BAGAIMANA?" tanya Ana. Hari itu Jumat dan ketiga sahabat itu sedang mendorong baki makanan dalam antrean makan siang di kafeteria sekolah. "Kekasihmu sudah membalas surat?"
Queen cepat-cepat menoleh ke arah dua ratusan murid yang memenuhi kafeteria, takut ada yang mendengar. "Belum! Jangan nanya terus dong."
"Kau terlalu sensitif." Ana mengambil sepiring nachos keju dan sekaleng Coke, kemudian menaruhnya di baki. "Kan nggak ada yang tahu siapa kekasih itu."
"Kecuali satu orang," Queen mengoreksi temannya sambil mengambil sekotak s**u dan apel. "Kalau Kau-Tahu-Siapa menerima suratku, dia bakal tahu dialah si Kekasih yang kita maksud."
"Sudah pasti Joe menerima Suratmu," cetus Andyn, menaruh kotak yoghurt tawar dan semangkuk Granola di bakinya. “Kemarin kutaruh di lokernya tepat sebelum sekolah selesai.”
Cewek-cewek itu membayar makanan dan membawa baki ke meja di dekat jendela. Jendela-jendela kafeteria berukuran besar itu menghadap ke halaman. Kafeteria itu sendiri adalah bagian paling varu gedung sekolah dan sudah berumur dua puluh tahun.
Ana mengunyah keripik tortila. “Nah, dari mana kau tahu itu loker Joe?” tanyanya sambil mengunyah dengan suara keras.
“Ya tahulah!” kata Andyn sambil mengaduk granola ke dalam yoghurt. “Nomor lokernya 6-6-6. Semua tahu.”
“Itu nomor lokernya tahun lalu,” Ana mengingatkan. “Tahun ini berapa?"
Tangan Andyn yang memegang sendok berhenti di udara. Wajahnya waswas. “Lokernya sama, kan? Loker kita nggak berubah.”
“Itu kan karena kita nggak mau pisah. Jadi bisa saja dia ganti loker.”
Andyn melambaikan sendoknya. “Untuk apa? Nomor lokernya kan nomor iblis, dan semua bilang nomor itu keren banget.”
Ana mengangkat bahu. “Mudah-mudahan saja kau benar.”
Ketika Queen mendengarkan percakapan mereka perutnya langsung terpilin. “Jadi kau mengirim surat itu ke Zepyhyr atau nggak?” potongnya tiba-tiba.
Andyn terloncat dan yoghur-nya menetes ke baju polkadot klasiknya yang putih-ungu. Ia menyambar tisu dari atas meja dan menyeka noda di pangkuannya. “lya, percaya deh. Aku tadi ketemu Joe sebelum makan siang dan dia menanyakan kau.
“Oh ya?” tanya Queen senang. Dia bilang apa?”
Andyn memejamkan mata, berusaha mengingat-ingat setiap kata yang diucapkan Joe. “Dia bilang, ‘Kau dan Queen makan siang di sekolah atau tidak?”
“Trus kau jawab apa?” tanya Queen.
Andyn menarik selembar tisu lagi. “Aku bilang, di sekolah.”
Ana mengempaskan kaleng Coke ke meja. “Itu saja? Aku nggak percaya.”
Queen menatap Ana. “Apanya yang kau nggak percaya?”
“Dia nggak menyebut-nyebut aku!” Ana naruh satu tangan di pinggang rok mini suede-nya yang ketat sambil menggerak-gerakkan kepala. “Memangnya aku nggak kelihatan, ya?”
“Bisa-bisanya kau memikirkan dirimu sendiri!” Queen melempari Ana dengan nachobs.
Ana menunduk hingga luput dari nachos berbalut keju cair itu dan berkata, “Hei, apa masalahmu? toh si Kekasih itu sudah menanyakanmu.”
“Justru itu yang bikin aku waswas,” kata Queen muram. “Jangan-jangan dia bertanya kepada Andyn apakah aku akan makan di kafeteria karena dia sudah menerima suratku, dan dia nggak kepingin ketemu aku?”
Otomatis ketiga cewek itu celingukan mencari Joe. Ketika mereka mengedarkan pandangan Queen bertanya, “Kalian lihat dia?”
Andyn menggeleng. “Kayaknya nggak ada.”
Ana berdiri di atas bangku supaya bisa melihat lebih jelas. Ia sedikit terhuyung-huyung karena mengenakan bot kulit hak tinggi. Kemudian Ana duduk lagi karena petugas kafeteria memberi isyarat “Jangan lakukan itu”. “Maaf Queen, tapi kayaknya cowokmu makan di luar.”
Queen terkulai di kursi sambil menutup wajah dengan tangan. “Sudah kuduga. Sekarang dia pasti bakal menghindariku kalau ketemu di lorong atau di kelas.” ia menurunkan tangan. “Berapa hari lagi sih sekolah selesai?"
Andyn mengejutkannya karena bisa menjawab pertanyaan itu dengan cepat. “Tiga belas hari lagi, sampai kompetisi The Battle of the Bands. Itu termasuk nggak?”
