Musik ini nggak gampang. la harus berjuang keras mendapatkannya.
Mr. C, begitu panggilannya di sekolah ini, terpilih menjadi guru favorit selama lima tahun berturut-turut di Wheaton High. Sebelumnya penampilan marching band sekolah biasa-biasa saja, tapi kemudian Cleavon Cooper mengubahnya jadi marching band pemenang kejuaraan dengan menambahkan funk ke dalam komposisi musik dan menyelipkan gerakan-gerakan keren. Mr. C sudah seperti ensiklopedia musik karena ia tahu semua tentang musik empat abad terakhir, dan belajar di kelasnya seperti sedang latihan musik yang dipandu Mozart, Duke Ellington, dan Tupac sekaligus.
Queen membuka pintu ruang musik lalu tertegun. Mr. C duduk di depan grand piano di tengah ruangan, berlatih rangkaian kord jazz yang rumit. Kepala botak dan kacamata “burung hantu”nya membuatnya tampak seperti P. Diddy tua. Hanya ada satu murid duduk di bangku lipat paling depan di seberangnya Joe Strauss. Queen hendak keluar dari sana tepat ketika Mr. C melihatnya.
“Queen!” panggil Mr. C sambil tersenyum lebar. “Kenari, ayo kita bermain musik.”
Queen bingung. Biasanya semua bangku di kelas Mr. C penuh. “Di mana yang lain?” tanya Queen, masih berdiri ragu di anak tangga paling atas.
Mr. C mengibaskan tangan. “Kesalahan jadwal. Kelas keduaku isinya 75 murid. Terlalu penuh. Mereka sampai harus berbagi bangku, duduk di lantai, berayun-ayun di balok langit-langit,” katanya diiringi tawa serak. “Karena itu aku mengubah jadwal kelas. Jadi untuk hari ini hanya ada kau, aku, dan Joeman.”
Joe mengangguk ke arah Queen dan bergumam, “Hai.”
Satu kata saja yang diucapkan Joe sudah membuat pipi Queen memerah. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Queen pikir mungkin gara-gara obrolan mereka di bukit tadi pagi. Queen menunduk ketika menuruni anak tangga menuju barisan bangku paling depan.
Mr. C berdiri dari tempatya duduk dan melangakah ke loker tempat menyimpan alat musik yang berjajar di belakang ruangan. Ia mengeluarkan dua gitar akustik dan menyodorkannya kepada Queen dan Joe. “Ini memang kelas Teori Musik, tapi kita belum bisa mulai sampai jadwalnya dikoreksi. Jadi, bagaimana kalau kita main musik saja hari ini?”
Tiba-tiba Queen gugup. ia pernah beberapa kali satu ruangan dengan Joe di kelas musik, tapi mereka belum pernah main musik bareng. Berbeda dengan Queen, Joe malah tampak senang dengan usul Mr. C. Begitu diberi gitar ia langsung memainkan melodi lagu band nya, Big Trouble Ahead.
Mr. C duduk di belakang piano dan menyelipkan suara piano sebagai latar musik. Queen membiarkan Joe memainkan lagu ity sampai selesai supaya bisa mendengar susunan iramanya, setelah itu Ia baru bergabung. Mr. C dan Joe bermain solo bersahut-sahutan sementara Queen mengiringi dengan nada rendah. Ketika mereka selesai Joe tersenyum kepada Queen dan berkata, Keren.”
Wajah Queen memerah karena senang. Tiba-tiba Mr. C menanyakan sesuatu yang mengejutkannya
“Queen, punya lagu yang mau kaumainkan bersamaKami?
“Wah, hmm, aku.. aku sedang membuat lagu baru“ Queen tergagap. “Judulnya Shoot the Moon, tapi belum selesai.”
“Tidak apa,” Mr. C memberi semangat. “Ayo. Coba mainkan sedikit.”
Queen menelan ludah dengan susah payah dan mencoba untuk tidsk mengindahkan Joe Strauss yang hanya satu meter darinya dan sedang mendengarkan lagu yang ia mainkan. Queen memainkan lagunya, lalu berhenti. “Baru sampai situ. Maaf.”
Ketika Queen menengadah, ia melihat Mr. C dan Joe saling melirik senang. Kemudian Joe menoleh padanya dan berkata pelan, “Lagu... itu... indah.”
“Hmm, gumam Mr. C menyetujui. “Queen, aku ingin mendengarnya kalau sudah selesai. Itu tugas untukmu.”
Pipi Queen kembali bersemu merah.
Mr. C menarik beberapa flyer dari tumpukan kertas di atas piano. “Joe, kau sudah tahu bakal ada The Battle of the Bands, kan? Tolong bagikan in kepada teman-teman musisimu. Mr. C memberikan flyer itu kepada Joe, kemudian tersenyum lebar, “Kita perlu membangkitkan semangat berkompetisi tahun ini.”