Mulut Ana ternganga. “Ya ampun! Kok kau bisa tahu sih?”
Wajah Andyn memerah. “Aku dan Brain Sutton membicarakannya semalam. Dia mengajakku pergi bareng.”
Perut Queen seperti digelitik kupu-kupu ketika mendengar Andyn menyebut The Battle of the Bands, la tidak tahu harus lebih mengkhawafirkan yang mana: mencoba menang di The Battle of the Bands atau tanggapan Joe akan suratnya. “AduUUUUUh,” erang Queen. “Tahun ini jadi makin rumit.”
Bel berbunyi menandakan waktu makan siang sudah habis dan mereka punya waktu sepuluh menit untuk kembali ke kelas. Ketiga cewek itu membuang sisa makanan ke tempat sampah dan menaruh baki di tumpukan dekat mesin cuci piring. Kemudian Ana berjalan di depan kedua temannya menuju loker.
Andyn terus berceloteh mengenai Brain. “Hebat ya padahal kami belum pernah ketemu sebelumnya. Kami berbelanja di toko yang sama. Orangtuanya sangat suka main drum. Bahkan kami pergi ke Festival Ohio Renaissance di Harveysburg pada saat bersamaan."
"Kurasa dia sama hippienya denganmu. Pasangan yang cocok,” kata Ana. Ia mundur selangkah supaya tidak tertabrak tiga cewek yang sedang lewat. “Jadi kapan kami bisa ketemu Mr. Granola ini?"
Andyn memukul bahu Ana main-main. “Kalau kau memanggilnya begitu, nggak bakal pernah."
“Oke.” Ana mengangkat bahu. “Jadi kapan kami bisa ketemu si Pemakan Sayur?”
“Sudah dong, Ana!” pekik Andyn.
Biasanya Queen ikut bergurau, tapi saat ini ia terlalu gugup memikirkan Joe. Kalau cowok itu benar-benar menghindarinya saat makan siang, Queen tak ingin berpapasan dengannya. Ia mengintip dari belakang punggung Ana dan melihat Rod Cruz bersama para pemain skateboard, bergerombol di sekeliling telepon koin. Kadang-kadang Joe nongkrong bareng mereka, untungnya hari ini tidak.
Tiba-tiba Zan Teal dan Morgan Fifer muncul di lorong dari pintu gym. Mereka fans berat Side Effects dan hampir selalu berada di dekat Joe. Tapi tetap saja Joe belum kelihatan. Zan dan Morgan melambai kepada Queen ketika mereka lewat, dan Queen memaksakan diri tersenyum dan balas melambai.
“Queen!” Andyn menarik rok mini lipit warna-warni yang dikenakan Queen. “Suruh Ana diam dong. Sekarang dia memanggil Brain Cowok Bok Choy.”
Queen berjalan menyamping supaya tetap bisa mengawasi pintu gym. “Supaya dia tutup mulut tanyakan saja soal Bastian,” kata Queen kepada Andyn.
“Jangan mulai, ya,” tukas Ana pelan. “Dia masa lalu. Oke?”
“Ah, masa sih!” tawa Queen meledak.
Ana memandang sekeliling dengan gugup, khawatir Bastian ada di sekitar situ. Kemudian ia berbisik, "Aku nggak mau ada yang bilang padanya bahwa aku menyebut-nyebut namanya di sini. Sekarang saja dia sudah besar kepala."
"Oke, kalau begitu aku nggak bakal menyebut nama temanmu" Andyn berhenti sejenak untuk minum di pancuran minum "asalkan kau tidak menjuluki pacarku dengan sebutan aneh-aneh."
"Setuju," kata Ana sambil tos dengan Andyn.
Queen menggeleng. "Ya ampun. Rabu lalu kita setuju untuk membiarkan cowok-cowok masuk ke dalam kehidupan kita, tapi tiga hari kemudian kita bertengkar karena mereka."
"Kita nggak bertengkar kok," protes Ana. "Kita berdiskusi." Ana tahu-tahu berhenti beberapa meter dari loker. "Kayaknya aku dapat penglihatan."
Andyn dan Queen menabrak punggung Ana.
"Penglihatan apa?" Queen meraba hidungnya untuk memeriksa apakah ada yang patah.
"ltu!" Ana menunjuk lipatan kertas yang terselip di pintu loker Queen. "Menurut kalian itu surat bukan?"
Andyn mengitari Ana dan mengintip. "Sepertinya begitu." la nyengir dengan gaya menang. "Nah kalian percaya sekarang Aku kan sudah bilang Joe sudah menerima surat dari Queen."
Queen hanya bisa membelalakkan mata.
"Waktumu kurang dari lima menit untuk membuka dan membaca surat itu." Ana mendorong Queen. "Ayo, sebelum aku yang melakukannya."
Queen tersadar dan bergegas menghampiri loker. Surat itu memang untuknya. Namanya tercetak rapi di bagian luar.