Joe tertawa kecil. Side Effects memenangkan The Battle of the Bands selama dua tahun berturut-turut. Hampir semua orang yakin mereka bakal menang lagi.
“Aku bagikan Sabtu ini,” kata Joe. “Kami akan bermain di Atomic Café. Bakalan banyak pemain lokal disama.”
“Bagus,” kata Mr. C. Tiba-tiba ia mengejutkan Queen dengan memberinya satu lembar flyer kuning itu. “Kau juga ambil satu, Queen. Selesaikan lagumu tadi dan sering-seringlah berlatih.”
“Aku?” Queen merasa tersanjung. “Aduh, gimana ya...”
“Jangan takut,” Mr. C menenangkan Queen. “Audisi hanya berdasarkan demo kok, jadi nggak ada tekanan. Rekam saja lagumu dalam bentuk kaset atau CD, setelah itu diperdengarkan di depan juri. Kau bahkan nggak perlu ikut masuk ke dalam ruangan.
“Tapi aku pemain solo,” protes Queen. “Memangnya boleh ikut kompetisi?
Tentu boleh,” kata Joe sambil menatap Queen tajam.
“Memang sih tak ada jaminan kau bakal lolos,” Mr. C mengingatkan. Namun matanya bersinar. “Tapi sebagai anggota dewan juri, aku bisa menjamin demomu akan sangat diperhatikan.” Karena Queen masih terlihat ragu, Mr. C menambahkan, “Kau tidak akan punya kesempatan kalau tidak mencoba,”
“Mr. C benar,” Joe setuju. “Coba saja.”
“Terima kasih, Joe, Queen mencoba tersenyum santai. “Mungkin akan kucoba.” ia melipat flyer itu hati-hati dan menyimpannya di kantong belakang celana. Ia merasa Joe memperhatikan gerak-geriknya. Mungkinkah cowok itu Juga suka padanya?
Mr. C mengajak mereka bermain musik lagi. Kali ini lagu klasik Peter Gabriel berjudul In Your Eyes. Queen hafal lirik lagu itu karena sudah lusinan kali menonton film lama Say Anything. Di bagian refrain Joe menambahkan suara vokal dan mereka bernyanyi bersama: “In your eyes, the light, the heat, in your eyes, I am complete.” Queen tidak menyangka suara mereka bisa begitu harmonis.
Mereka selesai beberapa detik sebelum kelas berakhir.
“Hmm, bagus sekali,” gumam Mr. C. “Suara kalian cocok.”
Queen melihat Joe nyengir. “Bagus,” katanya menyetujui sambil mengangguk. Ketika mereka hendak meninggalkan kelas, Mr. C berkata, “Sayang ya kita tidak bisa sering-sering latihan bertiga karena murid di kelasku jumlahnya banyak. Padahal aku sangat menikmati permainan kita tadi.”
“Aku Juga,” kata Joe sambil menoleh kepada Queen dan kembali menatapnya kagum. Sampai ketemu besok.”
Queen balas melambai. Ia berlagak membereskan buku-bukunya supaya bisa keluar belakangan. Ruang kelas, Queen melompat-lompat kegirangan.
Beberapa menit seteldh itU Queen kembali tenang. Ia melangkah ke lorong penuh murid yang menuju loker masing-masing. Sekolah sudan selesai hari itu. Pernahkah ada hari pertama sekolah yang lebih berkesan daripada hari ini ?.
Malam itu Queen pergi ke studio di garasi untuk membuat PR sekaligus merekam lagu untuk audisi The Battle of the Bands. Ia nggak bisa berhenti memikirkan Joe, Ana, Andyn, dan tantangan mereka. Queen tahu teman-temannya itu akan terus mengganggunya sampai ia menulis surat cinta untuk Joe. Tapi bagaimana memulainya?
Apakah harus puitis? Seperti, hatiku melambung setiap kali aku melihatmu. Duh, nggak deh. Kelewat sentimentil.
Bagaimana kalau ia berterus terang saja aku suka padamu. Sangat. Kau suka padaku nggak? Wah, terlalu terus terang dan jujur.
Kalau dengan gaya sambil lalu bagaimana? Hai sesuatu yang lucu terjadi padaku saat naik kelas tiga SMP... aku jatuh cinta padamu. Nah, begitu lebih baik.
Queen berlatih menulis suratnya di atas kertas menggunakan tintah ungu muda yang biasa dipakainya menulis lagu. Tapi kemudian ia memutuskan menulis surat itu dengan bolpoin biasa di atas kertas biasa.
Queen pergi ke pintu garasi dan berseru ke dalam rumah, “Ada yang punya bolpoin?”
Seperti biasa ibunya sedang duduk di kursi dapur sambil bicara di telepon. Sebagal orang tua tunggal Kit Chandler bekerja 24 jam mengurus bisnis real estate nya. Kakak lak-laki Queen, Nick, yang kuliah tingkat dua di Universitas Cincinnati, telah mengambil alih ruang tamu kecil mereka untuk dijadikan tempat menyimpan buku dan kerfas-kertas. Nick membungkuk di Sofa, membaca buku Sosiologi sambil mendengarkan iPod. Jelas ia Tidak memperhatikan Queen.