"Aaaaaaaaaah!" pekik Queen kedua kalinya dalam dua hari ini. la berhenti menjerit ketika dua cewek dari kelas Puisi Amerika menoleh untuk melihat apakah Queen baik-baik saja.
"Buka dong!" desak Andyn sambil berusaha merebut surat itu dari tangan Queen. "Cepat! Sebentar lagi bel."
Tangan Queen gemetar ketika membuka kertas yang terlipat itu. Kemudian dengan suara berdesis ketiga cewek itu membaca keras-keras:
Dear Queen,
Kau itu:
a. sangat menarik
b. sangat cantik
C. sangat aneh.. untuk ukuran cewek cantik dan menarik
Aku:
a. siap
b. bersedia
C. menunggumu di Harpo sore ini sepulang sekolah
Reyhan Lockhart
“Reyhan Lockhart!” seru Ana dan Andyn serentak.
“Siapa dia?”
Queen tahu persis siapa Reyhan. Dua hari yang lalu mereka berpapasan di pintu masuk gedung sekolah. Cowok itu tersenyum dan menyapanya. “Kalian tahu kok siapa Reyhan,” kata Queen. “Cowok yang memakai topi itu Iho.”
“Cowok aneh yang cakep itu?” kata Ana.
“Aku nggak tahu nama belakangnya Lockhart,”
“Aku nggak tahu itu lokernya,” erang Andyn.
Queen melirik sekelilingnya untuk melihat apakah Reyhan bersembunyi di suatu tempat untuk melihatnya membaca surat. Kemudian Queen menyandarkan kepala di loker. ‘”Duh, gawat!”
Andyn melangkah mundur dengan gugup di sepanjang lorong. “Maaf, Queen,” katanya, mengucapkan setiap kata dengan meringis. “Aku tahu ini salahku tapi kita nyaris terlambat masuk kelas.” ia menunjuk jam di dinding. “Nanti saja kita bicarakan masalah ini, ya?”
Sebelum Queen menjawab Andyn sudah berbalik dan lenyap di sudut lorong.
“Pengecut!” seru Ana.
Queen masih menyandarkan kepala di loker. Kemudian ia menggeleng-geleng. “Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?"
Ana menepuk punggungnya. “Berhenti mengeluh. Aku punya rencana.”
“Cepat katakan,” kata Queen sambil membaca lagi surat Reyhan.
Sebenarnya balasan cowok itu sangat manis. Tapi Queen merasa sangat tidak enak.
“Abaikan saja,” kata Ana. “Kau nggak usah datang ke Harpo. Dia bakal tahu kau nggak serius.”
“Aku nggak bisa begitu,” kata Queen. “Reyhan mengira aku sangat menyukainya dan itu bukan salahnya. Andyn yang salah memilih loker.” Queen menunduk dan mengerang. “Tadinya aku mau menulis nama Joe di surat itu, tapi urung. Tuh, kan! Tuh, Kan!”
Ana membuka loker dan menjejalkan dua buku ke dalam tas vinil hitamnya, kemudian menyampirkannya di bahu. “Kalau begitu tulis Surat lagi kepada Reyhan dan bilang surat itu salah alamat."
Queen menyambar buku Komparatif Sastra dari loker dan bergegas menyusul Ana. “Nanti dia malu dan aku harus menghindarinya sepanjang tahun. Semua pasti jadi menyebalkan.”
“Dengar, Queen, aku ikut menyesalkan kejadian ini, kata Ana ringkas. “Tapi kalau kau nggak mau mendengar nasihatku, berarti kau harus pergi ke Harpo dan berhadapan langsung dengan Reyhan dan bilang semua ini keliru."
Rasa takut menyebar di sekujur tubuh Queen. “Wah itu lebih parah.”
“Kelasku di sini,” kata Ana sambil membuka pintu kelas Komputer Mr. Wing. “Nanti kita bicara lagi.”
“Seharusnya kalian tidak menantangku untuk menulis surat itu,” desis Queen marah.
“Apa? Ana menutup pintu lagi. “Siapa sih sebenarnya yang punya ide untuk memainkan Truth Or Dare? Bukan ideku. Bukan ide Andyn juga.”
“Miss Kelly? Kau mau masuk, tidak? Mr. Wing berseru dari dalam kelas. “Ayo putuskan.”
Ana melongok ke dalam dan balas berteriak“Aku mau masuk, Mr. Wing.” Kemudian ia berbisik kepada Queen lewat bahunya. “Ya ampun, aku nggak percaya! Bastian menyediakan bangku untuk ku.”
Ana masuk ke kelas dan menutup pintu bertepatan dengan bunyi bel. Lorong sepi dan Queen telambat masuk kelas.
Ia melangkah ke kelas Komparatif Sastra seperti tahanan naik ke tiang gantungan. Dalam dua jam ini ia harus mengumpulkan keberanian untuk pergi ke Harpo Cafė. Ia harus memberitahunya tentang permainan Truth or Dare yang ia mainkan bersama Ana dan Andyn, juga tentang surat itu. Kemudian ia juga harus menjelaskan bahwa surat itu salah alamat. Tak ada jalan lain.