Queen melangkah ke lorong menuju kamar yang ia tempati berdua adiknya. April, cewek berumur lima belas tahun, seperti biasa duduk di depan meja tulis dan belajar. April gila keteraturan sampai-sampai ia menempelkan label nama pada semua benda miliknya. Nama-nama itu tercetak di atas label kecil putih. Queen yang memberi hadiah label nama itu pada ulang tahun April yang ketiga belas dan tidak berhenti menyesalinya sampai sekarang.
Satu sisi kamar yang ditempati Queen tampak seperti kamar remaja biasa. Poster-poster grup band rock ditempel di dinding, juga ada papan buletin yang tinggibta selangit-langit sebagai tempat untuk memajang foto-foto lucu teman-temannya, kenangan-nangan pesta dansa sekolah, dan pertunjukan musik kata-kata dan gambar yang digunting dari majalah.
Sisi yang ditempati April sangat berbeda. Sisi itu tampak seperti museum April. Di atas meja tulis putih sangat bersih yang diberi label MEJA APRIL, berjejer wadah dokumen dari plastik dan berlabel DOKUMEN APRIL. Laci meja tulis paling atas diberi label KERTAS CATATAN DAN KEPERLUAN SEKOLAH. Bahkan ia punya buku kecil merah muda yang diberi label BUKU HARIAN APRIL-RAHASIA!
Queen mengeruk pintu yang terbuka dan menunjuk gelas plastik merah muda di meja tulis adiknya. Gelas plastik itu berlabel BOLPOIN DAN PENSIL APRL. “Boleh pinjam bolpoin?”
April yang sedang menulis berhenti sejenak. “Untuk apa?”
“Mau kujual untuk beli mobil supaya aku bisa kabur, jawab Queen sinis. “Yang jelas untuk menulislah!”
April menyipitkan mata ke arah Queen, seolah-olah sedang mempertimbangkan permintaan kakaknya itu. Queen sering berpikir betapa April sangat mirip pustakawan versi kartun. Kacamata kebesaran membuat matanya tampak super besar dan aneh. Dan ia mengucir rambutnya jadi ekor kuda. Akhirnya April menarik bolpoin biru dari gelas dan menyodorkannya kepada Queen. “Kembalikan kalau sudah Selesai,” kata April datar. Jangan memboroskan tintahnya.
Queen menyambar bolpoin itu. “Teima kasih.” Untuk kesekian kali Queen heran mereka bisa jadi kakak-adik. Ia yakin Tak satu pun Kromosom mereka sama.
Queen bergegas ke persembunyiannya di garasi. Tempat itu sendiri lebih mirip toko barang seni dari pada garasi, karena dindingnya dihias kain bercorak India dan bekas-bekas Iilin tampak di peti kayu dan rak-rak. Sudah setahun ini Mom memarkir mobilnya di jalan sehingga Queen punya tempat menyendiri untuk berlatih musik.
Queen mengenyakkan tubuhnya di sofa korduroi merah yang ia beli di Recycled Furniture, toko perabot bekas. Ia menarun kertas bersih di meja kopi yang tadinya pintu lemari yang tidak terpakai dan ditaruh di atas balok beton. Setelah itu ia mulai menulis.
Queen memutuskan untuk membuat surat bernada santai dan ceria . Kalau reaksi Joe tak seperti yang diharapkan, ia bisa berlagak hanya bercanda.
Kepada Yang Berkepentingan
1. Aku hanya ingin bilang sejak kelas satu, saat bahu kita bersentuhan di lorong, aku sudah:
A. Tergila-gila padamu
B. Tergila-gila pada bahu
C. Gila betulan
D. Semua pilihan di atas betul
2. Selama tiga tahun aku naksir kau tapi nggak pernah berusaha memberitahumu karena aku:
A. Pengecut
B. Sangat romantis
C. Sangat bodoh
D. Semua pilihan di atas betul
3. Sekarang kita kelas tiga, aku ingin mengubah beberapa hal dan:
A. Lebih terbuka
B. Pergi berkencan
C. Pergi ke klub musik
D. Melakukan semua pilihan di atas
4. Kalau kau punya perasaan yang sama denganku, maukah kau:
A. Menulis surat padaku!
B. Menulis surat padaku!
C. Apa aku sudah bilang menulis surat padaku?
D. Semua pilihan di atas
5. Kalau menurutmu ini adalah surat paling konyol yang pernah kaubaca, maukah kau:
Menembakku saat ini juga.
Queen Chandler
Ketika selesai menulis Queen melipat kertas itu dan menyimpannya di dalam tas. Besok dia akan memberikan surat ini pada Andyn dan sumpahnya untuk “menggapai keinginan” dimulai.